Ramadhan Cermin Keimanan Oleh: DR. Amir Faishol Fath
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Al-Baqarah:183)
Panggilan untuk Mereka yang Beriman
Allah swt memanggil pada permulaan ayat di atas: yaa ayyuhalladziina aamanuu
(hai orang-orang yang beriman), ini bukan sembarang panggilan, sebab yang
memanggil adalah Allah swt Sang Pencipta alam semesta. Semua makhluk bergantung
kepada-Nya. Tidak ada yang bisa independen dari-Nya. Maka siapa yang mengaku
diri sebagai hamba-Nya hendaknya segera bergerak memenuhi panggilan ini. Allah
swt dalam panggilan tersebut tidak menyebutkan kriteria yang bersifat duniawi,
dengan kata lain Allah tidak berfirman: yaa ayyuhal aghniyaa (hai orang-orang
yang kaya), hai orang-orang yang berkedudukan tinggi dan lain sebagainya,
melainkan yang Allah swt panggil adalah mereka yang beriman saja, mengapa?
Di sini ada rahasia yang tersimpan, di antaranya:
(a) Bahwa dengan menyatakan keimanannya seseorang mampunyai posisi tersendiri
dari sisi Allah swt. Allah swt sangat bangga dengan hamba-Nya yang beriman.
Karenanya Allah swt undang mereka secara khusus. Di dalam Al-Quran undangan
yaa ayyuhal ladziina aamanuu selalu Allah swt ulang. Menggambarkan betapa yang
Allah swt anggap sebagai hamba-Nya hanya mereka yang beriman. Yang tidak
beriman tidak termasuk sebagai hamba-Nya.
(b) Bahwa posisi keduniaan apapun megahnya bila tidak disertai iman, Allah swt
tidak bangga dengannya. Bahkan Allah swt sangat benci kepada seseorang yang
setelah diberi kenikmatan dunia, ia malah berbuat maksiat kepada-Nya. Ingat
Allah swt berfirman:
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan
diberi-Nya kesenangan, Maka dia akan berkata, Tuhanku Telah memuliakanku.
Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka dia berkata,
Tuhanku menghinakanku. (Al-Fajr:15-16)
Disini nampak bahwa ukuran berhasil tidaknya seseorang bukan terletak pada
kekayaan atau kemiskinannya, melainkan terletak pada keimanannya. Karenanya
yang Allah swt panggil pada ayat di atas adalah mereka yang beriman. Sebab kaya
dan miskin di mata Allah swt adalah ujian. Apalah arti seorang kaya jika ia
tidak beriman dan mentaati Allah swt, semua itu hanya kesia-siaan. Sebaliknya
sungguh sangat mulia seseorang sekalipun dalam posisi yang sangat miskin tetapi
ia beriman dan mentaati-Nya, dan ia akan tergolong mereka yang Allah swt
panggil dalam ayat di atas.
(c) Bahwa untuk melaksanakan ibadah puasa syaratnya harus beriman terlebih
dahulu. Tanpa iman ibadah puasa seseorang tidak diterima oleh Allah swt. Allah
swt hanya mengakui ibadah puasa hamba-Nya yang beriman. Karenanya dalam banyak
hadits Rasulullah saw. Selalu menyebutkan kata iimaanan wahtisaaban, untuk
menunjukkan bahwa ibadah yang Allah swt terima adalah berdasarkan iman dan
harapan atas ridha-Nya.
Simaklah beberapa hadits berikut, Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh
keimanan dan harapan akan ridha-Nya, Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah
lewat. (HR. Bukharai dan Muslim)
Dalam hadits lain, Siapa yang menegakkan shalat malam Ramadhan dengan penuh
keimanan dan harapan akan ridha-Nya, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang
telah lewat. HR. Muslim. Lalu khusus mengenai shalat pada malam lailatul qadar
Rasulullah saw bersabda: Siapa yang menegakkan shalat malam lailatul qadar
dengan penuh keimanan dan harapan akan ridha-Nya, Alllah akan mengampuni
dosa-dosanya yang telah lewat. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan Iman Shaum Ramadhan Terasa Lezat
Setelah memanggil orang-orang beriman dengan yaa ayyuhalladziina aamanuu Allah
swt menegaskan: Kutiba alaikumush shiyaam (diwajibkan atasmu berpuasa), apa
hubungan puasa dengan iman?. Mengapa hanya orang beriman yang diwajibkan
berpuasa? Apakah puasa Ramadhan merupakan bukti keimanan seseorang?
Pertama, Ketika seseorang beriman kepada Allah swt, seharusnya ia sadar bahwa
Allah swt senantiasa bersama-Nya. Di dalam dirinya menggelora hakikat
keagungan-Nya. Setiap disebut nama-Nya hatinya bergetar, penuh ketakutan. Dalam
surat Al-Anfal ayat 2 Allah swt berfirman, Sesungguhnya orang-orang yang
beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan
apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya
kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. karenanya seluruh kegiatan sehari-harinya
selalu dalam rangka mentaati-Nya. Tidak ada perbuatan sekecil apapun yang ia
lakukan kecuali dengan petunjuk-Nya. Ia menjauh sama sekali dari apa saja yang
disebut kemaksiatan. Baginya kemaksiatan adalah bencana, yang tidak hanya
menghancurkan harga dirinya melainkan juga menjadi sumber malapetaka bagi
kemanusiaan di muka bumi.
Kesadaran ini membuatnya sangat berhati-hati dalam bersikap, jangan sampai
langkahnya terjerumus dalam kemaksiatan. Sampai yang syubuhat (samar-samar) pun
ia hindari, sebab dari yang syubuhat akan lahir daya tarik kepada yang haram.
Puasa adalah ibadah menahan diri dari yang halal. Dari sini nampak betapa
hakikat puasa adalah sebagai benteng supaya pelakunya terhindar dari yang
haram. Sebab kebiasaan menahan dari yang halal, akan membangun lapisan-lapisan
bemper yang menjaganya supaya tidak terjatuh kepada yang Allah swt haramkan.
Perhatikan betapa untuk menegakkan puasa, seseorang harus mempunyai iman.
Karena hanya iman yang jujur seseorang akan benar-benar merasakan lesatnya
puasa. Tanpa kesadaran iman puasa akan menjadi beban. Di saat orang-orang
berbahagia dengan puasa, ia malah merasa sempit hatinya dengan puasa.
Kedua, Ketika seseorang melakukan puasa, ia sedang berjuang menutup segala
pintu yang selama ini syetan selalu masuk darinya. Pintu nafsu makan ia tutup,
di mana banyak orang mengambil yang haram hanya karena nafsu makan. Pintu nafsu
bermusuhan juga tutup, dimana selama ini banya terjadi konflik saling
menyakiti, saling menjatuhkan, saling mendzalimi, bahkan tidak jarang saling
membunuh di antara manusia adalah karena nafsu ini. Lidahnya ia tahan dari
perbuatan yang keji. Setiap ada oarang yang mengajaknya bertengkar, ia
menjawab: Maaf saya sedang berpuasa. Pintu nafsu seks pun ia tutup, di mana
selama ini banyak orang terjerembab dalam dosa-dosa karena nafsu ini.
Perhatikan betapa puasa mencerminkan hakikat perlawanan yang dahsyat seorang
hamba Allah swt terhadap syetan. Di dalam dirinya menggelora semangat untuk
tidak tunduk kepada syetan, kapanpun dan di manapun ia berada. Ia sadar bahwa
syetan adalah musuhnya. Allah swt berfirman, Sesungguhnya syaitan itu adalah
musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan
itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang
menyala-nyala. (Al-Fathir:6)
Ketika seseorang masuk ke medan pertarungan melawan syetan, berarti ia masuk
ke dalam pertempuran yang tidak akan pernah berakhir. Dalam rangka ini ia harus
berbekal iman yang kokoh. Sebab jika imannya lemah ia tidak bisa istiqamah.
Maka ketika Allah swt memanggil di awal yat ini: yaa ayyuhalladziina aamanuu,
itu maksudnya adalah orang-orang yang benar-benar jujur dalam imannya. Bukan
orang-orang munafik yang pura-pura beriman. Sebab tidak mungkin seseorang yang
tidak jujur dalam imannya bisa melaksanakan ibadah puasa dengan jujur. Dari
sini nampak rahasia firman Allah swt dalam hadits Qudsi:
Semua amal anak Adam itu untuk dirinya kecuali puasa, itu untuk-Ku dan Aku
akan memberikan langsung pahalanya. (HR. Bukhari)
Perhatikan betapa puasa merupakan bukti kejujuran iman seseorang, sehingga
Allah swt mengagungkannya, dan terlibat langsung untuk memberikan pahala kepada
pelakunya.
Ketiga, Puasa Ramadhan adalah merupakan salah satu pilar ajaran Islam. Untuk
menegakkan pilar ini secara kokoh tidak mungkin dilakukan oleh seseorang yang
tidak punya iman atau pura-pura beriman. Allah swt Maha Mengetahui, benar-benar
tahu siapa di antara manusia yang benar-benar pantas diundang untuk menegakkan
pilar ini. Itulah mereka yang benar-benar beriman kepada Allah swt secara
jujur. Karena itu Allah swt panggil mereka dengan: yaa ayyuhalladziina aamanuu.
Perhatikan bentuk panggilan ini, Allah swt memanggil mereka hanya dengan
kualitas keimanannya, bukan yang lain-lain. Ini menunjukkan bahwa yang Allah
swt inginkan dari manusia melalui puasa ini adalah bagaimana ia benar-benar
beriman kepada Allah swt secara kokoh dan jujur. Iman yang menghidupkan jiwanya
sehingga ia senantiasa merasa bersama Allah swt. Bukan iman yang semata
diucapkan dengan lisan, diiklankan di spanduk-spanduk atau tayangan televisi
semenatra hatinya tidak pernah menikmati lezatnya iman tersebut.
Allahu Alam
dakwatuna.com
---------------------------------
Boardwalk for $500? In 2007? Ha!
Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.
[Non-text portions of this message have been removed]