Saudara yang Terabaikan
1 Apr 07 05:47 WIB
Oleh Shinta Octaviani
Sebenarnya saya sudah sering bertemu dengan wanita dan
anak gadis kecilnya itu. Baik saat menunggu di halte
ataupun di dalam bis yang biasa saya naiki menuju
Tsukuba Center. Seingat saya, wanita itu selalu
memakai sari (pakaian khas wanita di negara-negara
Asia Selatan) yang dilengkapi selendang lebar dengan
warna yang senada motif pakaiannya. Kemungkinan mereka
berasal dari salah satu negara yang ada di Asia
Selatan.
Pagi itu, kembali saya bertemu mereka di halte bis. Di
situ hanya ada saya, wanita dan gadis kecil itu. Saya
sapa mereka dengan anggukan kepala tanpa kata ataupun
salam. Sebelumnya saya juga selalu berlaku demikian.
Ada keraguan, muslimkah mereka? Mengingat
negara-negara di Asia Selatan juga banyak yang
beragama non-muslim.
Gadis kecil dan ibunya bercakap-cakap dengan bahasa
yang sama sekali tidak saya pahami. Mereka tidak
menggunakan bahasa Jepang ataupun Inggris. Mereka
bercakap-cakap sambil sesekali melirik ke arah saya
Sepertinya mereka membicarakan saya. Hanya saja saya
tidak bisa mengerti apa isi pembicaraan mereka.
Tiba-tiba wanita itu bergerak mendekati saya.
Langkahnya terlihat ragu-ragu namun gadis kecil itu
terus mendorong ibunya agar semakin mendekat.
Maaf, anak saya ingin tahu anda berasal dari mana?
Dia bertanya dengan bahasa Inggris yang terbata-bata.
Dari Indonesia. Jawab saya sambil tersenyum kepada
mereka. Dan anda dari mana?
Pakistan. Jawabnya singkat.
Wanita itu menterjemahkan jawaban saya kepada anaknya.
Mereka kembali terlibat percakapan dalam bahasa yang
tidak saya pahami tadi. Mungkin mereka menggunakan
bahasa dari negara asalnya.
Anak saya bilang bahwa sebelumnya dia pernah melihat
anda sewaktu di masjid.
Plak!. Ucapannya yang tenang itu terasa seperti
tamparan ke wajah saya. Ke mana saja saya selama ini?
Apa saja yang saya kerjakan? Sampai-sampai saya tidak
mengenal mereka. Padahal muslim yang tinggal di
Tsukuba masih sedikit (dibanding kota lainnya di
Jepang). Seharusnya lebih mudah untuk mengingat
wajah-wajah saudara seiman walaupun kadang tidak
selalu ingat akan namanya. Wajarlah kalau gadis kecil
itu mengenal saya.
Mereka juga muslim yang berarti saudara seiman dengan
saya. Tak sepantasnya saya mengabaikan mereka. Bahkan
ucapan salam pun belum sempat terucap dari bibir saya.
Astaghfirullah
..
Ternyata kepekaan terhadap orang-orang yang berada di
sekitar saya, masih kurang. Allah SWT telah
mengingatkan saya lewat gadis kecil dan wanita itu.
Melalui mereka, saya juga diingatkan kembali bahwa
setiap muslim itu bersaudara. Saudara yang berhak
mendapatkan salam ketika saya menjumpainya. Sama
haknya seperti saudara-saudara seiman lainnya tanpa
terhalang oleh suku dan asalnya.
Wallahualam bisshowab.
____________________________________________________________________________________Ready
for the edge of your seat?
Check out tonight's top picks on Yahoo! TV.
http://tv.yahoo.com/