Assalamu'alaikum wr.wb.
berikut ada kutipan dari sebuah buku berjudul " keikhlasan dalam paparan Al
Qur'an " oleh Harun Yahya.
Kita ambil contoh dua orang manusia. Asumsikanlah bahwa mereka berdua diberikan
kesempatan yang cukup di dunia ini untuk merasakan kesenangan dari Allah dan
bahwa mereka telah diberitahu mana yang baik dan mana yang buruk. Mereka
memenuhi tugas-tugas dan kewajiban agama hingga hari kematian mereka dan
menghabiskan hidup mereka sebagai muslim yang taat. Mereka sukses dalam
berbagai bidang. Memiliki pekerjaan yang bagus, keluarga yang harmonis, dan
menjadi anggota masyarakat yang terhormat. Jika orang ditanya, siapakah yang
paling sukses di antara kedua orang tersebut, mereka mungkin menjawab, "Orang
yang bekerja lebih keras." Akan tetapi, jika jawaban ini diperhatikan dengan
saksama lagi, kita akan menyadari bahwa definisi-definisi sukses tersebut tidak
berdasarkan Al-Qur`an, tetapi atas dasar kriteria duniawi.
Menurut Al-Qur`an, bukanlah kerja keras, bukan kelelahan, bukan pula mencapai
penghormatan atau cinta dari orang lain yang disebut sebagai kriteria
keunggulan, melainkan keyakinan mereka akan Islam, amal baik yang mereka
kerjakan untuk mendapatkan keridhaan Allah, dan niat baik mereka yang
terpelihara dalam hati. Itulah yang disebut kriteria yang unggul di hadapan
Allah. Allah menyatakan hal ini di dalam Al-Qur`an,
"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai
(keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.
Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan
Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada
orang-orang yang berbuat baik." (al-Hajj [22]: 37)
Sebagaimana disebutkan di atas, amalan yang dilakukan seseorang dengan
menyembelih seekor binatang karena Allah, akan dinilai-Nya bergantung pada
ketaatan atau rasa takutnya kepada Allah. Daging atau darah bintang apa pun
yang disembelih dengan menyebut nama Allah itu tidak ada nilainya di hadapan
Allah jika amalan tersebut tidak dilakukan karena Allah. Di sinilah,
faktor-faktor pentingnya adalah niat baik dan keikhlasan kepada Allah saat
menjalankan suatu perbuatan atau peribadatan kepada Allah. Karena itu, seorang
manusia tidak akan meningkat kemuliaannya di mata Allah hanya karena amal,
ibadah, sikap, dan kata-kata baiknya. Tentu saja semua itu adalah perbuatan
yang harus dilakukan seorang muslim sepanjang hidup mereka untuk mendapatkan
balasan yang besar di hari pembalasan. Akan tetapi, faktor terpenting yang
harus diperhatikan saat memenuhi semua perbuatan itu adalah tingkat kedekatan
yang dirasakan seseorang dengan Allah. Yang penting bukanlah banyaknya
perbuatan yang
kita lakukan, melainkan bagaimana seseorang berpaling kepada Allah dengan
kebersihan dan keikhlasan hati.
Keikhlasan berarti memenuhi perintah Allah tanpa mempertimbangkan keuntungan
pribadi atau balasan apa pun. Seseorang yang ikhlas akan berpaling kepada Allah
dengan hatinya dan hanya ingin mendapatkan ridha-Nya atas setiap perbuatan,
langkah, kata-kata, dan doanya. Jadi, ia benar-benar yakin kepada Allah dan
mencari kebajikan semata. Menurut Al-Qur`an,
"... Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah
orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui
lagi Maha Mengenal." (al-Hujurat [49]: 13)
Dalam banyak ayat Al-Qur`an, ditekankan agar perbuatan baik itu dilakukan hanya
untuk mendapatkan keridhaan Allah. Akan tetapi, beberapa orang berusaha untuk
mengabaikan kenyataan ini. Mereka tidak pernah berkaca pada kebersihan niat di
dalam hati mereka saat melakukan suatu pekerjaan, memberi nasihat, menolong
orang, atau berkorban. Mereka percaya bahwa perbuatan mereka sudah cukup,
dengan menganggap bahwa mereka telah menunaikan tugas agama. Di dalam
Al-Qur`an, Allah mengatakan kepada kita tentang mereka yang berusaha sepanjang
hidupnya, namun sia-sia. Jika demikian halnya, mereka akan dihadapkan pada
situasi berikut ini di hari pembalasan.
"Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan."
(al-Ghaasyiyah [88]: 2-3)
Karena itulah, manusia akan menghadapi satu dari dua situasi tersebut di hari
akhir. Dua orang yang telah mengejar pekerjaan yang sama, mencurahkan usaha
yang sama, dan bekerja dengan kebulatan hati yang sama sepanjang hidup mereka,
bisa mendapatkan perlakuan yang berbeda di hari akhir. Mereka yang membersihkan
dirinya akan dibalas dengan kebahagiaan surga yang memikat, sedangkan mereka
yang meremehkan nilai keikhlasan saat berada di dunia ini akan mengalami
penderitaan neraka yang tiada akhir.
Di dalam buku ini, kita akan mengacu pada dua aspek keyakinan yang mengubah
perbuatan yang dilakukan seseorang menjadi berarti dan bernilai dalam pandangan
Allah, yakni dengan pembersihan diri dan keikhlasan. Buku ini bertujuan untuk
mengingatkan mereka yang gagal menjalani hidup mereka hanya untuk keridhaan
Allah, mengingatkan bahwa semua usaha mereka sia-sia. Karena itu, buku ini
mengajak mereka untuk membersihkan diri mereka sebelum datangnya hari
pembalasan. Sebagai tambahan, kami juga inginsekali lagimengingatkan semua
orang beriman bahwa pikiran, perkataan, atau perbuatan apa pun yang dapat
mengurangi keikhlasan seseorang, memiliki konsekuensi yang besar karena
konsekuensi-konsekuensi yang mungkin muncul di hari akhir. Karena itulah, kami
ingin menunjukkan semua jalan untuk menjaga keikhlasan mereka dengan cahaya
yang ditebarkan oleh ayat-ayat Al-Qur`an.
dikutip dari buku :
Sincerity Described in The Qur`an
karya : harun yahya
---------------------------------
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.
[Non-text portions of this message have been removed]