http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2009/06/02/brk,20090602-179324,id.html
Selasa, 02 Juni 2009 | 06:38 WIB


TEMPO Interaktif, Jakarta: Di lapangan, krisis sengketa perbatasan perairan
Ambalat menimbulkan berbagai reaksi di masyarakat. Di Kecamatan Sebatik,
Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, yang berbatasan dengan Malaysia, warga
setempat mengaku akan segera memulai latihan menembak bersama personel
Marinir Angkatan Laut. "Kami selalu waspada akan terjadinya perang," kata
Ketua Pengurus Alkhairaat di Sebatik, Suniman Latasi, melalui telepon.

Adapun para nelayan dan perusahaan pembenihan udang di Kota Tarakan, mengaku
merugi akibat ketegangan di Ambalat. Mereka tak mendapat pasokan induk udang
windu karena para nelayan dilarang dan diusir dari perairan Ambalat oleh
tentara kedua negara. "Disuruh pulang sama tentara," kata Upuk, salah satu
nelayan di Tarakan.

Ketegangan yang meningkat di Ambalat dan melibatkan kekuatan militer kedua
negara membuat Komisi Pertahanan DPR RI merasa perlu mengirim delegasi ke
Malaysia. Tim yang terdiri atas lima orang itu dipimpin oleh Wakil Ketua
Komisi Pertahanan Yusron Ihza Mahendra.

Mereka dijadwalkan terbang ke Kuala Lumpur pekan ini untuk menemui Perdana
Menteri Malaysia Najib Razak, Menteri Luar Negeri, serta Menteri Pertahanan
Malaysia. "Kami akan meminta penjelasan kenapa mereka bermanuver di perairan
Ambalat," kata Yusron.

Dalam catatan Komisi Pertahanan, katanya, sepanjang 2009 ini pihak Malaysia
telah 11 kali melanggar perbatasan. Pada 2008, Malaysia bahkan lebih dari 26
kali masuk wilayah Ambalat tanpa izin.

Manuver Malaysia ini dinilai tak etis karena penyelesaian Ambalat masih
dalam proses perundingan. "Kalau terjadi konflik fisik, tak akan ada yang
diuntungkan," kata Yusron. Ia mengatakan timnya telah berkoordinasi dengan
Departemen Luar Negeri dan Kepala Staf Angkatan Laut sebelum bertolak ke

Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa menyatakan keyakinannya bahwa
pemerintah Indonesia akan menang dalam negosiasi dengan Malaysia dalam
sengketa perbatasan di Blok Ambalat. "Pemerintah kita sangat firm untuk
itu," katanya di sela rapat di Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat kemarin.

Hatta memastikan pemerintah akan memperjuangkan setiap jengkal wilayah
Indonesia. "Perjuangannya melalui Departemen Luar Negeri," katanya. "Jangan
katakan seolah-olah kita lemah dan membiarkan. Negara ini tidak seperti
itu."

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Agung Laksono menilai krisis Ambalat yang
berlanjut ini terjadi karena pemerintah lamban dalam menyelesaikan sengketa.
“Itu lamban sekali," kata Agung. "Harus dilakukan secara simultan."

Y. TOMI ARYANTO | EKO ARI | DWI RIYANTO

Kirim email ke