Panitia Urban Jazz tidak Paham Fotografi Media Indonesia, Rabu, 3 Juni 2009
Pada Jumat (22/5), pukul 21.00 WIB ada pertunjukan Urban Jazz Jazz Cross Over di The Ritz Carlton Hotel, Pacifi c Place. Kebetulan saudara kami ikut bermain musik di sana, maka kami ramai-ramai satu rombongan menonton sekaligus ingin mengabadikan dengan kamera foto. Tiba saatnya masuk, di antara rombongan tersebut, saya dan salah satu saudara saya ditahan petugas keamanan karena membawa kamera. Untuk membawa kamera foto kelas SLR (Canon dan Nikon dengan lensa 200 mm dan 400 mm) harus menggunakan izin khusus sebagai wartawan. Tentu saja hal itu menjadi aneh, walaupun saya ada kartu wartawan, memang teman saya tidak ada, tetap menjadi hal yang percuma. Demikian juga beberapa penonton lain yang membawa peralatan fotografi yang sama, tidak bisa masuk. Kami diminta ke meja pendaftaran wartawan untuk mendapatkan ID, tetapi ini bukan solusi karena kami tidak hendak meliput. Kami ingin menonton dan mendokumentasikan performance para jazzer Indonesia. Pengalaman kami yang selalu menonton JavaJazz dan JakJazz setiap tahun dengan para penyanyi jazz nasional dan internasional, tidak pernah dilarang membawa kamera foto maupun video jenis apa pun oleh panitia. Bahkan mereka merasa terbantu karena hal ini menjadi bagian promosi di kalangan penggemar jazz. Di meja registrasi wartawan kami ditemui seorang panitia perempuan (saya tidak ingat namanya) dan dijelaskan bahwa ada pemberitahuan larangan membawa kamera yang tertera di belakang undangan. Namun, di situ hanya tertulis "dilarang membawa video dan kamera", tidak dijelaskan jenis dan besar-kecilnya, juga tidak dituliskan "kecuali wartawan". Padahal apabila dilarang memotret, seharusnya panitia penyelenggara (EO) melarang semua pengunjung yang membawa kamera, tetapi ternyata ada diskriminasi untuk kami yang membawa kamera SLR. Anehnya lagi, EO tersebut tidak mampu menjelaskan alasan larangan tersebut. Lebih aneh lagi, EO perempuan tersebut meminta kami menunggu hingga antrean kosong, barulah kami diperkenankan masuk ke ruang pertunjukkan. Sepertinya, ini bukan solusi yang tepat dan lagi pula apa esensinya? Sungguh tidak masuk akal dan sedemikian paranoidnya EO musik jazz ini sehingga melihat kamera SLR sudah seperti melihat hantu, padahal kami bukan fotografer profesional atau fotografer yang mungkin bisa mengomersialkan foto-foto tersebut. Sungguh sayang sekali minimnya pengetahuan mereka tentang kamera foto, bahwa sudah banyak kamera foto digital yang bentuknya kecil, tetapi kemampuannya seperti kelas SLR. Akhirnya, sebagai manusia yang waras kami mengalah dan lebih memilih untuk pulang dengan kecewa, daripada harus berdebat dengan EO yang pengetahuannya kurang akan fotografi . Hal itu menjadi peringatan bagi para penggemar fotografi dan sekaligus penikmat musik jazz, agar lebih teliti jika hendak menonton. Samsi Darwaman Penggemar musik jazz Jakarta Sumber: MEDIA INDONESIA URL: http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2009/06/03/ArticleHtmls/03_06_2009_010_034.shtml?Mode=0 Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs pribadi Anda? Buat Pingbox terbaru Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/ ------------------------------------ http://www.SuratPembaca.net Komunitas Surat Pembaca IndonesiaYahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/surat-pembaca/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/surat-pembaca/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
