Daftar berita terlampir: * Citarum Dieksploitasi secara Tak Terkendali * Bali Akan Kehilangan Segalanya bila Sistem Subak Punah * Jangan Tergesa-gesa Menormalisasi Sungai
Kliping tematik lainnya dapat diperoleh di http://www.terranet.or.id/terramilis.php http://www.terranet.or.id/berita.php TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan http://www.terranet.or.id ================================================================ Citarum Dieksploitasi secara Tak Terkendali http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3667 Sungai Citarum di Jawa Barat kini mengalami degradasi yang mengerikan akibat dieksploitasi secara tidak terkendali. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) sendiri hanya melihat Citarum sebagai bahan komoditas yang dapat dikomersialkan tanpa mempedulikan sisi lingkungannya. Akibatnya, sungai terpanjang di Jabar itu terancam tidak lagi bisa menjalankan fungsi ekologi, ekonomi, dan sosial budaya. Demikian keterangan yang dihimpun Kompas dari berbagai pihak pemerhati Sungai Citarum, Rabu (27/3). Kekhawatiran terhadap degradasi Citarum juga muncul dalam diskusi temu pemerhati Citarum yang diselenggarakan Masyarakat Cinta Citarum di Bandung sehari sebelumnya. Diskusi dihadiri oleh berbagai pihak yang mempunyai andil dalam pengelolaan sungai yang menjadi sumber energi listrik bagi masyarakat di se-Jawa Bali. Mereka antara lain dari Dinas Pengairan Jabar dan pengelola Waduk Jatiluhur. (Kompas, 2002-03-28) Bali Akan Kehilangan Segalanya bila Sistem Subak Punah http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3668 Jika sistem pengairan subak yang khas Bali sampai hilang, masyarakat Bali akan kehilangan segalanya. Karena, subak sendiri merupakan sistem yang memiliki berbagai aspek yang di dalamnya terkandung sistem teknologi, sistem sosial, sistem budaya, dan sistem lingkungan fisik. Selain karena sifatnya yang multi-aspek tersebut, subak yang khas hanya ada di Bali ini juga terkait erat dengan kehidupan adat dan upacara. Demikian ditegaskan Prof Dr Ir Nyoman Sutawan, MSc dalam diskusi bertema "Subak Ditengah Himpitan Pembangunan Bali" yang diselenggarakan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) bekerja sama dengan Universitas Hindu Indonesia (UNHI) dengan dukungan dari AusAID, di Denpasar, Rabu (27/3). (Kompas, 2002-03-28) Jangan Tergesa-gesa Menormalisasi Sungai http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=3665 Pada umumnya setelah banjir reda, pemerintah dari tingkat daerah hingga pusat, selalu mengedepankan normalisasi sungai sebagai salah satu upaya menanggulangi banjir di kemudian hari. Contohnya Kabupaten Pati dan Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta yang mengumumkan menormalisasi sejumlah sungai. Padahal menurut Robert J Kodoatle PhD, pengajar jurusan teknik sipil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip), langkah utama untuk menormalisasi sungai kurang tepat. "Selain membutuhkan biaya cukup tinggi, hasil dari normalisasi kemungkinan besar kurang memuaskan. Sebaiknya sebelum memutuskan untuk menormalisasi, lebih baik membangun cekdam, menanam rumput di sepanjang daerah aliran sungai (DAS), reboisasi dan pembangunan embung. Baru setelah itu menempuh normalisasi sungai," tuturnya pada sarasehan pengendalian banjir Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) Sungai Serang, Lusi, Juwana (Seluna) di Pendopo Kabupaten Kudus, Selasa (26/3). (Kompas, 2002-03-27) _______________________________________________ Sungai mailing list [EMAIL PROTECTED] http://lists.lead.or.id/mailman/listinfo/sungai
