Totalitas Ibadah    Oleh: Imron Zabidi, MA, M.Phil

  http://groups.yahoo.com/dunia_santri
http://www.aldakwah.org/mutiara/index.php?/archives/8-Totalitas-Ibadah.html
Risalah utama yang diberikan oleh Allah kepada para Rasul untuk disampaikan 
kepada umat manusia adalah tauhid kepada Allah dan ibadah kepada-Nya. Allah SWT 
berfirman:


    "Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun kepada kamu melainkan Kami 
wahyukan kepadanya: Bahwasannya tidak ada Tuhan melainkan Aku maka sembahlah 
Aku" (QS. Al-Anbiya: 25).  

Tauhid yang diartikulasikan dalam ungkapan Tiada Tuhan selain Allah merupakan 
landasan akidah bagi ibadah kepada Allah sehingga ibadah dalam implementasinya 
tidak terkontaminasi dengan berbagai bentuk syirik dan hanya diperuntukkan bagi 
Allah SWT. 
  Ibadah juga merupakan salah satu karakteristik orang yang bertaqwa lantaran 
ibadah inilah yang menjadi tujuan diciptakannya manusia:

"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah" (QS. 
Al-Dzariyat: 56).

Ayat Alqur'an diatas sekalipun ungkapannya pendek ,akan tetapi mengandung 
sebuah hakekat yang amat besar penting. Karena kehidupan manusia di muka bumi 
ini tidak akan menjadi benar dan mapan tanpa memahami hakekat itu dengan benar, 
baik dalam kehidupan pribadi atau sosial, bahkan dalam kehidupan manusia secara 
keseluruhan. Hakekat tersebut adalah ibadah kepada Allah swt.

Dalam perspektif Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ibadah diartikan sebagai segala 
sesuatu yang diridoi Allah swt dalam bentuk ucapan dan perbuatan lahir atau 
batin. Pengertian ini mencakup shalat, puasa, zakat, haji, menunaikan tugas, 
berbuat baik kepada orang tua,silaturrahmi, amar ma'ruh nahi munkar, berjuang 
mempertahankan agama, bersikap baik dengan tetangga, anak yatim, fakir miskin 
dan amalan-amalan lainnya.

Dari uraian diatas bisa difahami bahwa ibadah tidaklah sekadar mencakup salat, 
puasa dan semisalnya. Tetapi ibadah meliputi totalitas kehidupan manusia, baik 
sisi ekonomi, sosial, pokitik, budaya dn lainnya. Bahkan lebih dari itu, dalam 
pandangan Islam, amalan-amalan mubah, seperti makan, minum, tidur, rekreasi dan 
sebagainya bisa berubah menjadi amal ibadah manakala amalan tersebut dilakukan 
guna mencari keridoan Allah swt dan tidak dicampurbaurkan dengan kemungkaran. 
Dengan memasukan segala aspek kehidupan manusia kedalam ibadah, maka seorang 
muslim bias mempersembahkan segenap hidupnya untuk beribadah kepada Allah swt.

"Katakanlah sesungguhnya salatku, ibadahmu, hidupku dan matiku semata untuk 
Allah Dzat Penguasa alam semesta" (QS. Al-An'am: 162).

Dari sinilah, maka predikat ahli ibadah bisa dan harus diraih oleh setiap 
muslim dari segala profesi dan lapisan dalam masyarakat, oleh rakyat atau 
pejabat,ilmuan atau ustadz, tua atau muda, pria atau wanitadan si kaya atau si 
papa.

Dampak Salah Faham

Salah faham terhadap konsep ibadah yang komprehensif tersebut, misalnya dengan 
mengartikan ibadah hanya pada ibadah ritual semata seperti salat dan puasa 
mengakibatkan kerugian terhadap diri manusia karena ia tidak bisa menjadikan 
segenap hidupnya untuk beribadah kepada Allah swt.

Di sisi lain, dengan mengartikan ibadah pada ibadah ritual semata, berdampak 
pada pemisahan kehidupan ekonomi, politik, sosial, budaya dan sisi-sisi lain 
seorang muslim, jauh dari tuntunan agama. Seakan sisi-sisi tersebut tidak 
memerlukan tuntunan agama, padahal Islam mengatur segala sisi kehidupan manusia.

Makanya, tidaklah heran manakala kita menyaksikan banyak kasus yang 
menyedihkan, dimana banyak orang rajin melakukan salat, puasa, haji bahkan 
lebih dari satu kali serta tekun melakukan salat-salat sunah, akan tetapi 
manakala ditengok kehidupan sosial, politik dan ekonominya, ia jauh dari 
tuntunan agama.

Dalam berinteraksi dengan tetangga dan kerabat kerja, ia bersikap kasar. Dengan 
sesama muslim, ia tidak mengikuti jejak para sahabat yang keras terhadap orang 
kafir dan sayang terhadap sesamanya, tetapi sebaliknya keras terhadap sesama 
muslim apalagi yang tidak sefaham, tetapi bersikap sayang dan hormat terhadap 
orang-orang kafir. 

Dalam mencari rizki, ia seringkali menghalalkan segala cara, ia tak peduli 
dengan makanan yang dikonsumsinya, apakah diperoleh dengan cara halal atau 
haram, yang penting baginya adalah empat sehat lima sempurnya. Unsur halal 
tidak pernah menjadi pertimbangannya. Dalam kehidupan politik, ia tidak 
memiliki kemauan untuk mengadopsi kepentingan Islam dan kaum muslimin yang 
merupakan kewajiban setiap muslim dan bahkan menjadikan non muslim sebagai 
pemimpinnya.

Dampak lain dari salah faham terhadap konsep ibadah adalah ketidak pedulian 
terhadap lingkungan. Seorang muslim yang melihat ibadah hanya terfokus pada 
ibadah ritual semata seringkali tidak memperhatikan dan tidak melihat bahwa 
umat Islam sekarang ini tengah dalam gempuran budaya, informasi dan ghazwul 
fikri atau serangan pemikiran dari berbagai penjuru dunia yang berseberangan 
dengan tuntunan Islam, baik itu lewat media elektronik atau media cetak. 

Kondisi seperti ini mengakibatkan banyak diantara kita, anak-anak, kawula muda 
dan bahkan orang tua yang tidak mengenal tuntunan agamanya dengar benar dan 
memadai. Banyak diantara kita yang lebih dekat dengan majalah hiburan dari pada 
Alqur'an, banyak yang lebih mengenal bintang sinetron yang berperilaku bebas 
dari pada sirah atau sejarah Rasulullah saw dan para sahabatnya sebagai pembawa 
risalah Islam. Maka tidaklah heran banyak diantara generasi muda dan tua 
terpuruk kedalam kubangan dekadensi moral dalam berbagai bentuknya.

Perjudian, narkoba dan prostitusi merajalela dimana-mana, seakan sudah menjadi 
gaya hidup yang harus diterima secara wajar. Sementara seks bebas dan aborsi 
dilakukan dengan enteng dan gampang. Ribuan bayi yang diaborsi selama setahun 
terahir ini benar-benar membuat bulu roma kita merinding.

Celakanya, tak sedikit diantara umat Islam yang melatih putra-putrinya masuk ke 
dalam perangkap budaya negatif dengan membiarkan anak-anak mereka berpakaian 
ketat dan terbuka atau mendorong anaknya jadi anak gaul dalam pengertiannya 
yang negatif. 

Bahkan terkadang ada orang tua yang tidak senang kepada anaknya yang 
mengaplikasikan ajaran Islam secara baik dan benar. Prilaku yang demikian 
merupakan salah satu sebab yang menjadikan umat Islam dalam posisi lemah dan 
tidak berbobot dalam panggung masyarakat dunia. Sejarah membuktikan, bahwa umat 
Islam akan jaya dan maju manakala mereka menjalankan tuntunan agamanya dengan 
benar dan komprehnsif. Sebaliknya, umat Islam akan mundur dan hancur apabila 
mereka jauh dari ajaran agamanya. Namun demikian banyak umat Islam yang 
bersikap masa bodoh dengan segala kelemahan dan keterpurukan yang menimpa umat 
Islam. 

Merekapun seringkali bersikap masa bodoh terhadap kemungkaran yang merajalela 
lewat berbagai sarana yang main hari makin canggih. Mereka cukup puas dengan 
salat dan puasa. Seakan ibadah hanya boleh hidup dalam mesjid saja. Sedangkan 
di luar mesjid, dipasar, di kantor,di media massa, ibaadah tidak memiliki 
tempat baginya, bahkan terkadang mereka menjadi pendukung kemungkaran. Apabila 
kondisi seperti ini menguasai keadaan, maka kita menunggu apa yang telah 
diprediksikan oleh Rasulullah saw dalam salah satu haditsnya seperti yang 
diriwayatkan oleh Zainab ra, isteri Rasulullah saw, bahwa pada suatu hari 
Rasulullah saw datang kepadanya dengan wajah sedih dan bertutur: 

"Celaka bagi orang Arab karena kejahatan yang dilakukannya. Nanti, pada suatu 
saat mereka pasti akan mengalami kehancuran."

Lalu Zainab bertanya: Apakah semua akan dihancurkan, sedangkan diantara mereka 
ada yang tetap saleh? 

Rasulullah saw menjawab: ya, apabila kefasikan dan kejahatan mereka sudah 
merata dan orang Islam sudah tidak lagi melakukan amar ma'ruf dan nahi 
mungkar'. 

Di tengah arus globalisasi yang begitu dahsyat yang membawa nilai-nilai positif 
dan negatif, upaya pemeliharaan dan peningkatan komitmen seorang muslim 
terhadap ibadah kepada Allah swt sebagai tugas utamanya bukanlah hal yang mudah.

Ia memerlukan kesabaran yang prima dan lingkungan yang kondusif yang 
mendukungnya, sehingga ia bisa tetap eksis dan hidup dengan keimanannya yang 
aktif dan dinamis yang buah positifnya memancar dalam kehidupan keseharian, dan 
ia tetap berpegang teguh bahkan bangga dalam mengikuti ajaran dan sunnah 
Rasulullah saw sehingga ia berhak memperoleh predikat orang yang berbahagia 
dalam pandangan Rasulullah saw sebagaimana disabdakan oleh beliau:

"Berbahagialah orang yang melihatku dan beriman kepadaku dan berbahagialah, 
berbahagialah dan berbahagialah orang yang tidak melihatku tetapi beriman 
kepadaku."


       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke