Ikhtila’ (Menyendiri) di Gua Hira     
  Oleh : Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy
   
   
  Mendekati usia empat puluh tahun, mulailah tumbuh pada diri Nabi saw 
kecendrungan untuk melakukan ‘uzlah. Allah menumbuhkan pada dirinya rasa senang 
untuk melakukan ikhtila’ (menyendiri) di Gua Hira’ (Hira’ adalah nama sebuah 
gunung yang terletak di sebelah barat laut kota Mekkah). Ia menyendiri dan 
beribadah di gua tersebut selama beberapa malam. Kadang sampai sepuluh malam, 
dan kadang lebih dari itu, sampai satu bulan.
   
  Kemudian beliau kembali ke rumah sejenak hanya untuk mengambil bekal baru 
untuk melanjutkan ikhtila’-nya di gua Hira’. Demikianlah Nabi saw terus 
melakukannya sampai turun kepadanya wahyu ketika beliau sedang ‘uzlah.
   
  Permulaan Wahyu
   
  Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah ra, menceritakan cara permulaan wahyu, 
ia berkata : “Wahyu yang diterima oleh Rasulullah saw dimulai dengan suatu 
mimpi yang benar. Dalam mimpi itu beliau melihat cahaya terang laksana fajar 
menyingsing di pagi hari. Kemudian beliau digemarkan (oleh Allah) untuk 
melakukan khalwat (‘uzlah). Beliau melakukan khalwat di gua Hira’ – melakukan 
ibadah – selama beberapa malam, kemudian pulang kepada keluarganya (Khadijah) 
untuk mengambil bekal.
   
  Demikianlah berulang kali hingga suatu saat beliau dikejutkan dengan 
datangnya kebenaran di dalam gua Hira’. Pada suatu hari datanglah Malaikat lalu 
berkata, “Bacalah”. Beliau menjawab, “Aku tidak dapat membaca”. Rasulullah saw 
menceritakan lebih lanjut : Malaikat itu lalu mendekati aku dan memelukku 
sehingga aku merasa lemah sekali, kemudian aku dilepaskan. Ia berkata lagi, 
“Bacalah”. Aku menjawab : “Aku tidak dapat membaca”. Ia mendekati aku lagi dan 
mendekapku, sehingga aku merasa tak berdaya sama sekali, kemudian aku 
dilepaskan. Ia berkata lagi, “Bacalah”. Aku menjawab, “Aku tidak membaca”. 
   
  Untuk ketiga kalinya ia mendekati aku dan memelukku hingga aku merasa lemas, 
kemudian aku dilepaskan. Selanjutnya ia berkata lagi, “Bacalah dengan nama 
Rabb-mu yang telah menciptakan….. Menciptakan manusia dari segumpal darah…….” 
dan seterusnya.
   
  Rasulullah saw segera pulang dalam keadaan gemetar sekujur badannya menemui 
Khadijah, lalu berkata, “Selimutilah aku… selimutilah aku”. Kemudia beliau 
diselimuti hingga hilang rasa takutnya. Setelah itu beliau berkata pada 
Khadijah, “Hai Khadijah, tahukah engkau mengapa tadi aku begitu?” Lalu beliau 
menceritakan apa yang baru dialaminya.
  Selanjutnya beliau berkata : “Aku sesungguhnya khawatir terhadap diriku (dari 
gangguan makhluk Jin).”
   
  Siti Khadijah menjawab : “Tidak! Bergembiralah! Demi Allah, Allah sama sekali 
tidak akan membuat anda kecewa. Anda seorang yang suka menyambung tali 
keluarga, selalu menolong orang yang susah, menghormati tamu dan membela orang 
yang berdiri di atas kebenaran.”
   
  Beberapa saat kemudian Khadijah mengajak Rasulullah saw menemui Waraqah bin 
Naufal, salah seorang anak paman Siti Khadijah. Di masa jahiliyah ia memeluk 
agama Nasrani. Ia dapat menulis dalam huruf Ibrani, bahkan pernah menulis 
bagian-bagian dari Injil dalam bahasa Ibrani. Ia seorang yang telah lanjut usia 
dan kehilangan penglihatan. Kepadanya Khadijah berkata :
   
  “Wahai anak pamanku, dengarkanlah apa yang akan dikatakan oleh anak lelaki 
saudaramu (yakni Muhammad saw).” Waraqah bertanya kepada Muhammad saw, “Hai 
anak saudaraku, ada apakah gerangan?” Rasulullah saw kemudian menceritakan apa 
yang dilihat dan dialami di gua Hira’. Setelah mendengarkan keterangan 
Rasulullah saw, Waraqah berkata , “Itu adalah Malaikat yang pernah diutus Allah 
kepada Musa. Alangkah bahagianya senadainya aku masih muda perkasa! Alangkah 
gembiranya seandainya aku masih hidup tatkala kamu diusir oleh kaummu! 
Rasulullah saw bertanya, “Apakah mereka akan mengusir aku?” Waraqah menjawab , 
“Ya.” Tak seorang pun yang datang membawa seperti yang kamu bawa kecuali akan 
diperangi. Seandainya aku masih hidup dan mengalami hari yang akan kamu hadapi 
itu, pasti kubantu kamu sekuat tenagaku.” Tidak lama kemudian Waraqah meninggal 
dunia, dan untuk beberapa waktu lamanya Rasulullah tidak menerima wahyu.
   
  Terjadi perselisihan tentang berapa lama wahyu tersebut terhenti. Ada yang 
mengatakan tiga tahun, dan ada pula yang mengatakan kurang dari itu. Pendapat 
yang paling kuat adalah apa yang diriwayatkan oleh Baihaqi, bahwa masa 
terhentinya wahyu tersebut selama enam bulan. 1
   
  Tentang kedatangan Jibril yang kedua, Bukhari meriwayatkan sebuah riwayat 
dari Jabir bin Abdillah, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah saw berbicara 
tentang terhentinya wahyu. Beliau berkata padaku :
   
  “Di saat aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. 
Ketika kepala kuangakat, ternyata Malaikat yang datang kepadaku di gua Hira’, 
kulihat sedang duduk di kursi antara langit dan bumi. Aku segera pulang menemui 
istriku dan kukatakan padanya, “Selimutilah aku…. Selimutilah aku…. Selimutilah 
aku!” Sehubungan dengan itu kemudian Allah berfirman, “Hai orang yang 
berselimut, bangunlah dan beri peringatan. Agungkanlah Rabb-mu, sucikanlah 
pakaianmu, dan jauhilah perbuatan dosa…”(al-Muddatstsir). Sejak itu wahyu mulai 
diturunkan secara kontinyu.
   
  —————————————————————————
  1  Fathul Bari, 1/21
   
  (Sumber : Sirah Nabawiyah, Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam 
di Masa Rasulullah SAW)
   
  www.tauziyah.com


       
---------------------------------
Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's Comedy with an Edge to see what's on, 
when. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke