Mestinya PHK Massal Bisa Dicegah Suara Pembaruan, Jumat, 16 Januari 2009
Pada Mei 2008, ketika pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sekitar 28,7 persen langkah itu diikuti dengan pemberian insentif fiskal kepada pengusaha, sebagai kompensasi untuk menyeimbangkan dampak kenaikan harga BBM. Berapa persisnya insentif fiskal yang dberikan, saat itu, tidaklah begitu penting, namun setidaknya kebijakan itu berhasil mencegah kolapsnya sejumlah perusahaan manufaktur nasional. Ketika dunia dilanda resesi akibat krisis keuangan global, negeri ini kembali bergolak dengan kemungkinan akan terjadinya PHK massal. Pemerintah tidak tinggal diam. Pada akhir 2008, pemerintah telah menurunkan harga BBM. Langkah yang sama dilakukan lagi pada 15 Januari 2009. Selain menurunkan harga BBM, Pemerintah juga akan menambah pemberian stimulus fiskal yang semula sebesar Rp 12,5 triliun menjadi Rp 15 triliun. Insentif fiskal tersebut sudah masuk dalam APBN 2009. Membaca kondisi di atas, mestinya perusahaan tidak harus buru-buru melakukan PHK, karena pemerintah telah berupaya maksimal mengurangi beban yang dipikul pengusaha. Tapi, justru saat ini sangat santer media massa memberitakan tentang gelombang PHK massal yang telah dilakukan sejumlah perusahaan. Lay off (pengurangan tenaga kerja/PHK) sudah terjadi di banyak tempat. Jangan jadi pengusaha cengeng. Terlalu banyak kemudahan yang diberikan oleh pemerintah kepada para pengusaha di negeri ini. Modal usaha dikucurkan pemerintah, sementara modal pribadinya dilarikan ke luar negeri. Jika terjadi gejolak, senjata PHK massal digunakan tanpa ampun. Kapan Republik ini bisa maju, kalau mental pengusaha kita masih terus seperti ini? Di mana rasa nasionalismenya? Pengusaha yang baik mestinya tidak hanya melulu mengejar profit, melainkan juga ikut memikirkan kesejahteraan rakyat dan kestabilan negara. Dalam konteks ini, para pengusaha berdasi itu justru kalah dari para pedagang kaki lima, penjaja bakso, tukang sate, penjual buah dan makanan di warung tenda di pinggir jalan. Mental mereka lebih teruji menghadapi gejolak. Mereka nyaris tidak mendapatkan fasilitas dari pemerintah, malah sering menjadi objek penggusuran. Barangkali, ke depan, pengusaha pinggir jalan itu perlu mendapat prioritas. Lindungi mereka dengan aturan yang memadai. Jauhkan mereka dari objek premanisme dan kebijakan penggusuran, kendati dengan alasan demi keindahan dan ketertiban kota. Gerry Setiawan Aktivis Jaringan Epistoholik Jakarta (JEJAK) Jalan Kober Gang H Ismail Condet, Jakarta Timur Sumber: SUARA PEMBARUAN URL: http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=3901 Yahoo! Toolbar kini dilengkapi Anti-Virus dan Anti-Adware gratis. Download Yahoo! Toolbar sekarang. http://id.toolbar.yahoo.com ------------------------------------ http://www.SuratPembaca.info Komunitas Surat Pembaca IndonesiaYahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/surat-pembaca/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/surat-pembaca/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
