Benarkah Islam Hanya Agama, Bukan Ideologi?
Soal:

Banyak pertanyaan seputar Islam sebagai agama dan ideologi. Ada yang 
menyatakan, Islam adalah agama, bukan ideologi. Ada juga yang menyatakan, 
Islam adalah agama sekaligus ideologis. Mana yang benar?


Jawab:

Harus diakui, istilah ideologi adalah istilah baru, setelah munculnya 
ideologi dunia, seperti Kapitalisme dan Sosialisme. Bagi Islam dan kaum 
Muslim, istilah ideologi ini merupakan istilah serapan, seperti istilah 
'aqîdah, dharîbah, dustûr (UUD) dan qânûn (UU) pada zaman masing-masing 
ketika istilah tersebut muncul pertama kali, dan diadopsi oleh kaum Muslim. 
Istilah 'aqîdah, misalnya, sekalipun tidak digunakan dalam nas-nas al-Quran 
dan as-Sunnah, pada akhirnya bisa diterima oleh kaum Muslim, setelah 
digunakan oleh para ulama ushuluddin pada pertengahan abad ke-6 H.1 Istilah 
ini merupakan padanan dari kata îmân, yang digunakan baik dalam al-Quran 
maupun as-Sunnah. Demikian halnya penggunakan istilah dharîbah, digunakan 
oleh para fukaha kaum Muslim kira-kira pada abad ke-8 H.2 Hal yang sama juga 
terjadi dalam kasus dustûr dan qânûn, yang digunakan pada abad ke-18 H, 
setelah negara-negara Eropa mulai bangkit serta membuat UUD dan peraturan 
perundang-undangan. Istilah UUD dan peraturan perundang-undangan ini 
kemudian diterjemahkan dalam bahasa Arab dengan istilah ad-dustûr wa 
al-qawânîn. Awalnya, istilah ini dipakai oleh para ulama bahasa untuk 
menulis buku yang berisi aturan bahasa, seperti kitab Dustûr al-Muntahâ atau 
Dustûr al-Mubtadi'.3

Dalam konteks penggunaan istilah ideologi, istilah ini kemudian digunakan 
dalam bahasa Arab dengan sebutan yang sama, yaitu idiyuluji, atau dengan 
sebutan yang berbeda, yaitu mabda'. Intinya adalah pemikiran paling 
mendasar, yang tidak dibangun dari pemikiran yang lain.4 Pemikiran seperti 
ini, menurut Muhammad Muhammad Ismail, hanya ada pada pemikiran yang 
menyeluruh tentang alam, manusia dan kehidupan; serta apa yang ada sebelum 
dan setelahnya; juga hubungan antara alam, manusia dan kehidupan dengan apa 
yang ada sebelum dan setelahnya.5 Bagi kaum Muslim, pemikiran seperti ini 
adalah akidah Islam itu sendiri. Sebab, akidah Islam adalah pemikiran yang 
menyeluruh tentang alam, manusia dan kehidupan; yaitu dari mana, untuk apa 
dan akan ke manakah alam, manusia dan kehidupan ini? Maka dari itu, tentu 
alam, manusia dan kehidupan itu tak lain merupakan ciptaan Allah, untuk 
mengabdi kepada-Nya, dan hanya kepada-Nyalah semuanya akan kembali. Manusia 
akan dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawaban setelah kematiannya di 
dunia, sementara yang lain tidak. Karena itu, sebelum kehidupan ini, ada 
Allah, Zat Yang Maha Pencipta, dan setelah kehidupan ini akan ada Hari 
Kiamat, dan hisâb. Agar semua proses kehidupan manusia itu bisa 
dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak, maka Allah menurunkan syariah 
(aturan) untuk kehidupan manusia, yang kelak juga akan dijadikan standar 
oleh Allah untuk meminta pertanggungjawaban mereka. Inilah pemikiran 
mendasar, yang juga disebut fikrah kulliyah Islam. Pemikiran mendasar inilah 
yang juga disebut mabda' atau idiyuluji. Inilah substansi ideologi, yaitu 
apa dan bagaimana ideologi itu sendiri.

Pertanyaan berikutnya, apakah setiap akidah agama bisa menjadi ideologi? 
Jawabannya tidak, bergantung: Pertama, apakah akidahnya adalah akidah yang 
rasional atau tidak? Kedua, apakah akidah tersebut bisa memancarkan sistem 
(nizhâm) atau tidak? Jika dari kedua pertanyaan tersebut jawabannya ya, atau 
dengan kata lain merupakan akidah rasional yang bisa memancarkan sistem, 
maka akidah tersebut bisa menjadi ideologi. Sebaliknya, jika tidak maka 
akidah tersebut pasti tidak akan bisa menjadi ideologi. Contohnya, akidah 
Yahudi maupun Nasrani. Kedua akidah ini tidak bisa menjadi ideologi, karena 
bukan merupakan akidah 'aqliyyah, yang bisa memancarkan nizhâm. Ini berbeda 
dengan akidah Islam. Akidah Islam adalah akidah rasional yang bisa 
memancarkan nizhâm, yang bukan hanya sistem peribadatan saja, melainkan juga 
sistem pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan, dan semua sistem kehidupan 
yang lainnya.

Bukti lain bahwa Islam bisa menjadi ideologi adalah dari aspek keutuhan 
ajaran Islam, yang bukan hanya berisi gagasan, konsep atau pemikiran, yang 
disebut dengan fikrah (ide), tetapi juga berisi tharîqah (metode) bagaimana 
fikrah tersebut diterapkan, dipertahankan dan diemban ke seluruh dunia. Pada 
tataran konsep, misalnya, Islam bukan saja berisi akidah tentang keimanan 
kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat serta Qadha' dan 
Qadar-yang baik dan buruknya berasal dari Allah; tetapi juga seluruh aturan 
yang dibutuhkan oleh manusia, baik dalam konteks ubudiah, muamalah maupun 
untuk mengurus dirinya sendiri (akhlak, makanan dan pakaian). Semua itu 
hanya bisa diwujudkan kalau ada metode untuk mewujudkannya, yaitu adanya 
partai yang memperjuangkan terwujudnya fikrah tersebut, dan adanya negara 
yang menerapkannya. Demikian halnya, semua itu bisa dipertahankan jika ada 
sanksi hukum dan negara yang mempertahankannya, berikut peranan partai 
politik dan umat yang mengontrolnya. Begitu juga, semua itu akan bisa 
diemban ke seluruh dunia jika ada dakwah, jihad dan negara yang 
mengembannya.

Karena itu, Islam bukan hanya agama, melainkan juga ideologi. Penggunaan 
ideologi ini untuk Islam tentu absah, dilihat dari substansinya; bukan dari 
aspek sumber, dari mana ideologi tersebut dihasilkan; akal atau wahyu? 
Sebab, pada aspek ini, persoalannya adalah persoalan sumber, bukan 
substansi. Artinya, dari aspek sumber ideologi, ideologi yang ada saat ini 
bisa dikategorikan menjadi dua: yaitu ideologi yang bersumber dari akal 
manusia dan ideologi yang bersumber dari wahyu. Islam adalah satu-satunya 
ideologi yang bersumber dari wahyu. Selain Islam, baik Kapitalisme, 
Solialisme maupun Komunisme adalah ideologi yang bersumber dari akal 
manusia. Hanya saja, sering ada kesengajaan untuk merancukan ideologi dari 
substansinya ke sumbernya. Akibatnya, Islam ditolak sebagai ideologi, dengan 
alasan, Islam adalah ajaran yang bukan bersumber dari akal manusia, 
melainkan dari wahyu Allah. Padahal konteks permasalahannya bukan disitu. 
Ini sebenarnya merupakan upaya penyesatan yang bertujuan untuk menolak Islam 
sebagai ideologi. Padahal dengan menolak Islam sebagai ideologi, sama saja 
dengan menolak Islam sebagai sistem pemerintahan, ekonomi, sosial, 
pendidikan, politik dalam dan luar negeri. Tentu itu bertentangan dengan 
akidah Islam dan kaum Muslim, apapun mazhabnya.

Kita tidak yakin ada orang Islam yang berani melakukan itu, apalagi sampai 
lancang mengatakan, bahwa ideologi Islam adalah sumber konflik. Sebab, 
risikonya jelas: melawan akidah yang diyakininya, bahkan menginjak-injak 
fikih yang dipelajari dan diajarkannya sendiri; kecuali, jika dia menjadi 
kepanjangan tangan kaum imperialis penjajah untuk sengaja melemahkan Islam 
dan kaum Muslim, demi mendapatkan secuil kenikmatan dunia, yang belum tentu 
didapatkannya. Wallâhu a'lam. d


Catatan Kaki:

  1.. Lihat, Lu'ayyi Shafi, Al-'Aqîdah wa as-Siyasah: Ma'âim Nazhariyyah 
'Ammah li ad-Dawlah al-Islâmiyyah, al-Ma'had al-'Alami li al-Fikr al-Islami, 
cetakan I, 1996, hlm. 51.

  2.. Lihat, Imam as-Syafi'i, Al-Umm, Dar al-Ma'rifah, Beirut, cetakan III, 
1393, IV/200. Beliau telah menggunakan istilah dharîbah tersebut untuk 
menyebut jizyah. Istilah ini kemudian digunakan oleh para fuqaha' 
berikutnya, dan setelah itu bukan hanya untuk menyebut jizyah, tetapi 
menjadi istilah tersendiri untuk praktik pemungutan uang yang ditetapkan 
oleh negara kepada rakyatnya. Ibn Taimiyah menjelaskan, bahwa istilah 
dharîbah ini tidak memiliki batasan tersendiri dalam konteks bahasa, tetapi 
dikembalikan pada penggunaan berdasarkan konvensi kaum atau umat tertentu. 
Lihat, Majmu' al-Fatawa, XIX/253.

  3.. Lihat, Shadiq Hasan al-Qanuji, Abjad al-'Ulûm, Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 
Beirut, 1978, III/259.

  4.. Lihat, Muhammad Muhammad Ismail, Al-Fikr al-Islâmi, Maktabah al-Waie, 
Beirut, 1958, hlm. 9-10.

  5.. Lihat, Ibid, hlm. 10.
----- Original Message ----- 
From: "Bango Samparan" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "gunawan" <[EMAIL PROTECTED]>; <[email protected]>; 
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, June 16, 2007 9:00 AM
Subject: Re: [syiar-islam] Kemenangan Islam Pasti Dan Segera Datang


> Assalaamu'alaikum wr. wb.
>
> --- gunawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>>  Kemenangan Islam Pasti Dan Segera Datang
>
>> Cara Membangkitkan Umat
>>
>> Hakikat kebangkitan adalah kebangkitan berfikir. Dari berfikir hewani
>> yang sekadar berfikir untuk hidup, meningkat menjadi berfikir
>> manusiawi yang berusaha memperjuangkan kemuliaan manusia dengan
>> ideologi tertentu. Berfikir ideologis inilah yang menjadikan ummat
>> Islam dahulu bangkit dan mampu menguasai dunia meskipun hanya
>> berkendaraan unta dan kuda...
>
> Mas mau nanya? Boleh tho?
>
> Apa iya seluruh aktivitas Rasulullah dari awal sampai akhir, yang
> berhasil menjadikan umat Islam berjaya, memadai hanya dirangkum menjadi
> berfikir ideologis?
>
> Saya sendiri melihat Islam bukan ideologi (ilmu tentang ide-ide), Islam
> adalah manhajul hayyah (way of life). Kalau mau diartikan dalam bahasa
> sansenkerta maka Islam adalah AGAMA, IGAMA DAN UGAMA sekaligus.
>
> Inti dari Islam, IMHO, adalah keseimbangan antara IMAN, ILMU
> (berpikir?) dan AMAL (tindakan?).
>
> Saya berkesimpulan seperti itu karena, maaf, saya seringkali melihat
> cukup banyak aktivis Islam yang mampu membahas banyak hal besar dalam
> Islam - khilafah, negara Islam, ekonomi Islam, dll - tetapi dalam
> menjalani aktivitas kesehariannya, justru tidak memperlihatkan bahwa
> dia adalah MIZAN (PEMBEDA) dari kondisi yang carut marut.
>
> Padahal:
>
> Dan sesungguhnya telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (sesudah Kami
> tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku
> yang SALEH. (QS. 21:105)
>
> Wassalaamu'alaikum wr. wb.
> B. Samparan
>
>
>
>
>
> ____________________________________________________________________________________Ready
>  
> for the edge of your seat?
> Check out tonight's top picks on Yahoo! TV.
> http://tv.yahoo.com/
> 


Kirim email ke