Kapitalisme: Biang Krisis Berulang
  Ekonomi May 16th, 2007 
  BULETIN AL-ISLAM EDISI-355

  Halaman utama Republika (11/5/2007) memuat judul berita, “Situasi Saat Ini 
Mirip Krisis”. Judul berita tersebut merupakan kutipan langsung pernyataan 
Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam sebuah konferensi pers. Sebenarnya 
pernyataan yang disampaikan hanyalah oleh-oleh Ibu Menteri setelah mengikuti 
pertemuan internasional dengan para pejabat Bank Pembangunan Asia (ADB) dan 
konsultan asing di Kyoto-Jepang. Dalam pertemuan tersebut para pejabat ADB 
menjelaskan hasil analisisnya, bahwa kondisi negara-negara Asia saat ini sudah 
mirip kondisi tahun 1997. 

  Hari berikutnya, Menko Perekonomian dan Gubernur Bank Indonesia (BI) 
membantah pernyataan Menteri Keuangan. Konon bantahan tersebut disampaikan 
setelah Tim Ekonomi dipanggil Presiden SBY dan Wapres JK yang tidak sepakat 
dengan pernyataan Menteri Keuangan. 

  Banyak hal yang penting dicermati dari berita tersebut. Pertama: kabar bahwa 
kondisi ekonomi Indonesia saat ini cukup mengkhawatirkan karena situasinya 
sudah mendekati krisis jelas membuat rakyat resah. Tahun ini, sepuluh tahun 
setelah Indonesia dilanda krisis yang amat dalam tahun 1997/1998, masyarakat 
masih merasakan dampak buruk yang ditimbulkan oleh krisis moneter yang 
berkembang menjadi krisis ekonomi tersebut. Kesempatan untuk mencari pekerjaan 
jauh lebih sulit dibandingkan dengan sebelum krisis. Kesejahteraan masyarakat 
bawah juga lebih buruk daripada sebelum krisis akibat laju kenaikan harga-harga 
barang yang lebih cepat dibandingkan dengan laju pendapatan masyarakat. Rezim 
berubah, tetapi kondisi rakyat tidak beranjak.

  Kedua: sesungguhnya apa yang disampaikan Menteri Keuangan tentang kondisi 
ekonomi yang cukup mengkhawatirkan bukanlah isu baru. Para ekonom domestik yang 
tergabung dalam Tim Indonesia Bangkit telah menyampaikan kekhawatiran akan 
terjadinya kembali krisis ekonomi. Sejak Januari peringatan tersebut telah 
diberikan. Bahkan Tim Ekonomi sudah diminta untuk segera mengubah haluan 
kebijakan ekonominya untuk menghindarkan Indonesia dari krisis moneter dan 
krisis ekonomi. Sayang, peringatan para analis dalam negeri masih tetap 
dianggap angin lalu oleh Tim Ekonomi SBY-JK. Mereka bahkan dengan segera 
memberikan sanggahan-sanggahan. Baru setelah hasil analisis yang sama 
disampaikan oleh para pejabat ADB dan konsultan asing dalam forum yang dihadiri 
Menteri Keuangan se-Asia, para menteri ekonomi pun bisa menerima. Benar-benar 
mental inlander (terjajah) masih sangat kental. Sungguh, asing dianggap 
segala-galanya. Jika untuk menganalisis kondisi ekonomi negara sendiri pun 
harus menunggu pendapat apa kata pejabat asing, apalagi untuk merumuskan 
kebijakan-kebijakan ekonomi. 

  Ketiga: ketidakkonsistenan pernyataan para pejabat tinggi tentang kondisi 
ekonomi yang sesungguhnya telah menunjukkan kapasitas kepemimpinan yang lemah. 
Pernyataan pejabat negara, apalagi setingkat menteri, jelas bukan hal biasa 
karena akan berdampak besar di masyarakat. Jika menurut para menteri ekonomi 
kita tidak perlu mengkhawatirkan kondisi ekonomi, mengapa analis dan ekonom 
dalam dan luar negeri justru menyimpulkan yang sebaliknya? Bukankah ini tidak 
lebih dari sekadar menutupi kebobrokan yang makin hebat? Rakyat boleh jadi 
diam, tetapi di akhirat Allah Swt. pasti memintai pertanggungjawaban. Tidakkah 
para pejabat takut akan hisab Allah, Zat Yang tidak pernah tidur dan tidak 
pernah lupa? 


  Potensi Krisis

  Apa yang sebenarnya terjadi dengan ekonomi Indonesia? Benarkah krisis bisa 
kembali terjadi? Apa indikator-indikator yang menunjukkan hal bahwa koreksi 
ekonomi akan terjadi? 

  Pertama: hampir semua negara yang pernah terkena krisis berpotensi untuk 
kembali dilanda krisis. Apalagi jika sembuhnya ekonomi dari krisis bersifat 
semu karena hanya ditopang oleh utang luar negeri, bukan oleh kinerja ekspor 
atau investasi. Seperti diketahui, ”dokter” krisis moneter dunia adalah adalah 
Lembaga Moneter Internasional (IMF). Siapapun negara yang menjadi pasiennya, 
apapun karateristik sosial-ekonominya, resep yang diberikan sama: mengguyur 
dengan utang dan mendorong perombakan struktur ekonomi di berbagai sektor agar 
lebih terintegrasi dengan ekonomi global yang sarat dengan kepentingan negara 
besar.

  Fakta membuktikan, bahwa banyak pasien IMF yang hanya sembuh sementara, 
kemudian kambuh kembali sehingga akhirnya menjadi pasien kambuhan. Banyak 
contoh kasus di Amerika Latin dan Afrika. Sebagai contoh, Argentina yang telah 
menjadi pasien kambuhan IMF sejak 1970-an kembali menghadapi krisis yang 
dahsyat pada tahun 1999. Dampak dari krisis semakin dalam karena kondisi 
keuangan negara sudah semakin terperangkap utang dan aset-aset negara telah 
habis akibat diprivatisasi. Hal yang sama terjadi pada Brazil, Paraguay, Turki, 
Rusia, dan sebagainya. 

  Bagaimana dengan Indonesia? Sejak pemerintah Orde Baru mengundang IMF, resep 
beracun mereka kita telan. Berbagai konsep konservatif ala Washington Consensus 
telah diadopsi seperti: anggaran ketat dengan menambah utang dan memangkas 
berbagai subsidi; liberalisasi yang luar biasa di sektor keuangan, industri dan 
perdagangan; serta privatisasi brutal kepada asing yang mengakibatkan kerugian 
besar baik secara finansial maupun ekonomi.

  Sayang, meskipun kerjasama dengan IMF telah berakhir dan utang IMF telah 
terbayar, tim ekonomi andalan Presiden SBY-JK masih tetap melaksanakan tiga 
konsep utama IMF, yakni menambah utang luar negeri dari Bank Dunia dan ADB 
serta utang dalam negeri lewat penerbitan Surat Utang Negara (SUN) dan Surat 
Perbendaharaan Negara (SPN) untuk membiayai anggaran. Privatisasi pun masih 
terus dilakukan. Bahkan Sofyan Djalil, menteri BUMN yang baru, telah menegaskan 
untuk memprivatisasi seluruh BUMN dalam waktu cepat. Belum lagi liberalisasi 
yang semakin gencar dilakukan oleh Menteri Perdagangan baik dalam investasi 
seperti pengesahan UU Penanaman Modal maupun dengan membuka lebar impor 
barang-barang strategis seperti beras dan gula, dll. Padahal semua itu terbukti 
menimbulkan krisis selama ini.

  Kedua: krisis mungkin terjadi karena saat ini Indonesia mengalami stabilitas 
makroekonomi semu, yang bukan didukung oleh meningkatnya daya saing maupun 
produktifitas di sektor riil. Tingginya cadangan devisa, salah satu indikator 
makroekonomi yang melonjak tajam, bukanlah prestasi besar karena itu terjadi 
akibat masuknya hot money. Dana-dana jangka pendek dengan deras masuk ke 
Indonesia karena adanya kelebihan likuiditas di pasar global. Besarnya hot 
money yang masuk ke pasar uang Indonesia inilah yang membahayakan ekonomi. 
Sektor finansial telah mengalami pertumbuhan yang berlebihan. Kue ekonomi 
membesar tetapi hanya menghasilkan ekonomi gelembung (bubble economy), bukan 
ekonomi riil, sehingga dapat meledak sewaktu-waktu. Ternyata, kekhawatiran akan 
kembalinya krisis memang cukup beralasan.


  Mengapa Terjadi? 

  Secara faktual dan syar‘i, kondisi ini terjadi akibat kebijakan-kebijakan 
Pemerintah yang didasarkan pada ekonomi kapitalis. Dasarnya adalah: Pertama, 
menjadikan riba sebagai tulang punggung perekonomian. Tidak aneh jika 30% 
anggaran negara digunakan untuk membayar bunga utang. Jumlah ini jauh di atas 
anggaran pendidikan. Semakin banyak utang luar negeri, kehidupan kita makin 
terpuruk dan terjerat rentenir dunia. Ribalah di antara penyebab krisis dan 
ketidakstabilan. Allah Swt. berfirman:

  الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي 
يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا 
الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

  Orang-orang yang memakan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan 
seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. 
Keadaan mereka itu adalah karena mereka berpendapat, sesungguhnya jual-beli itu 
sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan 
riba (QS al-Baqarah [2]: 275).

  Kedua, bursa saham. Saat ini di Indonesia, sektor finansial/non-riil yang 
ribawi lebih dominan dibandingkan dengan sektor riil yang justru semestinya 
digarap. Di sektor finansial ini hanya ada sekitar 20.000 pemain yang sebagian 
besarnya adalah asing. Padahal yang dapat menjadikan rakyat sejahtera adalah 
sektor riil. Modal dari luar negeri yang masuk atas nama investasi pun justru 
tidak bergerak di sektor riil. Jadi, mudah dipahami mengapa kebijakan ekonomi 
selama ini tidak memberikan perbaikan kesejahteraan bagi rakyat banyak meskipun 
Pemerintah mengklaim ekonomi telah membaik. Pada sisi lain, bursa saham tidak 
lebih dari ”judi besar” yang dilegalkan. Ingatlah firman Allah Swt.:

  يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ 
وَاْلأَنْصَابُ وَاْلأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ 
لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

  Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, judi, (berkorban untuk) 
berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji, termasuk 
perbuatan setan. Karena itu, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian 
mendapat keberuntungan (QS al-Maidah [5]: 90).

  Ketiga, mata uang yang tidak berdasarkan pada emas dan perak melainkan pada 
dolar. Jenis uang seperti ini tidak memiliki nilai intrinsik sehingga akan 
mudah terguncang karena perubahannya terhadap dolar. Padahal perubahan tersebut 
tidak semata akibat faktor ekonomi, melainkan politik. Krisis di Indonesia 
tahun 1997/1998 adalah karena adanya gerakan boyong dolar ke luar negeri. 

  Islam memerintahkan agar mata uang yang beredar berbasis emas dan perak. Hal 
ini ditunjukkan dengan adanya larangan menimbun emas dan perak (QS at-Taubah 
[9]: 34), dikaitkannya berbagai hukum dan sanksi dengan emas dan perak (HR 
Ashabus sunan), serta fakta bahwa Rasulullah saw. menetapkan hukum transaksi 
dengan menggunakan emas dan perak (HR al-Bukhari dan Muslim).


  Wahai Kaum Muslim:

  Jelaslah, krisis dapat terulang. Selama sistem ekonomi Kapitalisme yang 
diterapkan, selama itu pula krisis tak akan hilang. Karenanya, sudah saatnya 
kita meninggalkan sistem ekonomi kapitalis seraya menegakkan sistem ekonomi 
Islam. Sudah waktunya kita melawan Kapitalisme global, lalu mewujudkan sistem 
Khilafah sebagai alternatif tunggal yang akan membawa rahmat bagi seluruh alam. 
[]


  KOMENTAR AL-ISLAM:

  Sejumlah BUMN Siap di-Go Public-Kan (baca: dijual) (Eramuslim.com, 14/5/07).

  Ingat! Mayoritas BUMN Plus saat ini—yang sejatinya milik rakyat—sahamnya 
sudah dikuasai asing (Eramuslim.com, 23/2/06). 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke