http://one.indoskripsi.com/artikel-skripsi-tentang/terminologi-aliran-kiri-dan-pergerakan-mahasiswa
TERMINOLOGI ALIRAN KIRI DAN PERGERAKAN MAHASISWA Oleh : Thada’CHEz Al-Hackiem Makna Kiri jika ditarik dalam skala pemahaman tradisional selalu melambangkan dengan yang tidak baik, apalagi kiri ditarik dalam pengertian ideologi, tak jarang menimbulkan kesalahan dalam persepsi tergantung dari tujuan penggunaannya, sehingga kiri selalu menjadi alergi bagi orang yang tidak memahaminya. Oleh karena itu, penjelasan mengenai makna kiri perlu dijelaskan sehingga tidak dapat menimbulkan kontroversi dikalangan kita, khususnya bagi mahasiswa. Istilah kiri berasal dari terminologi Barat dengan berbagai perspektif. Dalam sejarah politik, gerakan kiri lebih mengemukakan tentang “hak“ dan berseberangan dengan hal-hal yang berbau borjuis, liberal, kapitalisme, pasar bebas, aristokrasi atau veodalisme, bahkan dihubungkan dengan visi non religius dari politik (Encyclopedia Wikipedia). Gerakan kiri berhubungan dengan erat dengan sifat sosialis komunisme atau sifat pembangkangan: radikalisme yang berwujud istilah-istilah seperti front bersatu (united front) kekuatan rakyat (populasi power), front rakyat, progresif revolusioner serta isu-isu ekonomi seperti kesejahteraan, kemiskinan kemelaratan dan inpirialisme atau kapitalisme atau hal-hal yang bersifat anti kemapanan. Pengertian tentang itu diperoleh perbedaan sistim politik, ekonomi dan sosial suatu masa dan masyarakat pemakai. C. Wright Mills berkesimpulan bahwa istilah kiri merujuk kepada sekelompok orang memiliki kecenderungan utopia, kelompok yang memiliki khayalan akan masa depan dan tatanan sosial yang lebih baik, hal itu tidak selalu berkonotasi buruk. Kata tersebut justru mengacu pada sesuatu yang positif, semacam semangat yang menggerakkan diri manusia untuk menggerakkan perubahan sejarah. Sejarah, kata Mills telah membuktikan bagaimana utopia telah memperkuat gerakan-gerakan perubahan kiri Ditinjau dari segi Historis, dalam sebuah pengantar buku “Tan Malaka dan Gerakan kiri Minang-kabau” Oleh Asvi Warman Adam 2007 menjelaskan bahwa secara historis, dalam politik istilah kiri digunakan untuk menyebut anggota parlemen di prancis yang terbentuk seusai Revolusi Prancis (Renaisance) yang duduk di sebelah kiri dari ketua dewan, jadi kelompok yang duduk di sebelah kanan yang dianggap moderat sedangkan yang berada dibagian kiri yang dipandang lebih progresif atau Revolusioner. Menurut Zulhasril (2007: xvi), “Kiri merupakan gagasan untuk menghapuskan hak-hak sosial isti-mewa, segala bentuk penindasan kolonial, pembatasan hak berbicara dan berekspresi dan menganjurkan kebebasan dan berkeadilan”. Dengan demikian, adanya artikel ini minimal dapat meluruskan pena-fsiran-penafsiran yang tidak sesuai dengan teminologi idealisme kiri tersebut. Karena kiri bagi segelintir orang yang tidak memahaminya dari segi historis mereka langsung menjustivikasi bahwa kiri diidentikkan dengan pelanggaran terhadap nilai-nilai religius, nilai-nilai moral dan pencampakan terhadap nilai-nilai sosail kemasyarakatan, bagi penulis apapun penerjemahanya terhadap terminologi ini penulis kemudian berkesimpulan bahwa pergerakan aliran kiri meberikan kontribusi yang besar terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa ini dari kekuasaan kolonial dan juga berupaya untuk mempertahankannya dari serangan dalam maupun dari luar, bahkan dalam beberapa sumber menyatakan bahwa aliran kiri memiliki andil yang besar terhadap kemerdekaan bangsa ini. Mahasiswa Dan Gerakan Kiri Baru Istilah Kiri Baru atau The New Left diperkenalkan pertama kali dalam majalah The New Left Review (1959) yang dikelola kelompok Marxis-Liberal. Nama tersebut diberikan oleh sosiolog Amerika, C. Wright Mills tahun 1958. sebagaimana pembahasan awal artikel ini bahwa, kiri selalu berlawanan dengan kanan, demikian juga dengan aliran Kiri Baru, dalam ideologinya berlawanan dengan Kiri Lama, yaitu partai-partai komunis (Marxisme-Leninis) dan partai sosial demokrat di Barat. Kiri juga dipertentangkan dengan Kanan, yaitu mereka yang mempertahankan sistem dengan cara konservatif; dan ternyata orang-orang Kanan terdapat dalam kubu kapi-talis maupun komunis. Kiri, menurut Mills adalah kritik terhadap struktur aktual masya-rakat. Dalam pandangannya, menjadi Kiri berarti melibatkan diri dalam kritik politis, baik dalam hal tuntutan-tuntutan politis maupun program-program. Dari sisi kritiknya, Kiri Baru sangat antibirokrasi dan teknologi. Gerak kritik mereka-pun beragam, mulai kritik terhadap consumerisme, pola hidup borjuis modern, demokrasi semu, sampai gerak balik proses demokrasi itu sendiri (gerakan kembali ke alam). Gerakan ini sebagaimana awalnya terdiri dari kalangan terpelajar di kampus-kampus. Sehingga dimanapun sebenarnya gerakan mahasiswa dengan kritisismenya meru-pakan bgian dari grakan Kiri Baru. Gerakan Kiri Baru diprakarsai oleh para mahasiswa dan kelompok terpelajar dalam masyarakat mdern di Barat awal 1960-an. Aspirasi da-sar dari gerakan ini adalah counter modernization. Gerakan kiri baru lahir karena ketegangan antara kapitalisme Amerika dan Marxisme Rusia pasca perang dunia II. Dalam pandangan Kiri Baru, kedua kekuatan tersebut sama-sama memliki kepentingan terhadap masyarakat dunia untuk mewujudkan sistem masyarakat sesuai dengan misi ideologis masing-masing, egoisme keduanya tersebutlah yang ditolak oleh Kiri Baru. Sebagai pertimbangan, M. Theodori membagi Kiri Baru menjadi tiga tahapan pergerakan, (1) ditandai dengan komitmen moral, keprihatinan individu, kesaksian pribadi akan perdamaian, kebebasan mimbar dan hak-hak sipil, (2) tahap gerakan sporadis tersebut menjadi gerakan kolektif berdasarkan cita-cita demokrasi partisipatoris dan diolah dalam program aksi massa, dan (3) tahap perjuangan mencari kekuasaan politis. Di samping itu James O'Brien menambahkan tahap ke-4, yaitu tahap revolusioner sebagaimana gerakan anti milisi dan gerakan hitam bergerilya menentang pemeritah pada tahun 1968 s.d 1970-an di Amerika Serikat Sejarah telah mencatat di Indonesia gerakan kiri baru muncul pasca Indonesia merdeka, dimana aksi Mahasiswa dapat membongkar, meredupkan kekuatan Seokarno dan dapat menundukkan rezim otoriter Seoharto hingga menjatuhkannya. Di kandangnya sendiri (kampus) mahasiswa pun selalu tampak mengkritisi segala kebijakan dari pihak Rektorat yang dianggap tak adil dan berbau KKN dan biasanya kritisisme mahasiswa mewujud dalam aksi protes dan demo, karena kritisnya mahasiswa kadang dalam tindakanya dapat mengakibatkan tindakan anarkis.. Jangan Hanya Melawan…..! Berlawanlah…..! -- Teddy
