---------- Forwarded message ----------

From: Novel Muhammad Alaydrus

Date: Mar 21, 2007 12:05 AM

Subject: [Zawiya] Keindahan Budi Nabi saw (2)



Mengenal Akhlak





Menyelami akhlak Rasul, ibarat kita menyelami samudera yang terhampar luas

seakan tak bertepi, indah mengagumkan dan menyimpan bulir-bulir mutiara yang

amat berharga. Semakin kita mendalami, semakin kita dibuat terpesona oleh

keanekaragaman kekayaan laut yang tak terkira. Begitu pula akhlak Nabi

shallallâhu 'alaihi wa sallam, semakin kita mengkaji lebih dalam, semakin

kita terbuai oleh kemuliaan yang senantiasa memancar dari sukmanya. Betapa

hati terasa sejuk nikmat dan damai, jika beliau hadir di tengah kita. Pantas

kiranya jika Allâh SWT memuji dalam wahyu-Nya yang berbunyi:



æóÅöäøóßó áóÚóáì ÎõáõÞò ÚóÙöíúãò



"Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki budi pekerti yang teramat

agung." (Al-Qalam, 4:68)



Manusia tidak bisa menghindar dari berhubungan dengan yang lain karena

manusia adalah makhluk sosial. Tanpa berhubungan dengan manusia yang lain,

manusia tidak "menjadi" manusia. Dalam pergaulan hidupnya dengan sesama

manusia adakalanya saling membantu, adakalanya bersaing secara sehat dan tak

jarang menindas yang lain untuk kepentingan dirinya. Hidup saling menindas

pastilah tidak indah. Demikian juga persaingan secara tidak sehat juga

tidak menimbulkan keindahan. Keindahan dalam hidup adalah manakala manusia

berpegang teguh kepada nilai luhur dalam hidupnya. Manusia boleh

bekerjasama, boleh bersaing, dan sesekali boleh berperang membela

hak-haknya, akan tetapi harus dilandasi dengan nilai-nilai akhlak. Andaikata

manusia berpegang dengan nilai-nilai akhlak, maka peperangan sekalipun akan

melahirkan pelajaran dan hikmah yang tak ternilai harganya.



Sudah menjadi fitrah, sifat dasar manusia untuk menyukai seseorang yang

berbudi pekerti mulia dan membenci seseorang yang tidak berbudi. Lalu, pada

hakikatnya, apakah akhlak (budi pekerti) itu? Akhlak menurut bahasa berarti

tabiat, watak, harga diri dan agama. Ia merupakan gambaran batin seseorang,

yang meliputi jiwa, sifat-sifat jiwa dan makna-makna khusus dari jiwa

tersebut. Jika akhlak atau moral erat kaitannya dengan batin, maka

perwujudan lahirnya adalah prilaku. Akhlak yang baik akan mencerminkan

prilaku yang baik pula dan sebaliknya akhlak yang buruk akan mencerminkan

prilaku yang buruk. Jadi, baik atau buruknya prilaku kehidupan manusia

sangat tergantung pada hati yang ada di balik dadanya. Dalam bukunya,

Ma'ârijul Hidâyah, Habib 'Alî bin Abû Bakar As-Sakrân telah menjelaskan

definisi akhlak secara ringkas dan indah. Beliau ra menjelaskan:



Akhlak yang mulia (husnul hulq) adalah sifat yang mencakup semua jenis

kebaikan, ketaatan dan amal. Pada hakikatnya akhlak adalah sebuah sifat

dalam nafs yang mendorong seseorang untuk melakukan berbagai perbuatan

dengan mudah tanpa berpikir sebelumnya.



Akhlak dibagi dua, mulia dan tercela. Secara global yang dimaksud dengan

akhlak mulia adalah hubungan dan persahabatan yang baik dengan Sang Pencipta

(Allâh) dan ciptaan-Nya.



Berakhlak mulia kepada makhluk adalah dengan mengetahui bahwa mereka adalah

rahasia takdir. Semua perilaku, bentuk fisik, rezeki dan ajal mereka telah

ditentukan. Kemudian kita berbuat baik kepada mereka sesuai

kemampuan. Sehingga mereka merasa aman dari gangguan kita dan mencintai

kita sesuai pilihan mereka.



Berakhlak mulia kepada Sang Pencipta adalah dengan menyibukkan diri

melaksanakan semua yang wajib dan sunah, serta mengamalkan semua

keutamaan. Semua itu dilakukan dengan kesadaran bahwa dia harus meminta

maaf kepada Allâh atas semua kekurangannya dalam beribadah dan bersyukur

kepada-Nya atas kebenaran yang dia lakukan secara sempurna. Dia berakhlak

dengan akhlak-akhlak Allâh Ta'âlâ, selalu berpaling dari selain-Nya,

senantiasa menghadap kepada-Nya dan tak pernah berhenti

mengingat-Nya. Sehingga hatinya berhiaskan cahaya dzikir asrôrudz Dzât dan

berubah menjadi lautan yang bergejolak karena hembusan angin kedekatan

dengan-Nya. Sifat-sifat yang mulia pun akan menelusuri semua lorong

jiwanya. Pada saat itulah dia telah benar-benar berakhlak mulia.



Dasar dan langkah awal untuk mencapai tingkat seperti ini manusia harus

berusaha memperluas hatinya sehingga berbagai akhlak mulia ini menjadi watak

dan sifatnya. Yang dimaksud dengan memperluas hati adalah usaha untuk

meninggalkan semua keinginan dan kerakusan nafs, serta mendidik nafs untuk

mampu melakukan hal-hal yang tidak disukainya dengan mengamalkan tharîqah

dan syariat. Setelah nafs terbiasa dengan berbagai kebaikan tersebut, maka

pada dirinya akan muncul berbagai akhlak mulia dan bersinar cahaya asma

Allâh. Sepanjang hidupnya pun dia merasa cukup dengan Allâh, berakhlak

mulia secara sempurna. Dirinya menjadi gudang permata dan kain yang

indah.[1]



--------------------------------------------------------------------------------



[1] Habib 'Alî bin Abû Bakar As-Sakrân, Ma'ârijul Hidâyah, Al-Mathba'ah

Al-Mishriyyah bil Azhar, t.c., t.t., hal. 18-19.



      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke