Manhaj Ahlus Sunnah di dalam Berakhlak dan Berperilaku·

diterjemahkan  bebas oleh; Ahmad Wahyudi

Di antara pokok-pokok aqidah Ahlus Sunnah : memerintahkan yang ma’ruf, 
mencegah kemungkaran dan beriman bahwa kebaikan umat  akan terealisasi 
ketika mereka berada padanya. Amar ma’ruf nahi munkar termasuk diantara 
syiar-syiar islam yang paling agung dan penyebab terpeliharanya jama’ah kaum 
muslimin. Amar ma’ruf nahi munkar hukumnya wajib sesuai dengan kemampuan dan 
dijalankan dengan  memperhatikan  maslahah  nyata yang dihasilkannya.

Firman Alloh:

ßõäúÊõãú ÎóíúÑó ÃõãøóÉò ÃõÎúÑöÌóÊú áöáäøóÇÓö ÊóÃúãõÑõæäó ÈöÇáúãóÚúÑõæÝö 
æóÊóäúåóæúäó Úóäú ÇáúãõäßóÑö æóÊõÄúãöäõæäó ÈöÇááøóåö æóáóæú Âãóäó Ãóåúáõ 
ÇáúßöÊóÇÈö áóßóÇäó ÎóíúÑðÇ áóåõãú ãöäúåõãú ÇáúãõÄúãöäõæäó æóÃóßúËóÑõåõãú 
ÇáúÝóÇÓöÞõæäó(110)

Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia memerintahkan 
yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dan beriman kepada Alloh

(S. Ali Imron 110).

Dan sabda nabi sholallohu alaihi wasalam :

Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran hendaknya mengubah 
dengan tangannya, maka apabila tidak mampu maka dengan lidahnya, apabila 
tidak mampu maka dengan hatinya. Dan yang demikian itu adalah 
selemah-lemahnya iman (HR. Muslim)

Ahlus Sunnah mendahulukan kelembutan di dalam memerintah dan melarang. 
Berdakwah dengan hikmah serta nasehat yang baik. Firman Alloh :

ÇÏúÚõ Åöáóì ÓóÈöíáö ÑóÈøößó ÈöÇáúÍößúãóÉö æóÇáúãóæúÚöÙóÉö ÇáúÍóÓóäóÉö 
æóÌóÇÏöáúåõãú ÈöÇáøóÊöí åöíó ÃóÍúÓóäõ Åöäøó ÑóÈøóßó åõæó ÃóÚúáóãõ Èöãóäú 
Öóáøó Úóäú ÓóÈöíáöåö æóåõæó ÃóÚúáóãõ ÈöÇáúãõåúÊóÏöíäó(125)

Serulah kepada jalan Rabb kalian dengan hikmah dan mauidhoh hasanah dan 
debatilah mereka dengan yang lebih baik. (S. An-Nahl 125).

Dan mereka memandang wajibnya bersabar terhadap gangguan makhluk di dalam 
menegakkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar. Mengamalkan firman Alloh :

íóÇÈõäóíøó ÃóÞöãú ÇáÕøóáóÇÉó æóÃúãõÑú ÈöÇáúãóÚúÑõæÝö æóÇäúåó Úóäú ÇáúãõäßóÑö 
æóÇÕúÈöÑú Úóáóì ãóÇ ÃóÕóÇÈóßó Åöäøó Ðóáößó ãöäú ÚóÒúãö ÇáúÃõãõæÑö(17)

perintahkanlah yang ma’ruf dan cegahlah yang mungkar dan bersabarlah atas 
musibah yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu merupakan perkara 
yang diwajibkan (QS. Lukman 17).

Ahlus Sunnah wal Jamaah ketika menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar 
memperhatikan waktu sebagai salah satu pokok menjaga keutuhan jama’ah, 
menyatukan hati-hati, mempersatukan kalimat, menghindarkan perpecahan dan 
perselisihan. Ahlus Sunnah wal Jama’ah menegakkan nasehat kepada setiap 
muslim dan saling tolong menolong di atas kebaikan dan takwa.

Sabda rasululloh sholallohu alaihi wasalam agama itu adalah nasehat. Kami 
berkata untuk siapa? Beliau berkata untuk Alloh, kitabNya, rasulNya, 
pemimpin kaum muslimin dan orang awamnya. (HR. Muslim).

Ahlus Sunnah menjaga tegaknya syiar-syiar islam seperti menunaikan sholat 
Jumat dan jamaah; haji, jihad, I’ed bersama para pemimpin yang baik atau 
yang jelek sebagai hal yang menyelisihi ahlul bid’ah. Bersegera menunaikan 
sholat yang wajib dan menunaikannya di awal waktu bersama jamaah. 
Mengerjakan sholat di awal waktu lebih utama daripada di akhirnya. Mereka 
menganjurkan untuk khusyu dan tuma’ninah di dalam sholat, dalam rangka 
mengamalkan firman Alloh :

ÞóÏú ÃóÝúáóÍó ÇáúãõÄúãöäõæäó(1)ÇáøóÐöíäó åõãú Ýöí ÕóáóÇÊöåöãú ÎóÇÔöÚõæäó(2)

Sungguh beruntung orang-orang yang beriman yaitu mereka yang khusyu di dalam 
sholat mereka. (S. Al-Mukminun 1-2).

Ahlul Sunnah wal Jamaah mewasiatkan untuk menegakkan sholat malam  sebagai 
petunjuk nabi sholallohu alaihi wasalam. Allah  pun memerintahkan nabinya 
untuk sholat malam dan bersungguh-sungguh di dalam ketaatan kepadaNya.Aisyah 
berkata bahwa nabi sholallohu alaihi wasalam melakukan sholat malam sampai 
kaki beliau bengkak,

maka berkata Aisyah mengapa engkau lakukan yang demikian ya Rasululloh? 
sungguh Alloh telah mengampunkan dosamu  yang terdahulu dan yang akan 
datang. Beliau bersabda apakah aku tidak suka menjadi seorang hamba yang 
bersyukur? (HR. Bukhori).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah  tegar di dalam menghadapi ujian, dengan cara 
bersabar di atas bencana, bersyukur pada kelapangan, dan  ridha dengan 
takdir. Firman Alloh Ta’ala :

Þõáú íóÇÚöÈóÇÏö ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ ÇÊøóÞõæÇ ÑóÈøóßõãú áöáøóÐöíäó ÃóÍúÓóäõæÇ 
Ýöí åóÐöåö ÇáÏøõäúíóÇ ÍóÓóäóÉñ æóÃóÑúÖõ Çááøóåö æóÇÓöÚóÉñ ÅöäøóãóÇ íõæóÝøóì 
ÇáÕøóÇÈöÑõæäó ÃóÌúÑóåõãú ÈöÛóíúÑö ÍöÓóÇÈò(10)

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala 
mereka tanpa batas. (QS. Az-Zumar 10)

Sabda rasululloh sesungguhnya besarnya ganjaran bersama besarnya cobaan, dan 
sesungguhnya Alloh apabila mencintai suatu kaum maka Alloh akan memberikan 
cobaan kepada mereka. Maka barangsiapa yang ridho maka baginya keridhoan dan 
barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan.

(HR. Tirmidzi dishohehkan oleh Albani).

Ahlus Sunnah tidaklah mengharap dan meminta kepada Alloh ditimpakan cobaan, 
karena  tidak mengetahui apakah mereka ditetapkan padanya atau tidak. Akan 
tetapi, apabila mereka mendapatkan cobaan maka bersabar. Sabda nabi 
sholallohu alaihi wasalam

janganlah kalian berangan-angan untuk bertemu musuh dan mintalah kepada 
Allah keselamatan maka apabila kalian bertemu musuh maka bersabarlah.

(HR. Bukhori Muslim).

Ahlus Sunnah tidak berputus asa terhadap rahmat Alloh di dalam ujian, karena 
sesungguhnya Allah mengharamkan hal tersebut. Mereka menghadapi hari-hari 
cobaan dengan memandang akan datangnya kelapangan dan pertolongan yang 
dekat. Hal ini  disebabkan mereka percaya dengan janji Alloh dan mengetahui 
bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Mereka pun mencari penyebab 
terjadinya ujian itu pada diri mereka sendiri dan mereka memandang bahwa 
ujian dan musibah tidaklah menimpa kecuali karena perbuatan mereka sendiri. 
Pertolongan terkadang diakhirkan dengan sebab  seseorang terjerumus di dalam 
dosa atau lemah di dalam berittiba’ sebagaimana firman Alloh :

æóãóÇ ÃóÕóÇÈóßõãú ãöäú ãõÕöíÈóÉò ÝóÈöãóÇ ßóÓóÈóÊú ÃóíúÏöíßõãú æóíóÚúÝõæ Úóäú 
ßóËöíÑò(30)

Dan apa-apa musibah yang menimpa kalian maka disebabkan oleh tangan kalian 
sendiri. (Asy-Syura 30).

Ahlus sunnah tidak menyandarkan diri dalam menghadapi ujian dan menolong 
agama dengan sebab-sebab duniawiyah, walaupun tidak lalai terhadap sunnah 
kauniyah. Dan mereka memandang bahwa taqwa kepada Alloh, istighfar dari 
dosa-dosa, bersandar kepada Alloh dan bersyukur di dalam kebahagian 
merupakan sebab yang terpenting di dalam menyegerakan kelapangan setelah 
kesempitan.

Ahlus Sunnah takut terhadap balasan kufur nikmat, sehingga terlihatlah 
mereka sebagai orang yang paling bersemangat untuk bersyukur,memuji Alloh 
dan kontinu di atas hal yang demikian  pada setiap kenikmatan, yang kecil 
maupun yang besar. Sabda rasululloh sholallohu alaihi wasalam

lihatlah kepada orang yang di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang 
yang di atas kalian. (HR. Tirmidzi dishohihkan oleh Albani).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menghiasi diri mereka dengan akhlak yang mulia dan 
kebaikan amalan. Sabda nabi sholallohu alaihi wasalam

orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling beriman dan yang 
terbaik diantara mereka adalah yang terbaik akhlaknya.

(HR. Tirmidzi dishohihkan oleh Albani).

Dan sabda beliau

tidak ada sesuatu yang diletakkan di dalam mizan lebih berat daripada 
kebaikan akhlak dan sesungguhnya pemilik akhlak yang baik akan meraih 
dengannya derajat orang-orang yang berpuasa dan sholat. (HR. Tirmidzi 
dishohihkan oleh Albani).

Di antara akhlak salafus sholeh Ahlul Sunnah wal Jama’ah

·        Ikhlas di dalam berilmu dan beramal. takut terhadap masuknya riya’ 
pada keduanya. Firman Alloh :

ÃóáóÇ áöáøóåö ÇáÏøöíäõ ÇáúÎóÇáöÕõ

ketahuilah hanya untuk Alloh agama yang murni. (QS. Az-Zumar 3).

·        Mengagungkan batasan-batasan Allah dan merasa cemburu apabila 
batasan-batasan Allah dilanggar. Menolong agama Allah dan syariatNya, banyak 
mengagungkan kehormatan kaum muslimin serta cinta apabila kaum muslimin 
memperoleh kebaikan . Firman Alloh :

Ðóáößó æóãóäú íõÚóÙøöãú ÔóÚóÇÆöÑó Çááøóåö ÝóÅöäøóåóÇ ãöäú ÊóÞúæóì 
ÇáúÞõáõæÈö(32)

barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah sesungguhnya  itu timbul dari 
ketakwaan hati (QS. Al-Hajj 32).

·        Berusaha meninggalkan sifat nifak,  dengan menyamakan antara lahir 
dan batin di dalam kebaikan,  memandang bahwa amalan mereka masih sangat 
sedikit, dan selalu mendahulukan amalan akhirat   di atas amalan dunia.

·         Kelembutan hati, banyak menangis  atas kekurangan  dalam 
menunaikan hak-hak Allah ,mereka lakukan hal ini dengan harapan agar Allah 
menyayangi  mereka. Banyak mengambil pelajaran dan menangis.  Perhatian 
dengan  perkara kematian apabila menyaksikan  jenazah, atau mengingat  
kematian,  sekaratnya dan  su’ul khatimah sehingga bergoncang dada mereka.

·        Bertambah tawadhu’ ketika   bertambah dekat kepada Allah ta’ala

·         Banyak bertaubat, memohon ampun siang dan malam   karena 
mengetahui  bahwa mereka tak  selamat dari dosa sampai di dalam amalan 
ketaatan mereka.  mereka memohon ampun  atas kekurangan  di dalam 
ketaatan,kekhusukan  dan kedekatan kepada Allah. Tiadanya rasa ujub /bangga  
dengan sesuatu  dari amal-amal mereka , benci dengan ketenaran, bahkan 
selalu melihat kekurangan dan kelemahan  di dalam ketaatan terlebih di dalam 
kejelekan mereka

·        sangat menekankan terhadap permasalahan taqwa dan tiada  
mendakwakan diri sebagai orang yang bertaqwa, dan banyaknya  ketakukan 
mereka terhadap Allah azza wa jalla

·        ketakutan  yang sangat terhadap Allah, kalau akhir kehidupan mereka 
ditutup dengan su’ul khatimah. mereka tidak lalai dari dzikrullah.  
Merasakan kehinaan dunia  di sisi mereka, kuatnya penolakan mereka terhadap 
dunia  dan tidak   membangun (kediaman)dunia kecuali  sesuai kebutuhan  
tanpa menghias-hiasinya. Sabda Rasulullah sholallohu alaihi wasalam  “ demi 
Allah tidaklah  dunia ini dibandingkan akhirat  kecuali seperti seseorang 
diantara kalian mencelupkan  jarinya ke laut maka lihatlah apa yang  menetes 
(Hr Muslim)

·         Tidak ridha dengan  kesalahan yang ditujukan kepada agama atau 
kepada  orang yang mengamalkannya,  bahkan   membantahnya  dan memberi udzur 
kepada orang yang berkata tentangnya.  Banyak menutupi   kekurangan kaum 
muslimin, kuatnya munaqosah(berdialog) terhadap pribadi mereka sebagai bukti 
  wara’, tidak suka  membuka aib seseorang, sibuk dengan kekurangan diri 
daripada aib orang lain,  bersungguh-sungguh   menutupi kekurangan orang 
lain, menutupi yang tersembunyi tidak melebihkan seseorang dari yang ia 
dengar pada haknya, meninggalkan  permusuhan terhadap manusia  dan banyak  
bersahabat dengan mereka.  Tidak  menanggapi seseorang dengan kejelekan  dan 
tidak memusuhi seorang pun.   Sabda nabi sholallohu alaihi wasalam  “ tidak 
akan masuk surga   tukang fitnah/adu doma pada riwayat muslim  nammam/ 
tukang adu domba

·        menutup pintu ghibah pada majelis mereka , menjaga lidah  dari 
ghibah  agar  tidak menjadi majelis  dosa.  Firman Allah

æóáóÇ ÊóÌóÓøóÓõæÇ æóáóÇ íóÛúÊóÈú ÈóÚúÖõßõãú ÈóÚúÖðÇ ÃóíõÍöÈøõ ÃóÍóÏõßõãú 
Ãóäú íóÃúßõáó áóÍúãó ÃóÎöíåö ãóíúÊðÇ ÝóßóÑöåúÊõãõæåõ (12)

“  Janganlah seorang menghibahi  yang lain, sukakah  seorang diantara kalian 
  memakan  bangkai saudaranyan tentu dia akan   benci  (QS Al Hujurat 12)

·          Penuh dengan rasa malu,  adab, kecintaan,  ketenangan,  sedikit 
bicara, sedikit tertawa, banyak diam,  berbicara dengan hikmah  tidak merasa 
gembira dengan dunia. Yang demikian ini dikarenakan  sempurnanya akal 
mereka. Sabda rasulullah sholallohu alaihi wasalam “ Barang siapa yang  
beriman  kepada Allah dan hari akhir  maka hendaknya berkata yang baik atau 
diam.  dan bersabda   barangsiapa  diam maka  beruntung/ menang (HR Tirmizi)

·        Banyak memaafkan terhadap setiap orang yang  mengganggu, mengambil 
harta,    kehormatan mereka atau yang semisalnya  firman Allah

ÇáøóÐöíäó íõäúÝöÞõæäó Ýöí ÇáÓøóÑøóÇÁö æóÇáÖøóÑøóÇÁö æóÇáúßóÇÙöãöíäó 
ÇáúÛóíúÙó æóÇáúÚóÇÝöíäó Úóäú ÇáäøóÇÓö æóÇááøóåõ íõÍöÈøõ ÇáúãõÍúÓöäöíäó(134)

“ Dan orang-orang yang menahan  kemarahan, dan memaafkan manusia dan Allah  
mencintai  orang-orang yang berbuat kebaikan (QS Ali Imran 134)

·         Tidak lalai dengan   serangan iblis, bersungguh-sunguh  mengetahui 
   tipu daya dan jebakan-jebakannya,  tidak merasa was-was  di dalam wudlu, 
sholat dan ibadah yang lain karena yang demikian adalah tipu daya syaithan

·        Banyak bersedekah  dengan apa-apa yang lebih dari kebutuhan mereka  
siang dan malam, sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Banyak bertanya   
tentang keadaan sahabatnya ,  yang demikian karena  sederhananya mereka 
dalam kebutuhan  makan, pakaian dan  mereka tidak berlebihan dalam  hal-hal 
yang halal

·          Mencela kekikiran;   Bersikap dermawan, memberikan  harta , 
berkasihsayang dengan  saudara mereka dalam safar dan  mukim sebagai  
pengokoh dalam  menolong  dien  dan inilah maksud utama mereka. Kuatnya   
kecintaan untuk berbuat makruf  kepada saudaranya dan memberikan kebahagiaan 
  satu dengan yang lain,  mendahulukan   saudaranya  daripada dirinya 
sendiri

·         Memuliakan   tamu   dan melayaninya  kecuali dengan uzur syar’I. 
kemudian   mereka tidak memandang bahwa mereka telah mencukupi dan  melayani 
tamu tersebut di saat tinggal bersama mereka,  dan  mereka berhusnudhon  
dengan tamu. Menerima   undangan saudaranya   kecuali  bila makanannya haram 
atau bila  dikhususkan pada  orang kaya   atau pada  tempat walimah ada hal 
yang diharamkan

·        Beradab  dengan kebaikan terhadap   yang lebih muda  terlebih 
kepada yang lebih tua, terhadap orang yang jauh terlebih kepada yang dekat, 
kepada yang  bodoh terlebih kepada yang alim

·         Mendamaikan sesama  sebagai sebuah pintu kebaikan yang nyata, 
menegakkan yang ma’ruf, karena perdamaian merupakan   pembatal langkah 
syaitan  yang menghendaki timbulnya permusuhan, kebencian di kalangan 
muslimin, dan kerusakan diantara mereka

·         Melarang dari dengki, karena kedengkian mewariskan permusuhan dan 
kebencian, kelemahan iman dan kecintaan terhadap dunia tanpa  tujuan syar’I

·         Memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua dan berbuat 
kebaikan kepada keduanya firman Allah

æóæóÕøóíúäóÇ ÇáúÅöäúÓóÇäó ÈöæóÇáöÏóíúåö ÍõÓúäðÇ (8)

” Dan kami wasiatkan  manusia untuk berbuat kebaikan kepada kedua orang tua 
(QS Al Ankabut 8)

·        memerintahkan berbuat baik kepada tetangga, lembut kepada  para 
hamba, menyambung silatur rahim, menebarkan salam, menyayangi fakir miskin, 
yatim dan ibnu sabil

·         melarang berbangga diri, sombong, ujub,  melampaui batas dan   
memerintahkan berbuat adil pada setiap sesuatu

·        Tidak meremehkan  sesuatu pun dari keutamaan yang dianjurkan syara’ 
. sabda rasulullah sholallohu alaihi wasalam  “Janganlah kalian meremehkan 
suatu kebaikan pun   walaupun hanya bertemu dengan saudara kalian dengan 
wajah yang ceria ( HR Muslim)

·         Melarang dari buruk sangka,  memata-matai, mencari kekurangan 
muslimin karena yang demikian  merusak hubungan persatuan, memisahkan 
persaudaraan dan menumbuhkan kerusakan. Mereka  tidak marah pada muslimin 
karena mereka mengilmui fiqih kemarahan firman Allah “ dan orang yang 
menahan marahnya, memaafkan manusia dan Allah mencintai orang yang berbuat 
ihsan. dan yang selainnya dari akhlaq-akhlaq nubuwah  ·

--------------------------------------------------------------------------------

· diterjemahkan dari kitab al wajiz  fi aqidatis salafis shalih ahlis 
sunnati wal jama’ah karya  syaikh Abdullah  bin abdul hamid al atsary. 
Disampaikan dalam daurah islamiyah dasar “membentuk jati diri muslim”  
selasa  10 juli 2001 di masjid pogung raya yogyakarta.

Catatan :    dakwah  kepada manhaj salafus shalih  bertujuan  membangun 
generasi  yang sesuai dengan  generasi  pertama yang berguru kepada 
rasulullah sholallohu alaihi wasalam . Allah telah memuji  rasulNya dengan 
firmanNya “ sesungguhnya engkau diatas akhlaq yang agung) dan bukanlah 
maksud dari dakwah salaf   sekadar sesuai dalam hal aqidah saja meskipun  
aqidah adalah  pokok  yang awal dan terpenting-  namun tujuannya adalah  
mencocoki salaf dalam  segala sesuatu  dalam urusan agama yang agung. Karena 
manhaj salaf  yang kita menyeru manusia kepadanya bukanlah sekedar ilmu di 
pikiran  saja  namun meliputi  manhaj dalam aqidah, pemikiran(pandangan), 
perilaku dan akhlaq . sangat disayangkang  kita dapatkan- di waktu kini-  
perkara yang penting dari manhaj salaf ini  tidak  mendapatkan haknya dalam 
hal prioritas, perhatian dan tarbiyah. Tentang urgensinya  rasulullah 
bersabda “ sesunguhnya tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan 
akhlaq yang baik. Dan para salaf mengikuti  rasulullah, berakhlaq dengan 
akhlaq beliau dan mengikuti perintahnya. Mereka sebagaimana  firman Allah 
“Kalian adalah sebaik-baik umat  yang dikeluarkan untuk manusia”  Apabila 
kita menginginkan  keselamatan maka  kita wajib berada diatas hal yang salaf 
berada diatasnya. ·

_________________________________________________________________
Windows Live Spaces is here! http://get.live.com/spaces/overview It’s easy 
to create your own personal Web site.



Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Syiar Islam.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke