Sebagai tambahan informasi.....



>Kompas Online:
>Pelajaran dari Protes Kenaikan Tarif PT Telkom
>Beginilah Jika Pelanggan Hanya Dianggap Obyek
>
>MASALAH pokok kenapa terjadi polemik seru dan protes masyarakat yang gencar
>terhadap kenaikan tarif percakapan telepon, khususnya pemberlakuan lokal
>tiga; hanya karena menganggap pelanggan sebagai obyek saja. PT Telkom tidak
>menganggap pelanggan sebagai subyek yang sederajat dengan dirinya; tidak
>mau mengungkapkan betapa sulitnya kini perusahaan yang padat modal, padat
>teknologi, dan mudah terpengaruh kebijaksanaan regulator itu.
>
>Karena dianggap obyek, PT Telkom tidak merasa perlu "meminta pendapat"
>masyarakat pengguna jasa dalam menetapkan kebijakan menyangkut kepentingan
>utama pelanggan. Mereka mengira masih hidup dalam alam pencet tombol, di
>mana semua bisa dipaksa mengiyakan kebijakan yang datang dari atas. BUMN
>itu pun hanya meminta pendapat para elite politik di legislatif, yang
>dianggap sudah mewakili suara masyarakat secara murni. Ternyata suara
>masyarakat yang benar-benar murni tidak bisa dibeli dengan uang, fasilitas
>atau janji.
>
>Kalau saja masyarakat disubyekkan, maka peran hubungan masyarakat menjadi
>penting untuk mengkondisikan masyarakat agar bisa menerima kebijakan tarif
>yang baru. Sosok hubungan masyarakat yang baik justru yang bisa memoles
>sesuatu yang menyakitkan, yang jelek menjadi sesuatu yang menyenangkan atau
>setidaknya tidak menyakitkan, dan bagus.
>
>Soal pemberlakuan lokal tiga, misalnya, kalau saja sosialisasi dari
>kebijakan ini dilaku-kan jauh-jauh hari, bisa jadi pe-nerimaan masyarakat
>akan lain. Tetapi masyarakat keburu berang karena merasa dipecundangi,
>apalagi Komisi IV DPR lalu cuci tangan, merasa tidak diberi tahu dan
>dimintai pertimbangan soal tarif lokal tiga.
>
>Masyarakat di mana pun selalu sensitif terhadap kenaikan harga, apalagi
>jika itu menyangkut kegiatan mereka sehari-hari. Telepon, meski
>pelanggannya cuma 5,4 juta atau sekitar 25 juta pemakai tetap termasuk
>keluarganya, nyatanya penggunanya jauh lebih besar. Pengguna telepon yang
>bukan pelanggan juga merupakan potensi yang tidak bisa diabaikan. Dengan
>hanya sekitar 220.000 satuan sambungan telepon umum, produktivitas mereka
>sangat tinggi, sampai 25 persen dari pulsa yang diproduksi seluruh telepon
>yang ada.
>
>Mestinya Humas PT Telkom kepada masyarakat juga memberi tahu, betapa
>sulitnya kini mengelola perusahaan publik yang dituntut harus terus untung
>untuk memuaskan pemegang sahamnya. Namun demikian, untung menjadi tidak
>wajar kalau didapat dari menaikkan tarif. Hitungan PT Telkom, kalau tarif
>naik 24 persen dan lokal tiga di Jakarta dan Bandung diberlakukan, mereka
>akan mendapat tambahan penghasilan Rp 1 trilyun, menjadi hampir Rp 8
>trilyun pada akhir tahun 1999.
>
>Kenyataan bahwa PT Telkom masih banyak utang luar negeri yang harus dibayar
>dengan mata uang asing, yang kini nilainya melambung. Investasi jenis usaha
>dengan teknologi tinggi pasti dalam mata uang asing, khususnya dollar AS,
>tetapi penerimaannya berupa uang lokal sebab produknya bukan komoditas
>ekspor. Sebetulnya hal ini tak menjadi masalah benar jika nilai tukar
>rupiah terhadap mata uang asing stabil dan daya beli masyarakat memadai.
>
>Sayangnya, nilai tukar yang terhempas sampai hampir empat kali lipat saat
>ini, membuat daya pengembalian modal menjadi terpuruk. Padahal masa hidup
>ekonomis peralatan berteknologi tinggi ini cuma sekitar 7-8 tahun, selain
>karena aus karena teknologinya tiba-tiba usang. Kini, masa hidup ekonomis
>dan teknis tak lagi bisa jadi patokan, sebab ROA (return on asset)
>memanjang akibat krisis.
>
>Tahun 1997, misalnya, ROA PT Telkom cuma 6,68 persen atau sekitar 15 tahun
>kembali modal. Tahun lalu menjadi lebih rendah, cuma 5 persen, atau butuh
>20 tahun untuk kembali modal. Tahun ini dengan tarif naik 15 persen dan
>dollar AS senilai Rp 8.000, ROA-nya bisa dipertahankan lima persen. "Tetapi
>dengan dollar AS awal pekan yang Rp 9.600, ROA pasti akan lebih rendah,"
>kata Direktur Operasi dan Pemasaran PT Telkom John Welly beberapa hari
lalu.
>
>
>***
>DARI kenyataan bahwa PT Telkom harus mendapat untung atau setidaknya
>berpenghasilan memadai untuk bisa melakukan investasi lagi, kita bisa tahu
>bahwa perusahaan itu kini menghadapi masa yang sangat sulit. Siapa pun yang
>akan jadi nakhodanya pasti menghadapi tantangan berat, yang tidak mustahil
>akan membawa perusahaan itu ke arah kebangkrutan dan menurunkan nilai saham
>yang selama ini termasuk blue chip.
>
>Kenaikan tarif yang didukung oleh pertambahan telepon terpasang (LIS - line
>in service) tidak otomatis linear meningkatkan pendapatan operasi PT
>Telkom. Ada hal-hal yang bisa menjadi penghambat, misalnya lemahnya daya
>beli, kondisi ekonomi dan sikap pelanggan yang lebih suka "telepon tidur",
>hanya menerima saja.
>
>John Welly mencontohkan, tahun 1998 terjadi kenaikan tarif totalnya sampai
>18,47 persen dan pada saat yang sama penambahan LIS sampai 11,8 persen.
>Namun nyatanya, pertumbuhan pendapatan operasional hanya 12 persen.
>
>Pengaruhnya dari biaya beban, yang tahun lalu kenaikannya mencapai 18
>persen, bagian terbesarnya adalah penyusutan, beban umum dan administrasi
>serta beban operasi serta pemeliharaan. Yang terakhir ini terjadi akibat
>kenaikan-kenaikan harga, misalnya listrik, suku-cadang (dalam dollar),
>jaringan kabel dan sebagainya. Kabel atau pipa, misalnya, meski sudah
>diproduksi di Indonesia tetapi ada komponen produksinya yang harus diimpor,
>sehingga harganya tetap saja naik, meski dalam rupiah.
>
>Tingginya beban menyebab-kan ada komponen yang harus dikurangi dan tidak
>ada pilihan lain, beban biaya pegawai dikorbankan, diturunkan dengan dua
>persen. "Bonus yang diberikan kepada pegawai tahun 1998 tidak sebesar tahun
>sebelumnya, sehingga pendapatan riil karya-wan menurun," kata John Welly.
>
>Menurut seorang karyawan, PT Telkom menganut sistem penggajian atau
>pendapatan pegawai yang dinamis. Bonus atau jasa produksi yang sangat
>tergantung pada kinerja perusahaan sering lebih besar dari gaji pokok
>karyawan. "Tetapi akibatnya begitu karyawan pensiun, pendapatannya merosot
>drastis karena patokannya gaji yang kecil," kata karyawan itu.
>
>Karena kesulitan finansial itulah, sementara daya beli masyarakat juga
>menurun sehingga minat orang memasang telepon berkurang, dua tahun ini
>tidak akan ada pembangunan. Apa-lagi hingga kini ada sekitar 1,5 juta
>telepon RFS (ready for sale - siap jual) yang merupakan hasil pembangunan
>tahun-tahun sebelumnya, belum lagi ada sekitar 270.000 telepon yang
>dikembalikan pelanggan.
>
>Proyek-proyek yang kini masih dikerjakan adalah proyek lanjutan dari
>tahun-tahun sebelumnya, yang dibiayai oleh luar negeri (loan) yang harus
>ada dana pendampingnya dari kocek PT Telkom sendiri. "Proyek multiyears ini
>kalau bisa diulur lagi, sehingga beban dana pendamping tidak terlalu berat
>bagi perusahaan," tambah John Welly. Beberapa proyek yang harusnya selesai
>akhir tahun ini diupayakan diundur hingga tahun 2000 atau 2002, sehingga
>beban PT Telkom tiap tahunnya bisa dikurangi sedikit.
>
>Dewasa ini, orang bisa mendapat sambungan telepon dengan mudah, jika memang
>jaringannya sudah ada. Tetapi banyak jaringan telepon yang siap dipasarkan
>justru di daerah yang potensinya menyusut, sementara permintaan malah di
>daerah yang belum ada atau jaringannya sudah penuh terisi. PT Telkom tetap
>menangkap peluang bisnis dengan memindahkan jaringan ke daerah yang
>membutuhkan, atau memasang fasilitas WLL (wireless local loop), fasilitas
>telepon tanpa kabel.
>
>Besarnya telepon tidak terpasarkan sangat merugikan PT Telkom, walau
>disambungkan ke pemohon pun BUMN itu belum tentu langsung mendapat untung.
>Dengan modal pembangunan LIS sampai 1.000 dollar AS atau sekitar Rp 8,5
>juta, PT Telkom tidak bisa segera mendapat kembali modalnya, bahkan mungkin
>sampai belasan tahun.
>
>Menurut catatan, produktivitas telepon atau pendapatan tiap SST (satuan
>sambungan telepon) tahun 1998 rata-rata cuma Rp 1,74 juta. Padahal untuk
>pemeliharaan saja, perusahaan itu harus mengeluarkan biaya lebih dari Rp
>750.000 setahun, belum lagi biaya operasi untuk listrik, pegawai, biaya
>umum dan administrasi, sehingga jumlahnya hampir mendekati pendapatan tiap
>SST itu sendiri.
>
>Catatan juga menyebutkan, telepon yang produksi pulsanya di atas Rp 750.000
>per tahun hanya sekitar 40 persen. Sisanya ada yang merupakan "telepon
>tidur", seperti umumnya telepon milik orang kota yang ditaruh di rumah
>kebun atau vila mereka di pedesaan.
>
>Dari jumlah 40 persen itu pun, yang berproduksi di atas Rp 1 juta per tahun
>hanya 30-an persen, dan dari jumlah itu yang benar-benar produktif, yang
>tagihannya di atas Rp 6 juta, cuma sekitar 2-3 persen saja. Itu sebabnya
>kenapa PT Telkom gencar memasarkan fitur, antara lain lacak, trimitra, nada
>sela atau memasang voice mail, agar produksi pulsa meningkat karena
>kegagalan panggil atau RNA (ringing no answer) berkurang.
>
>
>***
>BIAYA pembangunan per satuan sambungan yang 1.000 dollar AS itu sudah
>termasuk hemat, walau angka itu merupakan rata-rata. Membangun satu SST
>(satuan sambungan telepon) di Jakarta mungkin cuma 800 dollar AS, tetapi di
>Indonesia timur bisa 1.300 dollar AS, semata-mata karena kendala alam dan
>biaya-biaya pengadaan.
>
>Kalau orang bilang di negara maju biaya pembangunan per SST justru lebih
>murah, bisa jadi benar. Di negara dengan perencanaan perkotaan terpadu yang
>sudah baik, pembangunan perumahan pasti sudah termasuk fasilitas duct untuk
>jaringan telekomunikasi, sehingga perusahaan telepon tinggal menggelar
>kabel. Di sini PT Telkom harus membangun semua prasarana dan sarananya
>dengan biaya mereka sendiri, sering dengan pinjaman luar negeri.
>
>Sekitar 10 tahun lalu, biaya pembangunan per SST masih jauh lebih mahal
>yang rata-rata 1.280 dollar AS. Tetapi dari hitungan rupiah, tahun 1989
>angka itu berarti sekitar Rp 2,5 juta sementara kini angka dollarnya lebih
>kecil tetapi rupiahnya menjadi Rp 8,5 juta.
>
>Dari jumlah 1.000 dollar AS itu, 300 dollar habis untuk OSP (outside plan)
>berupa jaringan kabel, switching 250 dollar AS, transmisi berupa junction
>dan backbone 280 dollar dan sisanya untuk sarana pendukung. Di pedesaan,
>biaya switching dan transmisi sangat mahal, sementara OSP bisa lebih murah
>karena lingkungannya kecil dan tenaga manusia agak murah.
>
>Banyak negara maju memasang jaringan kabelnya di dalam tanah (duct) untuk
>memperpanjang usia kabel. Kabel udara yang dibentang dengan tiang-tiang
>usianya cuma sepertiga kabel yang ditanam, yang bisa tahan sampai 20 tahun.
>Namun demikian, dengan diameter pipa yang sama, serat optik bisa
>berkapasitas lebih dari 10 kali lipat kabel tembaga konvensional. "Kabel
>tanam (cable duct) digunakan secara ekonomis sudah cukup, sebab kapasitas
>kabel bawah tanah besar," kata John Welly. Kalau kapasitas yang diantar
>masih relatif kecil, cukup pakai kabel udara atau ditanam tanpa pipa, yang
>biayanya lebih murah.
>
>Kini dengan tuntutan pengguna fasilitas telekomunikasi untuk hubungan
>internet yang butuh transmisi kecepatan tinggi dalam hitungan megabit,
>dibutuhkan sarana pengantar serat optik. Tetapi biaya penggantian jaringan
>dengan serat optik sangatlah mahal dan PT Telkom belum mampu melakukan itu
>untuk semuanya.
>
>Dalam kondisi krisis ekonomi dan pengencangan ikat pinggang seperti saat
>ini, yang bisa dikerjakan BUMN itu hanya yang penting-penting dan segera
>mendatangkan uang saja. Yang jangka panjang, belum segera menghasilkan,
>belum bisa dipikirkan serius karena ketiadaan dana. (moch s hendrowijono)




Regards,

Kirim email ke