assalamu'alaikum wr. wb.
mo nanggepin beberapa posting mengenai kalibrasi arah kiblat, sambil mo jualan mailing-list ... :)) <http://groups.yahoo.com/group/indo-andalusia> kalau kita ini "disiplin" atau "beruntung" setiap waktu sholat sholatnya di masjid, mestinya tidak diperlukan lagi meng"kalibrasi" arah kiblat. tapi kan masalahnya itu: ------------------------ (1) kita sering harus melakukan sholat di dalam perjalanan, atau di tempat yang jauh dari masjid (2) kita { jujur saja :) } memang uamat-suangat-juarang sholat di masjid, kecuali waktu jum'at, jauh lebih "nyuaman" sholat di rumah ato di dekat tempat melakukan kegiatan "bisnis", whatever it is :) *** So, okeylah, jadi logika "fatwa realistis" yang bisa direkomendasikan adalah: daripada tidak sholat, lebih baik sholat di tempat anda sedang berada, dan tidak berjamaah di masjid (apa boleh buat). So, now, dirikanlah sholat anywhere on the earth! *** nah, untuk sholat di rumah/kantor ini, karena orientasi jalan di kota/apalagi desa, tidak selalu sejajar dengan arah ke 4 mata angin: utara/selatan/barat/timur, bahkan jalan tersebut sering berbentuk melengkung, dan rumah-rumah yang dibangun di kiri-kanan jalan umumnya juga mengikuti orientasi jalan tersebut. Oleh karena itu bahkan di tempat tinggal: rumah/asrama/apartemen kita, perlu dilakukan kalibrasi arah kiblat - jika itu memang mungkin. Di indonesia misalnya, kita sudah terbiasa dengan petunjuk bahwa arah kiblat adalah menghadap ke barat, lalu condong sedikit 30 derajat ke utara. Masalahnya kecenderungan ini tetap kita terapkan, seringkali tanpa memperhatikan "orientasi" bangunan di mana kita sedang melakukan sholat - pokok-e sing penting menghadap ke barat, lalu serong ke kanan 30 derajat :) *** BTW, di dalam sejarah iptek, dunia islam termasuk yang punya sumbangan penting di dalam pengembangan ilmu dan teknologi navigasi, misalnya pada pengembangan peralatan navigasi kuno yang dikenal sebagai Astrolabe yang digunakan paling tidak hingga abad ke-13: <http://en.wikipedia.org/wiki/Astrolabe> Jenis instrumen navigasi yang lebih tinggi mutunya yaitu Sextant dikembangkan oleh orang Inggris dan Amerika ada abad 18. <http://www.waterencyclopedia.com/Mi-Oc/Navigation-at-Sea-History-of.html di perpustakaan di sini (duisburg), orang masih bisa membaca paper-2/makalah-2 yang mencerminkan awal perkembangan Sextant di abad 18 pada koleksi jurnal "Phylosophical Transaction of the Royal Society" edisi abad 18 di perpustakaan ini :) <http://tinyurl.com/2ooppu> *** nah, harusnya "filosofi" ruang-waktu dari ibadat sholat beserta ketentuan arah kiblatnya menjadi "wigati" (perhatian) yang lebih khusus lagi dari ummat islam - menjadi bahan perenungan yang lebih dalam lagi ... *** tentu rekan-2 memperhatikan, kemarin/beberapa hari ini di berbagai mailing list di internet di sebarkan anjuran untuk "mengkalibrasi" arah kiblat di tempat masing-2, karena menurut perhitungan astronomi, pada selang waktu tanggal 26-30 Mei, mata hari pada jam tertentu akan tepat berada di atas kota Mekkah. Artinya, jika tepat pada saat tersebut, kita yang berada di "mana saja" di muka bumi ( asal tidak lebih jauh dari lengkung bujur 90 derajat dari tempat kedudukan kota Mekkah ) akan bisa menentukan arah kota Mekkah - artinya Ka'bah - hanya dengan memperhatikan arah bayangan suatu benda - misalnya tongkat, pohon, bangunan, dsb. Padanan katanya, kalau di dalam rumah yang diterangi sebuah lampu kita memperhatikan arah-condong bayangan benda di lantai atau di meja, kita akan bisa menentukan dengan cukup pasti dari mana arah sumber sinar tersebut. Artikel/tulisan mengenai itu saya cantumkan di bagian bawah. Tetapi cara ini ada keterbatasannya seperti yang telah disebutkan di atas. Cara yang lebih teliti dan bisa digunakan di tempat "mana saja" di muka bumi - asal sudah "tercantum" di dalam Google Map, adalah dengan menggunakan Google Map, atau program yang memanfaatkan Google Map, seperti yang bisa anda coba secara online di bawah ini - dengan anggapan anda sudah mengenal program Google-Earth: Pada program ini, untuk mengetahui arah kiblat, anda tinggal menggeser-2 cakupan peta yang ditunjukkan ( bisa dipilih: peta saja, foto-satelit saja, atau kedua-2 nya di tumpang-tindih kan ), jika perlu di perbesar/zoom, sampai kelihatan bangunan tempat anda tinggal/bekerja/melakukan kegiatan. Dalam hal saya, saya baru saja berhasil mengkalibrasi arah kiblat untuk beberapa gedung berbentuk bundar di kampus universitas Duisburg, yang biasanya membuat orang mudah "pusing"/bingung menentukan arah. wassalam wr. wb. ---( ihsan hm )---------------------------------- <http://www.qiblalocator.com/> « Alhamdulillah - Inivitations » ------------------------- Google Maps Qibla Locator ------------------------- Published March 6th, 2006 in Web Qibla locatorI've been working on a little project utilizing the google maps api to make a Qibla direction locator. It works almost exactly like google maps except that it displays an overlay pointing towards the Qibla. The direction in degrees from true North is also given at the bottom of the page. Another nifty feature is a map-in-map view much like pic-in-pic view found on most new TV sets. As this is pretty much a work in progress, I'm sure you'll notice many bugs. Please do let me know. Head on out and take a look for your self. Be sure to leave your comments. Note: May not work on Safari --- *** ---- < http://www.republika.co.id > Selasa, 29 Mei 2007 ---------------------------------- Saatnya Mengkalibrasi Arah Kiblat ---------------------------------- Teknologi yang digunakan mudah, murah dan presisi. Cukup tancapkan sebatang kayu tegak lurus di atas tanah. Maka bayangan kayu itulah arah ka'bah. Kalau Anda bingung menentukan arah kiblat, sekaranglah saatnya melakukan kalibrasi arah kiblat. Pada 26 hingga 30 Mei 2007, pukul 16.18 WIB, posisi matahari tepat berada di atas kota Makkah. `'Untuk menentukan arah kiblat, kita tinggal menancapkan sepotong kayu. Arah jatuhnya bayang-bayang merupakan arah kiblat,'' kata pakar astronomi ITB, Moedji Raharto. Dalam setahun, posisi matahari tepat berada di atas Makkah terjadi dua kali. Selain pada 26 hingga 30 Mei, posisi matahari di atas Makkah juga terjadi pada 15-18 Juli, pukul 16.28 WIB. `'Kurang lebihnya lima menit dari waktu tersebut,'' ungkap Moedji kepada Republika. Menentukan arah tepat kiblat merupakan hal yang sangat penting, mengingat hal itu merupakan salah satu sarat sahnya sholat. Karena itulah menentukan kiblat sebelum sholat merupakan sebuah kewajiban. Terlebih jika kita berada di tempat yang tidak terdapat tanda arah kiblat. Saat ini banyak dijual alas sholat (sajadah) yang telah dilengkapi kompas sebagai penunjuk kiblat. Banyak umat menyimpan kompas dalam tasnya untuk mengantisipasi kalau- kalau membutuhkannya di satu tempat. Menentukan arah kiblat bisa dilakukan dengan perhitungan fisika dan matematika. Tapi alam telah dipersiapkan Sang Pencipta untuk bisa menentukan arah kiblat. Caranya pun sangat simpel sehingga tak perlu rumus matematika, tak perlu alat canggih sehingga orang yang buta huruf pun bisa melakukannya.. Sejauh umat masih bisa melihat matahari, maka mereka bisa memanfaatkan teknologi sederhana mencari arah kiblat. Memanfaatkan alam sebagai alat bantu untuk ibadah. Mudji mengatakan momen Matahari di atas Kabah, bisa dimanfaatkan untuk menentukan arah kiblat. Peredaran bumi mengelilingi matahari, dengan sumbu rotasi yang miring 23,5 derajat terhadap garis tegak lurus bidang orbit bumi, membuat terjadinya perubahan posisi tahunan matahari di langit. Kita melihat matahari mengitari bumi pada bidang ekliptika. Karena bidang ekliptika membentuk sudut terhadap bidang ekuator Bumi, dalam interval satu tahun itu, Matahari pada satu saat berada di utara equator, dan di saat yang lain berada di selatan equator. Matahari bisa sampai sejauh 23,5§ dari ekuator ke arah utara pada sekitar 22 Juni. Enam bulan kemudian, sekitar 22 Desember matahari berada 23,5§ dari ekuator ke arah selatan. Antara 22 Juni dan 22 Desember, matahari bergerak ke arah selatan ekuator, bergerak relatif terhadap bintang- bintang. Sedangkan antara 22 Desember dan 22 Juni, matahari bergerak ke arah utara equator. Karena gerak tahunannya tersebut dikombinasikan dengan gerak terbit terbenam matahari akibat rotasi bumi, maka matahari menyapu daerah-daerah yang memiliki lintang antara 23,5 derajat LU dan 23,5 derajat LS. Pada daerah-daerah di permukaan bumi yang memiliki lintang dalam rentang tersebut, matahari dua kali setahun akan berada kurang lebih tepat di atas kepala. Dengan posisi kabah di dalam Masjidil Haram di kota Mekah mempunyai posisi geografis 21 derajat 25 menit lintang utara dan 39 derajat 50 menit Bujur Timur, maka zenith ka'bah tak luput di singgahi Matahari, dua kali setiap tahun. Momen ini terjadi sekitar tanggal 26-30 Mei ( jam 16:14 WIB-16:21 WIB ) dan 15-18 Juli (jam 16:23- 16:31 WIB). `'Sekitar masuknya waktu Dhuhur di Mekah pada momen tanggal-tanggal itu merupakan momen yang baik untuk penentuan arah kiblat yang murah, mudah dan presisi,'' papar Moedji. Cukup dengan mengamati bayangan sebuah tongkat yang tegak lurus tertancap di tanah, maka sudah bisa ditentukan arah kiblat dengan tepat. Jadi tidak memerlukan peralatan kompas, Global Positioning Satellite (GPS), informasi tempat atau pengetahuan fungsi trigonometri dan kalkulator. Pada momen tersebut umat Islam di seluruh dunia yang masih melihat matahari dapat mengkalibrasi arah kiblat. Tapi metode ini tidak bisa digunakan di semua tempat. Dengan bentuk bumi yang bundar, cara itu hanya bisa digunakan di daerah, yang terpisah dengan Makkah kurang dari 90 derajat. Pada tempat-tempat yang terpisah dari Makkah lebih dari 90 derajat, saat matahari tepat berada di Makkah, matahari di sana telah berada di bawah horizon. Misalnya untuk posisi pengamat di Bandung. Saat matahari tepat di atas Makkah, posisi matahari (terlihat dari Bandung) sudah cu kup rendah, kira-kira 18 derajat di atas horizon. Sedangkan bagi daerah-daerah di Indonesia Timur, saat itu Matahari telah terbenam, sehingga praktis momen itu tidak bisa digunakan di sana. dwo/berbagai sumber Ikhtisar: Pada tanggal 26-30 Mei dan 15-18 Juli matahari tepat berada di kota Makkah bersamaan dengan waktu Dzuhur. Metode kalibrasi sederhana ini tak bisa digunakan di semua tempat --- Ma'rufin Sudibyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Sedikit nambahkan saja. Ini salah satu hikmah mengapa kiblat dipindahkan ke Ka'bah (koordinat 21 derajat 25 menit LU 39 derajat 50 menit BT, menurut Pakistan Army Corps of Engineer) di Masjidil Haram (lihat al-Baqarah 144), karena posisi kota Makkah (termasuk Ka'bah juga) berada di selatan garis balik utara 23,5 LU sehingga senantiasa dilintasi gerak semu Matahari dua kali tiap tahun Gregorian. Bayangkan seandainya kiblat itu tetap di Masjid al-Aqsa Jerusalem, ataupun di Madinah misalnya, maka kita tidak bisa menggunakan cara yang sangat praktis dan mudah ini guna menentukan arah kiblat. Prinsip yang dipakai adalah gerak semu tahunan Matahari. Benda langit lain bisa saja dipakai, namun Matahari memiliki kelebihan karena gerakannya bisa diprediksi dengan akurasi sangat tinggi (berbeda dengan Bulan, misalnya) dan sinarnya sangat cemerlang sehingga menghasilkan bayangan tajam. Ka'bah dilintasi Matahari masing-masing pada tanggal 28 Mei pukul 09:18 GMT dan 16 Juli pukul 09:27 GMT, kecuali pada tahun kabisat dimana tanggalnya bergeser sehari lebih awal. Karena zona waktu Makkah adalah GMT + 3, maka pada tanggal-tanggal tersebut penetapan arah kiblat menggunakan bayangan Matahari bisa dilakukan untuk daerah-daerah waktu GMT - 2 (Samudera Atlantik) hingga GMT + 8 (zona WITA), mencakup seluruh benua Eropa, Afrika dan sebagian besar Asia, tinggal menyesuaikan waktunya saja. Untuk zona waktu GMT + 10 hingga GMT - 4, tanggal penentuannya adalah 28 November pukul 21:09 GMT dan 16 Januari pukul 21:29 GMT, karena pada saat itu Matahari sedang melintas di atas titik-lawan (antipode) Ka'bah, yakni di wilayah Kepulauan Tuamotu di Samudera Pasifik. Sama dengan diatas, pada tahun kabisat tanggal ini pun maju sehari lebih cepat. Dalam ranah praktis, sebenarnya tidak harus persis menunggu tanggal 28 Mei dan 16 Juli. Karena Matahari bukan point-source namun sebagai bundaran berdiameter 0,5 derajat jika dilihat dari Bumi, maka jika kita tepat berdiri di Ka'bah, deviasi 0,5 derajat masih bisa diterima, seperti disarankan Dr. T. Djamaluddin dari LAPAN. Dengan demikian terdapat rentang tanggal 25 - 29 Mei pukul 09:18 GMT serta 14 - 18 Juli pukul 09:27 GMT guna menentukan arah kiblat dengan bayangan Matahari. Ketelitiannya cukup tinggi dan bisa disandingkan dengan pengukuran berbasis GPS. Untuk mencocokkan waktu, bisa dikalibrasi dengan 103-nya Telkom atau waktu siaran berita RRI (menurut pak Djamal dengan 103 tidak selalu tepat). Sebenarnya, kalau mau, tiap hari kita bisa menentukan arah kiblat dengan bayangan Matahari koq. Tidak harus menunggu hingga bulan Mei dan Juli. Jogja Astro Club telah memperkenalkan metode penentuan arah kiblat berbasis 4 waktu istimewa, dimana tiap hari selalu ada dua waktu istimewa untuk menentukan arah kiblat. Memang dalam metode ini kita harus mengetahui berapa koordinat bujur dan lintang di titik yang akan kita ukur arah kiblatnya, namun dengan tersedia Google Earth atau Wikimapia - jika GPS tidak ada - tidak sulit untuk mengetahuinya. Salam Ma'rufin ------------------------------------------------------- <http://ech.blogspot.com/2005/05/kalibrasi-kiblat.html>

