BERAKHLAK BAIK DAN PENTINGNYA BAGI PENUNTUT ILMU

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah

Diterjemahkan dari : http://www.sahab.net

Åöäøó ÇáúÍóãúÏó áöáøóåö äóÍúãóÏõåõ æóäóÓúÊóÚöíäõåõ æóäóÓúÊóÛúÝöÑõåõ
æóäóÚõæÐõ ÈöÇááøóåö ãöäú ÔõÑõæÑö ÃóäúÝõÓöäóÇ æóãöäú ÓóíøöÆóÇÊö ÃóÚúãóÇáöäóÇ
ãóäú íóåúÏöåö Çááøóåõ ÝóáÇó ãõÖöáøó áóåõ æóãóäú íõÖúáöáú ÝóáÇó åóÇÏöíó áóåõ
æóÃóÔúåóÏõ Ãóäú áÇó Åöáóåó ÅáÇøó Çááøóåõ æóÍúÏóåõ áÇó ÔóÑöíßó áóåõ æóÃóäøó
ãõÍóãøóÏðÇ ÚóÈúÏõåõ æóÑóÓõæáõåõ ¡ ÈóÚóËó Çááåõ ÊóÚóÇáìó ÈöÇáúåõÏóì ¡
æóÏöíöäö ÇáúÍóÞøö áöíõÙúåöÑóåõ Úóáìó ÇáÏøöíúäö ßõáøöåö ¡ ÈóÚóËó Çááåõ
ÊóÚóÇáìó Èóíúäó íóÏóíö ÇáÓøóÇÚóÉö ÈóÔöíúÑðÇ æóäóÐöíúÑðÇ ¡ æóÏóÇÚöíðÇ Åöáìó
Çááåö ÈöÅöÐúäöåö æóÓöÑóÇÌðÇ ãõäöíúÑðÇ ¡ ÝóÈóáóÛó ÇáÑøöÓóÇáóÉó ¡ æóÃøÏøóì
ÇúáÃóãóÇäóÉó ¡ æóäóÕóÍó ÇúáÃõãøóÉó ¡ æóÌóÇåóÏó Ýöí Çááåö ÍóÞøó ÌöåóÇÏöåö
ÍóÊøóì ÃóÊóÇåõ ÇáúíóÞöíúäö ¡ æóæóÝøóÞó Çááåõ ãóäú ÔóÇÁó ãöäú ÚöÈóÇÏöåö
ÝóÇÓúÊóÌóÇÈó áöÏóÚúæóÊöåö ¡ æóÇåúÊóÏóì ÈöåóÏúíöåö ¡ æóÎóÐóáó Çááåõ
ÈöÍößúãóÊöåö ãóäú ÔóÇÁó ãöäú ÚöÈóÇÏöåö ÝóÇÓúÊóßúÈóÑó Úóäú ØóÇÚóÊöåö ¡
æóßóÐøóÈó ÎóÈóÑóåõ ¡ æóÚóÇäóÏó ÃóãúÑóåõ ¡ ÝóÈóÇÁó ÈöÇáúÎõÓúÑóÇäö
æóÇáÖøóáÇóáö ÇáúÈóÚöíúÏö .

Wahai saudara-saudara sekalian, (pada) kesempatan baik ini saya akan
menyampaikan pembicaraan tentang berakhlak baik. Dan akhlak, sebagaimana
dikatakan ulama adalah gambaran batin manusia, karena (pada dasarnya)
manusia mempunyai dua bentuk, bentuk luar (yaitu fisik) yang Allah
ciptakan badan padanya.
Dan sebagaimana kita ketahui bersama bahwa bentuk luar ini ada yang
diciptakan dalam bentuk yang indah, dan ada yang diciptakan dalam bentuk
yang buruk, dan ada yang diciptakan dalam bentuk diantara keduanya. Dan
bentuk batin (demikian juga) ada yang baik dan ada yang buruk, serta ada
yang diantara keduanya, dan bentuk batin inilah yang dikatakan sebagai
akhlak.
Jika demikian halnya, maka yang dinamakan akhlak adalah : “Gambaran batin ,
dimana manusia berwatak seperti gambaran batin itu”. Dan sebagaimana akhlak
itu merupakan suatu tabiat (pemberian Allah), sesungguhnya akhlak baik juga
dapat diperoleh dengan berusaha untuk berakhlak baik, artinya bahwa (ada)
manusia yang diciptakan Allah dalam keadaan berperangai baik, dan terkadang
ada yang memperoleh akhlak baik itu dengan cara berusaha dan memaksa (serta
mengalahkan jiwa untuk berakhlak baik) - oleh karena Nabi r bersabda kepada
(sahabat yang bernama) Al Asaj bin Qais :

Åööäøó Ýöíúßó áóÎõáúÞóíúäö íõÍöÈøõåõãóÇ Çááåõ ¡ ÇáÍõáúãõ æóÇáÃóäóÇÉõ ¡ ÞóÇáó
: íÇó ÑóÓõæúáó Çááåö ÃóåõãóÇ ÎõáúÞóÇäö ÊóÎóáøóÞúÊõ ÈöåöãóÇ Ãóãú ÌóÈóáóäöí
Çááåõ ÚóáóíúåöãóÇ¡ ÞóÇáó : Èóáú ÌóÈóáóßõãõ Çááåõ ÚóáóíúåöãóÇ
“Sesunggunhya dalam dirimu terdapat dua perangai yang dicintai Allah, yaitu
sabar dan tenang, (lalu) Al Asaj bin Qais berkata : Wahai Rasulullah, apakah
dua perangai itu aku yang membikin (mengusahakan untuk berakhlak sabar dan
tenang) ataukah Allah telah ciptakan keduanya untukku? Beliau bersabda :
“Allah menciptakanmu dalam keadaan berakhlak sabar dan tenang ”.

Maka ini adalah dalil bahwa akhlak mulia itu terjadi melalui tabiat
(pembawaan asli), dan bisa juga terjadi dari usaha untuk berakhlak mulia.
Akan tetapi, akhlak mulia yang lahir dari tabiat, tentu lebih baik dari
akhlak mulia yang terjadi dari hasil usaha untuk berakhlak mulia. Karena
jika akhlak itu terlahir dari tabiat, ia akan menjadi karakter dan pembawaan
bagi manusia yang tidak membutuhkan usaha membiasakan dan melatihnya. Akan
tetapi, ini adalah karunia Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia
kehendaki. Dan barangsiapa yang tidak diciptakan dalam keadaan berakhlak
baik, sesungguhnya ia dapat memperolehnya dari jalan berusaha untuk
berakhlak baik itu, dengan cara membiasakan dan memaksa (serta mengalahkan
jiwa untuk berakhlak baik) sebagaimana kami akan menyebutkannya insya Allah.
Dan banyak manusia berprasangka bahwa berakhlak baik hanyalah dilakukan
dalam bermuamalah dengan makhluk, tanpa bermuamalah dengan Allah. Akan
tetapi ini adalah pemahaman yang sempit (dalam memahami makna berakhlak
baik), karena sesungguhnya berakhlak baik itu sebagaimana dilakukan dalam
bermuamalah dengan mahluk, juga dilakukan dalam bermuamalah dengan Al Khaliq
(Sang Pencipta). Maka pembahasan tentang berakhlak baik adalah bermuamalah
dengan Allah dan bermuamalah dengan mahluk.
Maka apakah yan dimaksud dengan berakhlak baik dalam bermuamalah dengan
Allah ?
Berakhlak baik dalam bermuamalah dengan Allah terkumpul dalam tiga perkara :
1. Menerima berita-berita dari Allah (Al Qur'an) dengan membenarkannya.
2. Menerima hukum-hukum Allah dengan cara mengamalkannya.
3. Menerima takdir Allah dengan sabar dan ridha.

Maka dalam tiga hal inilah berkisar sesuatu yang berkenaan dengan berakhlaq
baik dengan Allah.

PERTAMA : Menerima berita-berita dari Allah (Al Qur'an) dengan
membenarkannya
Di mana (artinya adalah) tidak terdapat keraguan dalam diri manusia atau
kebimbangan dalam membenarkan berita dari Allah (Al Qur’an) , karena berita
dari Allah bersumber dari ilmu yaitu Allah Dzat yang paling benar
perkataannya. Sebagaimana firman Allah :
æóãóäú ÃóÕúÏóÞõ ãöäó Çááøóåö ÍóÏöíËðÇ
“Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan (nya) daripada Allah” (An
Nisa : 87)

Dan wajib membenarkan berita dari Allah dengan sikap mempercayainya,
membelanya, berjihad dengannya, dimana keraguan dan kebimbangan terhadap Al
Qur’an dan hadits tidak memasukinya. Dan jika seseorang menampakkan akhlak
seperti ini, maka mungkin baginya untuk menolak setiap subhat (kerancuan)
yang dibawa oleh orang-orang yang menentang terhadap Al Hadits, baik itu
mereka yang menentang dari kalangan orang muslim yang mengadakan perbuatan
bid’ah (perkara yang tidak ada contohnya dari Allah dan Rasul-Nya) atau
orang-orang non muslim yang melemparkan subhat dalam hati kaum muslimin. Dan
kami beri contoh tentang hal itu :
Tersebut dalam shahih Bukhari sebuah hadits dari Abu Hurairah, bahwa Nabi r
bersabda :
ÅöÐóÇ æóÞóÚó ÇáÐøõÈóÇÈõ Ýöí ÔóÑóÇÈö ÃóÍóÏößõãú ÝóáúíóÛúãöÓúåõ Ëõãøó
áöíóäúÒóÚóäúåõ ÝöÅöäøð Ýöí ÅöÍúÏóì ÌóäóÇÍóíúåö ÏóÇÁñ æóÇúáÃõÎúÑóì ÔöÝóÇÁñ
“Jika lalat terjatuh dalam minuman salah seoran dari kalian, maka hendaklah
ia benamkan lalat itu kedalam minuman, lalu setelah itu hendaknya ia
membuang lalat itu, karena sesunguhnya di dalam salah satu sayapnya terdapat
penyakit, dan disayap lainnya terdapat obat” (Bukhari 5782)

Ini adalah berita dari Rasulullah r dalam perkara-perkara yang ghaib , Dan
Nabi r tidaklah mengucapkan dari hawa nafsunya, tetapi yang beliau r ucapkan
adalah wahyu Allah. (Hal ini) karena Nabi r adalah manusia, sedangkan
manusia tidak mengetahui hal-hal yang ghaib, bahkan Allah berfirman kepada
Nabi r :

& Þõáú áÇó ÃóÞõæáõ áóßõãú ÚöäúÏöí ÎóÒóÇÆöäõ Çááøóåö æóáÇó ÃóÚúáóãõ ÇáúÛóíúÈó
æóáÇó ÃóÞõæáõ áóßõãú Åöäøöí ãóáóßñ Åöäú ÃóÊøóÈöÚõ ÅöáÇøó ãóÇ íõæÍóì Åöáóíøó
&
Katakanlah: "Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada
padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku
mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali
apa yang diwahyukan kepadaku. (Al An’am : 50)

Berita ini (hadits tentang lalat), wajib bagi kita menerimanya dengan akhak
yang baik. Dan berakhlak baik terhadap hadits ini adalah dengan menerimanya
serta menetapkan bahwa hadits yang disabdakan oleh Nabi r adalah haq dan
benar, walaupun ditentang orang yang menentangnya. Dan kita mengetahui
dengan seyakin-yakinnya, bahwa pendapat yang menyelisihi hadits yang benar
keshahihannya dari Rasulullah r adalah (pendapat) batil, hal ini karena
Allah berfirman :
& ÝóãóÇÐóÇ ÈóÚúÏó ÇáúÍóÞøö ÅöáÇøó ÇáÖøóáÇá &õ
“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan” (Yunus : 32)

Contoh lainnya :
Dari peristiwa hari kiamat, Rasulullah r mengabarkan bahwa matahari berada
dekat dengan manusia pada hari kiamat seukuran satu mil. Baik itu mil
……………atau mil perjalanan. Jarak ini (antara matahari dan manusia) dekat
sekali, tetapi manusia tidak terbakar oleh panasnya, padahal kalau matahari
saat ini (didunia) dekat seukuran ………pasti dunia terbakar. Maka terkadang
seseorang berkata : “Bagaimana matahari berada dekat kepala-kepala manusia
pada hari kiamat sejarak ukuran ini lalu manusia tidak terbakar ? maka
dimanakah akhlak yang baik terhadap hadits ini? Berakhlak baik terhadap
hadits ini adalah dengan menerima dan membenarkannya, dan hendaknya tidak
terdapat dalam hati kita kesempitan, kegalauan dan kebimbangan. Dan
hendaknya kita mengetahui bahwa hadits yang diberitakan Nabi r tentang hal
ini adalah haq dan tidak mungkin kita mengqiyaskan (menyerupakan)
keadaan-keadaan di akhirat berdasarkan keadaan-keadaan didunia, (hal ini)
karena adanya perbedaan besar. Maka jika keadaannya demikian, maka seorang
yang beriman akan menerima hadits semisal ini dengan lapang dada dan
ketenangan, dan pemahaman tentangnya akan bertambah luas, inilah (berakhlak
baik) terhadap berita-berita (dalam Al Qur’an dan hadits).

KEDUA : MENERIMA HUKUM-HUKUM ALLAH DENGAN BENTUK MENGAMALKANNYA

Sesungguhnya berakhlak baik dalam bermuamalah dengan Allah dalam hal yang
berkaitan dengan hukum-hukumNya adalah (dengan cara) menerima, mengamalkan
dan merealisasikannya, serta tidak menolak sedikitpun hukum-hukum Allah.
Jika seseorang mengingkari suatu hukum Allah, maka tindakan ini adalah
(termasuk ) berakhlak buruk kepada Allah.
Kami akan memberikan permisalan tentang puasa. Tidak diragukan lagi bahwa
puasa adalah (amalan) yang berat bagi manusia, karena dalam ibadah puasa
seseorang (harus) meninggalkan hal-hal yang diingini, seperti makanan,
minuman, dan jima’. (Dan) Ini adalah suatu perkara yang berat. Akan tetapi
seorang yang beriman, ia akan berakhlak baik kepada Allah, menerima beban
syariat ini, dan menerima kemuliaan ini, dan hal ini adalah nikmat dari
Allah, ia akan menerimanya dengan lapang dada dan ketenangan, jiwanya luas,
dan kamu akan mendapatinya berpuasa pada siang hari yang panas sedangkan ia
dalam keadaan ridha, lapang dada, karena ia berakhlak baik kepada
Penciptanya, akan tetapi orang yang berakhlak buruk kepada Allah akan
“menemui” ibadah seperti ini dengan keluh kesah, kebencian. Dan andaikata ia
takut kepada suatu perkara yang tidak akan……………………..niscaya………………………..

Dan misal laiinnya adalah shalat :
Tidak dapat diragukan lagi bahwa puasa adalah ibadah yang berat bagi
sebagian manusia, dan shalat itu ibadah yang berat bagi orang-orang munafik,
sebagaimana sabda Nabi r :
ÃóËúÞóáõ ÇáÕøóáÇóÉö Úóáóì ÇáúãõäóÇÝöÞöíúäó ÕóáÇóÉõ ÇáúÚöÔóÇÁö æóÕóáÇóÉõ
ÇáúÝóÌúÑö
“Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya’ dan
shalat subuh” (Bukhari & Muslim)

akan tetapi shalat bagi orang yang beriman adalah “qurratu aini” (penghibur
hati) dan menenangkan jiwanya.
& æóÇÓúÊóÚöíäõæÇ ÈöÇáÕøóÈúÑö æóÇáÕøóáÇóÉö æóÅöäøóåóÇ áóßóÈöíÑóÉñ ÅöáÇøó
Úóáóì ÇáúÎóÇÔöÚöíäó & ÇáøóÐöíäó íóÙõäøõæäó Ãóäøóåõãú ãõáÇóÞõæ ÑóÈøöåöãú
æóÃóäøóåõãú Åöáóíúåö ÑóÇÌöÚõæäó &
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan)
shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi
orang-orang yang khusyu`,(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka
akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (Al
Baqarah : 45-46)

Shalat bagi orang yang beriman bukanlah hal yang berat, bahkan shalat itu
ringan dan mudah (bagi mereka yang beriman). Oleh karena itu Nabi r bersabda
:
ÌõÚöáóÊú ÞõÑøóÉõ Úóíúäöí Ýöí ÇáÕøóáÇóÉö
“Dijadikan pelipur lara hatiku dalam shalat”

Maka berakhlak baik kepada Allah dalam masalah shalat ini, yaitu anda
menunaikan shalat dengan lapang dada, tenang, dan kedua matamu mendapatkan
pelipur lara jika engkau sedang mengerjakan dan menunggunya jika waktu
shalat telah lewat, maka jika engkau telah mengerjakan shalat subuh, engkau
dalam kerinduan kepada shalat dzuhur, dan jika engkau telah shalat dzuhur
engkau dalam kerinduan kepada shalat ashar, dan jika engkau telah
mengerjakan shalat ashar engkau dalam kerinduan kepada shalat maghrib, dan
jika engkau telah shalat maghrib engkau dalam kerinduan kepada shalat isya’,
dan jika engkau telah selesai mengerjakan shalat isya engkau dalam kerinduan
kepada shalat subuh. Demikianlah, hatimu selalu teringat dengan
shalat-shalat. Hal seperti, tidak dapat diragukan lagi termasuk berakhlak
baik kepada Allah.

Dan kami berikan contoh ketiga dalam masalah muamalah :
Dalam masalah muamalah, Allah mengharamkan riba bagi kita dengan pengharaman
yang jelas dalam Al Qur’an
æóÃóÍóáøó Çááøóåõ ÇáúÈóíúÚó æóÍóÑøóãó ÇáÑøöÈóÇ
“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (Al Baqarah : 275)

dan Allah berkata tentang riba :
& Ýóãóäú ÌóÇÁóåõ ãóæúÚöÙóÉñ ãöäú ÑóÈøöåö ÝóÇäúÊóåóì Ýóáóåõ ãóÇ ÓóáóÝó
æóÃóãúÑõåõ Åöáóì Çááøóåö æóãóäú ÚóÇÏó ÝóÃõæáóÆößó ÃóÕúÍóÇÈõ ÇáäøóÇÑö åõãú
ÝöíåóÇ ÎóÇáöÏõæäó &
“Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Penciptanya, lalu
terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya
dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah.
Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah
penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya” (Al Baqarah : 275)

Allah mengancam orang yang kembali melakukan riba sesudah datang kepadanya
nasehat dan mengetahui hukumnya dengan ancaman akan memasukkannya kekal
kedalam neraka, (kita mohon perlindungan kepada Allah darinya).

Orang yang beriman akan menerima hukum ini dengan lapang dada, ridha dan
menyerah (tunduk). Adapun orang yang tidak beriman, ia tidak akan
menerimanya dan hatinya sempit dengan hukum ini. Ia akan berusaha mengadakan
berbagai siasat dan cara, karena kita mengetahui bahwa bahwa didalam riba
terdapat penghasilan yang pasti keutungannya dan tidak terdapat didalamnya
perniagaan yang belum diketahui (untung dan rugi), akan tetapi pada
hakikatnya riba adalah penghasilan bagi seseorang dan penganiayaan bagi
yang lain. Oleh karena Itu Allah berfirman :
& æóÅöäú ÊõÈúÊõãú Ýóáóßõãú ÑõÁõæÓõ ÃóãúæóÇáößõãú áÇó ÊóÙúáöãõæäó æóáÇó
ÊõÙúáóãõæäó &
“Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu;
kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya” (Al Baqarah : 279)

ADAPUN PERKARA KETIGA DALAM PEMBAHASAN BERAKHLAK BAIK KEPADA ALLAH ADALAH :

Ridha dan sabar pada taqdir-taqdir Allah, dan kita semua telah mengetahui
bahwa taqdir-taqdir Allah yang Allah timpakan kepada mahluk-Nya, sebagiannya
sesuai dan sebagiannya tidak disukai.
Apakah sakit disukai manusia ? (tidak sama sekali). Manusia menyukai sehat.
Apakah kefakiran disukai manusia ? Tidak, manusia menyukai menjadi orang
kaya.
Apakah bodoh disukai manusia ? tidak, manusia menyukai menjadi seorang yang
pandai (alim).
Akan tetapi taqdir Allah dengan hikmah-Nya bermacam-macam, sebagiannya ada
yang disukai manusia dan ia lapang dada dengan taqdir sesuai dengan
tabiatnya, dan sebagiannya tidak demikian halnya. Maka bagaimanakah
berakhlak baik kepada kepada Allah terhadap taqdir-taqdir-Nya ?
Berakhlak baik kepada Allah berkenaan dengan taqdir-taqdir-Nya adalah dengan
sikap engkau ridha dengan apa yang Allah taqdirkan bagimu, dan hendaknya
engkau merasa tenang pada taqdir itu, dan hendaknya engkau mengetahui bahwa
tidaklah Allah mentakdirkan bagimu melainkan dengan hikmah dan tujuan yang
terpuji serta patut dipuji dan syukur. Dan berdasarkan hal ini, berakhlak
baik kepada Allah berkenaan dengan taqdir-taqdir-Nya adalah ridha, menyerah
dan merasa tenang. Oleh karena itu Allah memuji orang-orang yang sabar yaitu
orang –orang yang apabila ditimpa dengan suatu musibah mereka berkata :
& ÅöäøðÇ öááåö æóÅöäøóÇ Åöáóíúåö ÑóÇÌöÚõæúäó &
“Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya lah kita
kembali”
Dan Allah berfirman :
& æóÈóÔøöÑö ÇáÕøóÇÈöÑöíúäó &
“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (Al Baqarah :
155)

Dan kita meringkas pembahasn yang di atas bahwa berakhlak baik sebagaimana
terjadi kepada makhluk juga terjadi kepada Al Khalik (Allah), dan yang
dimaksud berakhlak baik kepada Allah adalah menerima Al Qur’an dengan
membenarkannya, dan “menemui” hukum-hukumnya dengan menerima serta
mengamalkannya, dan menerima taqdir-taqdir-Nya dengan sabar, dan ridha,
inilah yang dimaksud berakhlak baik terhadap Allah.

Adapun berakhlak baik terhadap mahluk, sebagian ulama menerangkan dan
menyebutkan dari Hasan Al Basri bahwa berakhlak baik adalah : mencegah
gangguan, mengerahkan kedermawanan, dan berwajah ceria.
Tiga perkara :
1. Mencegah gangguan ßóÝøõ ÇúáÃóÐóì
2. Dermawan ÈóÐúáõ ÇáäøóÏóì
3. Berwajah ceria

PERTAMA : Mencegah gangguan (ßóÝøõ ÇúáÃóÐóì )

Apakah makna “(ßóÝøõ ÇúáÃóÐóì )” ?
Maknanya adalah bahwa seseorang mencegah (dirinya) untuk mengganggu orang
lain, baik itu gangguan yang berhubungan dengan harta, jiwa, atau
kehormatan. Barangsiapa tidak menahan dirinya dari mengganggu orang lain,
maka ia tidak mempunyai akhlak yang baik, dan ia berakhlak jelek.
Rasulullah r telah memberitahukan dihadapan sejumlah besar umat beliau r
(ketika beliau r menunaikan haji wada’) :
Åöäøó ÏöãóÇÁóßõãú æóÃóãúæóÇáóßõãú æóÃóÚúÑóÇÖóßõãú Úóáóíúßõãú ÍóÑóÇãñ
ßóÍõÑúãóÉö íóæúãößõãú åÐóÇ Ýöí ÔóåúÑößõãú åÐóÇ Ýöí ÈóáóÏößõãú åÐóÇ
“Sesungguhnya darah kalian dan harta kalian dan kehormatan kalian haram atas
kalian sebagaimana keharaman hari kalian ini, pada bulan kalian ini,
dinegeri kalian ini” (hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

Jika seseorang berbuat aniaya kepada manusia dengan melakukan
pengkhianatan, atau berbuat aniaya dengan memukul, dan kejahatan, atau
berbuat aniaya kepada manusia dalam kehormatannya, atau mencela, atau ghibah
(menggunjing hal-hal yang jelek), maka hal ini bukanlah termasuk berakhlak
baik kepada manusia, karena ia tidak menahan (dirinya) dari mengganggu
orang. Dan dosanya semakin besar manakala perbuatan aniaya itu dilakuakan
kepada seseorang yang mempunyai hak paling besar padamu. Berbuat jahat
kepada kedua orangtua misalnya, lebih besar (dosanya) dari berbuat jahat
kepada selain keduanya, dan berbuat jahat kepada karib kerabat lebih besar
(dosanya) dari berbuat jahat kepada orang yang lebih jauh, dan berbuat jahat
kepada tetangga lebih besar dosanya dari berbuat jahat kepada selain
tetanggamu, oleh karena itu Nabi r bersabda :

æóÇááåö áÇó íõÄúãöäõ æóÇááåö áÇó íõÄúãöäõ æóÇááåö áÇó íõÄúãöäõ ¡ Þöíúáó ãóäú
íÇó ÑóÓõæúáó Çááåö ¿ ÞÇóáó : ÇáøóÐöí áÇó íóÃúãóäõ ÌóÇÑõåõ ÈóæóÇöÆÞóåõ
“Demi Allah, demi Allah, demi Allah, tidaklah beriman, ditanyakan kepada
Rasulullah r : Siapa wahai Rasulullah ? beliau r bersabda : orang yang
tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya”.
Dalam riwayat Muslim :
áÇó íóÏúÎõáõ ÇáúÌóäøóÉó ãóäú áÇó íóÃúãóäõ ÌóÇÑõåõ ÈóæóÇÆöÞóåõ
“Tidak akan masuk surga, seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari
gangguannya”

KEDUA : MENDERMAWAKAN KEDERMAWANAN( ÈóÐúáõ ÇáäøóÏóì)
Makna ÈóÐúáõ ÇáäøóÏóì
yaitu engkau mendermawakan kedermawanan. Dan Kedermawan itu artinya
bukanlah sebagaimana yang difahami oleh sebagian manusia, yaitu engkau
mendermakan harta (hanya bermakna ini), tetapi yang dimaksud dermawan adalah
mendermakan jiwa, kedudukan dan harta.
Jika kita melihat seseorang memenuhi kebutuhan manusia, membantu mereka,
membantu mengarahkan mereka kepada seseorang yang mereka tidak mampu
(menemuinya kecuali dengan perantaraannya) hingga berhasil (menemui) nya,
atau menyebarkan ilmu diantara manusia, mendermakan hartanya kepada manusia,
maka kami mensifatinya sebagai orang yang berakhlak baik, karena ia
mendermakan kedermawanan, oleh karena itu Nabi r bersabda :
ÇöÊøóÞö Çááåó ÍóíúËõãóÇ ßõäúÊó æóÇÊøóÈöÚ ÇáÓøóíøöÆóÉó ÇáúÍóÓóäóÉó ÊóãúÍõåóÇ
æóÎÇóáöÞö ÇáäøóÇÓó ÈöÎõáõÞò ÍóÓóäò
“Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kalian berada, ikutilah perbuatan jahat
dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapuskan
perbuatan jahat, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik”
(Hadits riwayat Ahmad, Tirmidzi dan Darimi)

Dan makna hal itu adalah jika engkau dianiaya atau dipergauli dengan
perbuatan buruk maka engkau memaafkan. Dan sungguh Allah telah memuji
orang-orang yang memaafkan kesalahan manusia, Allah berfirman tentang
penghuni surga :
& ÇáøóÐöíäó íõäúÝöÞõæäó Ýöí ÇáÓøóÑøóÇÁö æóÇáÖøóÑøóÇÁö æóÇáúßóÇÙöãöíäó
ÇáúÛóíúÙó æóÇáúÚóÇÝöíäó Úóäö ÇáäøóÇÓö æóÇááøóåõ íõÍöÈøõ ÇáúãõÍúÓöäöíäó &
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun
sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan)
orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (Ali Imran :134)
Dan Allah berfirman :
& æóÃóäú ÊóÚúÝõæÇ ÃóÞúÑóÈõ áöáÊøóÞúæóì &
“Dan pema`afan kamu itu lebih dekat kepada takwa” (Al Baqarah : 237)

& æóáúíóÚúÝõæÇ æóáúíóÕúÝóÍõæÇ &
“Dan hendaklah mereka mema`afkan dan berlapang dada” (An Nur : 22)
Dan Allah berfirman :
& Ýóãóäú ÚóÝóÇ æóÃóÕúáóÍó ÝóÃóÌúÑõåõ Úóáóì Çááøóåö &
“Maka barangsiapa mema`afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas
(tanggungan) Allah” (Asy Syuura : 40)

Seseorang yang berhubungan dengan manusia lainnya, mesti akan mengalami
suatu gangguan, maka sepatutnya sikapnya dalam menghadapi gangguan ini
adalah hendaknya memaafkan dan berlapang dada. Dan hendaknya ia mengetahui
dengan seyakin-yakinnya bahwa sikap pemaaf dan lapang dadanya dan harapannya
untuk mendapatkan balasan kebaikan kelak di akhirat (dapat mengakibatkan)
permusuhan antara dia dengan saudaranya menjadi kasih sayang dan
persaudaraan. Allah berfirman :

& æóáÇó ÊóÓúÊóæöí ÇáúÍóÓóäóÉõ æóáÇó ÇáÓøóíøöÆóÉõ ÇÏúÝóÚú ÈöÇáøóÊöí åöíó
ÃóÍúÓóäõ ÝóÅöÐóÇ ÇáøóÐöí Èóíúäóßó æóÈóíúäóåõ ÚóÏóÇæóÉñ ßóÃóäøóåõ æóáöíøñ
Íóãöíãñ &
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan
cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada
permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (Al Fushilat :
34)

Maka apakah yang lebih baik ? bersikap buruk atau baik ? (tentu) bersikap
baik, dan perhatikanlah wahai orang yang mengerti bahasa Arab, bagaimana
datang hasil yang diperoleh dengan “idza Al fujaiyyah” yang menunjukkan
kejadian langsung dalam hasil yang diperolehnya :
& ÝóÅöÐóÇ ÇáøóÐöí Èóíúäóßó æóÈóíúäóåõ ÚóÏóÇæóÉñ ßóÃóäøóåõ æóáöíøñ Íóãöíãñ &

“Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan
seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (Al Fushilat : 34)

Akan tetapi apakah setiap orang mendapatkan petunjuk untuk mengamalkan hal
ini ?
Tidak, :
& æóãóÇ íõáóÞøóÇåóÇ ÅöáÇøó ÇáøóÐöíäó ÕóÈóÑõæÇ æóãóÇ íõáóÞøóÇåóÇ ÅöáÇøó Ðõæ
ÍóÙøò ÚóÙöíãò &
“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang
yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang
mempunyai keberuntungan yang besar” (Al Fushilat : 35)

Dan disini terdapat masalah :
Apakah kita memahami dari keterangan ini memaafkan orang yang berbuat jahat
secara mutlak (merupakan tindakan) terpuji dan diperintahkan ? Akan tetapi,
hendaknya kalian ketahui bahwa memaafkan itu akan terpuji, jika sikap
memaafkan itu lebih terpuji. Maka jika sikap memaafkan lebih terpuji, maka
sikap itu lebih utama. Oleh Karena itu Allah berfirman :
& Ýóãóäú ÚóÝóÇ æóÃóÕúáóÍó ÝóÃóÌúÑõåõ Úóáóì Çááøóåö &
“Maka barangsiapa mema`afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas
(tanggungan) Allah” (Asy Syuura : 40)

Allah menjadikan sikap memaaf diiringi dengan (kata) berbuat baik (pada ayat
di atas). Maka apakah mungkin sikap memaafkan tanpa diiringi berbuat baik ?
Jawabannya : Ya, mungkin, terkadang seseorang berani dan berbuat aniaya
padamu, dan ia seorang yang dikenal jahat dan berbuat kerusakan oleh
manusia. Kalau engkau memaafkannya ia akan terus dalam perbuatan jahatnya
dan berbuat kerusakan. Maka sikap apakah yang lebih utama dalam kondisi ini
? kita maafkan atau kita membalas kejahatannya ? yang lebih utama adalah
membalas kejahatannya. Karena dengan sikap ini terdapat sikap berbuat baik.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “Memperbaiki itu wajib, dan
memaafkan itu dianjurkan”.
Maka jika dalam sikap memaaf itu terlewatkan sikap berbuat baik, maka
maknanya bahwa kita mendahulukan anjuran daripada kewajiban, dan hal ini
tidak ada dalam syariat. Dan Ibnu Taimiyyah benar (semoga Allah
merahmatinya)

Dan pada kesempatan ini saya ingin untuk mengingatkan atas suatu masalah
yang dilakukan oleh banyak manusia dengan maksud berbuat baik. Yaitu suatu
kejadian menimpa seseorang lalu orang lain meninggal disebabkannya. Maka
datanglah keluarga terbunuh lalu meminta tebusan (sebagai pengganti hukuman
mati) terhadap pelaku, maka apakah perbuatannya itu terpuji dan dianggap
sebagai sikap berakhlak baik ? atau apakah dalam masalah ini ada
perinciannya ? Ya benar, yang demikian itu ada perinciannya.
Tidak dapat tidak kita harus memerhatikan dan memikirkan terhadap pelaku
kejadian ini, apakah dia dari kalangan orang yang sudah dikenal dengan
sikapnya yang ngawur atau tidak hati-hati ? ataukah dia dari orang yang
berkata : aku tidak peduli menubruk seseorang, karena uang diyatnya
(tebusannya) ada dilaci. Kita berlindung diri kepada Allah dari yang
demikian itu.
Ataukah ia termasuk dari kalangan orang yang tertimpa kejahatan bersama
dengan sikapnya yang hati-hati dan ……………….akan tetapi Allah telah menjadikan
sesuatu dengan ukurannya ?
Jawabannya adalah : kalau orang ini dari bentuk yang kedua maka memaafkan
adalah lebih utama, akan tetapi sebelum memaafkan (walaupun dalam bentuk
yang kedua) wajib kita lihat apakah mayit meninggalkan hutang atau tidak ?
jika meninggalkan hutang yang belum terbayar maka kita tidak mungkin
memaafkannya.
Dan kalau kita memberikan maaf, maka pemberian maaf kita tidak dianggap. Dan
masalah ini barangkali lalai darinya kebanyakan manusia, mengapa kita
mengatakan bahwa sebelum memaafkan wajib kita melihat apakah mayit mempunyai
hutang atau tidak ? Mengapa kita mengatakan yang demikian ?
Karena para ahli waris menerima ……………..tebusan dari mana ? apakah dari mayit
yang ditimpa kejadian ……………………kecuali sesudah hutang. Oleh karena itu
tatkala Allah menyebutkan tentang warisan Dia berfirman :
& ãöäú ÈóÚúÏö æóÕöíøóÉò íõæÕöí ÈöåóÇ &
“(Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia
buat” (An Nisa : 11)

Permasalahan ini tersembunyi atas sebagian manusia, oleh karena itu kami
berkata : “jika terjadi kejadian atas seseorang ……………………….kita melihat
keadaan pelaku perbuatan terlebih dahulu, apakah termasuk orang-orang yang
ceroboh atau bukan ? dan kita melihat keadaan korban, apakah ia mempunyai
hutang atau tidak ?
Intinya : bahwa termasuk berakhlak baik adalah memaafkan manusia, dan ini
termasuk sikap mendermakan kedermawanan, karena mendermakan kedermawanan itu
bisa dengan cara memaafkan atau menjatuhkan hukuman atau menggugurkan
hukum.

KETIGA : WAJAH BERSERI-SERI

Yaitu seseorang berwajah ceria, dan kebalikan berwajah ceria adalah
bermasam muka, oleh karena itu Nabi r bersabda :
áÇó ÊóÍúÞöÑóäøó ãöäó ÇáúãóÚúÑõæúÝö ÔóíúÆðÇ æóáóæú Ãóäú ÊóáúÞóì ÃóÎóÇßó
ÈöæóÌúåò ØóáöÞò
“Janganlah meremehkan sesuatu kebaikan walaupun engkau berjumpa dengan
saudaramu dengan wajah berseri-seri” (hadits riwayat Muslim)

Berwajah ceria akan memasukkan rasa senang pada orang yang engkau jumpai dan
orang yang berhadapan denganmu, mendatangkan rasa kasih sayang dan cinta,
mendatangkan kelapangan dalam hati, bahkan mendatangkan rasa lapang dada
bagimu dan orang-orang yang bertemu denganmu – cobalah niscaya akan kamu
dapatkan ! - . Akan tetapi jika engkau bermuka masam, maka orang lain akan
lari darimu, mereka akan merasakan ketidaksukaan untuk duduk denganmu serta
berbicara denganmu. Dan boleh jadi kamu akan ditimpa penyakit yang berbahaya
yaitu yang dinamakan dengan tekanan (batin). Karena berwajah ceria adalah
obat yang mencegah dari penyakit ini, yaitu penyakit tekanan (batin). Oleh
karena itu para dokter menasehati orang yang ditimpa penyakit ini untuk
menjauhi dari hal-hal yang membangkitkan rasa marah. Karena hal itu akan
menambah penderitaannya, maka berwajah ceria akan memusnahkan penyakit ini,
karena manusia akan merasakan lapang dada dan dicintai mahluk.
Ini adalah tiga dasar, di mana pada tiga hal inilah berkisar sikap berakhlak
baik dalam bermuamalah dengan mahluk.
Dan dari hal yang sepatutnya diketahui dalam berakhlak baik adalah bergaul
dengan baik. Yaitu dengan cara seseorang bergaul dengan temannya,
sahabatnya, karib kerabatnya dengan pergaulan yang baik, tidak membikin
kesusahan dan kepedihan mereka, tetapi mendatangkan rasa gembira sesuai
dengan batasan-batasan syariat Allah. Dan batasan ini haruslah batasan yang
berdasarkan syariat Allah, karena diantara manusia ada orang yang tidak
gembira kecuali dengan perbuatan maksiat kepada Allah, (kita berlindung
kepada Allah dari yang demikian itu), yang demikian tidak kita setujui.
Akan tetapi memasukkan rasa senang kepada orang yang berhubungan denganmu
dari kalangan keluarga, teman, karit kerabat adalah termasuk berakhlak baik,
oleh karena itu Nabi bersabda :
Åöäøó ÎóíúÑóßõãú ÎóíúÑóßõãú áÃöóåúáöåö æóÃóäóÇ ÎóíúÑõßõãú áÃóåúáöí
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku
(terhadap) keluargaku adalah orang yang terbaik diantara kalian”. (hadits
riwayat Ahmad, Ibnu Majah, dan Baihaqi)

Dan sangat disayangkan banyak diantara manusia berakhlak baik kepada orang
lain, akan tetapi mereka tidak berakhlak baik kepada keluarganya, ini salah
dan membalikkan hak-hak, bagaimana mungkin kamu berbuat baik kepada
orang-orang jauh dan berbuat jelek kepada kerabat dekat ? karib kerabat
adalah manusia yang paling berhak kamu berhubungan dan bergaul dengan baik.
Oleh karena itu bertanya seorang lelaki kepada Rasulullah :
ãóäú ÃóÍóÞøõ ÇáäøóÇÓö ÈöÕóÍóÇÈóÊíö ¿ ÞóÇáó : Ãõãøõßó¡ ÞóÇáó : Ëõãøó ãóäú ¿
ÞóÇáó : Ãõãøõßó ¡ Ëõãøó ãóäú ¿ ÞÇóáó : ÃóÈõæúßó . Ýöí ÇáËóÇáöËóÉö Ãóæú
ÇáÑøðÇÈöÚóÉö
“Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak aku berbuat baik
padanya ? Rasulullah menjawab : Ibumu, lalu ia bertanya lagi : lalu siapa
ya Rasulullah ? Beliau menjawab : Ibumu, lalu lelaki itu bertanya lagi :
lalu siapa ya Rasulullah ? Beliau menjawab : ayahmu”. (Hadits Riwayat
Bukhari dan Muslim)

Intinya : bahwasanya bergaul dengan baik kepada keluarga dan
sahabat-sahabat, karib kerabat, semua itu adalah termasuk berakhlak baik.
Dan sepatutnya kita di tempat ini…………………………………………….karena ilmu tanpa
tarbiyah (mendidik) terkadang mudharatnya (akibat jeleknya) lebih besar dari
manfaatnya, akan tetapi bersama dengan mendidik ilmu akan mengantarkan
kepada hasil yang diinginkan. Oleh Karena itu Allah berfirman :
& ãóÇ ßóÇäó áöÈóÔóÑò Ãóäú íõÄúÊöíóåõ Çááøóåõ ÇáúßöÊóÇÈó æóÇáúÍõßúãó
æóÇáäøõÈõæøóÉó Ëõãøó íóÞõæáó áöáäøóÇÓö ßõæäõæÇ ÚöÈóÇÏðÇ áöí ãöäú Ïõæäö
Çááøóåö æóáóßöäú ßõæäõæÇ ÑóÈøóÇäöíøöíäó ÈöãóÇ ßõäúÊõãú ÊõÚóáøöãõæäó
ÇáúßöÊóÇÈó æóÈöãóÇ ßõäúÊõãú ÊóÏúÑõÓõæäó &
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab,
hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu
menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia
berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu
mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (Ali Imran :
79)
Ini adalah faedah ilmu, yaitu manusia menjadi Rabbaniyyin artinya mendidik
hamba-hamba Allah di atas syariat Allah.

Dan tempat ini kami mengharapkan kepada pendirinya untuk menjadikannya
sebagai tempat berlomba-lomba dalam berakhlak utama diantaranya berakhlak
baik. Dan berakhlak baik bisa terjadi karena memang sudah tabiatnya atau
karena usaha untuk berakhlak baik (sebagaimana penjelasan lalu). Dan
berakhlak baik karena memang sudah menjadi tabiat adalah lebih sempurna dari
berakhlak baik karena usaha untuk berakhlak baik. Dan kami telah
mendatangkan dalil tentang hal ini yaitu sabda Rasulullah :
Èóáú ÌóÈóáóßõãõ Çááåõ ÚóáóíúåöãóÇ
“Itu telah Allah ciptakan untukmu”
Dan berakhlak baik yang dihasilkan dari usaha untuk itu kadang-kadang banyak
hal terlewatkan, karena berakhlak baik dengan membuat-buat membutuhkan
latihan, menahan dan mengingat ketika mendapatkan hal yang membikin marah
dari manusia. Oleh karena datang seorang lelaki kepada Rasulullah berkata :
íÇó ÑóÓõæúáó Çááåö ÃóæúÕöäöí ¡ ÞóÇáó : áÇó ÊóÛúÖóÈú
“Wahai Rasulullah, berikan aku wasiat, Rasulullah bersabda : janganlah kamu
marah”
Dan Nabi r bersabda :
áóíúÓó ÇáÔøóÏöíúÏõ ÈöÇáÕøóÑúÚóÉö æóÅöäøóãóÇ ÇáÔøóÏöíúÏõ ÇáøóÐöí íóãúáößõ
äóÝúÓóåõ ÚöäúÏó ÇáúúÛóÖúÈö
“Bukanlah orang yang kuat itu pegulat, tetapi yang dinamakan orang kuat itu
adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah” (Hadits riwayat
Bukhari dan Muslim)
Apakah makna “Sor’ah”? “Sor’ah” adalah seorang lelaki pegulat yang
mengalahkan lawannya.
áóíúÓó ÇáÔøóÏöíúÏõ ÈöÇáÕøóÑúÚóÉö
Bukanlah orang yang kuat itu pegulat, tetapi yang dinamakan orang kuat itu
adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah, yaitu orang yang
bergulat dengan jiwanya dan menguasainya ketika marah itulah orang yang
kuat.
Dan penguasaan manusia terhadap jiwanya dianggap termasuk dari akhlak-akhlak
yang baik. Jika kamu marah maka janganlah meneruskan kemarahanmu, (tetapi)
berlindunglah kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Jika kamu marah
(dalam keadaan berdiri) maka duduklah, dan ketika kamu marah dalam posisi
duduk maka berbaringlah, dan jika rasa marah bertambah maka berwudhulah
hingga hilang darimu rasa marah.
Dan maksudnya bahwa kami berkata : bahwa berakhlak baik itu terjadi secara
tabiat dan upaya untuk berakhlak baik. Dan berakhlak baik yang dihasilkan
dari tabiat adalah lebih utama ; karena sudah menjadi suatu perangai pada
manusia dan ia akan mudah dalam segala keadaan (untuk berakhlak baik). Akan
tetapi berakhlak baik yang dihasilkan dari upaya terkadang terlewatkan dalam
beberapa kondisi.
Demikianlah kami katakan bahwa berakhlak baik dapat diperoleh dengan
berusaha, artinya seseorang membiasakan dirinya.
Lalu bagaimanakah manusia dapat berakhlak baik ? manusia dapat berakhlak
baik dengan hal-hal berikutnya :
Pertama :
Dengan melihat dalam Al Qur’an dan hadits Rasulullah, melihat dalil-dalil
yang menunjukkan terpujinya akhlak yang agung ini. Dan seorang yang beriman
jika melihat nash-nash yang memuji tentang akhlak atau amal perbuatan maka
ia akan berusaha mengamalkannya.
Kedua :
Duduk dengan orang-orang yang baik dan shalih yang dipercaya dalam keilmuan
mereka atau amanat mereka, Nabi bersabda :
ãóËóáõ ÇáúÌóáöíúÓö ÇáÕóÇáöÍö æóÇáúÌóáöíúÓö ÇáÓøõæúÁö ßóãóËóáö ÕóÇÍöÈö
ÇáúãöÓúßö æóßöíúÑö ÇáúÍóÏøóÏö áÇó íóÚúÏóãõßó ãöäú ÕóÇÍöÈö ÇáãúöÓúßö ÅöãøóÇ
ÊóÔúÊóÑóíúåö Ãóæú ÊóÌöÏõ ÑóíúÍóåõ æóßöíúÑõ ÇáúÍóÏøóÇÏö íõÍúÑößõ ÈóÏóäóßó
ÃóæúËóæúÈóßó ÃóæúÊóÌúÏõ ãöäúåõ ÑóíúÍðÇ ÎóÈöíúËóÉð
“Permisalan teman duduk yang baik dan buruk adalah seperti penjual minyak
wangi dan pandai besi, penjual minyak wangi tidak akan melukaimu, mungkin
engkau membelinya atau engkau mendapatkan baunya. Sedangkan pandai besi akan
membakar badanmu atau pakaianmu, atau engkau akan mendapatkan bau yang tidak
sedap”. (Hadits riwayat Bukhari)

Maka wajib bagimu wahai pemuda, untuk berteman dengan orang-orang yang sudah
dikenal berakhlak baik dan menjauh dari akhlak yang jelek dan ……………….hingga
engkau mengambil dari teman itu suatu tempat belajar yang darinya engkau
mendapatkan pertolongan untuk berakhlak baik.

Ketiga :
Hendaknya seseorang memperhatikan apa yang diakibatkan oleh akhlak yang
buruk, karena akhlak yang buruk dibenci, dan buruk akhlak itu dijauhi, dan
buruk akhlak itu disifati dengan sifat yang jelek.
Maka jika seseorang mengetahui bahwa berakhlak buruk itu mengantarkan kepada
hal ini, maka hendaknya ia menjauhinya.

Kita memohon kepada Allah agar Dia menjadikan kita termasuk orang-orang
yang berpegang kepada kitab Allah dan Sunnah Rasuk-Nya baik secara dhahir
maupun batin dan mewafatkan kita dalam keadaan yang demikian ini dan
melindungi kita didunia akhirat. Dan (melindungi) hati kita dari
ketergelinciran sesudah Dia memberi petunjuk kepada kita dan memberikan
kepada kita rahmat-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pemberi.

_________________________________________________________________
Windows Live Spaces is here! http://get.live.com/spaces/overview It’s easy 
to create your own personal Web site.



Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Syiar Islam.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke