Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuhu,

Bismillaahir rahmaanir rahiimi, 
Alhamdu lillaahil ladzii ja'alanaa minan naashihiina, wa afhamanaa min 'uluumil 
'ulamaa-ir 
raasikhiina, wash shalaatu was-salaamu 'alaa man nasakha diinuhu adyaanal 
kafarati wath 
thaalihiina, wa 'alaa aalihi wa ashhaabihil ladziina kaanuu bitamas-suki 
syarii'athihi shalihiina. 

"Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, 
Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita termasuk para penasihat, dan 
yang telah 
memberi kepahaman kepada kita dari berbagai ilmu para 'ulama yang ahli, dan 
mudah-mudahan 
shalawat serta salam tetap dilimpahkan kepada (Nabi Besar Muhammad) yang 
agamanya menghapuskan 
agama-agama orang kafir dan orang yang jahat, dan semoga shalawat dan salam 
juga dilimpahkan 
kepada keluarga dan para shabatnya yang baik yang selalu berpegang dengan 
syari'atnya". 

Wahai saudara-saudariku yang dicintai Allah Swt. disini saya sebagai hamba yang 
faqir dan dhaif 
ingin memberikan sedikit pengetahuan yang mungkin tidak seberapa dengan ilmu 
saudara-saudari 
ketahui/miliki. Disini saya bukan menggurui tetapi sekedar membagi sedikit 
pengetahuan untuk 
menambah ilmu bagi yang belum mengetahui dan menambah keyakinan kita dalam 
beramal untuk 
mencapai ridha Allah Swt. bagi yang sudah mengetahui. 

'IDU'L-FITHRI (Syawwal)

Diriwayatkan oleh Ibnu 'I-Jauzi dengan sanad yang bersambung sampai kepada Abu 
Sa'id Al-Khudri Ra., 
bahwasanya dia berkata, Rasulullah Saww. memerintahkan kepada kita pada hari 
Raya Fithri untuk 
memberikan fitrahnya kepada orang-orang fakir di antara saudara-saudara kita. 
Dan Beliau juga 
bersabda: "Barangsiapa membayar fitrah kepada orang fakir, maka dia bebas dari 
neraka, dan 
barangsiapa membayar fitrah kepada dua orang fakir, maka dia ditetapkan Allah 
bebas dari syirik 
dan sifat munafik, dan barangsiapa membayar fitrah kepada tiga orang fakir, 
maka berhak baginya 
masuk kedalam surga, dan dijodohkan Allah dengan bidadari cantik yang jeli 
matanya". 

Diriwayatkan dari Baihaqi yang bersumber dari Abdullah bin Abbas Ra., sebuah 
hadist marfu' yang 
panjang sehingga Beliau bersabda: "Apabila tiba waktu pagi hari Raya Fithri, 
Allah mengutus 
Malaikat pada setiap negri, lalu mereka turun kebumi dan berdiri pada mulut 
setiap jalan, 
kemudian menyeru dengan seruan yang dapat didengar oleh segenap makhluk, selain 
jin dan manusia: 
"Hai umat Muhammad Saww, keluarlah menuju Tuhan Yang Maha Pemurah. Dia 
memberikan pemberian yang 
besar dan mengampuni banyak dosa", Apabila mereka telah tampak berada pada 
tempat shalatnya, 
maka Allah berfirman kepada malaikat: "Wahai Malaikat-Ku, apakah balasan buruh 
yang sudah mau 
bekerja?", Malaikat menjawab: "Balasannya adalah disempurnakan upahnya". Allah 
berfirman: 
"Aku mempersaksikan kepada kalian, wahai Malaikat-Ku, bahwasanya Aku telah 
menjadikan puasa 
Ramadhan mereka dan ibadah malam mereka menjadi keridaan dan ampunan-Ku". 
Kemudian Allah 
berfirman lagi: "Mintalah kepada-Ku, maka demi keperkasaan dan kemegahan-Ku, 
tiada kalian meminta 
kepada-Ku pada hari ini, baik yang menyangkut urusan dunia maupun urusan 
akhirat melainkan Aku 
memberinya. Dan demi keperkasaan dan kemegahan-Ku, tiada Aku menghina dan 
membuka aib kalian, 
pulanglah kalian dalam keadaan terampuni dosa kalian! Kalian telah beramal demi 
menuntut 
keridhaan-Ku dan Aku telah ridha pula kepada kalian". Maka, mendengar firman 
Allah itu, Malaikat 
merasa gembira dengan karunia yang telah diberikan kepada umat Muhammad Saww. 
Ini". 

Nabi Saww. telah bersabda: 
"Man ahyaa laylata'l-'iidi lam yamut qalbuhu yauma tamuutu'l quluubu. 
Barangsiapa menghidupkan malam Hari Raya (Idul Fithri dan Idul Adha), maka 
hatinya tidak akan 
mati pada hari ketika semua hati manusia mati". 

Didalam hadits riwayat Thabrani dan Ibnu Majah diterangkan: 
"Man ahyaa laylata'l fithri wa laylata'l adhhaa lam yamut qalbuhu yauma 
tamuutu'l quluubu. 
Barangsiapa menghidupkan malam hari Raya Fithri dan malam hari Raya Adha, maka 
tidak akan mati 
hatinya pada hari ketika hati manusia seluruhnya menjadi mati.
  
Mu'adz ra. berkata: 
"Man Ahyaal layaa li'l arba'a wa jabat lahul jannatu : Laylatal tarwiyati wa 
laylata 'arafata 
wa laylatan nahri wa laylatal fithri. 
Barangsiapa menghidupkan waktu-waktu malam yang empat, maka berhak baginya 
masuk ke dalam surga, 
yaitu : malam Tarwiyah (8 Dzu'l-hijjah), malam 'Arafah (9 Dzu'l-hijjah), malam 
Nahr/Idul Adha 
(10 Dzu'l-hijjah), dan malam Fitrah (1 Syawwal)". (HR. Ibnu Asakir) 

Disunatkan pada Hari Raya untuk mengenakan pakaian yang paling baik dari yang 
dimiliki.

Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad orang yang dapat dipercaya, 
bahwa sesungguhnya 
hari itu disebut hari raya hanyalah karena pada hari itu Allah Swt. mengulangi 
pemberian 
kesenangan dan kegembiraan kepada hamba-hamba-Nya. Atau karena diucapkan kepada 
orang-orang 
Mu-min: "Kembalilah kerumah kalian dengan mendapatkan ampunan". Di dalam hadits 
yang lain 
diterangkan, bahwa apabila tiba Hari Raya dan manusia keluar kelapangan (untuk 
melakukan shalat), 
maka Allah berfirman: "Wahai hamba-hamba-Ku, karena Aku kalian beribadah, dan 
karena Aku kalian 
shalat. Pulanglah dengan memperoleh ampunan daripada-Ku!". 

Wahab bin Munabbih mengatakan, bahwa Allah menciptakan surga pada hari Raya 
Fithri, menanam pohon 
Thuba pada hari Raya Fithri, dan memilih Malaikat Jibril sebagai penyalur wahyu 
juga pada hari 
Raya Fithri. 

Kata Anas bin Malik ra.: "Orang yang beriman itu mempunyai lima Hari Raya: 
1. Tiap-tiap hari dia berjalan melewati orang yang beriman dan tidak dicatat 
padanya suatu dosa, 
maka itu adalah Hari Raya. 
2. Hari dia keluar dari dunia ya'ni mati dengan berbekal iman, syahadat dan 
benteng dari tipu 
daya setan, maka hari itu adalah Hari Raya. 
3. Hari dia menyebrang shirathal mustaqim/jembatan dan dia selamat dari 
resikonya hari Qiyamat 
serta selamat pula dari tangan para musuhnya dan dari Malaikat Zabaniyah, maka 
itu adalah 
Hari Raya. 
4. Hari dia masuk kedalam sorga dan selamat dari neraka Jahim, maka itu adalah 
Hari Raya. 
5. Hari dia bisa melihat Tuhannya, maka itu adalah Hari Raya. 
(Abul-Laits) 

Dari Wahab bin Munabbih bahwa dia berkata: "Beliau Nabi Saww. bersabda: 
"Sesungguhnya Iblis 
'alaihil la'nah itu berteriak pada tiap-tiap Hari Raya, maka para 
ahlinya/tentaranya sama 
berkumpul disekelilingnya sambil berkata: "Wahai baginda kami, siapakah yang 
menjadikan baginda 
murka, maka sungguh dia akan kami hancurkan!". 
Iblis berkata: "Tidak ada sesuatu, akan tetapi Allah Swt. pada hari ini telah 
mengampuni umat ini. 
Maka kamu sekalian harus menyibukkan mereka dengan segala macam yang 
lezat-lezat, dengan syahwat 
dan dengan minum arak, sehingga Allah murka kepada mereka".
Maka bagi orang yang berakal hendaknya bisa menahan dirinya pada Hari Raya dari 
pada segala macam 
nafsu syahwat dan dari semua yang dilarang, bahkan supaya selalu bertaat. 

Oleh karena itu beliau Nabi Saww. bersabda: "Bersungguh-sungguhlah kamu 
sekalian pada Hari Raya 
Fithri dengan bersedekah dan amalan yang baik yang bagus daripada shalat, 
zakat, bertasbih 
(membaca Subhanallaahi) dan tahlil (membaca Laa Ilaaha Illallaahu), karena 
sesungguhnya hari ini 
Allah Swt. mengampuni semua dosa kamu sekalian, mengabulkan do'amu dan melihat 
kamu sekalian 
dengan kasih sayang". (Durratul Waa'izdiina) 

Diterangkan dalam sebuah hadits, bahwa barangsiapa mengucapkan: "Subhanallaahi 
Wa Bihamdihi", 
pada Hari Raya sebanyak tigaratus kali, lalu dihadiahkan kepada orang-orang 
Islam yang sudah mati, 
maka masuk ke dalam setiap kubur seribu cahaya, dan Allah menjadikan untuknya 
seribu cahaya di 
dalam kuburnya sendiri apabila dia mati. Dan tidak seorang pun dari orang-orang 
yang sudah mati 
melainkan dia mengucapkan pada hari kiyamat: "Ya Tuhan Yang Maha Pengasih, 
kasihanilah hamba-Mu, 
dan jadikanlah surga sebagai balasannya". Lalu Allah Swt. berfirman: 
"Saksikanlah, sesungguhnya 
Aku telah mengampuninya". 

Diperoleh keterangan dalam hadits para sahabat, bahwa barangsiapa memohon ampun 
kepada Allah Swt. 
pada Hari Raya sesudah shalat fardhu Shubuh sebanyak seratus kali, maka di 
dalam buku catatan 
amalnya tidak ditemukan catatan dosa sedikitpun dan nanti pada hari kiamat 
berada di bawah 
'Arsy dalam keadaan aman dari siksa Allah Swt. 

Barangsiapa berjalan ke kubur orangtuanya pada Hari Raya Fithri, maka Allah 
Swt. mencatat setiap 
langkahnya sesuatu kebaikan. Barangsiapa memuliakan kedua orangtuannya, maka 
Allah Swt. 
memuliakan kepadanya. Barangsiapa menghina Orang fakir, maka Allah Swt. 
menghinanya besok di 
hari kiyamat dan tidak melihat kepadanya. Barangsiapa memanggil orang fakir dan 
memberinya suatu 
makanan yang disukainya pada Hari Raya Fithri, maka Allah Swt. akan memberikan 
kepadanya sebuah 
kota dari cahaya permata dan yaqut, dan memberinya makanan dari makanan surga. 
Barangsiapa 
kembali pulang dari tempat shalatnya menuju rumahnya dengan tenang dan 
berwibawa, maka Allah Swt. 
akan memberi kepadanya nanti pada hari kiyamat setiap langkah sepuluh kebaikan. 
Barangsiapa 
melakukan perbuatan maksiat pada Hari Raya, maka Allah Swt. memanggil: 
"Tidakkah engkau malu 
kepada-Ku, padahal Aku memandang kamu dengan pandangan rahmat dan kasihan, 
sedang kamu semakin 
jauh dari-Ku. Bertaubatlah kepada-Ku, wahai hamba-Ku, niscaya Aku mengampuni 
dosamu, dan Aku 
jadikan kamu sebagai kekasih-Ku dan kekasih Malaikat-Ku. Barangsiapa memperluas 
dirinya dan 
keluarganya (dalam memberikan belanja) pada Hari Raya, maka Allah Swt. 
memperluas pintu 
kecukupan padanya dan menutup kefakiran daripadanya". 

Dari Tsauban berkata, Rasulullah Saww. bersabda: "Man shaama ramadhaana wa 
'atba'ahu 
bisittim-min syawwaaliin faka'annamaa shaamad-dahra kullahu. 
Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu mengikutinya berpuasa enam hari 
di bulan Syawal, 
maka seolah dia berpuasa setahun sempurna". (HR. Ahmad)

Di Dalam hadits yang lain Nabi Saww. bersabda: "Shiyaamu syahri ramadhaana 
bi'asyri 'asyhurin, 
wa shiyaamu sittati ayyaamim-bisyahrayni. fadzaa lika shiyaamus-sanati. 
"Puasa bulan Ramadhan memadai dengan puasa sepuluh bulan, dan berpuasa enam 
hari memadai dengan 
puasa dua bulan, maka puasa yang demikian itu adalah puasa setahun". 

Dari Ayyub ra. berkata, Nabi Saww. bersabda: "Man shaama ramadhaana wa 
'atba'ahu sittaamin 
syawwaalin kaana kashaumid-dahri. 
Siapa yang puasa bulan Ramadhan lalu dilanjutkan puasa enam hari bulan syawwal, 
maka menyamai 
puasa selamanya (sepanjang masa)". (HR. Ahmad dan Muslim) 

Ada yang mengatakan bila berpuasa sebulan penuh dibulan Ramadhan maka menyamai 
puasa 300 Hari 
dan pada 6 hari bulan Syawwal menyamai 60 hari jadi berjumlah 360 hari (kurang 
lebih 1 tahun) 
karena setiap amal itu dilipatkan 10 kali lipat. 

Juga dari Ibn Umar ra. berkata, Nabi Muhammad Saww. bersabda: "Siapa yang puasa 
bulan 
Ramadhan lalu dilanjutkan enam hari bulan Syawwal, maka keluar dari semua 
dosa-dosanya bagaikan 
ia baru lahir dari perut ibunya". (HR.At-Thabarani) 

Wahai Saudara-saudariku jadikanlah Idul Fithri tahun ini menjadi Hari Raya yang 
penuh berkah, 
rahmat, magfirah serta ridha dari Allah Swt. dengan berdzikir dan berdo'a 
kepada Allah pada 
malam (mustajab) Idul Fithri (1 Syawwal), pada sehabis shalat subuh berdzikir 
Istigfar 
seratus kali memohon ampun kepada Allah Swt., siangnya sehabis shalat dzuhur 
atau ashar 
membaca subhanallaahi wabihamdihi tigaratus kali kita hadiahkan pahalanya 
kepada muslim dan 
muslimah, mukmin dan mukminah, pada tanggal 2 Syawwalnya mengerjakan puasa 6 
hari (berturut-turut) 
agar kita tercatat orang yang mengerjakan puasa setahun penuh, dan Insya Allah 
kita dapat 
memasuki surga melalui pintu khusus yang bernama Ar-Rayyan (pintu kesegaran) 
bagi orang-orang 
yang senang/suka berpuasa karena Allah Swt. 

Wallaahu a'lam bi shawab....

Dikutip dari:
* Ihya' Ulumiddin --> Imam Al-Ghazali.
* Riyadhus Shalihin --> Imam An-Nawawi.
* Durratun Nasihin --> Usman Alkhaibawi.
* At-Tuhfa Al-Mardhiyyah fil Akhbaril Qudsiyyah wal Ahadits Nabawiyyah --> 
Asy-Syaikh Abdul Majid Al-'Adawiy 
* Irsyadul'ibad Ilasabilirrasyad --> H. Salim Bahreisy
* Fatawa Rasulullah Saw. --> Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah

Wassalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuhu.

Kirim email ke