Saya sampaikan beberapa hal yang barangkali perlu untuk dikaji atau
diketahui bersama.
Bahwa persoalan KSO ini muncul dan cenderung makin rumit mungkin
disebabkan beberapa hal:
1. Dalam perjalanan KSO ini, saya melihat bahwa fungsi supervisi KKSO
kurang berjalan sebagaimana yang diharapkan, dan cenderung hanya sebagai
kompulator dan repeater report dari divre. Sikap pro aktif KKSO belum
begitu dirasakan oleh kita-kita yg ada di divre kso, baik itu menyangkut
operasional divre maupun pengembangan infrastruktur dan sdm divre.

2. Disamping itu, sebagian besar rekan-rekan divre kso "barangkali"
kurang berfikir secara strategic dan hanya/lebih berkutat pada masalah
operasional semata. Konsekuensi ini, barangkali yg menyebabkan munculnya
ungkapan bahwa "Yang penting operasional dan pelayanan jalan", tanpa
memikirkan akibat strategic dari "kelicikan" mitra kso yg senantiasa
berusaha men"cekoki" keinginannya untuk ditelan oleh kita di divre. Dgn
kata lain, sepanjang "supporting" (dalam tanda petik) mitra thd
operasional oke, maka pegawai kita cenderung akan diam dan oke-oke saja,
dan kurang berpikir strategic dan taktis, bahwa "supporting" dari mitra
itu bisa jadi bumerang bagi kelangsungan masa depan telkom (terkait
kelangsungan kso).
Sebagai contoh konkrit, yang saya dengar dari rekan-rekan divre, bahwa
mitra seringkali me"mark-up" nilai investasi, yang tampak ada perbedaan
nilai barang/investasi yg biasa dibeli oleh rekan di datel (beli
sendiri) dgn apa yg dibeli oleh mitra kso. Harga investasi mitra untuk
barang yg sama (spek & jml) cenderung lebih besar (bisa 2x lipat) dari
yg biasa dibeli oleh rekan datel. Kondisi ini selama ini senantiasa
berjalan terus, sejalan dgn adanya BALOP (berita acara layak opeasi)
hasil investasi mitra yg disampaikan ke divre (unit kso), dimana balop
tsb senantiasa diterima rekan kita/datel , yg nota bene hanya cenderung
peduli pada sistem or not systemnya jaringan, dan kurang peduli thd
nilai investasinya. Padahal mitra senantiasa berusaha men"cekoki" kita
untuk menerima apa yg disodorkan (tmsk nilai investasi). Kondisi ini
bahkan mungkin juga kurang disadari dampaknya oleh manajemen divre
sendiri.
Dan mungkin banyak contoh lainnya, termasuk kelicikan mitra memaksakan
untuk menerima "sistem"nya jaringan/network mitra padahal belum sistem
atau mitra mengakui atau menyerobot hasil investasi telkom atau divre,
yg mana semuannya menuntut kejelian dan ke"ngeyelan" kita.

3. Adanya kejelian mitra bahkan cukup licik untuk memanfaatkan setiap
lubang atau kelengahan kita (setiap saat) termasuk celah dari kso
aggreement, sementara di kita belum ada tim atau lembaga khusus,
terutama sisi legal, untuk menangani atau mengkounter pemikiran licik
mitra tsb. yg setiap saat senantiasa menumpuk/menggunung shg "beras
menjadi bubur", sebagaimana contoh diatas.
Dan contoh lain, bahwa network yg harus dibangun seharusnya fisik, namun
ternyata dgn kelicikan mereka memanfaatkan radio, wll, ultraphone yg
sering mati, untuk investasi, yg bahkan tidak hanya untuk sementara saja
(tidak ada niat mengganti phisik, harapan kita dan pelanggan).
4. Persoalan operasional, yang kurang mendapat dukungan material/moril
dari mitra bila itu tidak terkait langsung dgn pemasaran (baca :
pendapatan), namun mitra senantiasa meng"klaim" bahwa itu hasil jerih
payahnya mitra. sbg contoh perolehan predikat wco untuk kancatel,
predikat iso-9002, dll diakui sbg hasil kerjanya padahal, semuanya
diambil dari jerih payah 'sekuat tenaga" gotong royong (rereongan) rekan
divre dgn dana operasional apa adanya.

Menghadapi persoalan perubahan ke JVC tentunya tidak semudah membalik
tangan, marilah kita semua ikut serta berperan aktif memberikan masukan,
mulai dari lingkungan kecil kita masing-masing, dan terpenting
diperlukan ASSET VALUER (penilai) yg benar-benar independent yg tidak
memihak ke mitra (ada nggak yaaa.....?), mengingat selama ini saya
denger mitra memakai konsultan penilai sendiri untuk menghitung nilai
investasinya, yg mungkin memihak mitra.

Demikian sedikit info singkat, mungkin banyak lagi hal lain yg bisa
disampaikan rekan lainnya. Harapan saya memang BERAS TELAH MENJADI
BUBUR, namun jangan patah semangat, marilah kita berusaha agar BUBUR
KITA MENJADI NIKMAT, yaitu dgn diberi telor, abon dan bumbu-bumbu lain,
dan membuang yg gosong/kotor, dll..

Terima kasih, salam dari divre3.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
*       Teguh Herman P.
*       Change Management Team (CMT)
*       MERUBAH dan MENYELARASKAN
*       Kantor Divisi Regional III
*       T. 022-453-209-0 F. 022-453-211-1
<><><><><><><><><><><



> -----Original Message-----
> From: Dedi Suherman [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Monday, March 29, 1999 9:53 AM
> To:   STTTELKOM
> Subject:      [stttelkom] KSO - JVC
> 
> Republika Online edisi:
> 29 Mar 1999
> 
> Pemerintah Ubah Pola KSO Telkom Jadi usaha Patungan
> 
> JAKARTA -- Pola kerja sama PT Telkom dengan mitra swastanya akan
> diubah.
> Kalau sebelumnya pembangunan jaringan telekomunikasi di Indonesia
> memakai
> skema kerja sama operasi (KSO), kelak akan menerapkan konsep joint
> venture
> operation (JVC) atau usaha patungan.
> 
> Kebijakan tersebut terungkap dalam cetak biru reformasi industri
> telekomunikasi Indonesia, yang digunakan untuk mendukung penerbitan UU
> Telekomunikasi. UU baru itu sendiri akan diberlakukan untuk
> menggantikan UU
> Telekomunikasi No 3 Tahun 1984.
> 
> ''Pengubahan pola KSO menjadi JVC telah mendapat persetujuan dari
> pemerintah,'' tutur Dirjen Postel, Eman Sumantri, dalam seminar
> ''Pengembangan Telekomunikasi Indonesia: Tantangan dan Prospek Masa
> Depan
> KSO'' di Cipanas, akhir pekan lalu.
> 
> Perubahan skema ini dilatarbelakangi oleh pelaksanaan pembangunan
> satuan
> sambungan telepon (SST) -- yang selama ini diserahkan kepada mitra
> swasta PT
> Telkom -- yang ternyata kerap mengalami masalah. Khususnya, sejak
> Indonesia
> terjerat resesi berkepanjangan, yang berbuntut pada jatuhnya nilai
> tukar
> rupiah terhadap dolar AS.
> 
> Eman memaparkan bahwa investasi yang ditanam para mitra KSO Telkom
> hampir
> semuanya dalam bentuk dolar AS, sementara pendapatan yang mereka
> terima
> berupa rupiah. Selama tiga tahun sejak 1996, kelima mitra KSO telah
> menanam
> investasi sebesar 1,56 miliar dolar AS. Sebanyak 567 juta dolar di
> antaranya
> merupakan saham mereka, sisanya pinjaman dari beberapa konsorsium bank
> asing.
> 
> ''Dengan kondisi begitu, para mitra KSO dihadapkan pada masalah
> pembayaran
> utang serta sejumlah kewajiban yang memang sangat berat untuk
> dipenuhinya,''
> papar Eman. Konon, muncul spekulasi, beban itulah yang dipikulkan ke
> masyarakat dalam bentuk kenaikan tarif.
> 
> Dalam posisi 'terjepit' tersebut, para mitra KSO Telkom tampaknya mau
> tak
> mau harus menerima skenario JVC yang disodorkan pemerintah Indonesia.
> ''Prinsipnya, kami setuju saja. Secara ekonomis, itu memang
> satu-satunya
> cara untuk mengganti pola lama. Apalagi, dengan konsep itu ada
> kesinambungan
> pembangunan jaringan telekomunikasi. Tapi detailnya, termasuk hitungan
> teknisnya, perlu kita kaji dulu,'' tutur Dirut PT Mitra Global
> Telekomunikasi Indonesia (MGTI) D Siregar, saat ditemui di sela-sela
> acara
> yang sama.
> Mewakili rekan-rekan mitra KSO lainnya, Siregar menambahkan jika KSO
> tak
> diperpanjang, maka target pembangunan dua juta SST tak akan tercapai.
> Sementara, target pemasangan sambungan telepon yang dilaksanakan
> Telkom
> sendiri sebanyak tiga juta SST. Total lima juta SST.
> 
> Hingga 31 Maret 1999, mitra KSO baru berhasil memasang 1.371.548 SST
> di
> seluruh Indonesia. Jumlah sambungan tersebut memang telah melampaui
> target
> yang 1.268.000 SST. Tapi, untuk memenuhi target pada 31 Desember 1999
> --
> saat masa kontrak berakhir -- tampaknya bakal sulit.
> 
> Menurut catatan, mitra swasta KSO di lima wilayah divisi regional
> (divre)
> adalah Ariawest International untuk Jawa Barat, Mitra Global
> Telekomunikasi
> Indonesia (MGTI) untuk Jawa Tengah, Cable & Wireless Mitratel untuk
> Kalimantan, Pramindo Ikat Nusantara untuk Sumatra, dan Bukaka Singtel
> International untuk Kawasan Timur Indonesia.
> 
> Lebih lanjut, Eman mengatakan masih dipertimbangkan, apakah jasa
> telepon
> yang akan di-JVC-kan hanya telepon lokal saja atau regional saja
> (termasuk
> di dalamnya lokal dan sambungan langsung jarak jauh -- SLJJ), yang
> kini
> prosesnya sedang berjalan dan diharapkan sudah ada hasilnya Juni
> mendatang.
> Namun demikian, kata Eman, kemungkinan JVC regional akan menjadi
> pilihan,
> karena dinilai paling realistis.
> 
> Ia mencontohkan, jika bentuk usaha patungan regional yang digunakan,
> maka
> penyertaan saham pemerintah akan lebih besar ketimbang usaha patungan
> lokal.
> Dalam skema ini, kemungkinan besar pemerintah akan membuka peluang
> kepada
> perusahaan swasta lainnya, di luar lima mitra KSO yang selama ini
> telah
> dipakai.
> Sebelumnya, Komisi IV DPR RI juga telah mendesak pemerintah agar
> segera
> memutuskan hubungan kerja sama operasional swasta dengan Telkom agar
> perusah
> aan telekomunikasi tersebut lebih efisien. DPR juga minta agar Telkom
> lebih
> percaya diri untuk mengelola perusahaan tersebut memasuki milenium
> ketiga
> menjadi operator telekomunikasi kelas dunia. ''Daripada harus
> membebankan
> tarif telepon yang tinggi kepada masyarakat, lebih baik Telkom
> memutuskan
> KSO dengan pihak asing.''
> 
> Telkom, ketika go public 1995 lalu, menjanjikan kenaikan tarif telepon
> setiap tahunnya untuk menarik minat investor asing. Dengan kenaikan
> tarif
> ini, otomatis pendapatannya pun setiap tahunnya diharapkan meningkat.
> Sehingga, ketika investor asing masuk dan menjalin KSO dengan Telkom,
> dibuatlah kesepakatan kenaikan tarif tersebut setiap tahunnya, yang
> perhitungannya menggunakan standar internasional.
> 
> 

Kirim email ke