Kecewa Pelayanan RS Ibu & Anak Lestari Cireundeu Ciputat
Selasa, 10 Maret pukul 09.30 WIB, kami membawa anak kami sakit
diare ke RS UIN Ciputat. Karena penuh kami dirujuk ke RS Lestari
Cirendeu. Dari pengalaman kami biasa ke RS ternama dirujuk ke rumah
sakit tersebut agak takut karena seumur hidup belum pernah mendengar
nama rumah sakit tersebut. Tapi, demi keselamatan anak kami bersedia
dirujuk ke sana karena banyak kamar kosong.

Sampai di sana
benar, mulai dari kelas VIP hingga kelas tiga masih kosong semua yah
paling ada empat ruangan yang terisi, itupun di kelas tiga. KKami
memilih kelas satu kamar melati B. Kami pada saat ke sana cuma berdua,
saya dan anak saya tidak ditemani kerabat atau suami saya. Karena
darurat yang penting dalam pikiran saya anak saya segera diinfus karena
sudah lemas sekali.

Awalnya saya dilayani dengan baik oleh
dokter dan susternya, dan pada saat membayar DP jumlah harus Rp2 juta
untuk kelas satu, Saat itu saya membawa ATM BCA dan BRI dan saya cuma
bisa membayar Rp1,5 juta, BCA Rp1 juta dan dengan BRI Rp500.000. ATM
sudah dipegang oleh kasir. Dalam keadaan mengendong anak dan membawa
tas besar, kasir menyuruh saya untuk melakukan pembayaran dengan ATM
saya harus naik ke lantai satu yang tangganya cukup tinggi, karena di
bawah alat atm tidak ada.

Saya bilang ke kasir, "Mba boleh ambil
ATM saya untuk digesek di atas karena dalam keaadaan anak saya darurat
segera diinfus, saya harus mengendong naik ke atas betul-betul repot,"
lalu kasir mengembalikan ATM saya dan menyuruh agar anak saya diinfus
saja dahulu, nanti mereka akan ke kamar saya menagih DPnya.

Tetapi,
sampai malam tanggal 12 Maret tidak ada juga yang menagih DP, saya juga
lupa karena sibuk mengurus anak, barulah saya temui TU/kasir untuk
membayar DP sekalian minta rincian untuk besok 13 Maret karena saya mau
pulang. (kenapa kronologis DP saya ceritakan di awal karena saya dihina
tidak berterima kasih sudahlah tidak membayar DP oleh Suster Wati di
akhir cerita "pada tanggal 14 Maret jam 11.00 WIB)

Tidak ada
suster yang memperkenalkan diri dan membantu pemberian jadwal obat dan
mencatat jumlah diare per jam-jam/frekuensi diare. Awalnya berjalan
dengan baik, saya tidak ada kenal satu namapun suster jaga selama di
sana karena mereka setiap masuk tidak ada yang memperkenalkan diri
kepada saya, begitu juga pada saat pergantian shif, saya cuma taunya
nama mereka suster saja, dan lebih mengagetkan obat-obatan untuk anak
saya diberikan dan menjadi tanggungjawab saya.

Bukannya, setahu
saya tiap kali minum obat suster yang datang memberikan sesuai jadwal,
ini malah di-drop ke saya dan diintruksikan agar setiap 4-6 jam
diminumkan ke anak saya. Bayangkan aturan obat itu musti benar karena
menyangkut nyawa, salah jam aturan bisa berpengaruh ke kondisi dan
menyangkut nyawa.

Saya sempat komplain, kenapa musti saya yang
beri obat, jawaban dari suster memang di sini seperti itu, yah sudah
saya ikuti saja, karena tidak mau pusing. Saya pikir ini kelas satu
biasanya di RS lain dirawat di kelas tiga sekalipun untuk obat suster
yang atur pemberian obat bukan pasien.

Begitu juga dengan
frekuensi diare, malah saya diberi kertas dan pensil mencatat sendiri
jumlah diare berapa kali-kalinya yang terjadi dalam kurun 2-4-6 jamnya.
Bagaimana mungkin saya mencatat jumlah berapa kali diare anak saya,
saya aja sudah pusing capek mikirin anak rewel, ganti pampers, cebokin
anak dan bersih kasur semua dilakukan oleh saya sendiri bersama suami,
karena aturan di sini begitu. Suster yang aneh dan aturan yang aneh,
ini kelas satu looohhhh. Oh iya, jika saya butuh air, mangkuk, gelas
saya musti ambil sendiri loh ke dapurnya, yang jaraknya 10 meter dari
kamar kelas satu saya, hebat kan...boww!!

Rabu, 11 Maret pukul 04.00 WIB

Perekat/plester
infus anak saya lepas, tapi sudah saya kencangkan/sambungkan lagi,
karena sekeliling selang perbanya pada basah saya bel suster untuk
menganti perbanya. Kemudian datanglah suster yang memakai baju
putih-putih (karena ada juga suster jaga berseragam list hijau. Saya
tidak tau apa bedanya, karena selalu suster baju putih-putih yang maaf
kayaknya masih junior muda sekali. Saya sempat berpikiran jangan-jangan
dia masih mahasiswa/junior,dan tidak berpengalaman).

Saya bilang
suster temannya yang lain mana? kenapa sendiri? karena ganti perban
tidak bisa sendiri biasanya suster butuh teman minimal berdua? karena
repot. Dia menjawab tidak apa bu saya bisa. Disitu saya sudah was-was,
karena dia cuma membawa plester, kapas dan gunting. Pada saat itu juga
belum sempat saya menanyakan kenapa tidak membawa perban karena yang
diganti perbanya yang sudah basah, suster tersebut sudah dengan begitu
cepatnya tiba-tiba telah mencabut semua perban dan jarum yang masih
menancap di tangan anak saya, sehingga darah banyak keluar anak saya
diberi kapas dan diplester.

Betapa kaget saya sempat bentak
suster tersebut, "Apa yang kamu lakukan! kenapa kamu cabut infus dan
jarumnya siapa yang ijinkan kamu mencabut jarumnya?" karena saya cuma
minta ganti perban, dengan enteng dia menjawab tidak apa-apa bu sudah
terlanjur nanti jam 6 pagi dipasang kembali. Saya mengamuk karena
kondisi anak saya masih lemas dan dalam masa pengobatan/pemulihan dan
tanpa izin saya main cabut infus tersebut.

Saya bentak dan saya
marah, saya tidak mau tau infus anak saya musti diapasang kembali,
kenapa musti menunggu jam 6? suster tersebut ketakutan pergi dan 30
menit kemudian datanglah suster lain yang mau pasang infus kembali.
Dengan menangis saya ikut ke ruangan infus untuk dimasukan jarum
kembali. Saya cuma bayangkan anakku yang masih lemas musti ditusuk
kembali. Kasihan sekali anaku baru 1,5th umurnya.

Betapa pilunya
seperti disayat para suster berjumlah lima orang, mereka berseragam
list hijau, kecuali yang mencabut jarum infus putih-putih dan raut
wajahnya masih panik. Mereka tiga kali menusukan jarum ke tangan kanan
anak saya tapi tidak mendapatkan hasil. Saya putuskan untuk tidak
dilanjutkan untuk ditusuk kembali biar anakku istirahat dahulu, dan
saya minta bicara ke dokter yang menagani anak saya tapi suster jaga
bilang tunggu besok jam 8 pagi.

Jam 08.00 WIB, anak saya belum
dibolehkan pulang karena musti menuntaskan suntikan antibiotik dua kali
lagi. Kalau bukan memikirkan keselamatan anak, sumpah saya sudah sakit
hati kecewa luar biasa dengan perlakuan para suster di sana. Saya
ijinkan anakku diinfus kembali. Bayangkan tujuh atau delapan kali anaku
musti megalami sakit jarum tersebut. Tapi, demi anak, aku pasrah.

Setelah
diinfus ada dua suster jaga, baru yang senior meminta klarifikasi
kejadian subuh jam 4. Saya ceritakan semua, ternyata suster yang
mencabut infus anak saya tidak mengaku, malah menuduh saya yang
mencabut jarumnya, betul-betul kurang ajar, para suster jaga jam 4
tersebut saling menutupi karena takut diketahui dokter dan koordinator
mereka. Malamnya saya meminta rincian biaya agar besok jam 9 kami
pulang dan agar tidak repot lagi, tapi kasir/tata usaha hanya bisa
memperlihatkan rincian dengan selembar kertas hvs yang ditulis dengan
pensil. 

Agak aneh memang manual sekali? Setelah dilihat bon
dan rincian saya tidak mengerti karena masih tulisan pensil serta
banyak coretan dimana-mana, nah...baru malam ini tata usaha/kasirnya
meminta DP ke saya, itupun saya yang mengingatkan, lalu saya serahkan
uang tersebut, saya tanya ke kasir/tu yang datang ke kamar saya
bayarnya Rp1 juta/2 juta mba? dia bilang Rp1 juta dahulu besok jika ada
penambahan baru ditambah lagi, kwitansi diberikan.

Kamis, 12 Maret pukul 08.30 WIB

Saya
minta rincian yang rapih dan pelunasan agar segera keluar, tapi rincian
tidak diberikan karena musti menunggu hari Sabtu? Saya bingung
bagaimana saya mau bayar kalau saya cuma diberikan totalnya saja, tidak
dalam bentuk draf rincian. Yang saya tau klinik, puskesmas kecil saja
punya rincian yang rapih, masa RS sebesar ini tidak ada cuma secara
manual tulisan pensil pula. Betul-betul aneh karena kesal saya juga
sudah tidak nyaman sedari kemarin.

Saya bayar semua, karena anak
kami akan dirawat lanjutan/kami pindahkan ke RS Muhamadiyah. Nah,
disini baru ketahuan bobroknya sistem pembayaran dan kecurangan dari
rumah sakit tersebut. Dari sisa obat anakku yang dibawa pulang ada yang
tidak anakku makan seperti vometa, pedialit/neuralit saya lupa namanya
sebanyak dua botol (padahal diberikan cuma satu botol itupun tidak
diminum anaku karena tidak suka). Suntikan antibiotik yang tinggal 1/2
impus lagi tidak ada buktinya diberikan ke saya, bayangkan satu botol
harganya cukup mahal Rp130.000-an (mungkin sisanya dipakaikan untuk
pasien lain kali karena masih cukup untuk satu kali suntik lagi kan
lumayan).

Jelas, saya tambah kesal anakku dibilang minum pometa
padahal tidak ada satu susterpun selama anakku dirawat ada yang datang
memberikan obat tersebut untuk diminum, boro-boro yang ada semua obat
di drop ke saya dan saya sendiri yang mengatur pemberiannya. Dan
lucunya lagi, saya diberi kertas dan pensil untuk mencatat berapa kali
anak saya diare dalam tiap jamnya....ha..ha.. lucu sekali saya ini di
kelas satu tapi saya bekerja sendiri layaknya suster, jadi saya cuma
nyewa kamar dan infus saja, tidak ada yang melayani padahal ada cash
pelayanan Rp60.000 loh.

Perlu Anda ketahui anakku jadi stres
sampai sekarang masih trauma karena kebanyakan ditusuk jarum sampai
tujuhan kali (ada bekas tusukannya ditangan) akibat suster tidak
profesional. Rincian biaya tidak ada, dan Dr wiwik yang katanya sudah
minta maaf kesaya dan berjanji menegur para suster itu, dan berjanji
memberikan rincian biaya serta obat yang salah. Nyatanya, 
sampai
hari ini tidak ada yang menelpon kembali. Bahkan, pada tanggal 14 hari
Sabtu pukul 11.00 WIB malah ada yang namaya suster wati menghina saya
yang katanya saya itu pasien yang tidak tau berterimakasih sudah masuk
rumah sakit tidak membayar DP. Waduh-waduh..hebat sekali suster
tersebut malah mencari-cari kesalahan saya, padahal masalahnya sepele
saya menuntut kejujuran dan rincian biaya sebagaimana prosedur yang
berlaku.

Apakah anda-anda mau keluar rumah sakit membayar saja
tanpa tau rincianya, Alhamdulillah, kini anak saya sudah sehat berkat
saya rawat di RS Muhamadyah. 

Deasy Apriani 
Komp Pertamina, Pd Ranji, Tangerang Source: OkeZone.Com
URL: http://us.mg3.mail.yahoo.com/dc/launch?.gx=1&.rand=cqt5clrh8c3eh


      

Kirim email ke