Date: Sat, 03 Apr 1999 05:34:08 PST
Tanggal 16 April 1999 akan diselenggarakan RUPS PT. Telkom (Tbk).
Semula
diagendakan adanya penggantian Dekom dan Direksi Telkom, namun
ternyata
kemudian diubah menjadi hanya penggantian Dekom saja, apa
sesungguhnya yang
sedang terjadi di Telkom ini ? Sudah lama Menhub ,
Men.BUMN dan Dirjen
Postel bersabar menahan diri dari hinaan dan
pelecehan yang dilakukan oleh
Mayor Jenderal (Purn) A.A. Nasution.
Sering sekali Nasution menghina mereka
di berbagai pertemuan, baik itu
mengenai KSO ataupun mengenai kenaikan tarip
telekomunikasi. Tetapi
ternyata pemerintahan Habibie tidak berani untuk
melakukan penggantian
pejabat yang jelas2 korup karena dibelakangnya ada
Menko Polkam Faisal
Tanjung. Bagaimana tidak korup, kalau dalam waktu
singkat saja ybs dapat
membeli rumah2 yang cukup mewah ,antara lain dua
rumah di lingkungan Jl.
Denpasar (berhadap-hadapan) dan yang terbaru adalah
membeli rumah di
kawasan Kebayoran Baru seharga Rp. 16 Milyard. Memang ybs
seolah2 tidak
tersentuh karena sajennya/setorannya baik ke Faisal Tanjung
maupun ke
anggota Komisi IV DPR-RI terutama ketuanya (Burhanudin Napitulu)
secara
teratur diberikan melalui kurirnya Dadun Amarudin yang juga main
dengan
kekayaan yang luar biasa di kawasann Kota Sukabumi dengan berkedok
pesantren.
Berbagai kebijaksanaan pun telah diacak-acak, fondasi yang
telah
diletakan para pendahulunya pada saat go publik diubah tanpa konsep
yang
jelas. Bila terdesak ybs selalu mengatakan bahwa ini perusahaan yang
sudah go publik, tetapi ybs sendiri nggak tahu apa yang dimaksud
perusahaan go publik. Karena itu ybs terus melakukan korupsi baik
melalui kroni2nya maupun min dengan investor KSO, padahal hal ini dapat
dituntut oleh Article 11 dari SECkarena korupsi dan merugikan perusahaan
terutama dalam hubungannya membuat MOU KSO yang jelas-jelas merugikan
Telkom tanpa ijin pemegang saham. Dan kalau terdesak pula soal
penggantian Dirut ybs selalu berkilah bahwa ybs hanya melanjutkan masa
Direksi Setianto sampai dengan tahun 2001, namun dibalik itu ybs selalu
memusuhi mantan-mantan Dirut dan mengubah berbagai kebijaksanaannya
tanpa arah yang jelas. Itulah Nasution, ABRI yang sok profesional yang
kerjanya hanya meresmikan berbagai proyek (termasuk proyek Taman Kanak2)
dan meyerahkan bantuan. Sekali-kali kepengin juga mendengar ybs
berdialog didepan TV (Talk Show) sehingga tampak kebodohannya. Biasanya
yang diajukan adalah Direktur yang dianggap pinter yakni Jhoni Welli,
sedangkan yang lainnya payahh, terutama Andi Siswaka yang telah
mengeluarkan dana pembangunan diluar budgetratusan milay bahkan
triliunan rupiah,bekerjasama dengan Bimantara. Kalau ditotal dana
pembangunan yang ditandatangani Andi Siswaka dengan seluruh hutang
Telkom, maka Telkom tinggal menunggu ajalnya saja. Demikian pula Hari
Supangkat Direktur Keuangan yang bodoh , percaya kepada konsultannya
Steve Dolley yang sekarang lari ke PT.Aria West (salah satu investor
KSO) dengan segala data keuangan Telkom yang penting, yang Hari sendiri
pasti tidak memilikinya. Demikian pula Brigjen (Purn) Dadad Kustiwa yang
sakit2an karena kecapean dan harus istirahat, seharusnya mereka sadar
dan mengundurkan diri dari pada digoyang oleh arus reformasi, terutama
Serikat Pekerja
BUMN Telkom yang akan segera dibentuk. Kita tunggu saja
apakah Menteri
Tanri Abeng berani melakukan kejutan ? Kita bertaruh saja ,
tampaknya
nggak akan berani. Selamat saja kepada karyawan Telkom untuk
prihatin
merenungi nasibmu yang tidak menentu pada akhirnya diakhir jabatan
Nasution, Telkom akan menjadi seperti Bank BUMN , terserang kanker dan
tinggal menunggu ajalnya. Selamat menderita.
B. Wibisono
Karyawan Divre
2.
