Ini ada artikel dari okezone. Intinya menyatakan pendapat dalam artikel 
terdahulu kurang tepat

*Jangan Berlebihan Berbuka dengan yang Manis  *         
Amir Tejo - Okezone
  
SURABAYA -- Saat di Bulan Ramadhan kita sering dengar kalimat  "berbuka 
puasalah dengan makanan atau minuman yang manis." Konon, itu dicontohkan 
Rasulullah SAW.

Dari Anas bin Malik ia berkata : "Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab 
(kurma yang lembek) sebelum salat, jika tidak terdapat Rutab, maka 
beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma 
kering beliau meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)

Nabi Muhammad Saw berkata: "Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah
berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah 
dengan air, maka sesungguhnya air itu suci. Rasulullah berbuka dengan 
kurma. Kalau tidak mendapat kurma, beliau berbuka berbuka hanya dengan air."

Masyarakat kita memang bukan jazirah Arab. Kita lebih mengenal berbuka 
dengan kolak, es kacang hijau dan makanan yang manis-manis lainnya untuk 
berbuka puasa dibandingkan dengan kurma.

Padahal kurma dengan yang manis-manis gula itu ternyata berbeda. Dalam 
kurma mengandung adalah karbohidrat kompleks (complex carbohydrate) atau 
fruktosa. Sedangkan, gula yang terdapat dalam makanan atau minuman yang 
manis-manis yang biasa kita konsumsi sebagai makanan berbuka puasa 
adalah karbohidrat sederhana (simple carbohydrate) atau glukosa.

Ada yang berpendapat jika berbuka puasa dengan makanan yang manis-manis 
yang penuh dengan gula (karbohidrat sederhana) justru merusak kesehatan. 
Ini karena ketika berpuasa, kadar gula darah kita menurun. Kurma, 
sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, adalah karbohidrat kompleks, 
bukan gula (karbohidrat sederhana). Karbohidrat kompleks, untuk menjadi 
glikogen, perlu diproses sehingga makan waktu.

Sebaliknya, kalau makan yang manis-manis, kadar gula darah akan melonjak
naik, langsung. Kalau karbohidrat kompleks seperti kurma asli, naiknya 
pelan-pelan.

_*Ini pendapat yang kurang benar*_, karena selama kita berpuasa ada 
bagian-bagian dari tubuh kita yang sebenarnya membutuhkan energi secara 
instan. Contohnya adalah bagian otak. "Bagian tubuh kita yang penting 
ini perlu mendapat asupan energi secepatnya. Sehingga energi tersebut 
hanya bisa di dapat dari glukosa alias dari yang manis-manis gula," kata 
dr Sri Adiningsih Ahli Gizi dari RS Dr Soetomo Surabaya.

Sedangkan jika hanya mengandalkan asupan energi dari fruktosa alias 
manis-manis buah-buahan maka fruktosa ini membutuhkan waktu untuk 
diproses menjadi energi. Sedangkan satu sisi ternyata otak membutuhkan 
asupan energi yang sifatnya instan.

Selain otak, ternyata peredaran darah kita juga membutuhkan asupan 
energi instan yang hanya didapat dari glukosa atau manis gula-gulaan.

"Makanya setelah makan yang manis-manis dari glukosa kan kita merasa 
sudah segar. Ini karena otak mempunyai fungsi mengatur manipulatif, 
sekaligus peredaran darah kita sudah mendapat asupan energi yang cukup 
sehingga lancar," kata Adiningsih.

Namun Adiningsih mengingatkan jangan berlebihan dalam mengonsumsi 
gula-gula. Idealnya Adiningsih menyarankan jika kita hanya mengonsumsi 
sekitar tiga sendok makan dalam sehari. (mbs)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke