Bikin Keluarga Betah Beribadah .

Rumah yang di dalamnya penuh dengan ahli ibadah menjadi dambaan kita semua. 
Tempat berawalnya semua kebajikan, ladang yang bisa menumbuhkan berjuta  pahala 

Ladang yang subur, tentulah ingin kita memilikinya. Apalagi jika ladang 
tersebut bisa melipatganda­kan hasil panen dari benih yang akan kita tanam. 
Sebutir benih akan tumbuh menjadi tujuh bulir, tiap-tiap bulir akan tumbuh 
seratus biji. Subhanallah! Sungguh beruntung jika kita memiliki ladang seperti 
itu. 

Berbeda dengan ladang yang tandus. Jangankan berharap seratus biji, sebutir 
biji pun boleh jadi tak bisa tumbuh.

Ladang yang diolah, dicangkul, dibersihkan, dan diberi pupuk, tentulah akan 
subur. Apalagi jika lingkungannya mendukung: suhu dan curah hujan yang cukup, 
tanah yang gembur, dan banyak jasad renik di dalamnya.

Sebaliknya, ladang yang dibiarkan terbengkalai, tak pernah diolah, akan sulit 
diperoleh hasil memuaskan. 

Begitu pula rumah kita. Jangan harap kita bisa membangun rumah yang di dalamnya 
penuh dengan ahli ibadah jika tidak kita ''olah'' terlebih dahulu. Jangan 
berharap kelurga kita akan gemar berlomba-lomba dalam kebajikan jika kita 
-kepala keluarga- tak memberi tauladan yang baik kepada seisi rumah. Jangan 
pula berharap bisa memanen pahala berlipat ganda bila kita tak mengajarkan dan 
membiasakan kepada mereka beribadah sejak dini. 

Rumah yang di dalamnya penuh dengan ahli ibadah menjadi dambaan kita semua. 
Tempat berawalnya semua kebajikan, ladang yang bisa menumbuhkan berjuta  
pahala. Ia bisa menjadi pondasi yang kokoh untuk membangun peradaban Madinah. 

Lalu, sulitkah membangun keluarga yang betah beribadah? Logikanya tidak sulit. 
Bukankah istri atau suami dan anak-anak adalah orang paling dekat dengan kita? 
Bukankah kita bisa menjumpai mereka setiap hari, bahkan setiap saat? Bukankah 
kita sudah mengetahui betul karakter mereka satu persatu?

Namun, Allah Subhanahu wa Ta'ala (Swt) mengingat­kan kita kepada dua kisah: 
Nabi Nuh As dan Nabi Luth As. Keduanya adalah manusia pilihan. Keduanya tak 
bisa mengajak isteri -orang yang paling dekat dengan mereka- untuk taat kepada 
Allah Swt, bahkan sampai akhir hayatnya. 

Kisah ini memberi pelajaran kepada kita bahwa jangan sekali-kali menyepelekan 
masalah ini. Syetan akan terus menerus mengintai kelemahan kita dan 
memporak­porandakan rumah tangga kita. Wallahu'alam. * Mahladi/Suara 
Hidayatullah

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke