Bantuan Asing ? Na'udzubillah
Editorial May 30th, 2007 
Ribut-ribut bantuan asing dalam pilpres 2004 sempat memanas. Apalagi setelah 
presiden SBY membuat konferensi khusus membantah tuduhan miring terhadap 
dirinya. Dengan tegas dia menyatakan tidak pernah menerima bantuan dari 
Washington. "Na'udzubillah," ujarnya. Secara hukum memang sulit membuktikan 
adanya dana asing tersebut, apalagi hukum di Indonesia bisa dipermainkan. Di 
sinilah kejujuran pemimpin menjadi penting, untuk membuktikan apakah bantuan 
asing itu ada atau tidak. Masalahnya apa mau ? 

Lepas dari pro kontra di atas, harus ada kesadaran bantuan asing terhadap 
capres adalah berbahaya. Tidaklah mengherankan kalau hal tersebut dilarang 
secara jelas dalam undang-undang. Namun bantuan asing tidak selalu illegal 
seperti itu. Bantuan asing yang legal seperti hutang luar negeri, sesungguhnya 
sama bahayanya. Kalau bantuan tidak resmi sulit dibuktikan , bantuan resmi 
jelas sangat mudah dibuktikan, karena secara terbukti dilakukan oleh negara, 
LSM , atau ormas. Adalah bentuk penyesatan seakan-akan hanya bantuan asing yang 
illegal yang berbahaya, sementara yang legal tidak. 

Syekh Abdurrahman Al Maliki salah seorang tokoh senior Hizbut Tahrir , dalam 
bukunya As-Siyasatu al Iqtishodiyatu al Mutsla (Politik Ekonomi Islam), dengan 
tegas mengatakan sesungguhnya utang luar negeri untuk pendanaan proyek-proyek 
adalah cara yang paling berbahaya terhadap eksistensi negeri-negeri Islam dan 
senantias membuat umat menderita, akibat bencana yang ditimbulkannya, disamping 
utang luar negeri itu menjadi jalan untuk menjajah suatu negara. Apa yang 
dikatakan oleh Syekh Abdurrahman al Maliki pada tahun 1960-an itu kemudian 
memang terbukti. Utang luar negeri kemudian menjadi alat penjajahan Barat. 
Lewat utang luar negeri, Barat kemudian memaksa negara-negara yang diberikan 
bantuan agar tunduk kepada kepentingan mereka. 

Hal ini secara terbuka diakui John Perkins mantan anggota "perusak ekonomi" 
(Economic Hit Man) dalam bukunya "Confessions of an Economic Hit Man". Dalam 
bukunya itu , Perkin menulis tentang tujuan penugasannya antara lain untuk 
membangkrutkan negara-negara yang menerima pinjaman raksasa tersebut (tentunya 
setelah mereka membayar MAIN dan kontraktor Amerika lainnya), sehingga mereka 
untuk selamanya akan dicengkeram (beholden) oleh para kreditornya, dan dengan 
demikian negara-negara penerima utang itu akan menjadi target yang mudah ketika 
kita memerlukan yang kita kehendaki (favors) seperti pangakalan-pangkalan 
militer, suaranya di PBB, atau akses pada minyak dan sumber daya alam lainnya)."

Lebih lanjut Perkin menulis tujuan proyek-proyek pembangunan di dunia ketiga 
yang diberikan utang oleh negara-negara Barat : ".tujuan membangun 
proyek-proyek tersebut adalah menciptakan laba sangat besar bagi para 
kontraktornya, dan membuat bahagia sekelompok kecil elit dari bangsa penerima 
utang luar negeri, sambil memastikan ketergantungan keuangan yang langgeng 
(long term), dan karena itu menciptakan kesetiaan politik dari negara-negara 
target di dunia."

Revrisond Baswir, seorang pakar ekonom kritis, menjelaskan bahaya dari utang 
luar negeri ini. Pada sisi efektifitasnya, secara internal, utang luar negeri 
tidak hanya dipandang menjadi penghambat tumbuhnya kemandirian ekonomi 
negara-negara Dunia Ketiga. Ia diyakini menjadi pemicu terjadinya kontraksi 
belanja sosial, merosotnya kesejahteraan rakyat, dan melebarnya kesenjangan 
(Pearson, 1969, Kindleberger dan Herrick 1977). 

Pada sisi ideologinya, utang luar negeri diyakini telah dipakai oleh 
negara-negara pemberi pinjaman, terutama Amerika, sebagai sarana untuk 
menyebarluaskan kapitalisme neoliberal ke seluruh penjuru dunia. Dengan 
dipakainya utang luar negeri sebagai sarana untuk menyebarluaskan kapitaliseme 
neoliberal, berarti utang luar negeri telah dengan sengaja dipakai oleh 
negara-negara pemberi pinjaman untuk menguras dunia (Erler, 1989).


Pengalaman Indonesia 

Penjajahan asing di Indonesia semakin kokoh, terutama di masa orde Baru yang 
sangat terbuka menerima utang luar negeri. Menyusul pertemuan negara-negara 
kreditor blok barat di Tokyo pada September 1966, yang dikenal sebagai The 
Paris Club, bulan Oktober 1966 Indonesia memperoleh komitmen untuk menerima 
pinjaman siaga sebesar 174.juta dollar AS. Selanjutnya, menyusul pertemuan 
serupa di Paris pada Desember 1966, Indonesia memperoleh komitmen untuk 
menerima tambahan pinjaman siaga sebesar 375 juta dollar AS. 

Setelah itu, menyusul pertemuan Kelompok Paris di Amsterdam pada Februari 1967, 
yang sekaligus menandai lahirnya Inter-Govermental Group on Indonesia (IGGI), 
Indonesia kembali memperoleh komitmen pinjaman siaga sebesar 95,5 juta dollar 
AS (Palmer, 1978: 28). Sejak saat itu kebijakan ekonomi di Indonesia 
benar-benar dilakukan untuk kepentingan asing (para kreditor). Pinjaman ini 
membuat Indonesia semakin lemah, sehingga dengan gampang didikte oleh asing. 
Isi Letter of Intent yang dipaksakan oleh IMF sejak krisis ekonomi pada awal 
1998, menunjukkan posisi Indonesia yang sangat lemah . Akibat mengikuti nasihat 
IMF, rakyat semakin menderita. Subsidi dicabut dan privatisasi membuat 
pelayanan umum seperti pendidikan, dan kesehatan semakin mahal. 

Pasca reformasi, bukannya semakin baik, kebijakan Indonesia justru semakin 
kapitalistik. Keluarlah UU Migas, UU Kelistrikan, UU tentang air. UU Penanaman 
Modal, yang semakin mengokohkan kebijakan kapitalisme di Indonesia. Amendemen 
UUD 2002 sarat dengan kepentingan asing, didukung NDI (National Democration 
Institute) dengan program Constitutional Reform dana USD 4,4 milyar . 
Intervensi asing juga tampak dalam pembuatan RUU Migas yang didanai oleh USAID 
dan IDB . The ADB and USAID worked together on drafting a new oil and gas law 
in 2000 ( www. usaid. gov). Hasil nyata dari UU Migas ini adalah dinaikkannya 
BBM yang mensengsarakan masyarakat. 

Tidak hanya aspek ekonomi, bantuan asing juga masuk ke sektor lain. Sebagai 
bagian dari privatisasi dan komersialisasi pendidikan , bank dunia memberikan 
bantuan. Berbagai program penguatan manajemen pendidikan tinggi ditawarkan Bank 
Dunia.

IMHERE (Indonesia Managing Higher Education For Relevance and Efficiency) 
dibiayai melalui pinjaman (Loan) dari Bank Dunia. Proyek ini dengan biaya total 
US$ 98.267.000 . Yang menjadi salah satu indikator keberhasilan proyek-proyek 
ini adalah keluarnya UU BHP (Badan Hukum Pendidikan) paling lambat tahun 2010. 
Implikasinya, pendidikan di Indonesia akan semakin mahal dan liberal. 

Bantuan asing juga dikeluarkan untuk merubah isi krikulum pendidikan agama 
Islam di Indonesia. Tujuannya, adalah perombakan ajaran Islam sehingga semakin 
pro Liberal dan mendukung penuh kebijakan penjajahan Barat. Hal ini terungkap 
dalam memo Donald Rumsfeld, 16 Oktober 2003 yang isinya : AS perlu menciptakan 
lembaga donor untuk mengubah kurikulum pendidikan Islam yang radikal menjadi 
moderat. Lembaga pendidikan Islam bisa lebih cepat menumbuhkan teroris baru 
lebih cepat dibandingkan kemampuan AS untuk menangkap atau membunuh mereka. 
(Republika, 3/12/2005). 

Lebih jauh David E Kaplan menulis bantuan puluhan juta dollar diberikan oleh 
Washington, bukan hanya untuk mempengaruhi masyarakat Islam tapi juga untuk 
merombak ajaran Islam itu sendiri. "Washington is plowing tens of millions of 
dollars into a campaign to influence not only Muslim societies but Islam 
itself. (David E. Kaplan, Hearts, Minds, and Dollars, www.usnews.com, 4-25-2005)

Sebagai bagian dari proyek liberalisasi Indonesia, beberapa perguruan tinggi 
dan LSM juga mendapat bantuan asing. Isu-isu yang kemudian sering diangkat 
antara lain isu gender, HAM, Islam moderat, Civil Society dan lain-lain. Hal 
ini tampak dalam Program The Asia Foundation yang memberikan dana buat LSM 
untuk mempromosikan konsep Islam ala Amerika yang berbasis pada demokrasi, anti 
kekerasan dan toleransi beragama (The Foundation now support over 30 Muslim 
non-Government organization (NGO), in their efforts to promote the concept that 
Islamic values can the basis for a democratic political system, non-violence, 
and religious tolerance. 
."(http://www.asiafoundation.org/Locations/indonesia.html) 

The Asia Foundation, yayasan ini ditengarai banyak mendanai kegiatan-kegiatan 
dalam rangka penyebaran paham kapitalisme dan sejenisnya. Yang paling nampak 
mencolok keterlibatan The Asia Foundation bagaimana dia mem-back up Tim 
Pengarasutaman Gender (PUG) bentukan Departemen Agama, yang kemudian berhasil 
menyusun draf Kompilasi Hukum Islam yang isinya kemudian menimbulkan 
kontroversial. 

Ada dugaan kuat The Asia Foundation ini memiliki hubungan kuat denga CIA. C 
Roland G. Simbulan dalam tulisannya CIA's Hidden History in the Philippines 
juga menjelaskan bahwa yang memainkan peran CIA yang paling menonjol di Manila 
adalah The Asia Foundation. Pernyataan ini dinilai cukup valid, karena didasari 
oleh pernyataan seorang anggota Departemen Birokrasi Amerika, William Blum. 
Dalam sebuah resensi buku yang berjudul Asia Foundation is the principal CIA 
front, dalam salah satu buku seorang jurnalis investigasi majalah Times, 
Raymond Bonner, yang berjudul: Waltzing with a Dictator: The Marcoses and the 
Making of American Policy, menyatakan bahwa "Asia Foundation adalah bentukan 
dan kedok CIA!".

Sementara itu, lembaga donor AS yang lain, USAID membantu lebih dari 30 
organisasi Islam di Indonesia. Diantara programnya: produksi media, workshop 
untuk para dai, reformasi kurikulum pesantren hingga universitas. AS juga 
menggunakan Ford Foundation dan Asia Foundation bekerjasama dengan 
lembaga/ormas-ormas Islam tertentu untuk memuluskan program kampanye "liberal 
Islam". (Lihat, Artikel Nuim Hidayat, "Propaganda Penjinakan", Republika, 29 
Oktober 2005) 

Pertukaran budaya dan pemberian beasiswa seperti Fullbright juga tidak lepas 
dari kepentingan asing khususnya AS. Jack Plano dalam The International 
Relation Dictionary (1982) menjelaskan bahwa program ini dikembangkan oleh 
pemerintah AS sejak tahun 1946 untuk mempengaruhi perilaku bangsa lain terhadap 
AS. Joseph S Nye dalam Soft Power (2004), mengutip pernyataan mantan Menlu AS 
Collin Powel, menyatakan bahwa program beasiswa akan membuat para alumni AS 
menjadi 'diplomat' AS kelak. 

Walhasil, penyebaran ide-ide liberal seperti Demokrasi, HAM, dan Pluralisme 
adalah sejalan dengan kepentingan politik luar negeri AS seperti yang diungkap 
oleh Bush : " Jika kita mau melindungi negara kita dalam jangka panjang, hal 
terbaik yang dilakukan adalah menyebarkan kebebasan dan demokrasi" ( Pidato 
Bush; Kompas; 6/11/2004) . Farid Wadjdi 

2 Responses "Bantuan Asing ? Na'udzubillah"
  1.. nasywa Says: 
  May 30th, 2007 at 10:16 am 
  sadarlah pak SBY n orang2 dzalim lainnya yang berani bersumpah dengan nama 
Allah, apakah kalian tidak takut dengan Adzab n murkanya Allah.sadarlah, 
sadarlah!
  sekarang mulai terlihat kebobrokan penjajah kafir (kapitalisme) n para 
curut2nya, dan akan terkuak semua.

  2.. fatih Says: 
  May 30th, 2007 at 3:25 pm 
  Bukan sekedar SBY, atau JK tetapi semua para pejabat dan penguasa, semoga 
Allah membukakan hati mereka. Amin.. 

  Dan menjadikan mereka menjadi penolong Allah dengan menolak asing dan 
menerapkan Islam.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke