Pentingnya Khilafah
Oleh : Syeikh Issam Ameera*


Syariah Publications. Dengan nama Allah SWT. Semoga shalawat dan salam tercurah 
pada Rasulullah saw., keluarga dan kepada para sahabatnya. Saya bersaksi bahwa 
tiada yang layak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.

Hadirin  yang saya hormati,

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di muka bumi 
itu  dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang 
yang mewarisi (bumi). Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan 
akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Hamaan beserta tentaranya apa yang 
selalu mereka khawatirkan dari mereka itu.”(TQS. Al Qashash, 5-6)



Saudara-saudara sekalian, 

Peristiwa menggembirakan seperti itu yang akan  datang pada Anda dari Bait-ul 
Maqdis, tempat yang telah ditunggu untuk dibebaskan Islam setelah sekian lama. 
Tempat ini juga  di mana akan segera dikuasai Khilafah, Insya Allah.



Saudara-saudara sekalian, 

Saya mengucapkan selamat pada Anda atas upaya di jantung dunia kufur agar kaum 
muslim bangkit bersama dengan saudara-saudara muslim di seluruh penjuru dunia, 
yaitu orang-orang yang sepenuhnya lakukan di jalan ini. Ini membuktikan bahwa 
rencana Anda telah diprioritaskan  secara benar.



Saudara-saudara sekalian, 

Kami menemukan dalam Al Quran, 

“Kemudian berteriaklah seseorang yang menyerukan, ’Hai Kafilah, sesungguhnya 
Kamu adalah orang-orang yang mencuri. Mereka menjawab sambil menghadap kepada 
penyeru-penyeru itu, ’ Barang apa yang hilang daripada Kamu ?’ Penyeru-penyeru 
itu berkata, ‘Kami kehilangan piala raja dan siapa yang dapat mengembalikannya 
akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta dan akan menjamin 
terhadapnya.” (TQS.Yusuf : 70-72)



Saudara-saudara sekalian,

Sudah menjadi hal yang umum jika seseorang kehilangan sesuatu, ia tidak akan 
ragu memberitahukan semua hal yang berkaitan dengan sesuatu yang hilang itu. 
Jadi kami perlu berteriak hari ini di depan semua  penguasa dunia Islam sambil 
berkata,” Hai Raja, Presiden, Amir dan Sultan ! Kamu pencuri !”  dengan tanpa 
ragu-ragu. Jika mereka bertanya pada apa yang hilang ? Kita akan menjawab 
dengan jelas dan yakin bahwa sejak mereka mengambil kekuasaan umat Islam dengan 
mengikuti leluhurnya yang telah berkonspirasi dengan Inggris dan terakhir AS. 
Kita kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Merasa kehilangan sejak runtuhnya 
Turki Utsmani sekitar delapan puluh tahun yang lalu.  Kita merasa kehilangan 
ayang amat sangat dan di luar yang kita bayangkan. Kami percaya bahwa itu akan 
berguna bagi kaum muslim agar mengetahui dirinya telah kehilangan sehingga akan 
mendorong dirinya untuk secara langsung berusaha dengan orang-orang yang 
bersungguh-sungguh mengembalikan khilafah dan memulai jalan hidup Islam.



Saya menghitung ada 15 hal penting yang hilang dalam umat Islam akibat mereka  
menyerahkan dirinya  pada rejim kufur dan berhenti berhukum dengan syariat 
Islam. Kehilangan  itu adalah :



  1.. Keridhaan Allah SWT. Keridhaan Allah SWT dapat dicapai dengan mengikuti 
seluruh hukum dan aturan-Nya dengan penuh ketaatan sebagaimana dipraktikan oleh 
nabi kita Muhammad saw. Dengan kata lain menegakkan negara Islam yang merujuk 
pada syariat baik urusan  di dalam maupun luar negeri pada setiap aspek 
kehidupan. 
  2.. Hilangnya Imam atau Khalifah atau Amirul Mukminin, di mana bai’at 
kepadanya merupakan suatu yang amat vital bagi setiap muslim. Rasulullah saw 
bersabda, ” Barangsiapa yang mati sedangkan di pundaknya tidak ada bai’at maka 
matinya jahiliyah.” Saya ingin Anda membayangkan bagaimana berdosanya kaum 
muslim sejak runtuhnya Khilafah Ustmani tahun 1924 yang merupakan khilafah 
terakhir  . Akhirnya secara spontan banyak yang hilang ketika kaum muslim 
kehilangan legitimasi kepemimpinan ini dan kehilangan lainnya menyusul seperti 
bola salju. 
  3.. Hilangnya  rasa aman dan jaminan keamanan yang menyebabkan ketakutan. 
  4.. Hilangnya ilmu pengetahuan, pendidikan dan kepedulian yang lahir dari 
kepibadian Islam. Hal ini disebabkan oleh begitu dominannya kebodohan dan buta 
hurup yang diakibatkan oleh kemiskinan dan kepribadian yang goyah. 
  5.. Hilangnya kekuatan dan Jihad yang disebabkan kelemahan dan kekalahan. 
  6.. Hilangnya kekayaan yang disebabkan kemiskinan 
  7.. Hilangnya  pencerahan dan pedoman yang benar yang disebabkan kegelapan 
dan pedoman yang salah. 
  8.. Hilangnya kehormatan dan martabat yang disebabkan penghinaan 
  9.. Hilangnya kedaulatan dan ketergantungan dalam membuat keputusan politik 
akibat ketundukan kepada negara-negara penjajah kafir barat dan timur. 
  10.. Hilangnya keadilan yang disebabkan penindasan dan ketidakadilan. 
  11.. Hilangnya keimanan dan keikhlasan yang disebabkan pengkhianatan 
penempatan orang yang salah pada tempat yang salah. 
  12.. Hilangnya sikap dan moral yang terpuji yang menyebabkan kejahatan dan 
sikap yang tercela. 
  13.. Hilangnya negeri-negeri Islam dan tempat tinggal, tidak hanya Palestina 
tetapi juga Andalusia (sekarang yang disebut Portugal dan Spanyol), wilayah 
yang luas di Asia Tengah dan Timur Jauh, Kosovo, Bosnia, Kashmir dan yang 
lainnya, yang menyebabkan jutaan imigran, gelombang pengungsi dan 
pendeportasian. 
  14.. Hilangnya tempat suci dan akibatnya adalah kaum muslim dilarang shalat 
di Masjid Al-Aqsa selama 50 tahun sampai saat ini. Kami juga menyesalkan untuk 
mengatakannya pada Anda bahwa dua masjid lainnya pun yaitu Masjid Al-Haram dan 
Masjid Al-Nabawi tidak di dalam kondisi yang diinginkan. 
  15.. Hilangnya kesatuan dan integritas yang diakibatkan terpecahnya negeri 
kaum muslim menjadi 56 bagian yang tidak sah, dan AS tengah bekerja keras 
menciptakan bagian ke 57 di Palestina, ke 58 di gurun Afrika barat dan ke 59 di 
Timor Timur.
Itulah kehilangan yang besar untuk disampaikan pada Anda bahwa semua telah 
lepas dari tangan kita setelah kita banyak kehilangan.



Saudara-saudara  sekalian, 

Hadiah yang ditawarkan oleh raja Mesir kuno pada masa nabi Yusuf adalah seberat 
beban unta, tetapi hadiah bagi siapa saja yang mengembalikan semua kehilangan 
kita adalah jauh lebih berharga dari pemberian raja mesir itu. Hal ini 
sebagaimana dikatakan Rasulullah saw. ketika utusan suku Aus dan Khajzraj 
bertanya pada saat bai’at aqabah kedua, 

”Apa imbalannya bagi kita jika kami mengabulkan janji untuk mendukung dan 
melindungi Anda dan pengikut Anda (sahabat) ? Beliau berkata, “Surga.” Mereka 
menjawab, “Ulurkan tanganmu pada kami  untuk membuat kesepakatan. Kami akan  
melewati kesepakatan kita dan kami tidak akan mundur.”



Saudara-saudara sekalian, 

Supaya masa seperti itu terjadi lagi, kita serukan kepada semua penguasa dan 
kaum muslim yang berpengaruh, terutama petinggi militer, kepala suku - kepala 
suku terkemuka dan anggota-anggota parlemen, agar mereka bekerja sama dengan 
kaum muslim yang bersungguh-sungguh mengembalikan khilafah. Kemudian segera 
meminta mereka utnuk memberikan dukungan untuk menggulingkan para penguasa Arab 
saat ini yang tidak sah dan mengaku negara Islam. Tujuan menegakan kembali 
sudah sepantasnya berpedoman pada khilafah yang berdasar pada jalan kenabian di 
tempat yang paling memungkinkan di dunia Islam. Kemudian menggabungkan 
secepatnya  negeri-negeri kaum muslim yang memungkinkan dalam kekhilafahan. 
Umat Islam akan bisa bersatu dan Islam akan diterapkan secara penuh. Kemudian 
menyebarluaskan Islam kepada seluruh manusia dengan dakwah dan jihad. Negara 
Khilafah akan menjadi satu-satunya negara yang memiliki kekuatan terhebat. 
Memberikan harapan berdirinya kembali khilafah menjadi budaya Kita dan 
mengembalikan khilafah merupakan kewajiban setiap muslim.



Saudara-saudara sekalian

Al Tabarani meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabd :

”Jihad terbaikmu adalah ribat dan ribat terbaikmu adalah di Asqalan.” 

Asqalan adalah suatu kota Palestina di Mediterania. Arti ribat adalah tinggal 
tepat di perbatasan dengan tujuan untuk menakut-nakuti musuh dan secara 
terus-menerus mengharapkan musuh takut olehnya. Para ulama berkata tidak ada 
seorang muslimpun saat ini melakukan ribat baik di Asqalan maupun tempat 
lainnya karena yang biasanya dideklarasikan oleh khalifah. Dengan kata lain 
tidak ada seorang muslim yang bisa berhak secara praktis melakukan ribat karena 
ketadaan negara khilafah.

Kaidah syara berbunyi :

”Apabila suatu kewajiban tidak terlaksana kecuali dengan suatu perbuatan, maka 
perbuatan itu menjadi wajib.”



Untuk itu, kita memerlukan sebuah negara Khilafah yang akan membuat garis 
perbatasan  dengan orang-orang kafir dan seorang  khalifah yang akan 
mendeklarasikan jihad melawan mereka, menggunakan seluruh sumber umat Islam 
termasuk kemampuan-kemampuan militer non aktif yang sangat melimpah. Keputusan 
seperti itu tidak mungkin bisa diharapkan dari pertemuan pemimpin-pemimpin Arab 
atau pemimpin-pemimpin muslim saat ini.



Saudara-saudara sekalian, 

Gambaran itu sangat jelas dan sepengetahuan saya upaya penegakan khilafah lebih 
kuat sejak itu dan mereka menyebarkannya lebih luas lagi. Tanah yang subuh 
ditaburi benih perubahan seperti umat yang lebih siap untuk menerima khilafah 
dari masa sebelumnya. Khilafah menjadi sebuah permintaan yang  tidak bisa 
ditawar-tawar lagi dan munculnya sangat cepat. Ditambah dengan para pendukung 
khilafah yang diperkirakan puluhan –mungkin ratusan juta di seluruh dunia 
Islam. Yang merefleksikan sebuah kekuatan opini publik pada persoalan sensitif 
ini. Dengan kata lain,  perlawanan hebat dan penindasan yang dilakukan rejim 
kufur beserta kroninya melawan upaya penegakan khilafah di dalam maupun dari 
luar justru sebagai kabar gembira untuk menerangi umat ini.Oleh karena itu saya 
ingin Anda yakin bahwa suatu saat nanti akan menjadi khilafah. Insya Allah.

”Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak 
mengetahuinya. ” (TQS Yusuf: 21)

Semoga Allah SWT memberi Kita kesabaran dan kekompakan serta memungkinkan Anda 
untuk memainkan peran yang penting dalam menegakkan dan memperjuangkan 
datangnya negara Khilafah.

“Maka Allah adalah sebaik-baiknya penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang  di 
antara para penyayang” (TQS Yusuf: 64])



Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. 



*Tulisan di atas adalah transkrip percakapan telepon yang disampaikan oleh 
Br.Issam Amirah dari Baitul Maqdis Palestina pada Konferensi yang 
diselenggarakan di Illinois/Chicago AS tanggal 19 November 2000 
(www.syariahpublications.com) 





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke