Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

 Orang ini tidak lagi berada didunia  
artikel ini saya kutif dari sebuah buku, "Ibadah Sepenuh Hati" Amru Khalid, 
kalau menurut saya, insya Allah menurut sahabat thariq juga maksudnya adalah 
karena saking khusyunya

seperti kisah ini, saya ambil dari buku itu juga...

Urwah  bin Zubair pernah terkena tumor di telapak kakinya, dan orang-orang pun  
mengatakan, “Kedua telapak kaki Anda harus diamputasi. Biar kami minumkan Anda  
arak agar Anda tidak merasa kesakitan”. Dengan tegas ia menolak, “Saya tidak  
akan menggunakan kemaksiatan dalam rangka ketaatan kepada Allah.” Mereka pun  
mengatakan, “Kalau begitu, kami akan memberikan obat penidur.” Beliau menjawab, 
 “Aku tidak suka bagian tubuhku diambil ketika tidur.”  Mereka pun berkata, 
“Kalau begitu aku akan  membawa beberapa lelaki untuk memegangi Anda, agar Anda 
tidak bergerak  nantinya.” Tetapi kemudian Urwah mengatakan, “Aku akan membantu 
diriku sendiri.”  Orang-orang bertanya kepadanya, “Bagaimana caranya?”
  
 Bayangkanlah  Saudaraku, apa yang akan dikatakan oleh Urwah. Beliau berkata, 
“Biarkan aku  mengerjakan shalat, dan begitu kalian melihat aku telah tidak 
lagi bergerak  dimana anggota badanku telah tenang dan aku pun telah terdiam, 
maka tunggulah  sampai aku bersujud. Kemudian begitu aku telah bersujud, saat 
itu aku telah  pergi dari dunia, silahkan kalian lakukan apa saja yang ingin 
kalian lakukan  terhadapku”.
  
 Sang  tabib pun datang dan menunggu beliau sujud. Ketika beliau bersujud, sang 
tabib  membawa kapak  dan memotong telapak kaki  Urwah. Beliaupun berkeringat 
deras namun tidak sedikitpun berteriak. Terdengar  beliau mengucapkan, “Laa 
ilaaha illallaah... Aku rela Allah sebagai Rabbku,  Islam sebagai agamaku, dan 
Muhammad sedbagai seorang Nabi dan Rasul...!”. Sampai  kemudian beliau pingsan 
tanpa sempat berteriak sedikitpun. Ketika tersadar,  mereka membawa potongan 
kaki dan mereka menunjukkannya kepada beliau. Urwah pun  memandangnya dan 
berkata, “Aku bersumpah kepada Allah, bahwa aku tidak pernah  membawamu kepada 
yang haram, dan Allah Maha Tahu berapa kali aku gunakan kamu  untuk bershalat 
di malam hari.”
  
 Salah  satu kawan beliau pun berseru, “Selamat, Urwah! Semoga sebagian badanmu 
telah  mendahului kamu ke surga.” Urwah menyahut, “Demi Allah, tidak ada ucapan 
 belasungkawa yang lebih utama dari ucapan ini.”
  
 Tidakkah  Anda menyaksikan dalamnya suasana dramatik ini? Urwah tidak memiliki 
pilihan  lain selain dipotong telapak kakinya... adegan yang begitu dramatis. 
Namun yang  lebih dari itu adalah adegan kekhusyukan ketika Shalat!

betul kata sahabat Thariq saya setuju... "Nabi SAW ketika sedang sholat, Beliau 
masih bisa mendengar ketika ada bayi yang menangis sehingga beliau mempercepat 
sholatnya... Nabi pernah memperpanjang sujudnya karena digelantungi oleh cucu2 
nya yang bermain,  Nabi pernah mempersilakan tamunya masuk padahal Nabi sedang 
dalam keadaan sholat dan sebagainya padahal tentunya Nabi SAW adalah orang yang 
paling khusu dalam sholatnya. tentunya untuk khusu dalam sholat kita harus 
berpatokan pada Sholatnya Nabi SAW." itu kan nabi yang mencontokan kepada 
umatnya seperti itu...

Kita bisa melihat dari tingkatan-tingkatan yang disodorkan oleh Amru Khalid 
dalam bukunya itu. Dan tingkatan yang terakhir yang sahaba Thariq pertanyakan 
adalah tingkatan yang kualitas kekhusyuannya paling tinggi dan Rasyulullah SAW 
sebagai contonya tentunya... sebab Rasulullah SAW juga pernah seperti itu... 
Coba bayangkan oleh shabat Thariq... bagaimana kekhusyuan Rasulullah SAW sampai 
bengkak-bengkak kakinya (sampai tidak merasakan pegal, sakit dll.)


wallahu a'lam... maaf kalau saya keliru... tolong luruskan lagi...


wassalam

  





thoriq kusuma <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Assalamualaikum Wr. Wb.
  
 Tingkatan Kelima
Tingkatan ini adalah tempat bagi orang yang menjaga penuh waktu shalat, wudhu, 
rukun-rukun, dan kekhusyukan. Orang ini juga menanggalkan hati dan 
menyerahkannya sepenuh jiwa kepada Allah SWT.  Orang ini tidak lagi berada 
didunia. Ia ada bersama Allah. Tidak lagi terkait dengan ikatan-ikatan dunia. 
Ia tidak lagi melihat atau mendengar. Inilah maksud ucapan Rasulullah SAW, 
"Pucuk kebahagiaanku terletak di dalam shalat." Orang semacam ini adalah orang 
istimewa yang dekat dengan Rabbnya. 
 
 Afwan  saya mau nanya nih....
 Saya belum mengerti maksud dari kalimat "Orang ini tidak lagi berada didunia" 
dan kalimat2 yang saya beri huruf tebal lainnya..
 maksudnya orang ini sudah meninggal dunia atau karena saking khusu-nya 
sehingga seolah2 tidak hidup didunia lagi hanya ada orang itu dan Allah SWT?
  
 bagaimana sih batasan tentang khusu itu?  apakah khusu itu jadi tidak peduli 
/sadar akan lingkungan nya ketika seseorang sedang sholat? atau gimana?
  
 setahu saya, Nabi SAW ketika sedang sholat, Beliau masih bisa mendengar ketika 
ada bayi yang menangis sehingga beliau mempercepat sholatnya..
 Nabi pernah memperpanjang sujudnya karena digelantungi oleh cucu2 nya yang 
bermain,  Nabi pernah mempersilakan tamunya masuk padahal Nabi sedang dalam 
keadaan sholat dan sebagainya
 padahal tentunya Nabi SAW adalah orang yang paling khusu dalam sholatnya. 
tentunya untuk khusu dalam sholat kita harus berpatokan pada Sholatnya Nabi SAW.
  
 mohon maaf kalau saya salah pengertian.

 
 On 6/6/07, clay day <[EMAIL PROTECTED]> wrote:      Tingkatan Manusia ketika 
Shalat
Tingkatan manusia ketika shalat berbeda-beda. Ada lima tingkatan yang perlu 
Anda perhatikan sebagai tolok ukur, di tingkat manakah Anda berada. 
Dalam pengantar buku Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan 
bahwa tidak akan ada yang bisa memahami dan merasakan nilai tingkatan-tingkatan 
ini kecuali orang-orang yang bergerak menaiki tingkatan itu. Tahukah Anda 
maksud saya? 
Tingkatan Pertama
Di sinilah letak orang-orang yang tidak menjaga waktu shalat. Ia tidak menjaga 
wudhu, tidak juga rukun-rukun shalat yang zhahir serta kekhusyukan. Orang 
semacam ini akan mendapat hukuman atas shalatnya sebagaimana disepakati oleh 
semua ulama. 
Tingkat Kedua
Disini terletak orang-orang yang menjaga waktu shalat, menjaga wudhu dan juga 
rukun-rukun shalat yang zhahir, namun ia melalaikan kekhusyukan. Orang seperti 
ini akan dihisab shalatnya dengan keras.
 Kebanyakan orang berada dalam tingkatan ini. Iya, kan?
Saya lihat Anda mulai berpikir. Ini pertanda baik, sebab Anda mulai perhatikan 
pada diri sendiri.
Tingkatan Ketiga
Di tingkat ini terletak orang-orang yang menjaga waktu shalat, menjaga wudhu, 
dan juga rukun-rukun shalat yang zhahir, Ia tampak berjuang gigih melawan 
setan. Di awal-awal tampak ia bisa khusyuk, tapi kemudian setan berhasil 
mencurti perhatiannya. Ia kembali melawan, dan demikian seterusnya silih 
berganti. Orang seperti ini akan tertutup kekurangannnya. 
Ia berjuang gigih dalam shalatnya. Tentu ia akan mendapat dua pahala, pahala 
shalat di bagian mana ia berhasil khusyuk dan pahala perjuangan melawan setan.
Tingkatan semacam ini sering terjadi. Sebab seseorang akan sering mengalami 
perubahan keadaan, dan setan pun terus berusaha untuk mendapatkan kesempatan 
menggoda. 
Tingkatan Keempat
Ditingkat ini terletak orang-orang yang menjaga waktu shalat, menjaga wudhu, 
menjaga rukun-rukun shalat, dan melaksanakan shalat dengan khusyuk. Ini 
merupakan tingkatan yang sangat tinggi, sebab ia menang melawan setan setelah 
perjuangan yang amat gigih. Orang seperti ini akan mendapat pahala penuh. 
Anda tampak mengatakan, "Kalau begitu inilah tingkatan yang terakhir. Maka, 
yang tepat adalah empat tingkatan dan bukannya lima." Saudaraku, jangan 
terburu-buru. Simaklah sekarang tingkatan berikutnya: 
Tingkatan Kelima 
Tingkatan ini adalah tempat bagi orang yang menjaga penuh waktu shalat, wudhu, 
rukun-rukun, dan kekhusyukan. Orang ini juga menanggalkan hati dan 
menyerahkannya sepenuh jiwa kepada Allah SWT. Orang ini tidak lagi berada 
didunia. Ia ada bersama Allah. Tidak lagi terkait dengan ikatan-ikatan dunia. 
Ia tidak lagi melihat atau mendengar. Inilah maksud ucapan Rasulullah SAW, 
"Pucuk kebahagiaanku terletak di dalam shalat." Orang semacam ini adalah orang 
istimewa yang dekat dengan Rabbnya. 
Sebelumnya Anda telah mengira tidak ada lagi tingkatan setelah tingkatan 
keempat.
Sungguh, kebaikan orang-orangh shalih masih merupakan kejelekan bagi 
orang-orang istimewa.
Alangkah kasihan orang yang tidak mampu merasakan kemanisan ini.! 
Saudaraku tercinta, sekarang jawab pertanyaan berikut: "Di tingkat mana Anda 
berada?"
Berdoalah kepada Allah, agar Ia menjadikan Anda golongan orang-orang istimewa. 
[*]
*Ibadah Sepenuh Hati*
Amru Khalid

 
---------------------------------
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
Play Sims Stories at Yahoo! Games. 

[Non-text portions of this message have been removed]


 
 


 

       
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books? 
Check out fitting  gifts for grads at Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke