Assalamualaikum wr wb.

mbak Hanna,,, bagus banget sih ceritanya,,, ditunggu mbak kelanjutannya 
:-)




"Partono" <[EMAIL PROTECTED]> 
Sent by: [email protected]
10/04/2007 01:07 PM

To
"suhana hana" <[EMAIL PROTECTED]>, <[email protected]>
cc

Subject
Re: [syiar-islam] SYANA









Assalamualaikum wr wb.

Iya nich, ditunggu ya mbak lanjutannya

----- Original Message ----- 
From: ISKANDAR JUSUF 
To: suhana hana ; [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] 
; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, October 04, 2007 10:37 AM
Subject: RE: [syiar-islam] SYANA

Assalamua’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Hanya sepotong nech mbak Hanna......., ada sambungannya nggak ?????

Wassalam,

Iskandar Jusuf

Biro Hubungan Industrial

Human Resource Division

PT. Bank Central Asia, Tbk.

Wisma BCA I Lt. 12 A

Jl. Jend. Sudirman Kav. 22-23

Jakarta Selatan 12920

Phone : 021-5208750 Ext. 23188

Fax : 021-5711030

e-mail : HYPERLINK "mailto:[EMAIL PROTECTED]"
[EMAIL PROTECTED]

_____ 

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On 
Behalf Of suhana hana
Sent: Thursday, October 04, 2007 9:31 AM
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]; 
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
[EMAIL PROTECTED]
Subject: [syiar-islam] SYANA

Detik ini aku berada di sebuah kamar yang sumpek dengan tempat tidur yang 
tidak empuk lagi, seperti tidur di papan saja. Walaupun begitu aku tetap 
saja memilih menyendiri di kamar ini dan mengunci pintu rapat-rapat. Aku 
kesal sekali hari ini. Kesal dengan mereka. Ayah, ibu, kakek, dan nenekku. 
Dasar orang tua dan anak sama saja sifatnya. Like father like son. 

Aku sudah membayangkan betapa meriahnya pesta teman-temanku di Bali. Aku 
dan teman-teman sudah menyiapkan pesta gila-gilaan selama berbulan-bulan. 
Capek, benar-benar capek. Aku yang paling mati-matian menyiapkan pesta 
ini. Aku sudah booking kamar hotel, sampai pernah ke Bali sendiri 
melakukan survey tempat biar tidak mengecewakan teman-teman. 

Itu semua sudah kandas. Pesta yang kurencanakan dan kusiapkan selama 
berbulan-bulan kandas. Tidak ada kamar hotel yang empuk, tidak ada dugem 
yang sudah kuimpi-impikan, tidak ada hingar bingar musik, tidak ada 
teriakan dan ocehan teman-teman gaulku. Semuanya sudah kandas!. 

Rangkaian kata-kata yang berisi permintaan ijin ortu untuk main ke rumah 
teman saat liburan sudah tidak bermanfaat lagi. Ayah ibuku mengetahui 
rencanaku. Aku tahu pasti ada yang membocorkan rencanaku. Hasilnya, 
liburan tahun ini, aku dibuang di sini. Di tempat kakek nenek. Sebuah desa 
yang sangat sepi dan membosankan. Rumah kakek nenekku benar-benar menjadi 
tempat pengasinganku. Tanpa HP, tanpa telepon rumah, tanpa teman-teman 
dekatku, tanpa kemewahan yang sering kudapat di kota, tanpa semua yang 
kuinginkan. Aku benar-benar bisa gila dengan semua ini.

“Syan, buka pintu, nak. Sudah waktunya makan siang. Kamu belum makan dari 
pagi, nak”, suara nenekku mampu membangunkanku dari lamunanku.

“Nggak! Syana nggak mau makan. Nggak lapar.” Jawabku dengan ketus.

Nenekku sebenarnya sangat baik. Lebih baik dari ibuku. Setidaknya, nenek 
selalu menyempatkan diri buat ngurus orang-orang di sekitarnya. Tidak 
seperti ibu yang selalu sibuk dengan arisan, ngerumpi ke tetangga, 
jalan-jalan dan ngabisin uang ke mall, bla bla bla, de el el. So what gitu 
loh kalau aku juga ngehabisin waktu buat main sama temen-temenku. Gak ada 
bedanya,kan ?

Kakekku juga lebih baik dari ayahku. Walaupun hanya lulusan Sekolah 
Rakyat, dia adalah orang yag sangat keren bila diajak bicara. Tidak 
seperti ayahku, seorang sarjana denagn predikat cum laude. Orang yang 
sangat dingin. Tidak pernah mendengar alasan putrinya. Diktator. Jahat, 
selalu benar... menurutku.

Kakek, nenek, ayah, ibu sekarang sama. Semuanya sama. Tidak ada yang baik. 
Fyiuh!! Kenapa aku harus seperti ini ? Cuman karena tidak bisa main bareng 
temen, aku menyamakan kakek nenek dengan ortuku ?

Lapar. Aku kelaparan. Aku belum makan sejak kemarin. Sejak aku berangkat 
dari rumah menuju tempat pembuangan ini. Ihh aku ingin makan, tapi aku 
lagi marah. Kesel sebel. Bila sudah sebel, aku tahan nggak makan. 

“Syan...Ini kakek, kalo nggak mau makan, sholat dulu gih. Udah jam satu,” 
kini gantian suara serak kakekku yang muncul dari balik pintu. 

Hah... sholat? Sejak kapan aku sholat ? Kakek dan nenek pasti bercanda. 
Mereka sudah tahu kalau aku bukan tipe orang yang melakukan ibadah itu. 
Lucu, benar-benar lucu.

“Syan nggak sholat! “ teriakku.

“Ya udah, kalau gitu. Nenek mau sholat dulu. Syan kalau mau makan ambil 
sendiri yah,”

“Nek, Syan nggak pernah sholat,” jawabku mempertegas jawabanku tadi.

“Syan....!” suara nenekku lirih. Nenek nangis.

Aku nggak habis pikir. Kakek nenek adalah orang-orang yang sangat taat 
beragama, tapi tidak satupun anak-anak mereka yang alim. Termasuk ayahku, 
putra pertama mereka. 

Masih kudengar suara tangisan nenekku dari balik pintu. Aku paling nggak 
tahan mendengar tangisan. Kudengar juga suara kakek yang berusaha 
menenangkan nenek. Aku bingung, sebel sama diriku sendiri. Kuangkat 
tubuhku dan berjalan menuju pintu. Kubuka pintu perlahan. 

“Syan...,” ucap nenek dan langsung memelukku sesaat setelah kubuka pintu. 

“Nek, Syan nggak bawa mukena,” ucapku.

“Pake punya nenek, Syan.”

Aku sholat diimami nenek. Air mata nenek membasahi sajadahnya, aku terbawa 
suasana. Ini adalah sholat pertamaku sejak SMP. Kini aku sudah kelas dua 
SMA. Sholat terakhir yang kulakukan saat SMP adalah sholat karena ujian 
praktek agama. Ahhh seburuk itukah aku?

“Nek, maapin Syan yaa.” Ucapku seusai sholat, disambut senyuman lembut 
nenekku.
***

Sudah seminggu aku tinggal di rumah kakek nenek. Pagi ini sudah saatnya 
pulang. Jam kuno di ruang tamu berdentang enam kali. Sedih sekali 
meninggalkan tempat ini. Tempat yang kubenci saat hari pertama aku 
menginjakkan kaki di sini, kini menjadi tempat yang sangat berat 
kutinggalkan. 

Delman yang akan mengantarkanku menuju terminal sudah datang. Kakek ikut 
mengantarkanku sampai terminal. Nenek tidak bisa ikut mengantarkan karena 
pagi ini rumah nenek mendapat giliran tempat untuk pengajian desa. Sedih 
sekali harus berpisah dengan nenek. Sebelum pulang, kucium tangan nenek 
dan kupeluk tubuh nenek yang lebih kecil dariku.

“Syan, kalau udah pake jilbab, nggak perlu pake topi !” nenek membuka 
topiku lalu menjitak kepalaku.

“Syan, topinya buat kakek aja ya!” seloroh kakekku, disambut tawa nenek. 

“Assalamualaikum, nek...!” 

Delman membawaku pergi meninggalkan nenek. Tubuh nenek mengecil dan 
menghilang. Nek, i will miss u.

“Ehh katanya kamu bukan bocah cengeng ! udah.. udah. Kalau liburan ke 
sini,ya. Sebentar lagi kalau udah musim panen, kakek ma nenek juga mau 
datang ke rumahmu.” Ucap kakek sambil memakaikan topi ke kepalaku. 

“Bener, janji lho. Oleh-olehnya yang banyak.” Jawabku.

“Eh.. kata nenek, ‘kalau udah pake jilbab, nggak perlu pake topi’, hehe,” 
ucapku sambil meniru gaya bicara nenek yang lirih. Kulepas topiku.

“Kubilangin nenekmu lhoo.”

“Bilangin aja weeeeee...”
***

Capek. Udah gonta-ganti bus sampai tiga kali. Untung nggak tersesat. 
Maklum, aku pergi ke desa diantar temen ayah pake mobil. Akhirnya sampai 
juga aku di kota Solo tercinta. Kulihat jam tanganku. Wahh sudah jam dua 
lebih. Aku belum sholat Dhuhur. Kucari mushola. Penuh dan sesak. Ya udah 
jalan satu-satunya yaitu cepat-cepat mencari taksi and go home soon.

Alhmdulillah. sampai di rumah juga, setelah kurang dari 15 menit 
perjalanan. Agak ragu aku memasuki rumah. Kuketuk pintu rumah.

“Assalamualaikum.” Kebiasaan salam yang kudapat selama seminggu di rumah 
nenek tak sengaja keluar dari mulutku.

Ibu membukakan pintu tanpa menjawab salam. Ibu bengong melihatku. Segera 
kucium tangan ibu. 

Di ruang tengah, ayah hanya terdiam tanpa suara. Seperti biasanya. Dingin. 


“Ibu, maapin Syan ya.”

Kulihat jam menunjukkan pukul 14.30. Aku belum sholat Dhuhur. Segera 
kuberlari ke lantai atas menuju kamar mandi lalu ke kamar. 

Kucari mukenaku. Ahh akhirnya ketemu juga. Mukena satu-satunya sejak SMP. 
Coba kukenakan. Hmm..kekecilan. Atasannya hanya menutup setengah lenganku. 
Bawahannya tidak mampu menutupi kakiku. Ya Allah, untuk menghadapMu pun 
aku tak punya pakaian yang layak. Beberapa menit lagi suara adzan Ashar 
akan berkumandang. Aku masih berdiri terpaku, bingung.
Di lantai bawah. Kudengar mulai ada teriakan-teriakan.

“Aku sudah bilang. Bukan jalan baik ngirim anakmu ke rumah orang tuaku. 
Dia sudah teracuni. Mending dulu kau biarkan saja dia minggat ke Bali! “ 
ucapan ayahku terdengar jelas. Membuatku tambah bingung.

“Ayah, setidaknya dia nggak bersama anak-anak nakal. Iyya,kan.!” Jawab 
ibuku tak kalah kerasnya.

Ayah, ibu.......aku sayang kalian. Aku tak ingin gara-gara aku kalian 
bertengkar. 

Kudengar ketukan pintu dan suara ayah ibuku dari balik pintu.

“Syan.. buka pintu. Ayah dan ibu mau bicara.” Suara ibuku terdengar dari 
balik pintu.

Ragu tapi kubuka pintu kamarku. Mukena yang kekecilan masih melekat di 
tubuhku. Ayah dan ibu hanya terdiam membisu melihatku.

“Syan mau sholat tapi mukenanya kekecilan.” Ucapku 

Tak ada reaksi dari ayah dan ibuku. Sementara sayup-sayup terdengar suara 
adzan menunjukkan waktu sholat Ashar telah tiba. 

“Syan berangkat dari rumah nenek tadi pagi. Belum sholat Dhuhur. Sekarang 
sudah Ashar. Syan nggak tahu cara menjamak sholat.” Ucapku lirih. Aku tak 
sengaja mengeluarkan air mata di depan ayah ibuku, sesuatu yang tidak 
pernah kulakukan dan menjadi pantangan bagiku.

------------------------------------
Boardwalk for $500? In 2007? Ha! 
Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! 
Games.

[Non-text portions of this message have been removed]

Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.476 / Virus Database: 269.9.6/865 - Release Date: 6/24/2007 
8:33 AM

Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.476 / Virus Database: 269.9.6/865 - Release Date: 6/24/2007 
8:33 AM

::BCA::

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]

 


---------------------------------------------------------------------------
This message (including any attachments) is confidential and may be privileged. 
If you have received it by mistake please notify the sender by return e-mail 
and delete this message from your system. Any unauthorised use or dissemination 
of this message in whole or in part is strictly prohibited. Please note that 
e-mails are susceptible to change. ABN AMRO Bank N.V, which has its seat at 
Amsterdam, the Netherlands, and is registered in the Commercial Register under 
number 33002587, including its group companies, shall not be liable for the 
improper or incomplete transmission of the information contained in this 
communication nor for any delay in its receipt or damage to your system. ABN 
AMRO Bank N.V. (or its group companies) does not guarantee that the integrity 
of this communication has been maintained nor that this communication is free 
of viruses, interceptions or interference.
---------------------------------------------------------------------------


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke