Assalamu'alaikum Warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillaahir rahmaanir rahiimi,
Alhamdu lillaahil ladzii ja'alanaa minan naashihiina, wa afhamanaa min
'uluumil 'ulamaa-ir
raasikhiina, wash shalaatu was-salaamu 'alaa man nasakha diinuhu adyaanal
kafarati wath
thaalihiina, wa 'alaa aalihi wa ashhaabihil ladziina kaanuu bitamas-suki
syarii'athihi shalihiina.

"Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang,
Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita termasuk para penasihat,
dan yang telah
memberi kepahaman kepada kita dari berbagai ilmu para 'ulama yang ahli, dan
mudah-mudahan
shalawat serta salam tetap dilimpahkan kepada (Nabi Besar Muhammad) yang
agamanya menghapuskan
agama-agama orang kafir dan orang yang jahat, dan semoga shalawat dan salam
juga dilimpahkan
kepada keluarga dan para shabatnya yang baik yang selalu berpegang dengan
syari'atnya".

Wahai saudara-saudariku yang dicintai Allah Swt. disini saya sebagai hamba
yang faqir dan dhaif
ingin memberikan sedikit pengetahuan yang mungkin tidak seberapa dengan ilmu
saudara-saudari
ketahui/miliki. Disini saya bukan menggurui tetapi sekedar membagi sedikit
pengetahuan untuk
menambah ilmu bagi yang belum mengetahui dan menambah keyakinan kita dalam
beramal untuk
mencapai ridha Allah Swt. bagi yang sudah mengetahui.

Keutamaan beribadah pada Lailatul Qadri.

Allah Ta'ala berfirman:"Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur'an
pada malam qadar
(kemulian)). Dan tahukah kamu apakah malam kemulian itu? Malam kemuliaan itu
lebih baik dari
seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan ruh dengan izin
Tuhannya. Malam
itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar". (Al-Qadr:1-5)

Allah Ta'ala berfirman:"Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur'an)
pada suatu malam
yang diberkahi". (Ad-Dukhaan:13)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi Saww., beliau bersabda:"Barangsiapa
beribadah pada malam Qadar
dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan pahala dari Allah, maka
diampuni dosa-dosanya yang
telah lalu". (HR.Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. bahwasanya beberapa sahabat Nabi Saww. memimpikan
Lailatul Qadar pada tujuh
malam yang terakhir (dalam bulan Ramadhan), kemudian Rasulullah Saww.
bersabda:"Aku perhatikan
impianmu itu benar-benar tapat pada tujuh malam terakhir, maka barang siapa
ingin mencapai
Lailatul Qadar, maka hendaknya ia bersungguh-sungguh pada malam yang
terakhir". (HR.Bukhari dan Muslim)

Dari 'Aisyah ra., ia berkata:"Rasulullah Saww. selalu beri'tikaf pada
sepuluh malam yang terakhir
dari bulan ramadhan, serta bersabda:"Bersungguh-sungguhlah kalian mencari
Lailatul Qadar pada
sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadhan".(HR.Bukhari dan Muslim)

Dari 'Aisyah ra., ia berkata:"Rasulullah Saww. apabila telah masuk pada
sepuluh malam terakhir
dari bulan Ramadhan, beliau selalu beribadah pada waktu malam serta
membangunkan keluarganya,
bersungguh-sungguh ibadah dan mengikatkan sarungnya (tidak bersetubuh dengan
istrinya)". (HR.Bukhari dan Muslim)

Kapankah atau tepatnya Malam Qadar (Lailatul Qadar) itu ?

Menurut pendapat yang masyhur tentang malam Al-qadar dengan mengutip
keterangan dari Ubay bin Ka'ab dan
Ibnu Abbas dan kebanyakan pendapat ulama', adalah jatuh pada malam yang
keduapuluh tujuh, dengan
mengambil dalil dari sabda Nabi Saww.:"Iltamisuu lailatal qadri fii sab-in
wa isyriina khalat
min syahri ramadhaana. "Carilah malam Al-Qadar pada malam keduapuluh tujuh
yang telah berlalu
dari bulan Ramadhan".
Yaitu malam yang pada waktu pagi cuacanya sangat cerah, dan yang dengan
cuaca itu Allah telah
menjayakan agama Islam dan menurunkan Malaikat untuk memberikan pertolongan
kepada Kaum Muslimin.

Keterangan diatas dikuatkan lagi oleh sebuah riwayat yang menceritakan bahwa
Utsman bin Al-'Ash
mempunyai pembantu kecil yang berkata padanya:"Wahai tuan, sesungguhnya aku
mendapatkan air laut
rasanya tawar pada suatu malam Ramadhan". Utsman bin Al-'Ash
berkata:"Apabila hal itu terjadi
lagi di suatu malam, maka hendaklah kamu memberitahukan kepadaku". Lalu dia
memberitahukan
kepadanya, ternyata malam itu adalah malam keduapuluh tujuh dari bulan
Ramadhan.

Keterangan diatas masih dikuatkan lagi oleh penganalisaan sebagian ulama',
yakni bahwa jumlah
kalimat yang ada pada surat Al-Qadar adalah tigapuluh kalimat, sejumlah hari
pada bulan Ramadhan.
Demikian pula lafazh hiya (malam itu) dari kalimat salamun hiya, merupakan
bagian kesempurnaan
ayat yang keduapuluh tujuh. Dan kalimat yang menunjukkan malam Al-Qadar,
pembacaannya adalah
dengan diucapkan sekaligus, sekalipun kalimat-kalimat dalam surat Al-Qadar
itu mengandung
banyak kalimat seperti anzalnahu.

Menurut analisa yang lain disebutkan, bahwa huruf yang menunjukkan nama
lailatu'l-Qadr ada
sembilan huruf yaitu: Lam, Ya, Lam, Ta, Hamzah (Alif), Lam, Qaf, Dal, dan
Ra. Dan Kalimat
Lailatu'l-Qadri dalam surat Al-Qadar diulang sampai tiga kali, jadi 9x3=27.

Menurut pendapat lain yang dikutip dari keterangan sebagian ahli kasyaf
menjelaskan, bahwa malam
Al-Qadar itu jatuh pada hari yang bertepatan dengan awal bulan Ramadhan,
Hanya saja, pendapat ini
tidak dilandasi dengan pegangan apapun, sehingga dimungkinkan pendapat itu
tidak terarah.

Menurut analisa Syaikh Ahmad Zaruq dan lainnya dijelaskan, bahwasanya malam
Al-Qadar itu tidak
terlepas dari malam Jum'at pada tanggal-tanggal yang gasal/ganjil dari
malam-malam yang akhir
bulan Ramadhan. Analisa seperti ini juga dikutip dari keterangan
Ibnu'l-'Arabi.

Didalam kitab tafsir Imam Al-Khatib dikemukakan suatu ketentuan tentang
malam Al-Qadar, dengan
mengutip penjelasan dari Syaikh Abu'l Hasan Asy-Syadzali, Bahwasanya:

1. Jika awal Ramadhan pada hari Ahad, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal
duapuluh sembilan.
2. Jika awal Ramadhan pada hari Senin, maka malam Al-Qadar jatuh pada
tanggal duapuluh Satu.
kemudian perhitungan seterusnya dilakukan dengan naik dan turun menurut
harinya.
3. Jika awal Ramadhan pada hari Selasa, maka malam Al-Qadar jatuh pada
tanggal duapuluh tujuh.
4. Jika awal Ramadhan pada hari Rabu, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal
sembilanbelas.
5. Jika awal Ramadhan pada hari Kamis, maka malam Al-Qadar jatuh pada
tanggal duapuluh lima.
6. Jika awal Ramadhan pada hari Jum'at, maka malam Al-Qadar jatuh pada
tanggal tujuhbelas.
7. Jika awal Ramadhan pada hari Sabtu, maka malam Al-Qadar jatuh pada
tanggal duapuluh tiga.


Apa yang harus kita lakukan pada malam Qadar (Laitul Qadar) itu ?

Kita memperbanyak shalat, memperbanyak memohon ampun (istigfar) kepada
Allah, dzikir atau
shalawat kepada Nabi Muhammad Saww. pada malam tersebut.

Wahai Saudara-saudariku cari Ridha dan Ampunan Allah Swt. pada malam yang
penuh dengan keagungan
yaitu malam Al-Qadar (Lailatu'l-Qadri) pada sepuluh hari terakhir dari bulan
Ramadhan, terutama
pada malam tanggal 25 Ramadhan dan pada malam tanggal 27 Ramadhan, dengan
banyak beribadah kepada
Allah Swt., terutama memperbanyak istigfar memohon ampun kepada-Nya dan
bershalawat kepada Nabi
Muhammad Saww.

Nb:
Menurut Kesimpulan penulis:
Lailatu'l Qadri pada tahun ini (2006) diantara malam 25 & malam 27 Ramadhan.
Tanggal 25 Ramadhan : Menurut Syaikh Abu'l Hasan Asy-Syadzali puasa pada
tahun ini dimulai pada hari kamis,
Tanggal 27 Ramadhan : Menurut hadist Rasul Saww Dan Menurut analisa Syaikh
Ahmad Zaruq.

Huwallaahu A'lam Bisawab

Dikutip dari:
* Riyadhus Shalihin --> Imam An-Nawawi.
* Durratun Nasihin --> Usman Alkhaibawi.
* At-Tuhfa Al-Mardhiyyah fil Akhbaril Qudsiyyah wal Ahadits Nabawiyyah -->
Asy-Syaikh Abdul Majid Al-'Adawiy


Wassalaamu'alaikum Warahmatullahi wabarakatuh.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke