Bekerjalah Demi Islam!  *Ustad Boby Heriwibowo*

* *

<http://openx.detik.com/delivery/ck.php?n=a4caa824&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE>
*Jakarta* - Seorang pria bernama Adam hari itu menjumpai kebuntuan.
Kebuntuan jalan hidup demi menafkahi anak dan istrinya. Sudah 3 bulan lebih
ia hidup tak berpenghasilan. Hampir setiap hari anak-anaknya menangis karena
ingin minum susu, sementara istrinya suka menjerit histeris karena kalut dan
panik akibat himpitan hidup.

Adam bukanlah orang yang gampang berpangku tangan, ia terus mencoba
peruntungan hidup. Namun dunia modern yang selalu menilai manusia dari
pengalaman pendidikan membuat dirinya yang hanya lulusan SMU selalu kalah
terhempas oleh para pesaing pencari rezeki yang lebih 'beruntung' karena
berpendidikan setingkat atau dua di atasnya.

Adam tidak mengerti mengapa rezeki diukur dari hal sedemikian. Mengapa ia,
istri dan anaknya harus menanggung beban hidup sedemikian. Hanya karena
kesialan akademika, maka seluruh rencana hidup manusia sudah ditentukan oleh
manusia lainnya.

Pagi itu, Adam mencoba mencari nafkah Tuhan. Ia keluar rumah. Namun ia tak
mengerti hendak pergi kemana, entah!! Ia berjalan dengan tatapan mata sayu.
Tidak ada lagi sepeser rupiah pun di koceknya. Ia terpaksa keluar rumah.
Sebab di rumah, hanya akan membuat kepalanya bertambah pening dan telinganya
pekak akibat raungan dan jeritan isrti serta anaknya. Ia keluar rumah hari
itu mencoba peruntungan nasib, setelah sebelumnya ia sempatkan berdoa
sejenak dalam kedamaian hati kepada Allah Sang Maha Pemberi rezeki agar ia
dicukupkan nafkah pada hari ini.

Ia berjalan sambil menunduk. Tak ada daya baginya untuk menegakkan kepala
sedikitpun. Dalam benaknya, ia terus berpikir hendak kemana ia pergi mencari
nafkah?

Memang Allah Maha Pemurah!!
Setelah berjalan menyusuri bumi yang telah Allah Ta'ala tundukan untuk
manusia, maka matanya tertumpu pada sebuah koin kuno yang ia dapati tertanam
di tanah dan tidak diindahkan oleh kebanyakan manusia.

Adam memungut koin tua tersebut. Ia dapati dalam koin tersebut angka 1954
yang menunjukkan tahun pembuatannya. Ia berpikir sejenak bahwa umur koin ini
lebih tua dari dirinya sendiri yang belum genap 30 tahun.

Seolah mendapat anugerah yang besar, Adam berjalan cepat menuju pasar.
Sesampainya di sana, ia masuk ke sebuah bank.

Karena ketidak-tahuannya, Adam berkata kepada salah seorang teller bank,
"Mbak, saya mau jual koin kuno ini?" Adam mengeluarkan benda yang dimaksud
dari kantong celana sebelah kanan, lalu ia sodorkan kepada teller bank
tersebut.

Sang teller merasa aneh, kalau saja ia tidak melihat mimik kesungguhan orang
yang mengeluarkan koin tersebut, pasti ia sudah meledakkan tawa seraya
mengejek. Dengan lembut sang teller berkata, "Bapak…, di bank ini kami tidak
memberikan pelayanan jual-beli mata uang kuno. Bila bapak hendak menjualnya,
saya bisa tunjukan kepada bapak sebuah toko kolektor uang kuno yang ada di
pasar ini, dan bapak dapat menukarkannya di sana…"

Setelah mendapatkan arah toko tersebut, Adam pun meninggalkan bank untuk
pergi ke tempat yang dimaksud.

Allah Sang Maha Pengasih tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha yang
dilakukan para hamba-Nya!!!

Akhirnya, Adam tiba di toko kolektor uang kuno. Setelah pembicaraan singkat,
tanpa diduga sang pemilik toko menaksir uang kuno itu dengan harga Rp 30
ribu. Alangkah senang hati Adam! Ia sempat memuji Allah Swt yang begitu
pemurah dan memberikan padanya uang sebanyak itu di saat mendesak seperti
ini.

Dengan rahmat-Nya, Allah masih memberikan ilham pada Adam agar uang tersebut
tidak habis dikonsumsi.

Sambil berjalan menuju pulang, ia sempat melintasi sebuah pabrik kayu.
Terbersit olehnya, untuk membeli potongan-potongan kayu bekas untuk
dijadikan lemari buat di rumah. Lalu dengan uang yang ada ia coba berbicara
kepada pemilik pabrik kayu itu untuk membeli beberapa potong kayu bekas.
Tanpa disangka, Allah Swt masih menunjukan kemurahan-Nya. Dengan uang
sejumlah sedemikian, ia dapatkan banyak potongan kayu lagi bagus
kualitasnya. Pemilik pabrik berkata, "Ambillah sebanyak bapak suka… toh
kayu-kayu yang bapak minta memang biasa kami buang sebagai limbah!"

Terbayang dibenak Adam bahwa ia dapat membuat lemari bagi keluarganya dengan
kayu-kayu tadi. Saat berjalan menuju pulang dengan senyum terkulum, Adam
melintasi sebuah toko meubel. Tanpa ia tahu, rupanya pemilik toko meubel itu
memperhatikan kayu-kayu yang dibawa Adam sejak dari kejauhan.

Begitu melintas di mulut toko, sang pemilik menegur Adam, "Kayu-kayu itu mau
dijual, pak...?"

Adam menoleh ke arah sumber suara dan setelah berpikir sejenak ia katakan,
"Tidak pak, kayu ini hendak saya jadikan lemari buat di rumah." "Oh… kalau
bapak mau lemari, tukarkan saja kayu-kayu tersebut dengan lemari yang saya
jual! Tapi, bapak sendiri mau gak?" Adam mencoba melongok beberapa lemari
yang ada dalam toko tersebut. Ia sedikit bergidik sambil bertanya dalam
hati, "Mau ditukarkan dengan lemari yang mana?" Dengan menghela nafas agak
dalam sedikit, Adam memberanikan diri untuk bertanya, "Memangnya bapak mau
bayari berapa kayu-kayu saya ini?" Pemilik toko itu menukas, "Bagaimana
kalau dengan seratus ribu, tapi saya bayar dengan lemari yang ada ya pak?"
Mendengarnya Adam berdecak kagum. Ia bersyukur dalam hati, begitu pemurahnya
Allah Tuhan Sang Maha Pemberi Rezeki. Ia tidak mengira bahwa kayu-kayu yang
dibawanya ditaksir dengan harga Rp 100 ribu.

Lalu Adam memilih lemari yang ia suka. Sebuah lemari dua susun setinggi 1
meter! Karena tidak terlalu besar, ia pun membopong lemari tersesbut ke
rumah. Ia bawa lemari seharga seratus ribu itu dengan perasaan senang.
"Istriku pasti bahagia begitu melihat lemari ini!" gumamnya.

Tiga kelokan lagi Adam akan tiba di rumah, hanya berjarak 2 RT saja dari
jalanan yang ia lewati. Saat menyusuri sebuah gang di perumahan padat
penduduk, Adam yang sedang menggotong lemari mungilnya itu mendengar sapaan
seorang wanita. Seorang ibu rumah tangga yang sedang menyapu teras rumahnya.
"Pak, lemari itu mau dijual ya…?!" Glek…!! Adam menelan ludah. Ia berpikir,
kejutan apalagi yang mau Allah Ta'ala berikan kepadanya.

Adam berhenti sebentar, menoleh dan memutarkan wajah. Tanpa menurunkan
lemari itu Adam balik bertanya, "Emangnya ibu suka dengan lemari ini?" "Iya
tuh bang! Lemarinya bagus. Mau dijual berapa?" sang ibu menukas. "Dua ratus
ribu mau gak?!" Adam mencoba berspekulasi dengan harga yang ia tawarkan.
"Eih… kok bisa ya... ini mah murah... Iya deh saya beli!" Sang ibu
kesenangan dengan harga yang ditawarkan Adam. Sementara ia sendiri merasa
bingung karena sang ibu mengiyakan harga yang ia berikan tanpa tawar lagi.

"Taruh di sudut situ ya, bang!" sang ibu menyuruh Adam. Usai meletakkan pada
posisi yang dimaksud, Adam pun menerima uang yang disodorkan oleh ibu tadi.

Subhanallah, Allah begitu pemurah! Adam tak henti-hentinya mensyukuri
peruntungan nasib yang ia alami pada hari ini. Ia mencoba merenungi kejadian
satu demi satu. Ia dapati bahwa ia memulai usaha dengan doa tulus dalam
hati. Setelah itu, ia berniat mencari nafkah dan bekerja hari ini. Karena
niat untuk bekerja menghidupi keluarga, maka Allah tolong dirinya
mendapatkan uang kuno. Uang kuno tadi kemudian ia tukar seharga Rp 30 ribu.
Uang yang ia dapatkan ia belikan kayu-kayu bekas. Kayu itupun ditaksir
dengan lemari senilai Rp 100 ribu dan akhirnya malah lemari itu dibeli
seorang ibu dengan harga Rp 200 ribu. Kini Adam membawa pulang Rp 200 ribu
untuk keluarganya. Ia pulang dengan hasil jerih payahnya dan nikmat yang
luar biasa dari Tuhannya.

Islam, agama yang hanif ini… mengajarkan kepada umatnya untuk tidak
berpangku tangan. Bekerja dengan giat, sungguh-sungguh dan pantang menyerah.
Bukan karena urusan rezeki umat diperintahkan untuk bekerja, sebab rezeki
itu sudah ada ukurannya. Akan tetapi umat Islam diperintahkan untuk bekerja
demi izzah (kemulian) diri dan agamanya.

Asalkan bekerja meskipun badan kotor bersimbah lumpur sekalipun. Kulit
tangan menjadi kasar dan kaki pecah, asalkan bekerja keras untuk menafkahi
keluarga dan ikhlas lillahi ta'ala, maka Allah Swt akan memberikan kecintaan
dan pahala yang besar baginya.

Dalam suatu riwayat, Rasulullah Saw pernah mencium tangan Saad bin Muadz
begitu melihat tangan Saad yang kasar karena bekerja keras. Beliau bersabda,
"Inilah dua tangan yang dicintai Allah Ta'ala!"

Islam amat menghargai seseorang yang bekerja. Bahkan Rasul Saw juga pernah
bersabda,
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال والذي نفسي
بيده لأن يأخذ أحدكم حبله فيحتطب على ظهره خير له من أن يأتي رجلا فيسأله أعطاه
أو منعه
"Demi Allah, jika seseorang di antara kamu membawa tali dan pergi ke bukit
untuk mencari kayu bakar, kemudian dipikul ke pasar untuk dijual, itu lebih
baik daripada ia meminta-minta kepada orang lain, terkadang ia dapat atau
terkadang ia ditolak. (HR. Bukhari & Muslim)

Demikianlah agama ini mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa bekerja
keras dan beramal sungguh-sungguh. Sebab karya nyata yang dilakukan oleh
seorang muslim dengan sungguh-sungguh akan disaksikan oleh Allah, Rasul &
seluruh kaum mukminin. Karenanya Allah Swt berfirman dalam surat At Taubah:
105
وَقُلِ اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا
كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

"Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan
melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang
Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu
apa yang kamu kerjakan".

Semoga Allah memberkahi usaha yang kita jalankan dan pekerjaan yang kita
lakukan di jalan-Nya. Amien. Selamat Bekerja!



-- 
Sincerely,

Dian M Prabowo
02132782787
081513786200
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "Sekolah Tinggi Ilmu 
Ekonomi YKPN Yogyakarta" Google Groups.
 Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke [email protected]
 Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
 Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di 
http://groups.google.com/group/stieykpn?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke