Kawasan Perbatasan adalah Serambi Depan Sinar Harapan, Senin, 16 Februari 2009
Redaksi Yth, Kawasan perbatasan Indonesia dengan negara-negara tetangga, di mana di wilayah darat berbatasan dengan tiga negara dan wilayah laut berbatasan dengan 10 negara, dapat dikatakan hampir kurang terurus. Hal demikian pernah disimpulkan dalam Rapat Koordinasi Pengamanan Wilayah Perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diselenggarakan oleh Biro Pusat Nasional (NBC) Interpol di Jakarta, pertengahan Februari 2009. Sebagai contoh, di wilayah Kalimantan Barat, panjang perbatasan dengan Serawak 1.035 km. Di Kalimantan Timur, perbatasan Indonesia dengan Malaysia 1.895 km. Di sana ditanam 700 patok perbatasan dan ada 30 pos penjagaan. Artinya, secara logika setiap pos penjagaan itu harus mengawasi dan menjaga perbatasan sepanjang 65 km. Patok dan pos jaga tersebut tentunya sangat minim untuk diberdayakan guna mengawasi bentangan perbatasan yang jauhnya puluhan kilometer setiap posnya. Demikian pula dengan armada kapal patroli untuk mengawasi kawasan perbatasan perairan. Semuanya tampak kurang, baik infrastruktur maupun fasilitias komunikasi. Sebagai akibatnya, perbatasan kita mempunyai konsekuensi mudah diterobos oleh penjarah asing. Di darat, penyusup ilegal dengan berbagai macam cara mudah masuk ke wilayah RI. Di laut, kelangkaan kapal patroli membuat sumber daya alam, termasuk perikanan dan kekayaan laut lainnya dijarah oleh pihak asing. Sebenarnya permasalahan perbatasan telah ditangani beberapa pihak terkait, seperti TNI, Polri, Departemen Dalam Negeri, Departemen Luar Negeri, hingga Departemen Kelautan dan Perikanan. Namun, perhatian tersebut tampaknya perlu dikoordinasikan dan ditindaklanjuti secara konkret. Selain itu, ada perbedaan sangat krusial, yaitu masalah ekonomi dan sosial. Penulis pernah berkunjung ke daerah Entikong, Kalimantan Barat, melalui seorang teman, menyaksikan sendiri perbedaan yang sangat mencolok antara keadaan Indonesia dan Malaysia di perbatasan. Bila kita berada di perbatasan Indonesia, keadaan sangat kotor, kumuh, banyak pedagang kaki lima dan asongan (kini menjadi tipikal orang Indonesia). Sementara itu, setelah memasuki wilayah Malaysia, keadaan berbeda 180 derajat. Di sana bersih, tertata baik, tidak kumuh, tidak ada pedagang kaki lima, apalagi asongan. Hal yang membuat hati berdecak, di setiap sudut jalan yang mulus terdapat bendera Malaysia berkibar. Bahkan, di beberapa tiang di pinggir jalan, bendera tersebut dengan angkuhnya berkibar. Seakan, kawasan tersebut menunjukkan "inilah Malaysia". Faktor ekonomi jelas membuat kawasan perbatasan menjadi hal yang sangat rawan. Maka tak heran bila kawasan tersebut lebih memilih menggunakan mata uang ringgit daripada rupiah dalam hal bertransaksi. Penduduk lebih tahu nama pejabat Malaysia dibandingkan dengan nama pejabat Indonesia. Malah, lagu kebangsaan Malaysia, mereka lancar menyanyikannya. Itulah realitas keadaan perbatasan. Oleh karena itu, janganlah menganggap perbatasan sebagai halaman belakang rumah kita, tapi merupakan serambi depan. Sekali lagi, janganlah kawasan perbatasan hanya menjadi perhatian pihak-pihak terkait, tetapi agar diwujudkan secara konkret sehingga perhatian-perhatian tersebut menjadi kenyataan yang membangun. Janganlah masalah cinta tanah air dan rasa nasionalisme lewat begitu saja, hanya karena faktor ekonomi dan sosial yang sebenarnya dapat tertangani dengan baik. Aryo Rahardjo Kompleks Perum UT Parung Bogor Sumber: SINAR HARAPAN URL: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0902/16/opi02.html Berbagi foto Flickr dengan teman di dalam Messenger. Jelajahi Yahoo! Messenger yang serba baru sekarang! http://id.messenger.yahoo.com
