Pie ChartsOrang yang Paling Merugi Perbuatannya 

Firman Allah Ta'ala yang artinya, "Katakanlah: 'Maukah kamu, Kami beritahukan 
tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang 
telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka 
bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu adalah orang-orang yang 
kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan 
Dia, maka terhapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan 
penimbangan amal bagi mereka pada hari kiamat. Demikianlah, balasan mereka itu 
adalah neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan karena mereka 
menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olokan'." 
(Al-Kahfi:103-106) 

Manusia dalam berbuat atau beramal dalam kehidupan dunia ini bisa kita bagi 
pada dua kategori utama. Pertama, manusia yang melandaskan amalnya atas dasar 
iman kepada Sang Pencipta alam semesta, Allah Subhaanahu wa Ta'ala. Kedua, 
orang yang beramal, tetapi kafir terhadap Allah Subhaanahu wa Ta'ala.

Kemudian, kelompok pertama bisa kita bagi lagi menjadi empat: 




  1.. Yang berbuat kebajikan dengan landasan pengetahuan.
  Kelompok ini tentu saja menjadi orang yang beruntung, karena orang yang tahu 
kebaikan dan bagaimana melakukannya, niscaya dibimbing Allah dalam tindakannya 
dan diberi ganjaran yang berlipat ganda. 


  2.. Yang berbuat kebajikan tanpa landasan pengetahuan.
  Kelompok ini merupakan kelompok yang sifatnya spekulasi, karena seseorang 
yang berbuat suatu kebaikan tanpa dilandasi ilmu yang benar bisa jadi ia tepat 
sasaran, bisa jadi pula salah sasaran. Tetapi, hal itu cenderung menyesatkan 
pelakunya, bahkan kepada orang lain, karena tanpa landasan ilmu.

  3.. Yang tak berbuat kebajikan karena tidak tahu.
  Kelompok ini tentu saja telah menyia-nyiakan potensi yang telah dikaruniakan 
Allah kepadanya untuk beramal di muka bumi ini dengan sebaik-baiknya.

  4.. Yang tak berbuat kebajikan, walaupun punya pengetahuan tentang kebajikan.
  Kelompok ini juga telah menyia-nyiakan ilmu pengetahuan dan potensi lain yang 
dikaruniakan Allah kepadanya. Meski demikian, setidaknya mereka punya suatu 
keuntungan dengan iman yang ada pada mereka. Itu tetap lebih baik dari pada 
kekufuran dengan amal yang banyak. Namun, hal ini tidak boleh menjadikan kita 
terpaku pada hal-hal yang demikian. Seorang muslim harus dinamis dan 
berkembang. Dari tidak tahu harus menjadi tahu, dari tidak berbuat menjadi 
berbuat.


Kemudian kita lirik kelompok kedua, yaitu orang-orang kafir. Mereka pun terbagi 
empat, yaitu:




  1.. Yang berbuat kebajikan dengan pengetahuan mereka tentang kebajikan.

  2.. Yang berbuat dan menyangka bahwa itu adalah kebajikan.

  3.. Yang tidak berbuat kebajikan dan tidak tahu kebajikan

  4.. Yang tidak berbuat kebajikan walaupun tahu kebajikan.


Mereka semua, dengan kekafirannya, sebenarnya sudah termasuk orang yang merugi. 
Mereka telah menghapus amal mereka sendiri. Namun, yang paling merugi tentunya 
adalah mereka yang telah berbuat banyak dan menyangka bahwa ia telah berbuat 
sebaik mungkin. Ternyata, begitu datang hari kiamat yang pada hari itu segala 
amalan akan dihisab, ia mendapati segala amal yang diperbuatnya sia-sia dan 
terhapus. Betapa sangat meruginya orang yang demikian, karena sudah keluar 
segala daya upaya, baik tenaga, pikiran, harta, waktu dan sebagainya selama di 
dunia, tetapi semua itu sia-sia di akhirat kelak. Sehingga, dengan tiadanya 
amalan mereka, tidak perlu lagi ditimbang, karena memang tidak ada yang akan 
ditimbang. Ini semua karena kekafiran mereka terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, 
hari akhir yang merupakan hari perjumpaan dengan Allah dan segala amal 
perbuatan makhlukdi beri ganjaran. Amal perbuatan mereka, Allah perumpamakan 
dengan fatamorgana yang berada di padang pasir. Dari jauh disangka air, begitu 
didekati ternyata tidak ada apa-apa. Sesungguhnya amal mereka telah diberikan 
(dibalas) di dunia, sesuai dengan niat mereka. Bukankah mereka berbuat agar 
dikenang generasi-generasi berikutnya? Hal itu sudah mereka dapatkan. Bukankah 
mereka telah mendapatkan ketenaran yang mereka inginkan dari kebaikan mereka? 
Masih banyak lagi motivasi mereka, yang tentu saja tidak satu pun karena Allah, 
karena memang mereka tidak beriman kepada-Nya. Namun, dunia tidak selalu 
memberikan yang memuaskan, sehingga mereka semuanya tidak mendapatkan keinginan 
mereka. 

Ini adalah sebuah fenomena yang dapat kita saksikan setiap saat, pada kehidupan 
orang-orang kafir. Banyak di antara mereka yang menyumbang ribuan, jutaan, 
bahkan milyaran dolar untuk kemanusiaan dan sebagainya. Banyak yang 
memperjuangkan kebajikan di mana-mana dengan segala atributnya. Padahal, 
sesungguhnya mereka tertipu dengan semuanya itu. Mereka berbuat kebajikan 
sesama makhluk, namun di saat bersamaan, mereka kafir terhadap Pencipta mereka, 
Allah Subhaanahu wa Ta'ala. Mereka telah menjadikan ayat-ayat Allah dan para 
rasul-Nya sebagai bahan olok-olokan. Lihatlah, bagaimana para kuffar itu 
menertawakan Islam, ajarannya, serta kaum muslimin. Ayat-ayat Allah mereka 
jadikan bahan ejekan dalam diskusi, seminar, tulisan, dan berbagai macam cara 
lainnya.

Ayat-ayat Allah terlalu nyata untuk diingkari, terlalu mulia untuk dilecehkan, 
dan terlalu banyak untuk dibilang. Apa yang ada di semesta ini merupakan 
ayat-ayat Allah disamping yang Allah wahyukan dalam Alquran. 

Hari akhir, sebagai hari pembalasan adalah suatu yang pasti datang. Pada saat 
itu, semua orang akan mendapatkan ganjaran dari segala yang diperbuatnya. 
Adalah suatu yang tak dapat diingkari bahwa setiap perbuatan mempunyai akibat 
dan konsekuensi sendiri-sendiri. Yang baik tentu saja berakibat baik, begitu 
juga sebaliknya. Namun, kenyataannya dalam kehidupan dunia ini banyak orang 
yang berbuat baik, tetapi belum mendapatkan balasannya. Contoh, orang beriman 
yang mati dalam menyelamatkan seseorang dari kebakaran. Karena luka bakar yang 
dideritanya, misalnya. Tentunya, ia belum mendapatkan balasan yang pantas. 
Pujian manusia terhadap keberaniannya tidaklah berarti apa-apa dibanding 
pengorbanannya. Toh pujian manusia adalah sebuah fatamorgana juga. Apakah 
mungkin pengorbanannya sia-sia? Tidak, sekali-kali tidak. Allah Maha Mengetahui 
dan Maha Adil lagi Maha Pengasih. Hanya Dia-lah yang akan membalas segala 
pengorbanan seorang hamba. 

Di lain pihak, kita lihat banyak orang yang telah berbuat kezaliman di dunia 
ini mati sebelum mendapatkan ganjaran dari kezalimannya. Bahkan, ia juga 
meninggalkan penderitaan dan kesengsaraan bagi orang banyak. Sementara, semasa 
hidupnya ia enak-enak ongkang kaki di atas penderitaan orang lain. Percayalah, 
Allah pasti akan membalasnya. Sesungguhnya tidak ada yang dapat menghindari 
dari Allah. Sesungguhnya siksaan Allah itu sangat pedih, di luar kemampuan yang 
kita bayangkan. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Marilah 
berlindung kepada Allah dari kerugian di akhirat kelak. Wallahu A'lam.




Best Regards,

Iip Syaiful Rahman




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke