Salamun'alaik..

Salam serta selawat ke atas Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam, ahli 
keluarga baginda serta salam kepada para sahabat yang berjuang menegakkan Islam 
di muka bumi ini. 
 
 
Aku berlindung dengan Allah dari syaitan yang direjam
Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.
 
[67.1] Maha Berkat (serta Maha Tinggilah kelebihan) Tuhan yang menguasai 
pemerintahan (dunia dan akhirat); dan memanglah Ia Maha Kuasa atas tiap-tiap 
sesuatu; 

[67.2] Dia lah yang telah mentakdirkan adanya mati dan hidup (kamu) - untuk 
menguji dan menzahirkan keadaan kamu: siapakah di antara kamu yang lebih baik 
amalnya; dan Ia Maha Kuasa (membalas amal kamu), lagi Maha Pengampun, (bagi 
orang-orang yang bertaubat); 

[67.3] Dia lah yang telah mengaturkan kejadian tujuh petala langit yang 
berlapis-lapis; engkau tidak dapat melihat pada ciptaan Allah Yang Maha Pemurah 
itu sebarang keadaan yang tidak seimbang dan tidak munasabah; (jika engkau 
ragu-ragu) maka ulangilah pandangan - (mu) - dapatkah engkau melihat sebarang 
kecacatan? 

[67.4] Kemudian ulangilah pandangan (mu) berkali-kali, nescaya pandanganmu itu 
akan berbalik kepadamu dengan hampa (daripada melihat sebarang kecacatan), 
sedang ia pula berkeadaan lemah lesu (kerana habis tenaga dengan sia-sia). 

[67.5] Dan demi sesungguhnya! Kami telah menghiasi langit yang dekat (pada 
penglihatan penduduk bumi) dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan 
bintang-bintang itu punca rejaman terhadap syaitan-syaitan; dan Kami sediakan 
bagi mereka azab neraka yang menjulang-julang. 

[67.6] Dan bagi orang-orang yang kufur ingkar terhadap Tuhan mereka, disediakan 
azab neraka Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. 

[67.7] Apabila mereka dicampakkan ke dalamnya, mereka mendengar suara 
jeritannya meraung-raung, sedang ia menggelegak. 

[67.8] Hampir-hampir ia pecah berkecai-kecai kerana kuat marahnya. Tiap-tiap 
kali dicampakkan ke dalamnya sekumpulan besar (dari orang kafir), bertanyalah 
penjaga-penjaga neraka itu kepada mereka: "Tidakkah kamu pernah didatangi 
seorang Rasul pemberi ingatan dan amaran (di dunia dahulu)?" 

[67.9] Mereka menjawab: "Ada! Sebenarnya telah datang kepada kami seorang Rasul 
pemberi ingatan dan amaran, lalu kami dustakan serta kami katakan (kepadanya): 
Allah tidak menurunkan sesuatupun, kamu (wahai orang yang mendakwa menjadi 
Rasul) hanyalah berada dalam kesesatan yang besar! " 

[67.10] Dan mereka berkata: "Kalaulah kami dahulu mendengar dan memahami 
(sebagai orang yang mencari kebenaran), tentulah kami tidak termasuk dalam 
kalangan ahli neraka". 

[67.11] Akhirnya mereka mengakui dosa-dosa mereka (sebagai orang-orang yang 
kufur ingkar), maka tetaplah jauhnya rahmat Allah dari ahli neraka. 

[67.12] Sesungguhnya orang-orang yang takut (melanggar hukum) Tuhannya semasa 
mereka tidak dilihat orang dan semasa mereka tidak melihat azab Tuhan, mereka 
beroleh keampunan dan pahala yang besar. 

[67.13] Dan tuturkanlah perkataan kamu dengan perlahan atau dengan nyaring, 
(sama sahaja keadaannya kepada Allah), kerana sesungguhnya Allah Maha 
Mengetahui akan segala (isi hati) yang terkandung di dalam dada.
 
[67.14] Tidakkah Allah yang menciptakan sekalian makhluk itu mengetahui 
(segala-galanya) ? Sedang Ia Maha Halus urusan PentadbiranNya, lagi Maha 
Mendalam PengetahuanNya! 
 
SodaqAllahul'adzim

Untuk bacaan dan komentar para jemaah sekalian

 
JERITAN SEORANG PERAWAN TUA

 
Fenomena bertambahnya jumlah wanita yang terlambat menikah (perawan tua) 
menjadi satu perkara yang menakutkan saat ini, mengancam kebanyakan 
pemudi-pemudi di masyarakat kita yang Islami, bahkan di seluruh dunia. Berikut 
ini marilah kita mendengarkan salah satu jeritan mereka : 
 
Majalah Al-Usrah edisi 80 Dzulqa'dah 1420 H menuliskan jeritan seorang perawan 
tua dari Madinah Munawarah,"Semula saya sangat bimbang sebelum menulis untuk 
kalian karena ketakutan terhadap kaum wanita karena saya tahu bahwasanya mereka 
akan mengatakan bahwa aku ini sudah gila, atau kesurupan. Akan tetapi, realita 
yang aku alami dan dialami pula oleh sejumlah besar perawan-perawan tua, yang 
tidak seorang pun mengetahuinya, membuatku memberanikan diri. Saya akan 
menuliskan kisahku ini dengan ringkas. 
 
Ketika umurku mulai mendekati 20 tahun, saya seperti gadis lainnya memimpikan 
seorang pemuda yang multazim dan berakhlak mulia. Dahulu saya membangun 
pemikiran serta harapan-harapan; bagaimana kami hidup nanti dan bagaimana kami 
mendidik anak-anak kami... dan.. dan... 
 
Saya adalah salah seorang yang sangat memerangi ta'adud (poligami). Hanya 
semata mendengar orang berkata kepadaku, "Fulan menikah lagi yang kedua", tanpa 
sadar saya mendoakan agar ia celaka. Saya berkata, "Kalau saya adalah istrinya 
-yang pertama- pastilah saya akan mencampakkannya, sebagaimana ia telah 
mencampakkanku' . 

Saya sering berdiskusi dengan saudaraku dan terkadang dengan pamanku mengenai 
masalah ta'addud. Mereka berusaha agar saya mau menerima ta'addud, sementara 
saya tetap keras kepala tidak mau menerima syari'at ta'addud. Saya katakan 
kepada mereka, 'Mustahil wanita lain akan bersama denganku mendampingi 
suamiku". 

Terkadang saya menjadi penyebab munculnya problema-problema antara suami-istri 
karena ia ingin memadu istri pertamanya; saya menghasutnya 
sehingga ia melawan kepada suaminya. 
 
Begitulah, hari terus berlalu sedangkan aku masih menanti pemuda impianku. Saya 
menanti... akan tetapi ia belum juga datang dan saya 
masih terus menanti. Hampir 30 tahun umurku dalam penantian. Telah lewat 30 
tahun... oh Illahi, apa yang harus kuperbuat? Apakah saya harus 
keluar untuk mencari pengantin laki-laki? Saya tidak sanggup, orang-orang akan 
berkata wanita ini tidak punya malu. Jadi, apa yang 
akan saya kerjakan? Tidak ada yang bisa saya perbuat, selain dari  menunggu. 
 
Pada suatu hari ketika saya sedang duduk-duduk, saya mendengar salah seorang 
dari wanita berkata, 'Fulanah jadi perawan tua". Aku berkata 
kepada diriku sendiri, "Kasihan Fulanah jadi perawan tua", akan tetapi... 
fulanah yang dimaksud itu ternyata aku. Ya Illahi! 
Sesungguhnya itu adalah namaku... saya telah menjadi perawan tua. 

Bagaimanapun saya melukiskannya kepada kalian, kalian tidak akan bisa 
merasakannya. Saya dihadapkan pada sebuah kenyataan sebagai perawan tua. Saya 
mulai mengulang kembali perhitungan- perhitunganku, apa yang saya kerjakan? 
 
Waktu terus berlalu, hari silih berganti, dan saya ingin menjerit. Saya ingin 
seorang suami, seorang laki-laki tempat saya bernaung di bawah 
naungannya, membantuku menyelesaikan problema-problemaku ... Saudaraku yang 
laki-laki memang tidak melalaikanku sedikit pun, tetapi dia bukan seperti 
seorang suami. Saya ingin hidup; ingin melahirkan, dan menikmati kehidupan. 
Akan tetapi, saya tidak sanggup mengucapkan perkataan ini kepada kaum laki-laki.

Mereka akan mengatakan, "Wanita ini tidak malu". Tidak ada yang bisa saya 
lakukan selain daripada diam. Saya tertawa... akan tetapi bukan dari hatiku. 
Apakah kalian ingin saya tertawa, sedangkan tanganku menggenggam bara api? Saya 
tidak sanggup... 
 
Suatu hari, saudaraku yang paling besar mendatangiku dan berkata, "Hari ini 
telah datang calon pengantin, tapi saya menolaknya.. ." Tanpa terasa 
saya berkata, "Kenapa kamu lakukan? Itu tidak boleh!" Ia berkata kepadaku, 
"Dikarenakan ia menginginkanmu sebagai istri kedua, dan saya 
tahu kalau kamu sangat memerangi ta'addud (poligami)". Hampir saja saya 
berteriak di hadapannya, "Kenapa kamu tidak menyetujuinya? " Saya rela menjadi 
istri kedua, atau ketiga, atau keempat... Kedua tanganku di dalam api. Saya 
setuju, ya saya yang dulu memerangi ta'addud, sekarang 
menerimanya. Saudaraku berkata, "Sudah terlambat" 
 
Sekarang saya mengetahui hikmah dalam ta'addud. Satu hikmah ini telah membuatku 
menerima, bagaimana dengan hikmah-hikmah yang lain? Ya ALLAH, ampunilah dosaku. 
Sesungguhnya saya dahulu tidak mengetahui. Kata-kata ini saya tujukan untuk 
kaum laki-laki, "Berta'addud- lah, nikahilah satu, dua, tiga, atau empat dengan 
syarat mampu dan adil. Saya ingatkan kalian dengan firman-Nya, "... Maka 
nikahilah olehmu apa yang baik bagimu dari wanita, dua, atau tiga, atau empat, 
maka jika kalian takut tidak mampu berlaku adil, maka satu..." Selamatkanlah 
kami. Kami adalah manusia seperti kalian, merasakan juga kepedihan. Tutupilah 
kami, kasihanilah kami." 
 
Dan kata-kata berikut saya tujukan kepada saudariku muslimah yang telah 
bersuami, "Syukurilah nikmat ini karena kamu tidak merasakan panasnya api 
menjadi perawan tua. Saya harap kamu tidak marah apabila suamimu ingin menikah 
lagi dengan wanita lain. Janganlah kamu mencegahnya, akan tetapi doronglah ia. 
Saya tahu bahwa ini sangat berat atasmu. Akan tetapi, harapkanlah pahala di 
sisi ALLAH. Lihatlah keadaan suadarimu yang menjadi perawan tua, wanita yang 
dicerai, dan janda yang ditinggal mati; siapa yang akan mengayomi mereka? 
Anggaplah ia saudarimu, kamu pasti akan mendapatkan pahala yang sangat besar 
dengan kesabaranmu" 
 
Engkau mungkin mengatakan kepadaku, "Akan datang seorang bujangan yang akan 
menikahinya" . Saya katakan kepadamu, "Lihatlah sensus penduduk. Sesungguhnya 
jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki. Jika setiap laki-laki menikah 
dengan satu wanita, niscaya banyak dari wanita-wanita kita yang menjadi perawan 
tua. Jangan hanya memikirkan diri sendiri saja. Akan tetapi, pikirkan juga 
saudarimu. Anggaplah dirimu berada dalam posisinya".  
 
Engkau mungkin juga mengatakan, "Semua itu tidak penting bagiku, yang penting 
suamiku tidak menikah lagi." Saya katakan kepadamu, "Tangan yang berada di air 
tidak seperti tangan yang berada di bara api. Ini mungkin terjadi. Jika suamimu 
menikah lagi dengan wanita lain, ketahuilah 
bahwasanya dunia ini adalah fana, akhiratlah yang kekal. Janganlah kamu egois, 
dan janganlah kamu halangi saudarimu dari nikmat ini. Tidak akan 
sempurna keimanan seseorang sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia 
cintai untuk dirinya sendiri". (1) 
 
Demi ALLAH, kalau kamu merasakan api menjadi perawan tua, kemudian kamu 
menikah, kamu pasti akan berkata kepada suamimu "Menikahlah dengan saudariku 
dan jagalah ia". Ya ALLAH, sesungguhnya kami memohon kepadamu kemuliaan, 
kesucian, dan suami yang shalih" 
 
A.A.N -Madinah 
 
1. HR. Bukhari dalam kitab Iman no 13 dan Muslim no 45. 
 
(Dipetik dari buku "Istriku Menikahkanku" , As-Sayid bin Abdul Aziz As-Sa'dani, 
Darul Falah, cet. Ogos 2004)



**______________________________________________**

Demi Allah, Demi Rasul, Demi Islam Yang Tercinta..
Subhanallah Wallhamdulillah Wala Ilaha Illallah Allahu Akhbar..

**______________________________________________**


Terima Qaseh,
Wassalam..

Azri Al Aziz
[EMAIL PROTECTED]
 
Jemput serta jemaah kami di 
Ana - Mutiara Muamalah Ummah


       
____________________________________________________________________________________
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows. 
Yahoo! Answers - Check it out.
http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545469

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke