Assalamu alaikum Pada prinsipnya benar apa yang disampaikan Mas Nizami. Sebagai sesama Muslim kita harus secara santun untuk memecahkan suatu masalah. Kita juga tahu dan tidak bisa dipungkiri bahwa Islam telah terbagi-bagi menjadi berbagai macam aliran dan pandangan. Terus terang saya juga bingung bagaimana menyatukannya....
Oya satu hal buat mas Nizami,mengenai perubahan nama milis saya agak jadi repot nih soalnya nama media dakwah sudah saya saving dalam folder tersendiri. dengan dirubahnya jadi syiar islam,jadi bikin manual lagi nih hehehe..... Ahmad --- A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Wa'alaikum salam wr wb, > Selama saling nasehat-menasehati dengan kebenaran > (caranya juga benar > dan santun) serta sabar, insya Allah itu berpahala. > Apalagi jika > niatnya untuk mencari kebenaran. > > Tapi jika niatnya untuk ngotot-ngototan, apalagi > sampai memaki lawan > debatnya dengan kata-kata yang dia sendiri tidak > suka, itu sudah dosa > namanya. Sebaiknya ditinggalkan: > > Rasululloh Shallallâhu âalaihi wasallam bersabda, > yang artinya: âaku > adalah penjamin/penanggung jawab rumah di surga yang > paling rendah > terhadap orang yang meninggalkan perdebatan meskipun > dia berada dalam > kebenaran, (juga penjamin/penanggung jawab) rumah di > surga yang > (berada) ditengah-tengah terhadap orang yang > meninggalkan dusta > meskipun sekedar bercanda, (juga penjamin/penanggung > jawab) rumah di > surga yang paling tinggi terhadap orang yang baik > akhlaknyaâ. (HR: Abu > Daud dengan sanad hasan). > > Jika ingin melanjutkan perdebatan, sebaiknya japri > saja. > > Dalam Islam kita memang wajib memerangi/memusuhi > kaum kafir yang > memerangi kita. Namun terhadap sesama Muslim itu > terlarang. Muslim itu > artinya jika rukun iman dan rukun Islamnya sama > dengan kita, tidak > boleh kita memusuhinya. Allah mengharamkan itu: > > âSesungguhnya orang Mukmin itu bersaudaraâ > [Surah Al-Hujurat : Ayat 10] > > âDan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada > fitnah lagi dan > (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk > Allah. Jika mereka > berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada > permusuhan (lagi), > kecuali terhadap orang-orang yang zalim.â [Al > Baqarah:193] > > âDan berpeganglah kamu semuanya kepada tali > (agama) Allah, dan > janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan > nikmat Allah kepadamu > ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) > bermusuh-musuhan, maka Allah > mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena > nikmat Allah, > orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada > di tepi jurang > neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. > Demikianlah Allah > menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu > mendapat petunjuk.â [Ali > Imran:103] > > > "Allah memandang kepada semua makhlukNya di Malam > Nishfu Sya'baan, > maka diampunkan dosa sekalian makhlukNya kecuali > orang yang > menyekutukan Allah atau orang yang bermusuhan." > (Hadis riwayat Ibnu > Majah, at-Thabrani dan Ibnu Hibban) > > "Ada tiga orang yang sembahyangnya itu tidak dapat > melebihi kepalanya > walaupun hanya sejengkal, yaitu: 1) Seorang > laki-laki yang menjadi > imam pada suatu kaum sedang kaum itu tidak suka, 2) > Seorang perempuan > yang tidur malam sedang suaminya murka kepadanya. 3) > Dua saudara yang > saling bermusuhan." (Riwayat Ibnu Majah dan Ibnu > Hibban) > > > --- In [email protected], bambang guridno > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Afwan akh, mengapa kita harus menghindari > perdebatan ? apabila dari > perdebatan itu akan lahir sebuah kesimpulan yang > berdasarkan hujjah > yang kuat ? perdebatan adalah sebuah tarbiyah bagi > kita semua, bagi > orang-2 yang hatinya terbuka dan tidak taqlid dengan > syaikh-2 mereka > saja. ini adalah pintu dimana kita dapat mengoreksi > pemahaman kita, > apakah sudah benar ataukah masih ada hujjah yang > lebih kuat. > > > > musuh atau lawan ( dalam konteks > pemikiran/perdebatan ) adalah guru > terbaik dalam kehidupan sebagaimana diungkapkan oleh > syaikh Salman > Fahd Audah, berikut petikannya : > > > > > > TERIMA KASIH, MUSUHKU ..!! > > Syaikh Salman Fahd Audah > > > > Terima kasih, musuh...! > > > > Engkau mengajariku bagaimana mendengar kritik yang > pedas tanpa harus > merasa galau. Engkau mengajariku bagaimana harus > terus melangkah di > jalan yang telah kutempuh tanpa ragu, meski kadang > aku harus mendengar > kata-kata yang kurang pantas atau tidak layak. > Sungguh, ini adalah > pelajaran yang sangat berharga. Pelajaran yang tidak > bisa didapatkan > secara teori, bahkan oleh seseorang yang telah > berupaya dan berupaya. > Sampai kemudian Allah mendatangkan orang lain > sebagai pelatih, yang > memaksa meneguk pil pahit untuk pertama kalinya, > agar terbiasa untuk > selanjutnya. > > > > Terima kasih, musuh...! > > > > Engkaulah penyebab lahirnya pendisiplinan diri; > agar diri tidak > hanyut oleh pujian para pemuji. Sungguh, Allah > menjadikanmu sebagai > penyeimbang. Agar, seseorang tidak tertipu oleh > pujian, atau sanjungan > orang yang berlebihan, atau ujub yang tidak pada > tempatnya, dari para > pengagum yang hanya melihat kebaikan dan kebaikan > belaka. Berbeda > dengan engkau! Engkau tidak melihat kecuali dari > sisi lain. Atau, > engkau sejatinya melihat kebaikan tapi engkau buat > ia menjadi buruk. > > > > Terima kasih, musuh...! > > > > Engkau telah mencela lisan-lisan pembela > kebenaran, menyerangnya, > juga menentangnya, yang karenanya mengobarkan sikap > pembelaan yang hebat. > > > > Jika bukan karena nyala api yang membakarnya > > Aroma harum kayu gaharu takkan ada yang tahu > > > > Terima kasih, terima kasih! Engkau mempunyai > kelebihan �sekalipun > tidak engkau inginkan� dalam menciptakan iklim > keseimbangan, juga > obyektifitas sebuah pemikiran. Kadang, manusia > meletakkan al-haq > melampaui kadarnya. Dan engkau, menjadi penyebab > ditegakkannya > keseimbangan. Penyebab adanya evaluasi dan > perbaikan. Maka, janganlah > engkau diperbudak kemarahan atas sebab penolakanmu. > Sebab seseorang, > jika kepentingan telah masuk, tak dapat lagi melihat > dan berpikir > jernih. Yang tersisa hanya menolak dan menentang. > Tak ada lagi > ketenangan dan kehati-hatiaan dalam dirinya. Tak ada > lagi kecermatan > dalam memandang pendapat orang yang berbeda > dengannya. Padahal, boleh > jadi yang berbeda itu benar, meski hanya sedikit. > > > > Terima kasih, musuh...! > > > > Sungguh, Engkau telah mengasah semangat, > menciptakan tantangan, > membuka arena, dan menggelar kompetisi. Hingga > setiap orang > benar-benar terobsesi memenangkan dirinya, berambisi > meningkatkan > dirinya, tuk meraih kedudukan yang tinggi nan utama. > Ya, berlomba > adalah sunnah syar�iyah, adalah ketentuan Rabbani. > Bukankah Allah > berfirman, "Maka, pada yang demikian itu hendaklah > manusia mau berlomba." > > > > Tentu, kemuliaan sebuah perlombaan, didasarkan > pada tata-cara yang > === message truncated === Wassalam, Ahmad __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com

