On 7/13/07, suhana hana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamu'alaykum wr.wb.
ada amanat nich..
pak dino bisa langsung mengirimkan komentarnya melalui
[email protected] <syiar-islam%40yahoogroups.com>, tanpa melalui
moderator..

salam
hana

Suhardiono Dino <[EMAIL PROTECTED] <suhardiono%40dawamiba.com>> wrote:

untuk merenungkan suatu cerita yang menggugah hati dan dapat menambah
keimanan kita, mohon disertakan dengan Hadist dan kedudukannya. Apalagi
menyangkut nama Nabi Muhammad SAW.

Salam,
Dino

******
semoga Allah membalas saudara/i Dino & Hana atas nasehatnya. Saya juga
sebetulnya ingin menyampaikan hal yang sama.

Ceritanya agak-agak aneh, dan baru pertama kali saya dengar... apakah thawaf
itu diajarkan tuk membaca Yaa Kariim dengan keras? Lalu koq Nabi yang
mengikuti cara thawafnya badui tersebut, dan bukan sebaliknya?

Jadi, kalau bisa dicantumkan sumber nukilannya + status ceritanya.

....


Sambil menunggu penjelasan sumber nukilannya, berikut saya copy-kan sebuah
artikel tentang "berdusta" atas nama Nabi. Mumpung berkaitan dengan topik
hadits ini.
Semoga bermanfaat.

*tambahan link ::

 [image: icon]
hadits_dhaif_bukan_dalil.zip<http://indoupload.net/files/2489/Shared/masalah_umum/hadits_dhaif_bukan_dalil.zip>
77 KB 04-05-2007  [image: icon]
hadits_dhaif_populer.zip<http://indoupload.net/files/2489/Shared/masalah_umum/hadits_dhaif_populer.zip>
30 KB 04-05-2007
-- 
Abu Fudhail Muhammad Haryo
http://islam-download.net : Islamic Download Center Indonesia
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Jika email ini masuk folder spam/ bulk/ junk, harap tandai sebagai NOT spam/
bulk/ junk
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~

http://www.almanhaj.or.id/content/1315/slash/0

Selasa, 25 Januari 2005 11:10:00 WIB

BOLEHKAH HADITS DHA'IF DIAMALKAN DAN DIPAKAI UNTUK FADHAA-ILUL A'MAAL
[KEUTAMAAN AMAL] ?


Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Bagian Pertama dari Tiga Tulisan 1/3



Para ulama Ahli Hadits berusaha mengumpulkan dan membukukan hadits-hadits
lemah dan palsu dengan tujuan agar kaum Muslimin berhati-hati dalam
membawakan hadits yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
dan agar tidak menyebarluaskan hadits-hadits itu hingga orang menyangkanya
sebagai sesuatu yang shahih padahal tidak, bahkan ada maudhu' (palsu).
Kendatipun sudah sering dimuat dan dijelaskan tentang kelemahan dan
kepalsuan hadits-hadits itu, akan tetapi masih saja kita lihat dan kita
dengar para da'i, muballigh, ustadz, ulama, kyai membawakan dan menyampaikan
hadits-hadits tersebut, bahkan banyak pula yang ditulis dalam kitab atau
majalah, hingga kebanyakan kaum Mus-limin menyangkanya sebagai sabda-sabda
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang benar dan shahih.

Oleh karena itu, saya awali tulisan ini dengan ancaman Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap orang-orang yang berdusta atas nama
beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian diikuti dengan
pendapat-pendapat para ulama tentang penggunaan hadits-hadits dha'if.

ANCAMAN BERDUSTA ATAS NAMA RASULULLAH SHALALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

[1] "Artinya : Barangsiapa berdusta atas (nama)ku dengan sengaja, maka
hendaklah ia mengambil tempat duduknya dari Neraka."

Hadits ini berderajat MUTAWATIR, karena menurut penyelidikan hadits ini
diriwayatkan lebih dari 60 (enam puluh) orang Shahabat ridhwanullahi
'alaihim jami'an, di antaranya adalah:
1. Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
2. Anas radhiyallahu 'anhu.
3. Zubair radhiyallahu 'anhu.
4. 'Ali radhiyallahu 'anhu.
5. Jabir radhiyallahu 'anhuma.
6. Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu.
7. Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu dan lainnya.

Dan hadits di atas pun telah dicatat oleh lebih dari 20 (dua puluh) Ahli
Hadits, di antaranya: Imam Ahmad, al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud,
at-Tirmidzi, Ibnu Majah, ad-Darimy, dan lainnya.

Di antara hadits-hadits tersebut adalah:

[2]. Dari 'Ali, ia berkata: "Telah bersabda Rasulullah j, 'Janganlah kamu
berdusta atas (nama)ku, karena se-sungguhnya barangsiapa yang berdusta atas
namaku, maka pasti ia masuk Neraka.'" [HSR. Ahmad (I/83), al-Bukhari (no.
106), Muslim (I/9) dan at-Tirmidzi (no. 2660)]

[3]. Dari Mughirah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Telah bersabda
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: Se-sungguhnya berdusta atas
(nama)ku tidaklah sama seperti berdusta atas nama orang lain. Barangsiapa
berdusta atas (nama)ku dengan sengaja, maka hendak-lah ia mengambil tempat
duduknya dari Neraka." [ HSR. Al-Bukhari (no. 1291) dan Muslim (I/10),
diri-wayatkan pula semakna dengan hadits ini oleh Abu Ya'la (I/414 no. 962),
cet. Darul Kutub al-'Ilmiyyah dari Sa'id bin Zaid.)]

Maksud berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam itu
ialah: "Membuat-buat omongan atau cerita dengan sengaja yang disandarkan
atas Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu ia mengatakan: 'Bahwa
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda atau mengerjakan
begini dan tidak mengerjakan hal yang demikian.'"

Orang yang berdusta dengan sengaja atas nama Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam akan masuk api Neraka.

Oleh karena itu, wajib atas kaum Muslimin untuk ber-hati-hati jangan sampai
terjatuh dalam dusta atas nama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Para ulama telah sepakat tentang haramnya memba-wakan hadits-hadits maudhu'
(palsu), yakni hadits yang dibuat orang atas nama Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam, dengan sengaja maupun tidak sengaja. Bolehnya mem-bawakan hadits
maudhu' itu hanya ketika menerangkan kepalsuannya kepada ummat, agar ummat
selamat dari berdusta atas nama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

HADITS DHAIF (LEMAH)
Hadits dha'if itu ada dua macam:

a. Hadits yang sangat dha'if.
b. Hadits yang tidak terlalu dha'if.

Tidak ada perselisihan di antara para ulama dalam menolak hadits yang
terlalu dha'if. Hanya ada perselisihan di antara ulama tentang
membawakan/memakai hadits yang tidak terlalu dha'if untuk:

1. Fadhaa-ilul A'maal (keutamaan amal), maksudnya hadits-hadits yang
menerangkan tentang keutamaan- keuta-maan amal.
2. At-Targhiib (memotivasi), yakni hadits-hadits yang berisi pemberian
semangat untuk mengerjakan suatu amal dengan janji pahala dan Surga.
3. At-Tarhiib (menakuti), yakni hadits-hadits yang berisi ancaman Neraka dan
hal-hal yang mengerikan bagi orang yang mengerjakan suatu perbuatan.
4. Kisah-kisah tentang para Nabi 'alaihimush Shalatu wa sallam dan
orang-orang shalih.
5. Do'a dan dzikir, yaitu hadits-hadits yang berisi lafazh-lafazh do'a dan
dzikir.

ANCAMAN BAGI ORANG YANG MEMBAWAKAN HADITS DHAIF

Para ulama yang masih membawakan hadits-hadits dha'if dan menyandarkannya
kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tergolong sebagai pendusta,
kecuali apabila mereka tidak tahu.

Tentang masalah ini, Syaikh Abu Syammah berkata: "Perbuatan ulama yang
membawakan hadits-hadits dha'if adalah suatu kesalahan yang nyata bagi
orang-orang yang mengerti hadits, ulama'-ulama' ushul dan pakar-pakar fiqih,
bahkan wajib atas mereka untuk menerangkannya jika ia mampu. Jika ulama'
tidak mampu menerangkan-nya, maka ia termasuk orang-orang yang diancam oleh
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan sabdanya:

[4]. Dari Samurah, ia berkata: "Telah bersabda Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam: 'Barangsiapa yang menyam-paikan hadits dariku, dia tahu
bahwa itu dusta, maka dia termasuk salah seorang pendusta.'" [HR. Muslim
(I/9).]

Syaikh Abu Syammah berpendapat bahwa tidak boleh menyebutkan suatu hadits
dha'if melainkan ia wajib me-nerangkan kelemahannya. [Lihat al-Baits 'ala
Inkari Bida' wal Hawadits (hal. 54) dan Tamaamul Minnah fiit Ta'liq 'ala
Fiqhis Sunnah hal. 32-33.]

Penjelasan:
Menurut hadits di atas seorang dianggap dusta apa-bila ia membawakan
hadits-hadits yang diketahuinya dusta (tidak benar).

Ada dua golongan ulama yang terkena ancaman hadits Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam di atas, yaitu: Ulama yang tahu ke-dha'if-an hadits dan
yang tidak tahu. Dalam masalah ini ada dua hukum:

Pertama : jika ulama, ustadz atau kyai tersebut tahu tentang lemahnya
hadits-hadits yang dibawakan itu, te-tapi ia tidak menerangkan kelemahannya,
maka ia ter-masuk pendusta (curang) terhadap kaum Muslimin dan termasuk yang
diancam oleh hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas.

Imam Ibnu Hibban berkata: "Di dalam kabar ini (hadits Samurah di atas), ada
dalil yang menunjukkan bahwa seseorang yang menyampaikan hadits atau
meriwayat-kannya yang tidak sah dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
yaitu menyampaikan atau meriwayatkan hadits yang lemah atau yang
diada-adakan oleh manusia sedang dia tahu bahwa itu dusta, maka dia termasuk
pendusta, hal ini lebih keras lagi apabila ulama (ustadz, kyai-pent)
tersebut yakin bahwa itu dusta tapi masih disampaikan juga. Hadits ini juga
terkena kepada orang yang masih meragukan ke-shahih-an atau kelemahan
apa-apa yang ia sampaikan atau riwayatkan." [Lihat adh-Dhua'faa oleh Ibnu
Hibban (I/7-8).]

Imam Ibnu Abdil Hadi menukil perkataan Ibnu Hibban ini dalam kitab
ash-Sharimul Mankiy (hal. 165-166) dan beliau menyetujuinya.

Kedua : jika si ulama, ustadz atau kyai tidak mengetahui kelemahan hadits
(riwayat), tetapi dia masih menyampai-kan (meriwayatkan) juga, maka dia
termasuk orang-orang yang berdosa, karena dia telah berani menisbatkan
(me-nyandarkan) hadits atau riwayat kepada Nabi j tanpa ia mengetahui sumber
hadits (riwayat) itu.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
[5]. Dari Abu Hurairah, ia berkata: "Telah bersabda Ra-sulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, 'Cukuplah seo-rang dikatakan berdusta apabila ia
menyampaikan tiap-tiap apa yang ia dengar.'" [HSR. Muslim (I/10).]

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:

"Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mem-punyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
semuanya itu akan diminta pertanggung-an jawabnya." [Al-Israa': 36]

Imam Ibnu Hibban berkata dalam kitab adh- Dhu'afa' (I/9): "Di dalam hadits
ini (no. 5) ada ancaman bagi se-seorang yang menyampaikan setiap apa yang
dia dengar sehingga ia tahu dengan seyakin-yakinnya bahwa hadits atau
riwayat itu shahih." [Lihat Tamaamul Minnah fii Ta'liq 'alaa Fiqhis Sunnah
hal. 33.]

Imam an-Nawawi pernah berkata: "Bahwa tidak halal berhujjah bagi orang yang
mengerti hadits hingga ia tidak tahu, dia harus bertanya kepada orang yang
ahli." [Lihat Qawaaidut Tahdits min Fununi Musthalahil Hadits hal. 115 oleh
Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, tahqiq dan ta'liq Muhammad Bahjah
al-Baithar]

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas,
Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke