Assalaamu'alaykum warohmatulLohi wabarokaatuhu
 
dalam pandangan saya memang ummat Islam saat ini berada
di tengah syubhat yang sangat banyak sekali.. bukan sekedar
isbal, qunut, poligami, parfum/wewangian.. memang terlihat
sangat sepele.. hanya perbedaan beberapa mili bahan celana,
hanya berbeda tangan diangkat atau tidak.. tetapi ummat
Islam yang awam perlu ditingkatkan pemahaman agamanya..
tidak sekedar cukup di KTP atau sekedar sudah melaksanakan
sholat fhardu.. tetapi bagaimana mutu ibadahnya perlu ditingkat
kan.. mutu dari ibadah dapat meningkat jika pemahaman akan
dasar-dasar pengambilan dalil dalam beribadah..
 
mungkin kasus polemik poligami yang disebutkan bang
Nizami cukup menjadi studi kasus.. 
 
yakinlah kemuliaan Islam tidak akan berkurang sedikitpun
walaupun hanya seorang manusia yang mengamalkannya
dan kejayaan Islam tidak di ukur dari banyaknya penganut
sangat berbeda kalau tidak bertolak belakang dengan cara
demokrasi menentukan suatu kebenaran..
 
harus lebih sabar dan ikhlas bagi orang yang ingin terjun ke
medan dakwah ..
 

________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of faisol muhammad
Sent: Friday, August 03, 2007 8:54 AM
To: [email protected]
Subject: [syiar-islam] Fokuskan Dakwah ke Islam
 
 ---Assalaamu'alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh--- 

Beberapa mailing list terakhir banyak yang mengupload
tentang perbedaan pemaknaan atas isbal atau masalah
khilafiah yang lain. Menurut pendapat saya, silakan
saja berbeda itu tidak dosa sepanjang tetap sesuai
dasar syar'i (Qur'an, Hadits) seperti yang telah
diuraikan beberapa ustadz dan saudara kita di mailing
list ini juga. YAng penting tetap dalam ukhuwah
Islamiyah.

Namun, dalam kaitannya dengan fokus da'wah ke Islam,
bukankah rosululloh saw. pernah mengajak seseorang
yang ingin Islam hanya dengan satu syarat, yakni
jangan bohong? Atau juga ada hadits jaminan
rasululloh saw. yang artinya "Siapa saja yang di akhir
hayatnya mengakui/mengucap laa ilaaha illa Alloh 
dijamin masuk syurga".

Jadi, Islam "KTP" untuk para muallaf juga gak apa-apa.
Atau yang sudah "mumati" (maksudnye, sudah tua/mau
mati) juga masih islam KTP ya...tugas kewajiban kita
hanya mengajak/dakwah dan harus bil hikmati wal
mau'idhotil khasanah. Sebisa mungkin kita mengajak
orang-orang yang sedang islam KTP itu untuk
memperbaiki iman dan islam mereka. Terus dan teruus
kita ajak, sampai kita/Da'i/yang mengajak meninggal
dunia. Para orang yang "maqom" keislamannya masih
rendah semisal islam KTP, (astaghfirulloh, mungkin
keislaman penulis juga masih rendah) tentu HARUS tidak
kita posisikan sebagai pengurus umat Islam. Mereka
tidak layak dan tidak boleh kita jadikan
Imam/pemimpin.

Nah, kalau urusan ada orang munafik atau "orang islam"
yang terkadang ada yang menghalangi da'wah bahkan
menghalangi ditegakkannya syariah Islam, tentu juga
kewajiban struktur kepengurusan organisasi keislaman
yang harus membentengi jalan-jalan untuk melanjutkan
da'wah rasululloh saw. Wallohu a'lam, 
terkadang saya sedih --saya pernah menyaksikan dan
langsung saya ingatkan dengan baik-- ada saja
orang-orang yang mengatasnamakan perjuangan agama
Islam tapi ternyata hanya mencari keuntungan materi
dunia bagi pribadi dan golongan/kelompoknya.

Inilah sudut lain pandangan saya. wassalaamu'alaikum

faisol muhammad


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke