26 Okt 07 05:02 WIB

Oleh Meralda Nindyasti

" Wanita itu ibarat buku yang dijual di toko buku. " Kata Ukhti Liana, 
mentor rohaniku ketika SMA.

Ia melanjutkan ceritanya "Begini asosiasinya.. di suatu toko buku, 
banyak pengunjung yang datang untuk melihat-lihat buku. Tiap pengunjung 
memiliki kesukaan yang berbeda-beda. Karena itulah para pengunjung 
tersebar merata di seluruh sudut ruangan toko buku. Ia akan tertarik 
untuk membeli buku apabila ia rasa buku itu bagus, sekalipun ia hanya 
membaca sinopsis ataupun referensi buku tersebut. Bagi pengunjung yang 
berjiwa pembeli sejati, maka buku tersebut akan ia beli. Tentu ia 
memilih buku yang bersampul, karena masih baru dan terjaga. Transaksi di 
kasirpun segera terjadi. "

"iya, terus kak..?" kataku dan teman-teman, dibuat penasaran olehnya.

"Nah, bagi pengunjung yang tidak berjiwa pembeli sejati, maka buku yang 
ia rasa menarik, bukannya ia beli, justru ia mencari buku dengan judul 
sama tapi yang tidak bersampul. Kenapa? Kerena untuk ia dibaca saat itu 
juga. Akibatnya, buku itu ada yang terlipat, kusam, ternoda oleh 
coretan, sobek, baik sedikit ataupun banyak. Bisa jadi buku yang tidak 
tersampul itu dibaca tidak oleh seorang saja. Tapi mungkin berkali-kali, 
dengan pengunjung yang berbeda tetapi berjiwa sama, yaitu bukan pembeli 
sejati alias pengunjung iseng yang tidak bertanggung jawab. Lama 
kelamaan, kasianlah buku itu, makin kusam hingga banyak yang enggan 
untuk membelinya" Cerita ukhti Liana.

"Wanita itu ibarat buku. Jika ia tersampul dengan jilbab, maka itu 
adalah ikhtiar untuk menjaga akhlaknya. Lebih-lebih kalau jilbab itu tak 
hanya untuk tampilannya saja, tapi juga menjilbabkan hati.. Subhanallah..!

Pengunjung yang membeli adalah ibarat suami, laki-laki yang telah Allah 
siapkan untuk mendampinginya menggenapkan ½ dienNya. Dengan gagah berani 
dan tanggung jawab yang tinggi, ia bersedia membeli buku itu dengan 
transaksi di kasir yang diibaratkan pernikahan. Bedanya, Pengunjung yang 
iseng, yang tidak berniat membeli, ibarat laki-laki yang kalau zaman 
sekarang bisa dikatakan suka pacaran. Menguak-nguak kepribadian dan 
kehidupan sang wanita hingga terkadang membuatnya tersakiti, merintih 
dengan tangisan, hingga yang paling fatal adalah ternodai dengan 
free-sex. Padahal tidak semua toko buku berani menjual buku-bukunya 
dengan fasilitas buku tersampul. Maka, tentulah toko buku itu adalah 
toko buku pilihan. Ia ibarat lingkungan, yang jika lingkungan itu baik 
maka baik pula apa-apa yang ada didalamnya. " kata ukhti Liana.

"wah, kalau begitu jadi wanita harus hati-hati ya..!. " celetuk salah 
satu temanku.

"Hmm, .apakah apapun di dunia ini bakal dapet yang seimbang ya, kak? 
Kayak itu deh, buku yang tersampul dibeli oleh pembeli yang bertanggung 
jawab. Itukan perumpamaan Wanita yang baik dan terjaga akhlaknya juga 
dapat laki-laki yang baik, bahkan insyallah mapan, sholeh, pokoknya yang 
baik-baik juga. Gitu ya, kak?" kata temanku.

" Benar, Seperti janji Allah SWT, "Wanita yang keji adalah untuk 
laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita 
yang keji (pula), dan wanita-wanit yang baik adalah untuk laki-laki yang 
baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik 
(pula). (An-Nur:26). Dan, hanya Allah yang tak menyalahi janji. " 
penjelasan ukhti Liana.

***

Empat tahun berselang.. diskusi itu masih mengena dihatiku. Hingga pada 
suatu malam, pada suatu muhasabah menyambut usia yang bertambah, "Pff, 
Ya Allah... Tahu begini, Aku malu jadi wanita. " bisikku.

Menjadi wanita adalah amanah. Bukan amanah yang sementara. Tapi amanah 
sepanjang usia ini ada. Pun menjadi wanita baik itu tak mudah. Butuh 
iman dan ilmu kehidupan yang seiring dengan pengalaman.

Benar. Menjadi wanita adalah pilihan. Bukan aku yang memilihnya, tapi 
Kau yang memilihkannya untukku. Aku tahu, Allah penggenggam segala ilmu. 
Sebelum Ia ciptakan aku, Ia pasti punya pertimbangan khusus, hingga 
akhirnya saat kulahir kedunia, Ia menjadikanku wanita. Aku sadar, tidak 
main-main Allah mengamanahkan ini padaku. Karena kutahu, wanita adalah 
makhluk yang luar biasa. Yang dari rahimnya bisa terlahir manusia 
semulia Rasulullah atau manusia sehina Fir'aun.

Kalau banyak orang lain merasa bangga menjadi wanita, karena wanita 
layak dipuja, karena wanita cantik memesona, karena wanita bisa dibeli 
dengan harta, karena wanita cukup menggoda, dan lain sebagainya, maka 
justru sebaliknya, dengan lantang aku berkata.. "aku malu menjadi wanita!"

Ya, Aku malu menjadi wanita, kalau faktanya wanita itu gampang 
diiming-iminggi harta dengan mengorbankan harga dirinya. Aku malu 
menjadi wanita kalau ternyata wanita itu sebagai sumber maksiat, 
memikat, hingga mengajak pada jalan sesat. Aku malu menjadi wanita kalau 
ternyata dari pandangan dan suara wanita yang tak terjaga sanggup 
memunculkan syahwat. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata tindak 
tanduk wanita sanggup membuahkan angan-angan bagi pria. Aku malu menjadi 
wanita kalau ternyata wanita tak sanggup jadi ibu yang bijak bagi 
anaknya dan separuh hati mendampingi perjuangan suaminya.

Sungguh, aku malu menjadi wanita yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Ya, 
Aku malu jika sekarang aku belum menjadi sosok wanita yang seperti Allah 
harapkan. Aku malu, karena itu pertanda aku belum amanah terhadap 
titipan Allah ini. Entahlah, dalam waktu 19 tahun ini aku sudah menjadi 
wanita macam apa. Aku malu.. Bahkan malu ini berbuah ketakutan, 
kalau-kalau pada hari akhir nanti tak ada daya bagiku untuk 
mempertanggungjawabkan ini semua.

Padahal, setahuku dari Bunda Khadijah, Aisyah dan Fatimah, wanita itu 
makhluk yang luar biasa, penerus kehidupan. Dari kelembutan hatinya, ia 
sanggup menguak gelapnya dunia, menyinari dengan cinta. Dari 
kesholehannya akhlaknya, ia sanggup menjaga dunia dari generasi-generasi 
hina dengan mengajarkannya ilmu dan agama. Dari kesabaran pekertinya, ia 
sanggup mewarnai kehidupan dunia, hingga perjuangan itu terus ada.

Allah, maafkan aku akan kedangkalan ilmuku dan rendahnya tekadku. Aku 
berlindung pada-Mu dari diriku sendiri. Bantu aku Rabb, untuk tak lagi 
menghadirkan kelemahan-kelemahan diri saat aku ada di dunia-Mu. Hingga 
kelak aku akan temui-Mu dalam kebaikan akhlak yang kuusahakan. Ya, 
wanita sholehah.."

dari http://www.eramuslim.com/atk/oim/7a25132222-aku-malu-menjadi-wanita.htm


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke