Jakarta - Saya, Ibu dari Steven Fanggian Siswa 7 C
Stella Maris International Gading Serpong. ingin menanyakan kepada
pihak yang berwenang dalam penyelenggaraan pendidikan international.
Hal tersebut terpaksa saya tanyakan kepada pakar karena selama ini saya
merasa tidak puas atas jawaban dari Stella Maris International Gading
Serpong yang saya rasa cenderung bergaya komunikasi satu arah.

Saya
heran kenapa Tae Kwon Do dijadikan olah raga yang super istimewa.
Selain sebagai ekstra kulikuler (bukan wajib) juga dijadikan sebagai
intra kulikuler (wajib). Apakah ini karena Principal Secondary adalah
seorang guru Taekwondo. Lantas apakah nanti bila principal berganti
jenis pelajaran wajib juga ikut berganti. 

Ini seperti
mengulang gaya Menteri P dan K di era Orde Baru yang selalu
berganti-ganti policy mengikuti bergantinya menteri. Tidak ada
kepastian maupun arah yang jelas. Akhirnya siswa yang akan jadi korban
ketidakpastian tersebut. 

Saya tidak mengerti kenapa Tae Kwon
Do menjadi keharusan. Kalau Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia
merupakan keharusan mestinya kita semua dapat menerimanya. Saya pernah
menerima penjelasan bahwa Tae Kwon Do tersebut adalah untuk mempupuk
jiwa sportip dan ksatria. Saya setuju. Namun, bukankah olah raga lain
juga demikian adanya. 

Sebagai olah raga wajib Tae Kwon Do berhak mendapat nilai di rapor. Ini tentu
memberatkan
bagi siswa yang kurang berbakat di bidang tersebut sehingga sebagian
dari mereka terpaksa harus dengan pahit hati menerima nilai rapor merah
untuk bidang olah raga yang bukan pilihannya. Realitanya ada beberapa
siswi teman anak saya yang begitu feminimnya sehingga nilainya merah.
Bahkan, ada juga siswa yang dapat nilai 42.

Bukankah ragam olah
raga itu sangat banyak. Kenapa harus direduksi sehingga seolah-olah
yang layak masuk rapor hanya Tae Kwon Do. Kenapa Tae Kwon Do tidak
dimasukkan sebagai salah satu cabang dalam olah raga saja. Kita tahu
meski badminton menjadi kebanggaan kita namun tetap menjadi salah satu
dari sekian banyak cabang olah raga lainnya. Tak pernah Pemerintah
memaksa siswa harus menguasai cabang kebanggaan kita tersebut.

Saya
juga merasa amat kecewa karena pernah pada suatu kegiatan ekstra
kulikuler olah raga. Ternyata pelatih tidak ada sehingga timbul
keonaran menuju tawuran yang semestinya tidak akan terjadi kalau ada
pelatih tersebut. Excuse bahwa pelatih tersebut merupakan out sourcing
rasanya sulit saya terima. Tak semestinya saya yang hanya seorang ibu
rumah tangga harus melerai keonaran tersebut. 

Seharusnya ada
pelatih pengganti minimal satpam atau apalah kalau pelatih tidak ada.
Kenapa standar internasional yang diterapkan begitu rendahnya. Bukankah
seharusnya kalau tak ada rotan akar pun jadi. Namun, ternyata tak ada
siapa-siapa kecuali saya si Ibu rumah tangga yang harus melerainya.

Stella
Maris International Gading Serpong juga amat sangat gemar menghukum
siswanya. Pernah di saat pelajaran ada seorang siswa yang bikin lelucon
sehingga rekan yang lain tertawa atau tersenyum. Tak hanya sang
pembikin lelucon yang dihukum tapi juga yang tertawa / tersenyum. 

Di
dunia ini apakah memang ada larangan / hukuman untuk perbuatan tertawa
/ tersenyum. Saya pernah protes atas hukuman tersebut tapi Head of
School cuma tersenyum tanpa ada tindak lanjut. Di Kasus lain karena
terlalu semangat untuk menghukum maka putra saya dikurangi point
kedisiplinan untuk sesuatu yang tak pernah diperbuatnya. Untungnya saya
termasuk ibu yang selalu memantau semua aktivitas putra saya sehingga
saya langsung protes keras. 

Meski protes saya diterima namun
bagaimana bila hal yang merugikan siswa tersebut terjadi pada ibu-ibu
lain yang sibuk di kantor. Apakah mereka rela meninggalkan pekerjaannya
hanya untuk selalu memantau kecerobohan sekolah International tersebut. 

Hendaknya para Ibu jeli dalam memilih sekolah International
bagi putra-putrinya. Agar tak menyesal nantinya. Karena itu tadi hanya
sekelumit kisah duka yang saya kisahkan mengingat keterbatasan space
untuk surat pembaca. Terima kasih atas perhatiannya.

Anah Sri Wahyuni
Vila Melati Mas Blok SR 24/3 Serpong 15323  B A N T E N

Sumber : DETIK COM
Source: 
http://suarapembaca.detik.com/read/2009/03/09/204614/1096745/283/keluhan-terhadap-stella-maris-international-gading-serpong



      

Kirim email ke