Maaf .....
Klo ada yang ga setuju.....
Just Sharing aja....

----- Forwarded Message ----
From: adit 9000 <[EMAIL PROTECTED]>
To: acow <[EMAIL PROTECTED]>; devitapr <[EMAIL PROTECTED]>; jiang2 silit 
<[EMAIL PROTECTED]>; setiawan dbs <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, June 30, 2008 10:12:51 AM
Subject: Ndeso Alias Katrok


NDESO
 

Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan,
udik, shock culture, countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau
merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa
takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak
ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap
hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan
mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus
mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan
harapan orang yang diajak juga sama terkagum-kagum sama seperti dia.

Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap
langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa,
seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus
berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain,
serta belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan
alias deso.

Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan
atau bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara
si Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang
sederhana. Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada
pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita.
Dari Tokyo naik kendaraan umum, sementara yang akan dijemput, pejabat
Indonesia naik mobil dinas Kedutaan yaitu mercy.

Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara
seremoni dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat
menteri, saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai merk
Holden baru yang paling murah untuk ukuran Australia . Yang menarik,
para pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya
dengan tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana
pengawalnya.

Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand .
Dia seorang warga negara Malaysia keturunan Cina, sudah selesai S3,
sekarang lagi mengikuti program Post Doc. Dia anak serorang pengusaha
yang kaya raya. Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah
jadi pelayan. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan
tingginya.

Satu bulan saya di Jepang tidak melihat orang pakai HP Communicator,
mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca koran ternyata
konsumen terbesar HP communicator adalah Indonesia . Sempat berkenalan
juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata
dia anak seorang pejabat tinggi negara, juga naik kereta. Yang tak
kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang
dipakai masyarakat Jepang ternyata tak bermerek, wah ini yang deso
siapa yaa?

Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di Jepang atau di
Australia , baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau
rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu
pekerjaan dan jabatannya di perusahaan. Jangan-jangan kalau orang
Jepang diajak ke Pondok Indah bisa pingsan melihat rumah segitu gede
dan mewahnya. Rata-rata rumah di sana memiliki tinggi plafon yang bisa
dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun
banyak yang lesehan.

Sampai akhir hayatnya Rasulullah tidak membuat istana Negara dan
Benteng Pertahanan (khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk perang
Ahzab saja), padahal Rasulullah sudah sangat mengenal kemewahan istana
raja-raja negara sekelilingnya, karena beliau punya pengalaman
berdagang. Ternyata beliau tidak menjadi silau terus ikut-ikutan latah
ingin seperti orang-orang. Lalu dimana aktivitas kenegaraan dilakukan?
Mengingat beliau sebagai kepala negara. Jawabannya ya di masjid.

Beliau punya banyak jalan yang legal untuk bisa membangun istana.
Di Mekkah nikah dengan janda kaya, di Madinah jadi kepala negara,
punya hak prerogatif dalam mengatur harta rampasan perang dan ada
jatah dari Allah untuk dipergunakan sekehendak beliau, belum hadiah
dari raja-raja. Tetapi mengapa beliau sering kelaparan, ganjal perut
dengan batu, puasa sunnah niatnya siang hari, shalat sambil duduk
menahan perih perut dan seterusnya?

Ketika Indonesia sedang terpuruk, hutang lagi numpuk, rakyat banyak
yang mulai ngamuk, negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak
tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat
dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak
seremonial yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil,
proyek mercusuar, dll, dsb, dst.

Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan
tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi WTS
(Wanita Tidak Sholat, di Malaysia "Wanita Tak Senonoh") , angka
kriminal rendah, korupsi berkurang, punya posisi tawar terhadap
kekuatan global. Maka orang Deso (alias norak) tidak mampu mengatasi
krisis karena tidak bisa menjadikan krisis sebagai paradigma dalam
menyusun APBD dan APBN. Nah, karena yang menyusun orang-orang norak
maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah negara normal atau
bahkan mengikut negara maju.

Bayangkan ada daerah yang menganggarkan sepak bola 17 milyar
sementara anggaran kesra-nya 100 juta, wiiieh!

Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan
dari atas sampai bawah :

Orang bisa antri raskin sambil pegang HP
Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untuk beli tv dan kulkas
Orang bule mabuk krn kelebihan uang, orang kampung mabuk beli
minuman patungan
Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala
Para pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
Orang beli gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah
Ijazah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang sempit
di Cibubur
Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk McDonald
Kelihatannya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia persepakbolaan.
Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin HP
62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja
Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di
acara tembang kenangan.
Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor
Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar
Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan
Agar kelihatan inklusif maka hrs bisa menggandeng siapa saja, kalo
perlu jin Tomang jg digandeng.
Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere,
maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu
dirinya kere.


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "Sekolah Tinggi Ilmu 
Ekonomi YKPN Yogyakarta" Google Groups.
 Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke [email protected]
 Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
 Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di 
http://groups.google.com/group/stieykpn?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke