-----Original Message-----
From:   EDP - IND 
Sent:   Monday, June 25, 2007 3:22 PM
To:     


Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling
kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal".

Cassie menunggu dengan antusias. Kaki kecilnya bolak-balik melangkah
dari ruang tamu ke pintu depan. Diliriknya jalan raya depan rumah.
Belum ada. Cassie masuk lagi. Keluar lagi. Belum ada. Masuk lagi.
Keluar lagi.
Begitu terus selama hampir satu jam. Suara si Mbok yang menyuruhnya
berulang kali untuk makan duluan tidak digubrisnya.
Pukul 18.30. Tinnn........... Tiiiinnnnn.............. !! Cassie
kecil melompat girang! Mama pulang! Papa pulang! Dilihatnya dua
orang yang sangat dicintainya itu masuk ke rumah.
Yang satu langsung menuju ke kamar mandi. Yang satu menghempaskan
diri di sofa sambil mengurut-urut kepala. Wajah-wajah yang letih
sehabis bekerja seharian, mencari nafkah bagi keluarga. Bagi si
kecil Cassie juga yang tentunya belum mengerti banyak. Di otaknya
yang kecil, Cassie cuma tahu, ia kangen Mama dan Papa, dan ia girang
Mama dan Papa pulang.
"Mama, mama.... Mama, mama...." Cassie menggerak-gerakkan tangan
Mama. Mama diam saja. Dengan cemas Cassie bertanya, "Mama sakit ya?
Mananya yang sakit Mam?"
Mama tidak menjawab. Hanya mengernyitkan alis sambil memejamkan mata.
Cassie makin gencar bertanya, "Mama, mama... mana yang sakit? Cassie
ambilin obat ya? Ya? Ya?"
Tiba-tiba... "Cassie!! Kepala mama lagi pusing! Kamu jangan berisik!"
Mama membentak dengan suara tinggi.
Kaget, Cassie mundur perlahan. Matanya menyipit. Kaki kecilnya
gemetar. Bingung. Cassie salah apa? Cassie sayang Mama... Cassie
salah apa? Takut-takut, Cassie menyingkir ke sudut ruangan.
Mengamati Mama dari jauh, yang kembali mengurut-ngurut kepalanya.
Otak kecil Cassie terus bertanya-tanya: Mama, Cassie salah apa? Mama
tidak suka dekat-dekat Cassie? Cassie mengganggu Mama? Cassie tidak
boleh sayang Mama? Berbagai peristiwa sejenis terjadi. Dan otak
kecil Cassie merekam semuanya.

Maka tahun-tahun berlalu. Cassie tidak lagi kecil. Cassie bertambah
tinggi.
Cassie remaja. Cassie mulai beranjak menuju dewasa. TIN TIIIN ! Mama
pulang. Papa pulang. Cassie menurunkan kaki dari meja. Mematikan TV.
Buru-buru naik ke atas, ke kamarnya, dan mengunci pintu. Menghilang
dari pandangan.
"Cassie mana?". "Sudah makan duluan, Tuan, Nyonya."
Malam itu mereka kembali hanya makan berdua. Dalam kesunyian berpikir
dengan hati terluka: Mengapa anakku sendiri, yang kubesarkan dengan
susah payah, dengan kerja keras, nampaknya tidak suka menghabiskan
waktu bersama-sama denganku? Apa salahku? Apa dosaku? Ah, anak jaman
sekarang memang tidak tahu hormat sama orangtua! Tidak seperti jaman
dulu.

Di atas, Cassie mengamati dua orang yang paling dicintainya dalam
diam.
Dari jauh. Dari tempat dimana ia tidak akan terluka.
Mama, Papa, katakan padaku, bagaimana caranya memeluk seekor landak?

===========================================================================
Hidup adalah Pilihan 

===========================================================================

Memilih untuk bahagia atau untuk sengsara. 
Memilih untuk dipulihkan atau untuk menyimpan kepahitan. 
Memilih untuk mengampuni atau untuk mendendam. 
Hidup adalah masalah pilihan. 
Kebahagiaan semu bisa Anda dapatkan, yang sejati tak jauh dari jangkauan. 
Cinta kasih juga bisa Anda miliki, namun dendam dan amarah juga bisa Anda
alami. 
Persahabatan nan indah bukan impian, pengkhianatan dan kepahitan mungkin
Anda dapati. 
Hidup adalah masalah pilihan. 
Mengenai bagaimana Anda menjalani hidup. 
Mengenai bagaimana Anda menghabiskan seluruh waktu. 
Mengenai bagaimana Anda mencapai impian. 
Dan mengenai bagaimana Anda memandang kehidupan. 
Ada orang yang menganggap kehidupan sebagai angin yang berhembus. Banyak
yang datang dan yang pergi. 
Tak dapat ditebak, dan tak dapat diselami. 
Ada pula yang menganggap kehidupan sebagai medan peperangan. Di mana ia
harus berjuang tanpa henti. 
Tanpa kedamaian di hati. 

Sementara yang lain menganggap kehidupan sebagai kutuk dari Yang Mahakuasa. 
Hidup tak lagi berarti bagi dirinya. 
Ratap tak pernah jauh dari mulutnya. 
Air mata mengalir siang dan malam, sebab hanyalah duka nestapa yang ada. 
Namun... 
Orang yang berbahagia menganggap kehidupan sebagai suatu emas yang mulia. 
Harta nan sangat berharga. 
Anugrah Ilahi yang tak tertandingi. 
Dijalaninya hidup, dengan asa dan impian. 
Berjalan dalam jalan Sang Pencipta. 
Berserah sepenuhnya. 
Melangkah setapak demi setapak. 
Sampai didapatinya mahkota kemuliaanNya. 
Hidup adalah masalah pilihan. 
Yang manakah yang Anda pilih ? 
Tanyalah pada diri sendiri. 
Dan jalanilah hidup Anda..... 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke