Menggapai Ketenangan Jiwa Yang Islami 
10/01/2001 - Arsip Hikmah 
Dalam perkembangan hidupnya, manusia seringkali berhadapan dengan berbagai 
masalah yang mengatasinya berat. Akibatnya timbul kecemasan, ketakutan dan 
ketidaktenangan, bahkan tidak sedikit manusia yang akhirnya kalap sehingga 
melakukan tindakan-tindakan yang semula dianggap tidak mungkin dilakukannya, 
baik melakukan kejahatan terhadap orang lain seperti banyak terjadi kasus 
pembunuhan termasuk pembunuhan terhadap anggota keluarga sendiri maupun 
melakukan kejahatan terhadap diri sendiri seperti meminum minuman keras dan 
obat-obat terlarang hingga tindakan bunuh diri.


Oleh karena itu, ketenangan dan kedamaian jiwa sangat diperlukan dalam hidup 
ini yang terasa kian berat dihadapinya. Itu sebabnya, setiap orang ingin 
memiliki ketenangan jiwa. Dengan jiwa yang tenang kehidupan ini dapat dijalani 
secara teratur dan benar sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. 
Untuk bisa menggapai ketenangan jiwa, banyak orang yang mencapainya dengan 
cara-cara yang tidak Islami, sehingga bukan ketengan jiwa yang didapat tapi 
malah membawa kesemrautan dalam jiwanya itu. Untuk itu, secara tersurat, 
Al-Qur'an menyebutkan beberapa kiat praktis.

1. Dzikrullah.

Dzikir kepada Allah Swt merupakan kiat untuk menggapai ketenangan jiwa, yakni 
dzikir dalam arti selalu ingat kepada Allah dengan menghadirkan nama-Nya di 
dalam hati dan menyebut nama-Nya dalam berbagai kesempatan. Bila seseorang 
menyebut nama Allah, memang ketenangan jiwa akan diperolehnya. Ketika berada 
dalam ketakutan lalu berdzikir dalam bentuk menyebut ta'awudz (mohon 
perlindungan Allah), dia menjadi tenang. Ketika berbuat dosa lalu berdzikir 
dalam bentuk menyebut kalimat istighfar atau taubat, dia menjadi tenang kembali 
karena merasa telah diampuni dosa-dosanya itu. Ketika mendapatkan kenikmatan 
yang berlimpah lalu dia berdzikir dengan menyebut hamdalah, maka dia akan 
meraih ketenangan karena dapat memanfaatkannya dengan baik dan begitulah 
seterusnya sehingga dengan dzikir, ketenangan jiwa akan diperoleh seorang 
muslim, Allah berfirman yang artinya: "(yaitu) orang-orang yang beriman dan 
hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan 
mengingat Allahlah hati menjadi tentram ."(13:28).
Untuk mencapai ketenangan jiwa, dzikir tidak hanya dilakukan dalam bentuk 
menyebut nama Allah, tapi juga dzikir dengan hati dan perbuatan. Karena itu, 
seorang mu'min selalu berdzikir kepada Allah dalam berbagai kesempatan, baik 
duduk, berdiri maupun berbaring. 

2. Yakin Akan Pertolongan Allah.

Dalam hidup dan perjuangan, seringkali banyak kendala, tantangan dan hambatan 
yang harus dihadapi, adanya hal-hal itu seringkali membuat manusia menjadi 
tidak tenang yang membawa pada perasaan takut yang selalu menghantuinya. 
Ketidaktenangan seperti ini seringkali membuat orang yang menjalani kehidupan 
menjadi berputus asa dan bagi yang berjuang menjadi takluk bahkan berkhianat.
Oleh karena itu, agar hati tetap tenang dalam perjuangan menegakkan agama Allah 
dan dalam menjalani kehidupan yang sesulit apapun, seorang muslim harus yakin 
dengan adanya pertolongan Allah dan dia juga harus yakin bahwa pertolongan 
Allah itu tidak hanya diberikan kepada orang-orang yang terdahulu, tapi juga 
untuk orang sekarang dan pada masa mendatang, Allah berfirman yang artinya: 
"Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar 
gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tentram hatimu karenanya. Dan kemenangan 
itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (3:126, lihat 
juga QS 8:10).
Dengan memperhatikan betapa banyak bentuk pertolongan yang diberikan Allah 
kepada para Nabi dan generasi sahabat dimasa Rasulullah Saw, maka sekarangpun 
kita harus yakin akan kemungkinan memperoleh pertolongan Allah itu dan ini 
membuat kita menjadi tenang dalam hidup ini. Namun harus kita ingat bahwa 
pertolongan Allah itu seringkali baru datang apabila seorang muslim telah 
mencapai kesulitan yang sangat atau dipuncak kesulitan sehingga kalau 
diumpamakan seperti jalan, maka jalan itu sudah buntu dan mentok. Dengan 
keyakinan seperti ini, seorang muslim tidak akan pernah cemas dalam menghadapi 
kesulitan karena memang pada hakikatnya pertolongan Allah itu dekat, Allah 
berfirman yang artinya: "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, 
padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu 
sebelum kamu?. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta 
digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah rasul dan 
orang-orang yang beriman: "bilakah datangnya pertolongan Allah?". Ingatlah, 
sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS 2:214).

3. Memperhatikan Bukti Kekuasaan Allah.

Kecemasan dan ketidaktenangan jiwa adalah karena manusia seringkali terlalu 
merasa yakin dengan kemampuan dirinya, akibatnya kalau ternyata dia merasakan 
kelemahan pada dirinya, dia menjadi takut dan tidak tenang, tapi kalau dia 
selalu memperhatikan bukti-bukti kekuasaan Allah dia akan menjadi yakin 
sehingga membuat hatinya menjadi tentram, hal ini karena dia sadari akan 
besarnya kekuasaan Allah yang tidak perlu dicemasi, tapi malah untuk dikagumi. 
Allah berfirman yang artinya: "Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: "Ya 
Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati". Allah 
berfirman: "Belum yakinkah kamu?". Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakininya, 
akan tetapi agar hatiku tenang (tetap mantap dengan imanku)". Allah berfirman: 
("kalau begitu) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah, kemudian letakkan 
di atas tiap-tiap satu bukit satu satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian 
panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan 
ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS 2:260).

4. Bersyukur.

Allah Swt memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang amat banyak. 
Kenikmatan itu harus kita syukuri karena dengan bersyukur kepada Allah akan 
membuat hati menjadi tenang, hal ini karena dengan bersyukur, kenikmatan itu 
akan bertambah banyak, baik banyak dari segi jumlah ataupun minimal terasa 
banyaknya. Tapi kalau tidak bersyukur, kenikmatan yang Allah berikan itu kita 
anggap sebagai sesuatu yang tidak ada artinya dan meskipun jumlahnya banyak 
kita merasakan sebagai sesuatu yang sedikit.

Apabila manusia tidak bersyukur, maka Allah memberikan azab yang membuat mereka 
menjadi tidak tenang, Allah berfirman yang artinya: "Dan Allah telah membuat 
suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, 
rizkinya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari 
nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan 
dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat."(QS 16:112).

5. Tilawah, Tasmi' dan tadabbur Al-Qur'an.

Al-Qur'an adalah kitab yang berisi sebaik-baik perkataan, diturunkan pada bulan 
suci Ramadhan yang penuh dengan keberkahan, karenanya orang yang membaca 
(tilawah), mendengar bacaan (tasmi') dan mengkaji (tadabbur) ayat-ayat suci 
Al-Qur'an niscaya menjadi tenang hatinya, manakala dia betul-betul beriman 
kepada Allah Swt, Allah berfirman yang artinya: "Allah telah menurunkan 
perkataan yang baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi 
berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhanya, 
kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah 
petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan 
barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk 
baginya." (QS 39:23). 
Oleh karena itu, sebagai mu'min, interaksi kita dengan al-Qur'an haruslah 
sebaik mungkin, baik dalam bentuk membaca, mendengar bacaan, mengkaji dan 
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Manakala interaksi kita terhadap 
Al-Qur'an sudah baik, maka mendengar bacaan Al-Qur'an saja sudah membuat 
keimanan kita bertambah kuat yang berarti lebih dari sekedar ketenangan jiwa, 
Allah berfirman yang artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah 
mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila 
dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan 
kepada Tuhanlah mereka bertawakkal."(QS 8:2).

Dengan berbekal jiwa yang tenang itulah, seorang muslim akan mampu menjalani 
kehidupannya secara baik, sebab baik dan tidak sesuatu seringkali berpangkal 
dari persoalan mental atau jiwa. Karena itu, Allah Swt memanggil orang yang 
jiwanya tenang untuk masuk ke dalam syurga-Nya, Allah berfirman yang artinya: 
"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi 
diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke 
dalam syurga-Ku."(QS 89:27-30).

Akhirnya, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memantapkan ketenangan 
dalam jiwa kita masing-masing sehingga kehidupan ini dapat kita jalani dengan 
sebaik-baiknya. (Drs. H. Ahmad Yani)


Best Regards,
 
IIP SYAIFUL RAHMAN, Accounting.Dept.
PT. Sepatu Bata Tbk. | Jl. TMP Kalibata 1 | Jakarta 12750 | Indonesia | 
Phone +6221 7992008  | Fax +6221 7995679 | [EMAIL PROTECTED] | www.bata.co.id 
http://www.friendster.com/mikorandy

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke