Bacalah, saudaraku...

>                             PEMIKIRAN SALAFI
>
> Oleh : Syaikh DR.Yusuf Al Qardhawi
>
>
> Yang dimaksud dengan "Pemikiran Salafi" di sini ialah kerangka berpikir
(manhaj fikri) yang tercermin dalam pemahaman generasi terbaik dari
ummat ini. Yakni para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka
dengan setia, dengan mempedomani hidayah Al-Qur'an dan tuntunan Nabi
SAW.
>
> Kriteria Manhaj Salafi yang Benar
> Yaitu suatu manhaj yang secara global berpijak pada prinsip berikut :
>
> Berpegang pada nash-nash yang ma'shum (suci), bukan kepada pendapat para
ahli atau tokoh.
>
> Mengembalikan masalah-masalah "mutasyabihat" (yang kurang jelas) kepada
masalah "muhkamat" (yang pasti dan tegas). Dan mengembalikan masalah
yang zhanni kepada yang qath'i.
>
> Memahami kasus-kasus furu' (kecil) dan juz'i (tidak prinsipil), dalam
kerangka prinsip dan masalah fundamental.
>
> Menyerukan "Ijtihad" dan pembaruan. Memerangi "Taqlid" dan kebekuan.
>
> Mengajak untuk ber-iltizam (memegang teguh) akhlak Islamiah, bukan
meniru trend.
>
> Dalam masalah fiqh, berorientasi pada "kemudahan" bukan "mempersulit".
>
> Dalam hal bimbingan dan penyuluhan, lebih memberikan motivasi, bukan
menakut-nakuti.
>
> Dalam bidang aqidah, lebih menekankan penanaman keyakinan, bukan dengan
perdebatan.
>
> Dalam masalah Ibadah, lebih mementingkan jiwa ibadah, bukan formalitasnya.
>
> Menekankan sikap "ittiba'" (mengikuti) dalam masalah agama. Dan
menanamkan semangat "ikhtira'" (kreasi dan daya cipta) dalam masalah
kehidupan duniawi.
>
> Inilah inti "manhaj salafi" yang merupakan khas mereka.
>
> Dengan manhaj inilah dibinanya generasi Islam terbaik, dari segi teori
dan praktek. Sehingga mereka mendapat pujian langsung dari Allah di
dalam Al-Qur'an dan Hadits-Hadits Nabi serta dibuktikan kebenarannya
oleh sejarah. Merekalah yang telah berhasil mentransfer Al-Qur'an kepada
generasi sesudah mereka. Menghafal Sunnah. Mempelopori berbagai
kemenangan (futuh). Menyebarluaskan keadilan dan keluhuran (ihsan).
Mendirikan "negara ilmu dan Iman". Membangun peradaban robbani yang
manusiawi, bermoral dan mendunia. Sampai sekarang masih tercatat dalam
sejarah.
>
> Citra "Salafiah" Dirusak oleh Pihak yang Pro dan Kontra
> Istilah "Salafiah" telah dirusak citranya oleh kalangan yang pro dan
kontra terhadap "salafiah". Orang-orang yang pro-salafiah - baik yang
sementara ini dianggap orang dan menamakan dirinya demikian, atau yang
sebagian besar mereka benar-benar salafiyah - telah membatasinya dalam
skop formalitas dan kontroversial saja, seperti masalah-masalah tertentu
dalam Ilmu Kalam, Ilmu Fiqh atau Ilmu Tasawuf. Mereka sangat keras dan
garang terhadap orang lain yang berbeda pendapat dengan mereka dalam
masalah-masalah kecil dan tidak prinsipil ini. Sehingga memberi kesan
bagi sementara orang bahwa manhaj Salaf adalah metoda "debat" dan
"polemik", bukan manhaj konstruktif dan praktis. Dan juga mengesankan
bahwa yang dimaksud dengan "Salafiah" ialah mempersoalkan yang
kecil-kecil dengan mengorbankan hal-hal yang prinsipil. Mempermasalahkan
khilafiah dengan mengabaikan masalah-masalah yang disepakati.
Mementingkan formalitas dan kulit dengan melupakan inti dan jiwa.
>
> Sedangkan pihak yang kontra-salafiah menuduh faham ini "terbelakang",
senantiasa menoleh ke belakang, tidak pernah menatap ke depan. Faham
Salafiah, menurut mereka, tidak menaruh perhatian terhadap masa kini dan
masa depan. Sangat fanatis terhadap pendapat sendiri, tidak mau
mendengar suara orang lain. Salafiah identik dengan anti pembaruan,
mematikan kreatifitas dan daya cipta. Serta tidak mengenal moderat dan
pertengahan.
>
> Sebenarnya tuduhan-tuduhan ini merusak citra salafiah yang hakiki dan
penyeru-penyerunya yang asli. Barangkali tokoh yang paling menonjol
dalam mendakwahkan "salafiah" dan membelanya mati-matian pda masa lampau
ialah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta muridnya Imam Ibnul-Qoyyim.
Mereka inilah orang yang paling pantas mewakili gerakan"pembaruan Islam"
pada masa mereka. Karena pembaruan yang mereka lakukan benar-benar
mencakup seluruh disiplin ilmu Islam.
>
> Mereka telah menumpas faham "taqlid", "fanatisme madzhab" fiqh dan ilmu
kalam yang sempat mendominasi dan mengekang pemikiran Islam selama
beberapa abad. Namun, di samping kegarangan mereka dalam membasmi
"ashobiyah madzhabiyah" ini, mereka tetap menghargai para Imam Madzhab
dan memberikan hak-hak mereka untuk dihormati. Hal itu jelas terlihat
dalam risalah "Raf'l - malaam 'anil - A'immatil A'lam" karya Ibnu
Taimiyah.
>
> Demikian gencar serangan mereka terhadap "tasawuf" karena
> penyimpangan-penyimpangan pemikiran dan aqidah yang menyebar di
dalamnya. Khususnya di tangan pendiri madzhab "Al-Hulul Wal-Ittihad"
(penyatuan). Dan penyelewengan perilaku yang dilakukan para orang jahil
dan yang menyalahgunakan "tasawuf" untuk kepentingan pribadinya. Namun,
mereka menyadari tasawuf yang benar (shahih). Mereka memuji para pemuka
tasawuf yang ikhlas dan robbani. Bahkan dalam bidang ini, mereka
meninggalkan warisan yang sangat berharga, yang tertuang dalam dua jilid
dari "Majmu' Fatawa" karya besar Imam Ibnu Taimiyah. Demikian pula dalam
beberapa karangan Ibnu-Qoyyim. Yang termasyhur ialah "Madarijus Salikin
syarah Manazil As-Sairin ila Maqomaat Iyyaka Na'budu wa Iyyaka
Nasta'in", dalam tiga jilid.
>
> Mengikut Manhaj Salaf Bukan Sekedar Ucapan Mereka
>
> Yang pelu saya tekankan di sini, mengikut manhaj salaf, tidaklah berarti
sekedar ucapan-ucapan mereka dalam masalah-masalah kecil tertentu.
Adalah suatu hal y ang mungkin terjadi, anda mengambil pendapat-pendapat
salaf dalam masalah yang juz'i (kecil), namun pada hakikatnya anda
meninggalkan manhaj mereka yang universal, integral dan seimbang.
Sebagaimana juga mungkin, anda memegang teguh manhaj mereka yang kulli
(universal), jiwa dan tujuan-tujuannya, walaupun anda menyalahi sebagian
pendapat dan ijtihad mereka.
>
> Inilah sikap saya pribadi terhadap kedua Imam tersebut, yakni Imam Ibnu
Taimiyah dan Ibnul-Qoyyim. Saya sangat menghargai manhaj mereka secara
global dan memahaminya. Namun, ini tidak berarti bahwa saya harus
mengambil semua pendapat mereka. Jika saya melakukan hal itu berarti
saya telah terperangkap dalam "taqlid" yang baru. Dan berarti telah
melanggar manhaj yang mereka pegang dan perjuangkan sehingga mereka
disiksa karenanya. Yaitu manhaj "nalar" dan "mengikuti dalil". Melihat
setiap pendapat secara obyektif, bukan memandang orangnya. Apa artinya
anda protes orang lain mengikut (taqlid) Imam Abu Hanifah atau Imam
Malik, jika anda sendiri taqlid kepada Ibnu Taimiyah atau Ibnul-Qoyyim
>
> Juga termasuk menzalimi kedua Imam tersebut, hanya menyebutkan sisi
ilmiah dan pemikiran dari hidup mereka dan mengabaikan segi-segi lain
yang tidak kalah penting dengan sisi pertama. Sering terlupakan sisi
Robbani dari kehidupan Ibnu Taimiyah yang pernah menuturkan kata-kata:
"Aku melewati hari-hari dalam hidupku dimana suara hatiku berkata,
kalaulah yang dinikmati ahli syurga itu seperti apa yang kurasakan,
pastilah mereka dalam kehidupan yang bahagia".
>
> Di dalam sel penjara dan penyiksaannya, beliau pernah mengatakan: "Apa
yang hendak dilakukan musuh terhadapku? Kehidupan di dalam penjara
bagiku merupakan khalwat (mengasingkan diri dari kebisingan dunia),
pengasingan bagiku merupakan rekreasi, dan jika aku dibunuh adalah mati
syahid".
>
> Beliau adalah seorang laki-laki robbani yang amat berperasaan. Demikian
pula muridnya Ibnul-Qoyyim. Ini dapat dirasakan oleh semua orang yang
membaca kitab-kitabnya dengan hati yang terbuka.
>
> Namun, orang seringkali melupakan, sisi "dakwah" dan "jihad" dalam
kehidupan dua Imam tersebut. Imam Ibnu Taimiyah terlibat langsung dalam
beberapa medan pertempuran dan sebagai penggerak. Kehidupan dua tokoh
itu penuh diwarnai perjuangan dalam memperbarui Islam. Dijebloskan ke
dalam penjara beberapa kali. Akhirnya Syaikhul Islam mengakhiri hidupnya
di dalam penjara, pada tahun 728 H. Inilah makna "Salafiah" yang
> sesungguhnya.
>
> Bila kita alihkan pandangan ke zaman sekarang, kita temukan tokoh yang
paling menonjol mendakwahkan "salafiah", dan paling gigih
> mempertahankannya lewat artikel, kitab karangan dan majalah pembawa
missi "salafiah", ialah Imam Muhammad Rasyid Ridha. Pem-red majalah
"Al-Manar' yang selama kurun waktu tiga puluh tahun lebih membawa
"bendera" salafiah ini, menulis Tafsir "Al-Manar" dan dimuat dalam
majalah yang sama, yang telah menyebar ke seluruh pelosok dunia.
>
> Rasyid Ridha adalah seorang "pembaharu" (mujaddid) Islam pada masanya.
Barangsiapa membaca "tafsir"nya, sperti : "Al-Wahyu Al-Muhammadi",
"Yusrul-Islam", "Nida' Lil-Jins Al-Lathief", "Al-Khilafah", "Muhawarat
Al-Mushlih wal-Muqollid" dan sejumlah kitab dan makalah-makalahnya, akan
melihat bahwa pemikiran tokoh yang satu ini benar-benar merupakan
"Manar" (menara) yang memberi petunjuk dalam perjalanan Islam di masa
modern. Kehidupan amalinya merupakan bukti bagi pemikiran "salafiah"nya.
>
> Beliaulah yang merumuskan sebuah kaidah "emas" yang terkenal dan
belakangan dilanjutkan Imam Hasan Al-Banna. Yaitu kaidah :
>
> "Mari kita saling bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati. Dan
mari kita saling memaafkan dalam masalah-masalah yang kita berbeda
pendapat."
>
> Betapa indahnya kaidah ini jika dipahami dan diterapkan oleh mereka yang
meng-klaim dirinya sebagai "pengikut Salaf".



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke