Assalamu'alaykum wr.wb positive thinking memang baik..dan itu salah satu cara menjernihkan hati dan pikiran. Namun positive thinking juga harus ditempatkan pada tempat yg tepat, bukan meminta untuk buruk sangkat, tapi hanya sekedar waspada.
hmm..Rasul hanya mendoakan dan meminta kebaikan untuk orang2 awam yg tidak mengerti akan kebenaran islam dan dirinya. Namun Allah melarang RAsul mendoakan pamannya yg sudah lama mengenal dirinya dan mengetahui tentang islam, tapi tidak juga mau diajak pada kebenaran islam. hmm..waktu itu RAsul pernah berdoa pada Allah dan meminta agar salah satu umar menjadi pengikutnya, dan Allah mengabulkan permohonannya dan menjadikan umar ibn khattab sebagai sahabatnya yg setia. Namun Rasul juga mendoakan umar yg lainnya (abu jahal) akan kehancurannya, karena tidak juga mau mengakui kebenaran islam, bahkan selalu berniat untuk menghancurkan dan merusak islam, maka atas doa Rasul pulalah, akhirnya umar yg lain (abu jahal) hancur sehancur2nya. Menarik bila mencermati mengapa Allah memilih Umar ibn Khattab yg menjadi sahabat Rasul? mengapa bukan Abu jahal?hmm..Umar ibn khattab marah kepada Rasul atas ajaran islam yg dibawanya karena dianggap akan merusak ajaran nenek moyangnya yg selama ini diyakini oleh beliau. SEdangkan Umar Ibn Khattab melakukan itu karena keawamannya, dan yg aku tahu dari sejarahnya, tidak pernah keluar dari mulut dan sikap umar ibn khattab yg menghina dan mengumpat Allah dengan kata2 jahiliyyahnya. Hingga pada saat Umar mendengar bacaan Qur'an yg dibaca adik kandungnya dan adik iparnya, hatinya langsung mengimani dan berniat untuk langsung bertemu Rasulullah dan mengucapkan keimanannya. Tapi Abu jahal selalu saja melakukan penghinaan dan penolakan akan kebenaran islam, bahkan tidak henti2nya ingin menyakiti Rasulullah dengan segala perbuatannya. hmm..fenomena kisah umar ibn khattab dan abu jahal menarik untuk dicermati. bahwa tidak serta merta kita bertindak lemah lembut apalagi mendoakan kebaikan pada orang2 yg jelas2 dan sengaja mengingkari kebenaran islam, padahal orang itu sudah mengerti dan tahu akan kebenaran islam tsb, tapi hanya karena kejahilannya dan terus melakukan pengingkaran bahkan membuat tipu daya untuk selalu merusak islam, dan lemah lembut terhadap orang2 spt itu, tentunya kelembutan yg salah kaprah. Karena Rasul pun mendoakan kehancuran ABu Jahal. dan fenomena Rasul yg akan mendoakan pamannya Abu Tholib namun dilarang oleh Allah, ataupun Nabi Nuh yg ingin mendoakan anaknya juga dilarang oleh Allah, itu juga menarik untuk dicermati. jadi..berlaku lembut or positive thingking kepada orang2 yg dengan sengaja akan merusak islam dan mengingkari kebenaran islam, padahal orang itu mengerti dan paham akan kebenaran islam, ini kelembutan yg salah kaprah. Atau mendoakan kebaikan dan bersikap lembut dan positive thingking kepada orang2 yg dengan arogan mengumpat dan menghina RAsulullah, bahkan mencaci maki Allah, maka itupun kelembutan dan positive thingking yg salah kaprah. oke..curhat aja yg benar dari Allah yg salah dariku.. salam hana --- In [email protected], Ica Harahap <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Islam dan Positive Thinking > > > Oleh: Abdullah Hakam Syah > > > Islam memfasilitasi umat manusia agar dapat menikmati hidup ini dengan tenang, damai dan tanpa beban. Menikmati hidup dengan selalu tersenyum, ringan dalam melangkah, serta memandang dunia dengan > berseri-seri. Inilah implementasi dari ajaran Islam yang memang dirancang untuk selalu memudahkan dan menjadi rahmat bagi sekalian alam. > Untuk mewujudkan hidup yang sealu tersenyum, ringan dan tanpa beban > tersebut; Islam memberikan beberapa tuntunan. Yaitu di antaranya: > menjaga keseimbangan, selalu berbaik sangka (Khusnudzdzan), juga > dengan berpikir positif. Namun karena keterbatasan ruang dan waktu, > saya akan membatasi pembahasan kali ini hanya tentang khusnudzdzan > dan berpikir positif. > > > Pertanyaan yang sangat mendasar adalah: mengapa Islam sampai > menekankan pentingnya khusnudzdzan dan berpikir positif? Paling > tidak, ada empat alasan yang bisa dikemukakan di sini. > > > Pertama, kita harus khusnudzdzan dan berpikir positif karena > ternyata orang lain seringkali tidak seburuk yang kita kira. Contoh > terbaik mengenai hal ini ialah kisah Nabi Khidhir dan Nabi Musa > Alaihima As-Salam. Suatu kali, Allah Subhanahu wa Ta'ala > memerintahkan Nabi Musa untuk menambah ilmu dari seseorang yang > sedang berdiri di tepi pantai yang mempertemukan dua arus laut. > Setelah mencari tempat yang dimaksud, di situ beliau menemukan Nabi > Khidhir, dan kemudian mengutarakan maksudnya. Nabi Khidhir mau > menerima dengan satu syarat; Nabi Musa tidak boleh grasa-grusu > bertanya sampai Nabi Khidhir menjelaskan. > > > "Tapi aku yakin, kamu tidak akan bisa bersabar", tambah Nabi Khidhir > lagi. Namun karena Nabi Musa bersikeras, akhirnya dimulailah > perjalanan beliau berdua berdasarkan syarat tadi. Ternyata benar!! > Ketika dalam perjalanan itu Nabi Khidhir melakonkan hikmah demi > hikmah yang telah diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, tak > sekalipun Nabi Musa mampu bersabar untuk tidak grasa-grusu > menafsirkan yang bukan-bukan. (Qs. Al-Kahfi: 60-82). > > > Dalam kisah Qur'ani ini, poin penting yang dapat dipetik: kita harus > selalu berbaik sangka dan berpikir positif terhadap orang lain. > Karena, bisa jadi, orang lain tidaklah seburuk yang kita kira. Sebab > kita hanya bisa melihat apa yang tampak, namun tidak tahu niat baik > apa yang ada di hatinya dan seterusnya. > > > Kedua, berbaik sangka dan berpikir positif dapat mengubah suatu > keburukan menjadi kebaikan. Kita dapat menemukan pembuktiannya dalam > teladan Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam, ketika seluruh > kafilah-kafilah Arab berkumpul di Makkah pada tahun-tahun pertama > turunnya wahyu. Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Rasulullah > untuk menyampaikan risalah Islam kepada semua kafilah itu. Namun > yang terjadi, mereka justru mencaci dan menyakiti Rasulullah, serta > melumuri wajah beliau dengan pasir. > > > Saat itu, datanglah malaikat ke hadapan Rasulullah, "Wahai Muhammad, > (dengan perlakuan mereka ini) sudah sepantasnya jika kamu berdoa > kepada Allah agar membinasakan mereka seperti doa Nuh `Alaihi As- > Salamatas kaumnya." Rasulullah segera mengangkat tangan beliau. > Tetapi yang terucap dalam doa beliau bukanlah doa kutukan, melainkan > untaian maaf dan harapan bagi orang-orang yang telah > menyakitinya, "Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku. > Sesungguhnya (mereka melakukan semua ini terhadapku) hanya karena > mereka tidak tahu. Ya Allah, tolonglah aku agar mereka bisa > menyambut ajakan untuk taat kepada-Mu." ("Al-Ahadits Al-Mukhtarah, > karya Abu `Abdillah Al-Maqdasi, 10/14). > > > Pilihan beliau ternyata tidak salah. Tak lama setelah peristiwa > tersebut, mereka yang pernah menyakiti beliau berangsur-angsur > memeluk Islam dan menjadi Sahabat yang paling setia. Ini sesuai > dengan ajaran Al-Qur'an, "Tanggapilah (kejahatan itu) dengan cara > yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dengan dia ada > permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat akrab." (Qs. > Al-Fushilat: 34) > > > Ketiga, berbaik sangka dan berpikir positif dapat menyelamatkan hati > dan hidup kita. Sebab hati yang bersih adalah hati yang tidak > menyimpan kebencian. Hati yang tenteram adalah hati yang tidak > memendam syakwasangka dan apriori terhadap orang lain. Dan hati yang > berseri-seri hanyalah hati yang selalu berpikir positif bagi dirinya > maupun orang lain. > > > Kebencian, berburuk sangka dan berpikir negatif hanya akan meracuni > hati kita. Sebab itulah, ketika Orang-orang Yahudi mengumpat > Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam yang sedang duduk santai > bersama Aisyah Radhiyallahu `Anha, dan Aisyah terpancing dengan > balas menyumpahi mereka; Rasulullah segera mengingatkan > Aisyah, "Kamu tidak perlu begitu, karena sesungguhnya Allah menyukai > kesantunan dan kelemah-lembutan dalam segala hal." (Riwayat Al- > Bukhari dan Muslim, dari Aisyah Ra.). Subhanallah!! Beliau yang > seorang utusan Allah dan pemimpin masyarakat muslim, yang sebenarnya > bisa dengan mudah membalas perlakuan Orang-orang Yahudi itu, > ternyata memilih untuk tetap santun dan berpikir positif agar > menjadi teladan bagi seluruh umat manusia. > > > Senada dengan hadits di atas, ada ungkapan yang sangat menggugah > dari seorang sufi: "Yang paling penting adalah bagaimana kita selalu > baik kepada semua orang. Kalau kemudian ada orang yang tidak baik > kepada kita, itu bukan urusan kita, tapi urusan orang itu dengan > Allah Subhanahu wa Ta'ala." > > > Keempat, berpikir positif bisa membuat hidup kita lebih legowo, > karena toh Allah Subhanahu wa Ta'ala seringkali menyiapkan rencana- > rencana yang mengejutkan bagi hambaNya. Suatu saat, Umar bin > Khaththab Radhiyallahu `Anhu dirundung kegalauan yang menyesakkan. > Salah seorang puteri beliau, Hafshah Radhiyallahu `Anha, baru saja > menjanda. Maka Umar datang menemui Abu Bakar Radhiyallahu `Anhu > menawarinya agar mau menikahi Hafshah. Ternyata Abu Bakar menolak. > Kemudian Umar menawari Utsman bin Affan Radhiyallahu `Anhu untuk > menikahi Hafshah, namun Utsman pun menolaknya. (Shahih Al-Bukhari, > 4/1471. Versi penjelasnya juga dapat dibaca dalam Tafsir Al- > Qurthubi, 13/271). > > > Dalam kegalauan itu, Umar mengadu kepada Rasulullah > Shallallahu `Alaihi wa Sallam tentang sikap kedua Sahabat tersebut. > Maka Rasulullah menuntun Umar agar selalu berpikir positif sehingga > bisa menjalani hidup dengan legowo. Rasulullah bahkan > berdoa, "Semoga Allah akan menentukan pasangan bagi Hafshah, yang > jauh lebih dari Utsman; serta menentukan pasangan bagi Utsman, yang > jauh lebih baik dari Hafshah." > > > Ternyata, tak lama setelah itu, Rasulllah menikahkan Utsman dengan > puteri beliau sendiri. Dan setelah itu, beliau pun menikahi Hafshah. > Allahumma Innî qad ballaghtu, fasyhad ! > > > Abdullah Hakam Shah, Lc > > > www.pesantrenvirtual.com > > > --------------------------------- > Bored stiff? Loosen up... > Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games. > > [Non-text portions of this message have been removed] >

