Fenomena bombing di Indonesia melahirkan benturan wacana yang cukup
seru antara mereka yang simpati atau agak simpati dengan yang anti atau
agak anti. Pilihan saya sendiri tegas. Saya anti. Tapi mohon dicatat,
sikap anti saya ini bukan karena saya meragukan keislaman atau keimanan
para pelakunya!

Satu argumentasi yang sering dikemukakan oleh pelaku dan mereka yang
simpati atau agak simpati adalah fakta bahwa “semua perintah dan
larangan Allah SWT telah turun dengan lengkap, oleh karena itu tugas
kaum muslimin adalah melakukan perintah dan menjauhi larangan semampu
mereka.”  Dalam konteks bombing, pelaku dan mereka yang simpati atau
agak simpati beranggapan para pelaku bombing adalah orang-orang yang
memang mampu dalam artian semampunya melakukannya amaliyah jihad. Maka
kemudian, terjadilah apa yang telah terjadi.

Mengetahui argumentasi itu, terus terang saja, mulut saya melongo
bulat. Saya benar-benar kebingungan memahami sudut pandang yang dipakai
untuk menjabarkan mampu dalam artian semampunya tersebut. Kalau memang
mampu dalam artian semampunya tersebut dapat dikonotasi atau dijabarkan
seperti itu, kok nggak pernah ada ya iklan lowongan pekerjaan yang
misalnya berbunyi:

Dicari seorang karyawan untuk posisi … dengan syarat-syarat:

IPK: seberapa saja.
Bahasa Inggris: semampunya saja.
Komputer: semampunya saja.
Penampilan: seadanya saja.

Wah, kalau ada iklan yang seperti itu, pasti pelamarnya banyak sekali
dan pegawai bagian rekruitmen pun akan mudah sekali untuk menerima
salah satunya. Tapi, tidak tahu bagaimana jadinya, jika di iklannya
juga ditambahi:

Gaji: semampunya perusahaan.

Nah, bagi saya penjabaran semampunya pada amal-amal atau kondisi
tertentu memang bisa seperti yang dimaui oleh para pelaku bombing,
mereka yang simpati atau agak simpati, tetapi pada amal-amal atau
kondisi yang lain tentu saja tidak bisa seperti itu. Saya akan
gambarkan sebuah fenomena, yang moga-moga bisa membuat anda setidaknya
bisa memaknai apa yang saya katakan tersebut.

Saya yakin, anda semua cenderung (untuk tidak mengatakan pasti) setuju,
jika saya menyatakan bahwa semua orang dewasa normal pada dasarnya bisa
menjadi seorang guru atau penceramah. 

Tapi, bukankah ketika anda menjadi seorang murid atau menjadi salah
satu audien dari sebuah ceramah, anda seringkali dicekam rasa bosan
atas pengajaran si guru atau ceramah si penceramah? Di benak anda
mungkin akan muncul kritik bahkan kecaman pada si guru atau si
penceramah. Lalu, anda mungkin akan terkantuk-kantuk selama mengikuti
pengajaran si guru atau ceramah si penceramah. 

Mengapa anda begitu?

Jawaban anda tentu saja akan sangat bervariasi! Tetapi, saya yakin
semuanya akan berhubungan dengan apa yang anda persepsikan sebagai
standar kelaikan untuk si guru atau si penceramah. Intinya, anda
menyesalkan kenapa standar kelaikan ini tidak bisa dipenuhi oleh si
guru dan si penceramah, sehingga suasana pengajaran atau ceramah yang
tercipta menjadi demikian membosankan. Sampai tingkat tertentu, mungkin
anda juga akan berandai, apa akibatnya bila para guru dan penceramah
semuanya tidak memenuhi standar kelaikan yang ada persepsikan.

Fenomena yang saya uraikan memang mengenai soal pengajaran dan ceramah,
tetapi jika kita konsisten, sudut pandang yang sama tentu saja bisa
digunakan untuk menilai fenomena bombing di Indonesia. Akhirnya, masih
bisakah anda memaklumi amaliyah bombing di Indonesia? Kalau saya,
sekali lagi, TIDAK!




       
____________________________________________________________________________________
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news, 
photos & more. 
http://mobile.yahoo.com/go?refer=1GNXIC

Kirim email ke