Assalamu'alaykum wr.wb
sharring aja..

PENGARUH PANDANGAN HIDUP TERHADAP KEHIDUPAN 
   
  Menarik pembahasan yg disampaikan oleh pak Hamid Zarkasyi saat diskusi 
sabtuan di insist tgl. 9 Juni’07. Mengenai sumber ilmu adalah Tauhid 
(mengesakan Allah). dimana pada saat kita mempelajari konsep Tuhan, maka kita 
akan mempelajari konsep kehidupan, konsep manusia, konsep dunia, konsep 
nilai/moralitas, dan konsep ilmu. Yg menarik adalah ilmu dalam islam merupakan 
perpaduan antara intelektual dan spritual.yaitu antara ilmu fisik dan metafisik.
   
  Hmm..Allah adalah realitas yg riil sedangkan manusia adalah realitas yg 
nisbi. Hehehe mulai bingung dech..?soale yg bisa memahami realitas riil Allah, 
hanya orang yg mempunyai makom supranatural (ini kata pak hamid lho..:) 
maksudnya adalah hanya bisa diketahui oleh orang2 yg menyakini akan keabsolutan 
kebenaran dan tidak akan pernah diketahui oleh orang2 yg relative yaitu orang2 
yg mengusung ide kebenaran relative. 
   
  Keyakinan ataupun ketidak yakinan orang akan Tuhan, akan mempengaruhi seluruh 
aspek kehidupan orang tsb. Sedang islam merupakan pandangan hidup yg sempurna 
dan utuh karena Tauhid dalam islam mencakup Konsep kehidupan, konsep manusia, 
konsep dunia, konsep nilai/moralitas, dan konsep ilmu. Pada saat orang 
berbicara masalah manusia, mahluk, alam semesta, sosial. Amal dan ilmu, tidak 
akan pernah lepas dari pembahasan mengenai Tuhan. Ketidak nampakkan Tuhan 
secara fisik, bukan berarti menafikan keberadaanNya. 
   
  Jika kita yakin akan keberadaan Tuhan, maka otomatis kita mempunyai arti dan 
tujuan hidup, dimana hidup akan dihargai dan membekali diri saat menghadapi 
kehidupan setelah kematian. Namun ketidakyakinan akan Tuhan, akan membuat 
pandangan hidup seseorang dan mempengaruhi aktivitas diri menjadi semaunya 
sendiri, tanpa arti dan arah tujuan hidup, karena menyakini diri yang telah 
mati, maka segala urusan akan selesai sebatas dunia, tanpa mempersiapkan diri 
untuk menghadapi dan mempertanggung jawabkan semua yg telah dilakukan selama di 
dunia.
   
  Orang yg tidak menyakini akan keberadaan Tuhan, mempunyai pandangan hidup 
hanya sebatas kehidupan dunia dan memberi dampak sikap hidup yg arogan, 
melanggar segala aspek kehidupan, mulai dari hal yg sepele hingga hal2 yg luar 
biasa dzolim, yg merusak pilar sendi2 kehidupan, hingga membawa dampak 
merugikan pihak lain dan diri sendiri. 
   
  Sedangkan pandangan hidup islam adalah akidah fikriyyah/kepercayaan yg 
berdasarkan pada akal, yg pilarnya adalah keesaan Allah (tawhid) yg terbentuk 
dalam fikiran dan hati setiap muslim dan berpengaruh terhadap pandangannya 
tentang keseluruhan aspek kehidupan terutama tentang tealitas dan kebenaran.
   
  Pandangan hidup islam bukan sekedar pandangan akal manusia terhadap dunia 
fisik yg melibatkan manusia dari segi historis, sosial, politik dan budaya 
namun mencakup aspek metafisik yg terkait secara erat dan mendalam pada aspek 
kehidupan setelah mati (akhirat), sedangkan aspek akherat harus diletakkan 
sebagai aspek final dalam tujuan hidup yg sebenarnya.
   
     ISLAM MEMADUKAN ANTARA INTELEKTUAL DAN SPIRITUAL
    Segala aspek hidup secara fisik yg diajarkan dalam islam yaitu untuk menuju 
aspek metafisik, dimana realitas kebenaran secara fisik yg bersifat nisbi akan 
mempengaruhi kebenaran metafisik yg bersifat kekal. Karena realitas kebenaran 
riil adalah Allah, sedangkan realitas kebenaran nisbi adalah semua mahluk. 
Hingga untuk mencapai realitas kebenaran riil (Allah) tersebut, mustahil dapat 
ditemukan, bila tidak menggunakan metode pencari kebenaran yg mutlak pula 
(wahyu).
   
  Membuktikan akan keberadaan realita kebenaran riil yg mutlak (Allah) tidak 
bisa menggunakan metode pencarian kebenaran yg bersifat relative 
(hermeneutika), namun untuk menemukan kebenaran realitas riil yg mutlak, hanya 
dapat dilakukan dengan menggunakan metode yg bersifat otentik yaitu keotentikan 
kebenaran mutlak yg terdapat dalam Al-Qur’an dan hadist yg merupakan metode yg 
bersifat absolute.
   
  Kebenaran mutlak adalah Allah, akherat, syurga dan neraka. Dimana kebenaran 
tersebut bersifat metafisik. Hmm..sesuatu yg tidak dapat dilihat, bukan berarti 
bahwa sesuatu itu tidak ada, namun keberadaan yg metafisik tersebut mempunyai 
pengaruh kuat dalam kehidupan manusia secara fisik dan tawhid merupakan kata 
kunci untuk mengetahui dan membedakan antara kebenaran realitas secara relative 
dan kebenaran realitas yg riil/ mutlak.
   
  Sedangkan kebenaran realitas adalah semua bentuk kejadian dan perbuatan yg 
dilakukan dan terjadi dalam kehidupan yg nyata (fisik), namun bersifat 
sementara (nisbi) dan mempunyai penilaian relative yg positif dan negatif.
   
  Kebenaran realitas bisa bersifat relative dan mutlak, karena tergantung cara 
pandang yg memahami kebenaran tersebut. Apabila kebenaran realitas dipandang 
sebatas penilaian secara fisik dan akal, maka hasil penilaian akan menjadi 
relative. Namun kebenaran realitas secara fisik yg disandarkan pada penilaian 
metafisik yaitu wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah), maka kebenaran secara fisik 
tersebut bisa mencapai kebenaran absolute.
   
  Contoh : orang yg melakukan pengrusakan secara fisik, moral, dan agama 
merupakan kebenaran realita yg bisa dilihat secara nyata adanya. Begitupun 
orang yg melakukan perbaikan secara fisik, moral dan agama merupakan kebenaran 
realita yg bisa dilihat secara nyata. Namun kebenaran realita yg bersifat 
merusak merupakan satu kesalahan yg bisa dinilai secara akal, dimana kebenaran 
realita yg bersifat merusak dan menyalahi fitrah manusia dan mengganggu 
ekosistem mahluk lainnya, maka secara akal dapat diputuskan bahwa kebenaran 
realita tersebut adalah satu realita dari kesalahan.
   
        Sedangkan kebenaran realita yg melakukan perbaikan secara fisik, moral 
dan 'agama', bisa dinilai secara akal, merupakan suatu kebenaran realita yg 
baik, karena bersifat memperbaiki dan tidak menentang fitrah manusia maupun 
menyalahi kehidupan mahluk lainnya. Maka secara akal, kebenaran realita yg 
bersifat memperbaiki tersebut dapat diputuskan sebagai satu 'kebenaran' yg bisa 
relative dan mutlak (mudah2an nda bingung..hehehe)
 
   
  MENCAPAI KEBENARAN ABSOLUTE
  
  Namun dalam islam untuk menuju kebenaran yg mutlak, keputusan kebenaran akal 
belum cukup dijadikan acuan keputusan kebenaran absolute, bila tidak dilandasi 
dengan kebenaran wahyu. Maka konsep kebenaran mutlak dalam islam, selalu 
berlandaskan pada kebenaran wahyu sedangkan akal digunakan sebagai pembuktikan 
kebenaran wahyu..
   
  Pandangan hidup islam yg bersumberkan pada wahyu yg otentik dan diperkuan 
oleh agama yg didukung oleh prinsip akal dan intuisi, hingga membentuk satu 
ilmu yg menggabungkan antara fisik dan metafisik, intelektual dan spiritual yg 
selanjutnya mampu memasuki ilmu yg lebih tiggi dari sekedar yg dapat diamati 
secara fisik, namun mampu menembus realita yg lebih tinggi yg bersifat mutlak 
pada alam supranatural. Dimana metode pencapaian hakekat tertinggi akan 
kebenaran mutlak tidak dapat ditempuh bila menggnakan metode pencapaian yg 
bersifat relative/nisbi. Namun pencapaian realitas kebenaran mutlak, hanya 
mampu diraih bila menggabungkan antara akal, intuisi, dan wahyu hingga 
pembuktikan kebenaran akan alam supranatural, sepenuhnya dapat dibuktikan 
dengan gabungan ilmu fisik dan metafisik yg beralandaskan wahyu.
   
  Hmm..aku pernah berkomentar pada guruku, bahwa orang2 yg berpegangan teguh 
pada Al-Qur’an dan hadist, maka ilmunya akan mampu menembus langit dan bumi. 
Keyakinanku akan kemampuan intuisi menembus alam hakekat kebenaran mutlak 
(supranatural) disandarkan pada petunjuk wahyu yg menjelaskan kebenaran mutlak, 
hingga merasakan realitas riil yg absolute tak terbantahkan.
   
  Perumapamaan2 yg dianalogikan secara tersirat dalam wahyu, banyak mengarahkan 
pada ilmu metafisik, dimana akal ditundukkan, dan berada di belakang wahyu, 
hingga mencapai satu kebenaran wahyu yg dibuktikan dengan kebenaran akal, 
hingga akal dapat mencapai kebenaran mutlak yg mengiringi/mendukung kebenaran 
wahyu. (mudah2an nda bingung lagi..hehehe)
   
  Contoh firman Allah secara tersurat yg dianalogikan akan suatu berita secara 
metafisik.
    (Ar Rahmaan : 33) ”Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus 
(melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat 
menembusnya kecuali dengan kekuatan.
  

  Kekuatan yg disinggung Allah dalam ayat ini masih bias, apakah kekuatan yg 
dimaksud itu adalah secara fisik ataukah metafisik (intuisi) namun bisa 
dibuktikan kebenarannya berdasarkan petunjuk kebenaran yg absolute (wahyu). Yg 
jadi pertanyaan adalah..apakah ada kekuatan fisik yg mampu menembus langit dan 
bumi?? Yup!! Yg ada dikepalaku adalah, ketidak mungkinan kekuatan secara fisik 
untuk menembus batas bumi dan langit, dan kemungkinan kekuatan yg dimaksud oleh 
Allah adalah kekuatan metafisik, dan kekuatan metafisik itu tidak akan timbul, 
apabila tanpa ada bimbingan dari wahyu. Yup!! Kecurigaanku akan ketidakmampuan 
secara fisik terjawab lagi oleh firman Allah yg lain yaitu :
   
  (Al Israa : 37) Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, 
karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali 
kamu tidak akan sampai setinggi gunung.
   
  Yup!! Allah jelas mengatakan ketidakmampuan mahluk secara fisik untuk 
menembus bumi. 
   
  Hmm..Allah menyinggung kesombongan manusia akan akalnya yg tidak mau 
ditundukkan oleh wahyu, maka secara fisik dan metafisik orang2 yg bertuhankan 
akal tidak akan mempunyai kekuatan untuk mencapai kebenaran absolute. 
Perumpamaannya adalah spt ayat lain yg menjelaskan kalimat TAWHID sebagai ilmu 
metafisik yg mempunyai kekuatan untuk menembus batas langit dan bumi, namun 
orang2 yg melepaskan diri dari TAWHID, diumpamakan seperti pohon2 yg buruk 
tanpa akar dan tidak mempunyai kekuatan, jangankan untuk menembus langit dan 
bumi, kemampuan untuk memaknai kehidupan duniapun tidak akan pernah didapatkan.
   
  "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat 
yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke 
langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. 
Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu 
ingat.  Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah 
dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) 
sedikitpun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang 
teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan 
orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki". (Ibrahim : 24-27)
   
   wallahu a’lam bisowab
  

  senin, 18 Juni 2007
  salam
  hana
   
   
   
   
   
  
       
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books? 
Check out fitting  gifts for grads at Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke