MAYORITAS KAUM MUSLIMIN SEKARANG INI
TIDAK MEMAHAMI MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAH
DENGAN PEMAHAMAN YANG BAIK
Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
---------------------------------
Mayoritas kaum muslimin sekarang ini yang telah bersaksi Laa Ilaaha Illallah
(Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah) tidak memahami makna
Laa Ilaaha Illallah dengan baik, bahkan barangkali mereka memahami maknanya
dengan pemahaman yang terbalik sama sekali. Saya akan memberikan suatu contoh
untuk hal itu : Sebagian di antara mereka (Dia adalah Syaikh Muhammad
Al-Hasyimi, salah seorang tokoh sufi dari thariqah Asy-Syadziliyyah di Suriah
kira-kira 50 tahun yang lalu) menulis suatu risalah tentang makna Laa Ilaaha
Illallah, dan menafsirkan dengan "Tidak ada Rabb (pencipta dan pengatur)
kecuali Allah" !! Orang-orang musyrik pun memahami makna seperti itu, tetapi
keimanan mereka terhadap makna tersebut tidaklah bermanfaat bagi mereka. Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
"Artinya : Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : 'Siapakah yang
menciptakan langit dan bumi ?' Tentu mereka akan menjawab : 'Allah'. " (Luqman
: 25).
Orang-orang musyrik itu beriman bahwa alam semesta ini memiliki Pencipta yang
tidak ada sekutu bagi-Nya, tetapi mereka menjadikan tandingan-tandingan bersama
Allah dan sekutu-sekutu dalam beribadah kepada-Nya. Mereka beriman bahwa Rabb
(pengatur dan pencipta) adalah satu (esa), tetapi mereka meyakini bahwa
sesembahan itu banyak. Oleh karena itu, Allah membantah keyakinan ini yang
disebut dengan ibadah kepada selain Allah di samping beribadah kepada Allah
melalui firman-Nya :
"Artinya :Dan orang-orang yang mengambil perlindungan selain Allah (berkata)
: 'Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada
Allah dengan sedekat-dekatnya'". (Az-Zumar : 3).
Kaum musyrikin dahulu mengetahui bahwa ucapan Laa Ilaaha Illallah
mengharuskannya untuk berlepas diri dari peribadatan kepada selain Allah Azza
wa Jalla. Adapun mayoritas kaum muslimin sekarang ini, menafsirkan kalimat
thayyibah Laa Ilaaha Illallah ini dengan : "Tidak ada Rabb (pencipta dan
pengatur) kecuali Allah". Padahal apabila seorang muslim mengucapkan Laa Ilaaha
Illallah dan dia beribadah kepada selain Allah disamping beribadah kepada
Allah, maka dia dan orang-orang musyrik adalah sama secara aqidah, meskipun
secara lahiriah adalah Islam, karena dia mengucapkan lafazh Laa Ilaaha
Illallah, sehingga dengan ungkapan ini dia adalah seorang muslim secara lafazh
dan secara lahir. Dan ini termasuk kewajiban kita semua sebagai da'i Islam
untuk menda'wahkan tauhid dan menegakkan hujjah kepada orang-orang yang tidak
mengetahui makna Laa Ilaaha Illallah dimana mereka terjerumus kepada apa-apa
yang menyalahi Laa Ilaaha Illallah. Berbeda dengan orang-orang musyrik, karena
dia
enggan mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, sehingga dia bukanlah seorang muslim
secara lahir maupun batin. Adapun mayoritas kaum muslimin sekarang ini, mereka
orang-orang muslim, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Artinya : Apabila mereka mengucapkan (Laa Ilaaha Illallah), maka kehormatan
dan harta mereka terjaga dariku kecuali dengan haknya, dan perhitungan mereka
atas Allah Subhanahu wa Ta'ala". (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Al-Bukhari
(25) dan pada tempat lainnya, dan Muslim (22), dan selainnya, dari hadits Ibnu
Umar Radhiyallahu anhum).
Oleh karena itu, saya mengatakan suatu ucapan yang jarang terlontar dariku,
yaitu : Sesungguhnya kenyataan mayoritas kaum muslimin sekarang ini adalah
lebih buruk daripada keadaan orang Arab secara umum pada masa jahiliyah yang
pertama, dari sisi kesalahpahaman terhadap makna kalimat tahyyibah ini, karena
orang-orang musyrik Arab dahulu memahami makna Laa Ilaaha Illallah, tetapi
mereka tidak mengimaninya. Sedangkan mayoritas kaum muslimin sekarang ini
mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka yakini, mereka mengucapkan : 'Laa
Ilaaha Illallah' tetapi mereka tidak mengimani -dengan sebenarnya- maknanya.
(Mereka menyembah kubur, menyembelih kurban untuk selain Allah, berdo'a kepada
orang-orang yang telah mati, ini adalah kenyataan dan hakikat dari apa-apa yang
diyakini oleh orang-orang syi'ah rafidhah, shufiyah, dan para pengikut thariqah
lainnya, berhaji ke tempat pekuburan dan tempat kesyirikan dan thawaf di
sekitarnya serta beristighatsah (meminta tolong) kepada
orang-orang shalih dan bersumpah dengan (nama) orang-orang shalih adalah
merupakan keyakinan-keyakinan yang mereka pegang dengan kuat).
Oleh karena itu, saya meyakini bahwa kewajiban pertama atas da'i kaum
muslimin yang sebenarnya adalah agar mereka menyeru seputar kalimat tauhid ini
dan menjelaskan maknanya secara ringkas. Kemudian dengan merinci
konsekuensi-kosekuensi kalimat thayyibah ini dengan mengikhlaskan ibadah dan
semua macamnya untuk Allah, karena ketika Allah Azza wa Jalla menceritakan
perkataan kaum musyrikin, yaitu :
"Artinya : Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan
kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". (Az-Zumar : 3)
Allah menjadikan setiap ibadah yang ditujukan bagi selain Allah sebagai
kekufuran terhadap kalimat thayyibah Laa Ilaaha Illallah.
Oleh karena itu, pada hari ini saya berkata bahwa tidak ada faedahnya sama
sekali upaya mengumpulkan dan menyatukan kaum muslimin dalam satu wadah,
kemudian membiarkan mereka dalam kesesatan mereka tanpa memahami kalimat
thayyibah ini, yang demikian ini tidak bermanfaat bagi mereka di dunia apalagi
di akhirat !.
Kami mengetahui sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
"Artinya : Barangsiapa mati dan dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang
berhak diibadahi kecuali Allah dengan ikhlas dari hatinya, maka Allah
mengharamkan badannya dari Neraka" dalam riwayat lain : "Maka dia akan masuk
Surga". (Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad (5/236), Ibnu Hibban (4) dalam
Zawa'id dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (3355)).
Maka mungkin saja orang yang mengucapkan kalimat thayyibah dengan ikhlas
dijamin masuk Surga. meskipun setelah mengucapkannya menerima adzab terlebih
dahulu. Orang yang meyakini keyakinan yang benar terhadap kalimat thayyibah
ini, maka mungkin saja dia diadzab berdasarkan perbuatan maksiat dan dosa yang
dilakukannya, tetapi pada akhirnya tempat kembalinya adalah Surga.
Dan sebaliknya barangsiapa mengucapkan kalimat tauhid ini dengan lisannya,
sehingga iman belum masuk kedalam hatinya, maka hal itu tidak memberinya
manfaat apapun di akhirat, meskipun kadang-kadang memberinya manfaat di dunia
berupa kesalamatan dari diperangi dan dibunuh, apabila dia hidup di bawah
naungan orang-orang muslim yang memiliki kekuatan dan kekuasaan. Adapun di
akhirat, maka tidaklah memberinya manfaat sedikitpun kecuali apabila :
Dia mengucapkan dan memahami maknanya.
Dia meyakini makna tersebut, karena pemahaman semata tidaklah cukup kecuali
harus dibarengi keimanan terhadap apa yang dipahaminya.
Saya menduga bahwa kebanyakan manusia lalai dari masalah ini ! Yaitu mereka
menduga bahwa pemahaman tidak harus diiringi dengan keimanan. Padahal
sebenarnya masing-masing dari dua hal tersebut (yaitu pemahaman dan keimanan)
harus beriringan satu sama lainnya sehingga dia menjadi seorang mukmin. Hal itu
karena kebanyakan ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nashrani mengetahui bahwa
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah seorang rasul yang benar dalam
pengakuannya sebagai seorang rasul dan nabi, tetapi pengetahuan mereka tersebut
yang Allah Azza wa Jalla telah mepersaksikannya dalam firman-Nya.
"Artinya : Mereka (ahlul kitab dari kalangan Yahudi dan Nashara) mengenalnya
(Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri ...." (Al-Baqarah : 146
& Al-An'am : 20)
Walaupun begitu, pengetahuan itu tidak bermanfaat bagi mereka sedikitpun !
Mengapa ? Karena mereka tidak membenarkan apa-apa yang diakui oleh beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam berupa nubuwah (kenabian) dan risalah
(kerasulan). Oleh karena itu keimanan harus didahului dengan ma'rifah
(pengetahuan). Dan tidaklah cukup pengetahuan semata-mata, tanpa diiringi
dengan keimanan dan ketundukkan, karena Al-Maula Jalla Wa' ala berfirman dalam
Al-Qur'an :
"Artinya : Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi
kecuali Allah dan mohon ampunlah atas dosa mu ......." (Muhammad : 19).
Berdasarkan hal itu, apabila seorang muslim mengucapkan Laa Ilaaha Illallah
dengan lisannya, maka dia harus menyertakannya dengan pengetahuan terhadap
kalimat thayyibah tersebut secara ringkas kemudian secara rinci. Sehingga
apabila dia mengetahui, membenarkan dan beriman, maka dia layak untuk
mendapatkan keutamaan-keutamaan sebagaimana yang dimaksud dalam hadits-hadits
yang telah saya sebutkan tadi, diantaranya adalah sabda Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam sebagai isyarat secara rinci :
"Artinya : Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, maka bermanfaat
baginya meskipun satu hari dari masanya". (Hadits Shahih. Dishahihkan oleh
Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (1932) dan beliau menyandarkan kepada
Sa'id Al-A'rabi dalam Mu'jamnya, dan Abu Nu'aim dalam Al-Hidayah (5/46) dan
Thabrani dalam Mu'jam Al-Ausath (6533), dan daia dari Hadits Abu Hurairah
Radhiyallahu 'Anhu)
Yaitu : Kalimat thayyibah ini -setelah mengetahui maknanya- akan menjadi
penyelamat baginya dari kekekalan di Neraka. Hal ini saya ulang-ulang agar
tertancap kokoh di benak kita.
Bisa jadi, dai tidak melakukan konsekuensi-konsekuensi kalimat thayyibah ini
berupa penyempurnaan dengan amal shalih dan meninggalkan segala maksiat, akan
tetapi dia selamat dari syirik besar dan dia telah menunaikan apa-apa yang
dituntut dan diharuskan oleh syarat-syarat iman berupa amal-amal hati -dan
amal-amal zhahir/lahir, menurut ijtihad sebagian ahli ilmu, dalam hal ini
terdapat perincian yang bukan disini tempat untuk membahasnya- (Ini adalah
aqidah Salafus Shalih, dan ini merupakan batas pemisah kita dengan khawarij dan
murji'ah). Da dia berada dibawah kehendak Allah, bisa jadi dia masuk ke Neraka
terlebih dahulu sebagai balasan dari kemaksiatan-kemaksiatan yang dia lakukan
atau kewajiban-kewajiban yang ia lalaikan, kemudian kalimat thayyibah ini
menyelamatkan dia atau Allah memaafkannya dengan karunia dan kemuliaan-Nya.
Inilah makna sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu :
Artinya : Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, maka ucapannya ini
akan memberi manfaat baginya meskipun satu hari dari masanya". (Hadits Shahih.
Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (1932) dan beliau
menyandarkan kepada Sa'id Al-A'rabi dalam Mu'jamnya, dan Abu Nu'aim dalam
Al-Hidayah (5/46) dan Thabrani dalam Mu'jam Al-Ausath (6533), dan daia dari
Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu)
Adapun orang yang mengucapkan dengan lisannya tetapi tidak memahami maknanya,
atau memahami maknanya tetapi tidak mengimani makna tersebut, maka ucapan Laa
Ilaaha Illaallah-nya tidak memberinya manfaat di akhirat, meskipun di dunia
ucapan tersebut masih bermanfaat apabila ia hidup di bawah naungan hukum Islam.
Oleh karena itu, harus ada upaya untuk memfokuskan da'wah tauhid kepada semua
lapisan masyarakat atau kelompok Islam yang sedang berusaha secara hakiki dan
bersungguh-sungguh untuk mencapai apa yang diserukan oleh seluruh atau
kebanyakan kelompok-kelompok Islam, yaitu merealisasikan masyarakat yang Islami
dan mendirikan negara Islam yang menegakkan hukum Islam di seluruh pelosok bumi
manapun yang tidak berhukum dengan hukum yang Allah turunkan.
Kelompok-kelompok tersebut tidak mungkin merealisasikan tujuan yang telah
mereka sepakati dan mereka usahakan dengan sungguh-sungguh, kecuali memulainya
dengan apa-apa yang telah dimulai oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam, agar tujuan tersebut bisa menjadi kenyataan.
---------------------------------
Disalin dari buku At-Tauhid Awwalan Ya Du'atal Islam, edisi Indonesia TAUHID,
Prioritas Pertama dan Utama, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hal
16-26, terbitan Darul Haq, penerjemah Fariq Gasim Anuz
http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/1188
---------------------------------
Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's Comedy with an Edge to see what's on,
when.
[Non-text portions of this message have been removed]