Kemuliaan Di Balik Cacian      

 

Kamis, 10 Mei 2007  

 

Diantara kaum kita ada yang hobi mencaci-maki. Rasulullah, jarang
membalas cacian orang. Di balik perbuatannya itu, kita berpeluang meraih
kemuliaan  

 

Seorang laki-laki datang menemui Abu Bakar. Tanpa ba-bi-bu lelaki
tersebut mencacimaki salah seorang sahabat nabi yang sangat beliau
cintai ini. Rasulullah Salallaahu alaihi wassalam yang saat itu tengah
duduk di sampingnya, tampak terheran-heran sambil tersenyum melihat Abu
Bakar diam saja.

 

Namun ketika kata makian semakin banyak Abu Bakar pun meladeninya.
Rasulullah bangkit dengan wajah tidak suka dengan sikap Abu Bakar itu.
Beliau berdiri dan

 

Abu Bakar mengikutinya.

 

"Ya Rasulullah, tadi dia mencaci makiku namun engkau tetap duduk. Tapi
ketika kuladeni sebagian kata-katanya, engkau marah dan berdiri. Mengapa
demikian ya Rasulullah?" tanya Abu Bakar.

 

"Sesungguhnya bersamamu ada malaikat, kemudian dia berpaling dari
padamu. Ketika engkau meladeni perkataannya, datanglah syaitan dan aku
tak sudi duduk bersama syaitan itu," jawab Rasul. Kemudian beliau
meneruskan nasihatnya,  "Tidak teraniaya seseorang karena penganiayaan
yang ia sabar memikulnya kecuali Allah akan menambahkan kepadanya
kemuliaan dan kebesaran." (HR. Imam Ahmad dari Abu Kabsyah Al Anmari)

 

Ridha

 

Tidak ada suatu pun kejadian, bahkan selembar daun yang terjatuh pun,
melainkan sudah di dalam skenario Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Begitu pula
apa pun yang menimpa kita dalam hidup keseharian. Mulai dari peristiwa
besar hingga yang kecil semua telah direncanakan oleh Allah.

 

Karena itu sikap orang yang beriman dalam menghadapi segala kejadian
diterimanya dengan hati lapang dan ridha; sebagai hidangan dari Allah.
Musibah yang secara lahiriah merugikan, bagi orang yang bersabar justru
ladang mendapatkan pahala di sisi-Nya.

 

"Kami (Allah) akan memberikan kepada orang- orang yang berhati sabar itu
pahala menurut amalan yang telah mereka kerjakan dengan sebaik-
baiknya." (Surat. An Nahl: 96)

 

Salah satu kejadian yang mungkin sering terjadi dalam pergaulan adalah
perkataan yang tidak menyenangkan, caci maki misalnya. Agar tidak
sia-sia, menghadapi hal seperti ini perlu sikap yang tepat. Sikap Abu
Bakar yang mampu bersabar menahan diri dan diam saja, membuat Rasul
tersenyum. Namun pada saat Abu Bakar mulai meladeni caci makian, Rasul
pun menunjukkan sikap tidak menyukainya. Padahal yang dilakukan Abu
Bakar hanya meladeni sebagian kata-katanya saja. Lalu bagaimana dengan
sikap kebanyakan kita selama ini?

 

Boro-boro menahan diri. Bahkan seringkali lebih emosional dan balasan
spontan yang dilancarkan justru lebih gencar dari umpan caci makiannya.
Dengan muka merah dan suara marah meledak-ledak meluncurlah kata-kata
yang lebih tajam lagi. Bukan hanya menjawab sebagian kata-kata, tetapi
satu kata malah dibalas dengan sepuluh kata. Naudhubillah. 

 

Sikap emosional dan kehilangan kendali seperti itu, merupakan tanda
kurang ridha dengan kejadian. Kita lupa bahwa apa yang terjadi
sesungguhnya merupakan kiriman Allah untuk menguji sikap kita. Saat
emosional seperti itu pusat orientasi bukan lagi ingin meraih ridha
Allah, tetapi sekadar melampiaskan hawa nafsu. Dar der dor yang penting
terpuaskan. Kita tidak bisa membayangkan, bagaimana sikap Rasul andai
bersama kita. Yang beliau lakukan barangkali tidak hanya bangkit dan
berdiri, tapi berlari menjauh. Sebab setan yang merubung kita terlalu
banyak.

 

Dengan menyadari bahwa tiada kejadian yang kebetulan kecuali atas
kehendak Allah, hati akan ridha. Sikap inilah yang dibutuhkan agar kita
tetap terkendali.

 

Bayangkanlah bahwa kita sedang menyaksikan episode sinetron tiga dimensi
luar biasa yang diskenario oleh Allah. Nikmatilah caci makiannya seperti
sedang menyaksikan bintang yang berakting di layar kaca. Bila mulai
terpancing, ucapkan istighfar dan orientasikan hati pada ridha Allah,
tentu akan membuat pikiran lebih tenang. Dengan suasana spiritual
seperti itu malaikat yang bersama kita tetap mendampingi.

 

Sikap marah-marah dan emosional, justru menjerembabkan kita pada
kenistaan. Maunya membela kehormatan, tetapi dengan ucapan balasan yang
lebih tajam justru menunjukkan kualitas ruhani kita. Malaikat malah
menyingkir dan yang datang merubung malah setan. Tidak hanya kehilangan
kehormatan di depan manusia, tetapi juga di depan Allah dan Rasulnya.

 

Memilih

 

Seringkali respon tindakan seseorang ditentukan oleh keadaan. Kalau yang
diterima caci maki maka reaksinya juga caci maki. "Yah, kami tidak ada
pilihan lagi kecuali membalasnya. Dia telah menghina kehormatan kami,
maka kami pun menghinanya untuk membela diri." Demikian alasan yang
dikemukakan.

 

Manusia sesungguhnya tidak semata ditentukan oleh lingkungan, tetapi
juga oleh dirinya sendiri. Bahkan sebagian orang malah mampu
mempengaruhi lingkungan.

 

Mereka mencairkan lingkungan yang beku, memperbaiki keadaan yang buruk.
Menghadapi keadaan yang ada manusia diberi kemampuan memilih. Saat
menghadapi caci maki, seorang dapat merenungkan dalam hati, apa tindakan
terbaik yang ingin dilakukan; diam atau membalas.

 

"Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa-apa yang
menentreramkan jiwa dan hati. Dosa adalah apa-apa yang mengusik jiwa dan
meragukan hati." (HR.Imam Ahmad)

 

Kita akan dapat memilih tindakan terbaik jika dilandasi sikap ridha.
Dengan menyadari bahwa semua dari Allah akan membuat hati tetap bening
dan pikiran juga jernih. Akhirnya yang muncul tindakan terpilih. 

 

Suara hati yang mendorong nilai-nilai kebaikan tetap terdengar. Pikiran
pun dapat memilih kata yang paling tepat dan lisan mengucapkannya dengan
indah, tidak asal nerocos. Tentu saja akan berbeda halnya jika caci maki
dihadapi dengan sikap emosional. Hati dikuasai hawa nafsu dan amarah
sedangkan pikiran pun jadi kotor. Akhirnya yang mengalir di lisan adalah
kata-kata kotor bahkan lebih tajam lagi.

 

Sebenarnya, seorang yang mencaci maki dengan kata-kata kotor tidak akan
membuat orang lain rendah kecuali merendahkan dirinya sendiri. Kata-kata
kotor yang keluar dari mulut, lebih menunjukkan siapa yang mengatakan
dari pada siapa yang dikata-katai. Kotor kata-katanya, berarti kotor
pula pikirannya. Jadi sebenarnya tanpa membalasnya, sudah cukup orang
lain menilai siapa yang sesungguhnya lebih buruk itu. Tapi bila kita
membalas caci makian itu dengan caci maki yang lebih tajam dan
berlebihan, malah menunjukkan keburukan sisi jiwa kita. Sikap berlebihan
dalam membalas itu justru membuat kita sama-sama terjerembab bersama
orang yang mencaci itu.

 

Hikmah

 

Allah menghadapkan kita pada keadaan yang tidak kita senangi itu tentu
ada hikmahnya. Dengan sikap ridha kita dapat menjadikan caci maki
sebagai alat evaluasi diri. Tidak mudah lho melihat kekurangan diri.
Dari yang dikatakan itu mungkin ada yang tidak sesuai, tapi beberapa
bagian sebenarnya agak sesuai juga. Bahkan kalau mau jujur kita masih
perlu bersyukur; bahwa Allah masih menutupi aib-aib kita. Apa yang
dikatakan itu sebenarnya belum seberapa dari semua kekurangan kita.
Dengan demikian kita terhindar dari sikap sombong dan sok sempurna. Kita
tersadar merasa masih banyak kekurangan dan lebih terpacu lagi
memperbaiki diri.

 

Dicacimaki juga memberi pengalaman tak telupakan. Ternyata kata-kata
tajam itu bisa membuat hati ini terluka. Barangkali tanpa kita sadari
kita pernah mencaci maki teman atau orang lain, dan kemudian melupakan
begitu saja setelah melampiaskan. Padahal luka hati akibat caci maki itu
sulit disembuhkan. 

 

Nah, jika kita merasa tidak enak dicaci maki, sadarlah bahwa orang lain
pun seperti itu juga. Karenanya terdorong dari pengalaman berharga itu
segeralah bertobat dan mintalah maaf kepada orang yang pernah kau
sakiti. Engkau tidak akan bisa menanggung beban di akhirat kelak
menghadapi pengadilan Allah. Amal-amalmu habis beralih tangan pada orang
lain yang kau dzalimi itu. Sedangkan dosa-dosa orang yang kau dzalimi
ditimbunkan pada dirimu. Itulah orang yang bangkrut menurut Rasul.

 

Setelah mendapatkan hikmah yang sangat besar itu, kita pun dapat lebih
berlapang dada. Caci makian yang menimpa kita itu ternyata seperti jamu.
Meski terasa pahit, ternyata dapat menyehatkan jiwa. Oleh sebab itu kita
perlu berlatih bagaimana sikap terbaik menghadapi caci makian agar
kejadian yang diskenario Allah itu tidak sia-sia. Justru menjadi ladang
kita mendapat kemuliaan dan kebesaran di sisi-Nya.

 

Dicontohkan dalam sejarah; kita ketahui Rasul pun tak luput mendapatkan
makian bahkan lebih keras lagi. Penduduk Thaif yang diajaknya pada
kebenaran tidak menyambutnya dengan baik, justru menyambutnya dengan
olokan, lemparan batu dan potongan besi. Wajah, badan dan kaki beliau
pun berdarah-darah. Namun yang dilakukan beliau tidak membalasnya tapi
justru mendoakan; Allahummahdi qawmi. Innahum laa ya'lamuun.

 

"Ya Allah berilah petunjuk kaumku itu. Karena sesesungguhnya mereka
tiada mengetahui."

 

Caci makian tidak membuat beliau terhina, malah sebaliknya membuat
namanya kian mulia dan besar. Coba bayangkan jika Rasul juga membalasnya
dengan olokan emosional yang lebih tajam, tentu akan lain ceritanya.

 

Memang terasa sulit membayangkan. Namun bila kita menyadari hikmah yang
demikian banyak di balik cacian.

 

Rasanya orang yang mencaci maki kita itu memang tak layak dibalas dengan
cacian. Karena di balik perbuatannya itu, kita berpeluang meraih
kemuliaan dan kebesaran di sisi Allah yaitu dengan bersabar.

 

Jadi sudah selayaknya orang yang membukakan peluang kesadaran, dan
kemuliaan itu kita maafkan. Bahkan kita bisa mendoakan semoga dia
mendapatkan ampunan dan hidayah dari Allah menjadi lebih baik. Bukankah
doa orang yang terdzalimi makbul?

 [Hanif Hannan. Tulisan ini diambil dari rubrik 'Hikmah' majalah
Hidayatullah/www.hidayatullah.com]

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke