wah, kisah ini sungguh membuat saya hanyut saya amat terbuai, apalagi saya memang menyukai filem-filem fiksi atau non-fiksi yang berkaitan dengan kekuasaan hitler, tapi bukankah dahulu, menurut ceritanya, hitler banyak "mencetak" orang yang mirip dirinya ? agar suatu waktu dia bisa terhindar dari bahaya yang mengancamnya tapi kisah ini bisa juga menjadi inspirasi baru, siapa yang mau meneruskan upaya dr sosrohusodo itu ? salambambangsulistomo
2010/2/18 teddy sunardi <[email protected]> > > > http://sukasejarah.org/index.php?topic=130.0 > > Hitler pernah praktek sebagai dokter asing di di Sumbawa Besar ?. > > Jika saja ada yang rajin menyimpan klipingan artikel harian “Pikiran > Rakyat” sekitar tahun 1983, tentu akan menemukan tulisan dokter Sosrohusodo > mengenai pengalamannya bertemu dengan seorang dokter tua asal Jerman bernama > Poch di pulau Sumbawa Besar pada tahun 1960. Dokter tua itu kebetulan > memimpin sebuah rumah sakit besar di pulau tersebut. > > > Tapi bukan karena mengupas kerja dokter Poch, jika kemudian artikel itu > menarik perhatian banyak orang, bahkan komentar sinis dan cacian! Namun > kesimpulan akhir artikel itulah yang membuat banyak orang mengerutkan > kening. Sebab dengan beraninya Sosro mengatakan bahwa dokter tua asal Jerman > yang pernah berbincang-bincang dengannya, tidak lain adalah Adolf Hitler, > mantan diktator Jerman yang super terkenal karena telah membawa dunia pada > Perang Dunia II! Beberapa “bukti” diajukannya, antara lain dokter Jerman > tersebut cara berjalannya sudah tidak normal lagi, kaki kirinya diseret. > Tangan kirinya selalu gemetar. Kumisnya dipotong persis seperti gaya aktor > Charlie Chaplin, dengan kepala plontos. > > Kondisi itu memang menjadi ciri khas Hitler pada masa tuanya, seperti dapat > dilihat sendiri pada buku-buku yang menceritakan tentang biografi Adolf > Hitler (terutama saat-saat terakhir kejayaannya), atau pengakuan > Sturmbannführer Heinz Linge, bekas salah seorang pembantu dekat sang Führer. > Dan masih banyak “bukti” lain yang dikemukakan oleh dokter Sosro untuk > mendukung dugaannya. Keyakinan Sosro yang dibangunnya dari sejak tahun > 1990-an itu hingga kini tetap tidak berubah. Bahkan ia merasa semakin kuat > setelah mendapatkan bukti lain yang mendukung ‘penemuannya’. “Semakin saya > ditentang, akan semakin keras saya bekerja untuk menemukan bukti-bukti > lain,” kata lelaki yang lahir pada tahun 1929 di Gundih, Jawa Tengah ini > ketika ditemui di kediamannya di Bandung. Andai saja benar dr. Poch dan > istrinya adalah Hitler yang tengah melakukan pelarian bersama Eva Braun, > maka ketika Sosro berbincang dengannya, pemimpin Nazi itu sudah berusia 71 > tahun, sebab sejarah mencatat bahwa Adolf Hitler dilahirkan tanggal 20 April > 1889. “Dokter Poch itu amat misterius. Ia tidak memiliki ijazah kedokteran > secuilpun, dan sepertinya tidak menguasai masalah medis,” kata Sosro, > lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang sempat bertugas di > pulau Sumbawa Besar ketika masih menjadi petugas kapal rumah sakit Hope. > > Sebenarnya, tumbuhnya keyakinan pada diri Sosro mengenai Hitler di pulau > Sumbawa Besar bersama istrinya Eva Braun, tidaklah suatu kesengajaan. Ketika > bertugas di pulau tersebut dan bertemu dengan seorang dokter tua asal > Jerman, yang ada pada benak Sosro baru tahap kecurigaan saja. Meskipun > begitu, ia menyimpan beberapa catatan mengenai sejumlah “kunci” yang > ternyata banyak membantu. Perhatiannya terhadap literatur tentang Hitler pun > menjadi kian besar, dan setiap melihat potret tokoh tersebut, semakin yakin > Sosro bahwa dialah orang tua itu, orang tua yang sama yang bertemu dengannya > di sebuah pulau kecil d Indonesia! > > Ketidaksengajaan itu terjadi pada tahun 1960, berarti sudah dua puluh tahun > lebih ia meninggalkan pulau Sumbawa Besar. Suatu saat, seorang keponakannya > membawa majalah Zaman edisi no.15 tahun 1980. Di majalah itu terdapat > artikel yang ditulis oleh Heinz Linge, bekas pembantu dekat Hitler, yang > berjudul “Kisah Nyata Dari Hari-Hari Terakhir Seorang Diktator”, yang > diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Try Budi Satria. Pada halaman > 59, Linge mula-mula menceritakan mengenai bunuh diri Hitler dan Eva Braun, > serta cara-cara membakar diri yang kurang masuk di akal. Kemudian Linge > membeberkan keadaan Hitler pada waktu itu. “Beberapa alinea dalam tulisan > itu membuat jantung saya berdetak keras, seperti menyadarkan saya kembali. > Sebab di situ ada ciri-ciri Hitler yang juga saya temukan pada diri si > dokter tua Jerman. Apalagi setelah saya membaca buku biografi ‘Hitler’. > Semuanya ada kesamaan,” ungkap ayah empat anak ini. Heinz Linge menulis, > “beberapa orang di Jerman mengetahui bahwa Führer sejak saat itu kalau > berjalan maka dia menyeret kakinya, yaitu kaki kiri. > > Penglihatannya pun sudah mulai kurang terang serta rambutnya hampir sama > sekali tidak tumbuh... kemudian, ketika perang semakin menghebat dan Jerman > mulai terdesak, Hitler menderita kejang urat.” Linge melanjutkan, “di > samping itu, tangan kirinya pun mulai gemetar pada waktu kira-kira > pertempuran di Stalingrad (1942-1943) yang tidak membawa keberuntungan bagi > bangsa Jerman, dan ia mendapat kesukaran untuk mengatasi tangannya yang > gemetar itu.” Pada akhir artikel, Linge menulis, “tetapi aku bersyukur bahwa > mayat dan kuburan Hitler tidak pernah ditemukan.” Lalu Sosro mengenang > kembali beberapa dialog dia dengan “Hitler”, saat Sosro berkunjung ke rumah > dr. Poch. Saat ditanya tentang pemerintahan Hitler, kata Sosro, dokter tua > itu memujinya. > > Demikian pula dia menganggap bahwa tidak ada apa-apa di kamp Auschwitz, > tempat ‘pembantaian’ orang-orang Yahudi yang terkenal karena banyak film > propaganda Amerika yang menyebutkannya. “Ketika saya tanya tentang kematian > Hitler, dia menjawab bahwa dia tidak tahu sebab pada waktu itu seluruh kota > Berlin dalam keadaan kacau balau, dan setiap orang berusaha untuk lari > menyelamatkan diri masing-masing,” tutur Sosrohusodo. Di sela-sela obrolan, > dr. Poch mengeluh tentang tangannya yang gemetar. > > Kemudian Sosro memeriksa saraf ulnarisnya. Ternyata tidak ada kelainan, > demikian pula tenggorokannya. Ketika itu, ia berkesimpulan bahwa kemungkinan > “Hitler” hanya menderita parkisonisme saja, melihat usianya yang sudah > lanjut. Yang membuat Sosro terkejut, dugaannya bahwa sang dokter mungkin > terkena trauma psikis ternyata diiyakan oleh dr. Poch! Ketika disusul dengan > pertanyaan sejak kapan penyakit itu bersarang, Poch malah bertanya kepada > istrinya dalam bahasa Jerman. “Itu kan terjadi sewaktu tentara Jerman kalah > perang di Moskow. Ketika itu Goebbels memberi tahu kamu, dan kamu > memukul-mukul meja,” ucap istrinya seperti ditirukan oleh Sosro. Apakah yang > dimaksud dengan Goebbels adalah Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Jerman > yang terkenal setia dan dekat dengan Hitler? Istrinya juga beberapa kali > memanggil dr. Poch dengan sebutan “Dolf”, yang mungkin merupakan kependekan > dari Adolf! Setelah memperoleh cemoohan sana-sini sehubungan dengan > artikelnya, tekad Sosrohusodo untuk menuntaskan masalah ini semakin > menggebu. Ia mengaku bahwa kemudian memperoleh informasi dari pulau Sumbawa > Besar bahwa Poch sudah meninggal di Surabaya. Beberapa waktu sebelum > meninggal, istrinya pulang ke Jerman. Poch sendiri konon menikah lagi dengan > nyonya S, wanita Sunda asal Bandung, karyawan di kantor pemerintahan di > pulau Sumbawa Besar! Untuk menemukan alamat nyonya S yang sudah kembali lagi > ke Bandung, Sosro mengakui bukanlah hal yang mudah. Namun akhirnya ada juga > orang yang memberitahu. Ternyata, ia tinggal di kawasan Babakan Ciamis! > Semula nyonya S tidak begitu terbuka tentang persoalan ini. > > Namun karena terus dibujuk, sedikit demi sedikit mau juga nyonya S berterus > terang. Begitu juga dengan dokumen-dokumen tertulis peninggalan suaminya > kemudian diserahkan kepada Sosrohusodo, termasuk foto saat pernikahan > mereka, plus rebewes (SIM) milik dr. Poch yang ada cap jempolnya. Dari > nyonya S diketahui bahwa dr. Poch meninggal tanggal 15 Januari 1970 pukul > 19.30 pada usia 81 tahun di Rumah Sakit Karang Menjangan Surabaya akibat > serangan jantung. Keesokan harinya dia dimakamkan di desa Ngagel. Dalam > salah satu dokumen tertulis, diakuinya bahwa ada yang amat menarik dan > mendukung keyakinannya selama ini. Pada buku catatan ukuran saku yang sudah > lusuh itu, terdapat alamat ratusan orang-orang asing yang tinggal di > berbagai negara di dunia, juga coretan-coretan yang sulit dibaca. Di bagian > lainnya, terdapat tulisan steno. Semuanya berbahasa Jerman. Meskipun tidak > ada nama yang menunjukkan kepemilikan, tapi diyakini kalau buku itu milik > suami nyonya S. Di sampul dalam terdapat kode J.R. KepaD no.35637 dan 35638, > dengan masing-masing nomor itu ditandai dengan lambang biologis laki-laki > dan wanita. “Jadi kemungkinan besar, buku itu milik kedua orang tersebut, > yang saya yakini sebagai Hitler dan Eva Braun,” tegasnya dengan suara yang > agak parau. Negara yang tertulis pada alamat ratusan orang itu antara lain > Pakistan, Tibet, Argentina, Afrika Selatan, dan Italia. Salah satu > halamannya ada tulisan yang kalau diterjemahkan berarti : Organisasi > Pelarian. Tuan Oppenheim pengganti nyonya Krüger. Roma, Jl. Sardegna 79a/1. > > Ongkos-ongkos untuk perjalanan ke Amerika Selatan (Argentina). Lalu, ada > pula satu nama dalam buku saku tersebut yang sering disebut-sebut dalam > sejarah pelarian orang-orang Nazi, yaitu Prof. Dr. Draganowitch, atau > ditulis pula Draganovic. Di bawah nama Draganovic tertulis Delegation > Argentina da imigration Europa – Genua val albaro 38. secara terpisah di > bawahnya lagi tertera tulisan Vatikan. Di halaman lain disebutkan, > Draganovic Kroasia, Roma via Tomacelli 132. Majalah Intisari terbitan bulan > Oktober 1983, ketika membahas Klaus Barbie alias Klaus Altmann bekas polisi > rahasia Jerman zaman Nazi, menyebutkan alamat tentang Val Albaro. > > Disebutkan pula bahwa Draganovic memang memiliki hubungan dekat dengan > Vatikan Roma. Profesor inilah yang membantu pelarian Klaus Barbie dari > Jerman ke Argentina. Pada tahun 1983 Klaus diekstradisi dari Bolivia ke > Prancis, negara yang menjatuhkan hukuman mati terhadapnya pada tahun 1947. > “Masih banyak alamat dalam buku ini, yang belum seluruhnya saya ketahui > relevansinya dengan gerakan Nazi. Saya juga sangat berhati-hati tentang hal > ini, sebab menyangkut negara-negara lain. Saya masih harus bekerja keras > menemukan semuanya. Saya yakin kalau nama-nama yang tertera dalam buku kecil > ini adalah para pelarian Nazi!” tandasnya. Mengenai tulisan steno, diakuinya > kalau ia menghadapi kesulitan dalam menterjemahkannya ke dalam bahasa atau > tulisan biasa. Ketika meminta bantuan ke penerbit buku steno di Jerman, > diperoleh jawaban bahwa steno yang dilampirkan dalam surat itu adalah steno > Jerman “kuno” sistem Gabelsberger dan sudah lebih dari 60 tahun tidak > digunakan lagi sehingga sulit untuk diterjemahkan. > > Tetapi penerbit berjanji akan mencarikan orang yang ahli pada steno > Gabelsberger. Beberapa waktu lamanya, datang jawaban dari Jerman dengan > terjemahan steno ke dalam bahasa Jerman. Sosrohusodo menterjemahkannya > kembali ke dalam bahasa Indonesia. Judul catatan dalam bentuk steno itu, > kurang lebih berarti “keterangan singkat tentang pengejaran perorangan oleh > Sekutu dan penguasa setempat pada tahun 1946 di Salzburg”. Kota ini terdapat > di Austria. Di dalamnya berkisah tentang “kami berdua, istri saya dan saya > pada tahun 1945 di Salzburg”. > > Tidak disebutkan siapakah ‘kami berdua’ di situ. Dua insan tersebut, kata > catatan itu, dikejar-kejar antara lain oleh CIC (dinas rahasia Amerika > Serikat). Pada pokoknya, menggambarkan penderitaan sepasang manusia yang > dikejar-kejar oleh pihak keamanan. Di dalamnya juga terdapat > singkatan-singkatan yang ditulis oleh huruf besar, yang kalau diurut akan > menunjukkan rute pelarian keduanya, yaitu B, S, G, J, B, S, R. “Cara > menyingkat seperti ini merupakan kebiasaan Hitler dalam membuat catatan, > seperti yang pernah saya baca dalam literatur yang lainnya,” Sosrohusodo > memberikan alasan. Dari singkatan-singkatan itu, lalu Sosro mencoba untuk > mengartikannya, yang kemudian dikaitkan dengan rute pelarian. > > Pelarian dimulai dari B yang berarti Berlin, lalu S (Salzburg), G (Graz), J > (Jugoslavia), B (Beograd), S (Sarajevo) dan R (Roma). Tentang Roma, Sosro > menjelaskan bahwa itu adalah kota terakhir di Eropa yang menjadi tempat > pelariannya. Setelah itu mereka keluar dari benua tersebut menuju ke suatu > tempat, yang tidak lain tidak bukan adalah pulau Sumbawa Besar di Nusantara > tercinta! Ia mengutip salah satu tulisan dalam steno tadi : “Pada hari > pertama di bulan Desember, kami harus pergi ke R untuk menerima suatu surat > paspor, dan kemudian kami berhasil meninggalkan Eropa”. Ini, kata Sosro, > sesuai dengan data pada paspor dr. Poch yang menyebutkan bahwa paspor > bernomor 2624/51 diberikan di Rom (tanpa huruf akhir A)”. Di buku catatan > berisi ratusan alamat itu, nama Dragonic dikaitkan dengan Roma, begitulah > Sosro memberikan alasan lainnya. > > Lalu mengenai Berlin dan Salzburg, diterangkannya dengan mengutip majalah > Zaman edisi 14 Mei 1984. Dikatakan bahwa sejarah telah mencatat peristiwa > jatuhnya pesawat yang membawa surat-surat rahasia Hitler yang jatuh di > sekitar Jerman Timur pada tahun 1945. “Ini juga menunjukkan rute pelarian > mereka,” katanya lagi. Lalu bagaimana komentar nyonya S yang disebut-sebut > Sosro sebagai istri kedua dr. Poch? Konon ia pernah berterus terang kepada > Sosro. Suatu hari suaminya mencukur kumis mirip kumis Hitler, kemudian > nyonya S mempertanyakannya, yang kemudian diiyakan bahwa dirinya adalah > Hitler. “Tapi jangan bilang sama siapa-siapa,” begitu Sosro mengutip ucapan > nyonya S. Membaca dan menyimak ulasan dr. Sosrohusodo, sekilas seperti ada > saling kait mengkait antara satu dengan yang lainnya. Namun masih banyak > pertanyaan yang harus diajukan kepada Sosro, dengan tidak bermaksud > meremehkan pendapat pribadinya berkaitan dengan Hitler, sebab mengemukakan > pendapat adalah hak setiap warga negara. Bahkan Sosrohusodo sudah membuat > semacam diktat yang memaparkan pendapatnya tentang Hitler, dilengkapi dengan > sejumlah foto yang didapatnya dari nyonya S. Selain itu, isinya juga > mengisahkan tentang pengalaman sejak dia lulus dari Fakultas Kedokteran > Universitas Indonesia hingga bertugas di Bima, Kupang, dan Sumbawa Besar. Ia > juga telah mengajukan hasil karyanya ke berbagai pihak, namun belum ada > tanggapan. “Padahal tidak ada maksud apa-apa di balik kerja saya ini, hanya > ingin menunjukkan bahwa Hitler mati di Indonesia,” katanya mantap. Bukan > hanya Sosro yang mempunyai teori tentang pelarian Hitler dari Jerman ke > tempat lain, tapi beberapa orang di dunia ini pernah mengungkapkannya dalam > media massa. > > Peluang untuk berteori seperti itu memang ada, sebab ketika pemimpin Nazi > tersebut diduga mati bersama Eva Braun tahun 1945, tidak ditemukan bukti > utama berupa jenazah! Adalah tugas para pakar dalam bidang ini untuk mencoba > mengungkap segala sesuatunya, termasuk keabsahan dokumen yang dimiliki oleh > Sosrohusodo, nyonya S, atau makam di Ngagel yang disebut sebagai tempat > bersemayamnya dr. Poch. Mungkin para ahli forensik dapat menjelaskannya > lewat penelitian terhadap tulang-tulang jenazahnya. Semua itu tentu > berpulang pada kemauan baik semua pihak... > > >
