Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh
Semoga Netter Sofwa Senantiasa dalam Lindungan Allah Subhannahu wa Ta'ala

  *Kekacauan Dalam Bersikap*

Sikap asal-asalan, bekerja setengah-setengah, dan semrawut serta
menja-lankan pekerjaan secara prematur sering kita alami di dalam kehidupan.
Padahal selayaknya sebagai seorang muslim, kita memahami hakikat segala
sesuatu, menjadikan setiap waktu dan kehidupan kita memiliki tujuan dan
target yang jelas, dan segala aktivitas serta pekerjaan yang kita lakukan
hendaknya memiliki sasaran. Sehingga tidak ada waktu yang tersia-sia, tidak
ada sisi kehidupan yang percuma, tanpa diisi dengan sesuatu yang berguna.
Inilah ketinggian sikap seorang muslim yang sungguh-sung-guh di dalam
hidupnya, mengatur serta mengetahui tujuan dan sasarannya.

Maka hendaknya kita jauhi segala bentuk sikap asal-asalan, semrawut dan
tidak jelas di dalam mengerjakan sesuatu, sehingga aktivitas yang sebenarnya
harus dan wajib menjadi terabaikan. Segala urusan penting menjadi terlantar,
tenaga dan umur banyak yang tersia-sia. Maka akhirnya hidup menjadi goyah,
merasa lemah untuk merealisasikan tujuan hidupnya, diliputi kelesuan dan
keputusasaan, dan terus dirundung kerisauan. Lebih-lebih manakala melihat
orang lain di sekelilingnya yang telah melangkah jauh di dalam kehidupan,
sementara dia masih terus berjalan di tempat dan berputar-putar tanpa tujuan
yang jelas.

*FAUDLAWIYAH*

Sikap asal-asalan, semrawut, kacau dan serba tak jelas di dalam istilah Arab
disebut dengan faudlawiyah, yakni bercampuraduknya urusan antara satu dengan
yang lain, dengan pandangan, bahwa semuanya adalah sama dan sederajat dari
segi penting dan manfa-atnya. Sehingga bercampur antara yang hak dan batil,
yang penting dengan yang tidak, sungguh-sungguh dengan senda gurau, yang
memiliki arti dengan kesia-siaan serta menyia-nyia-kan kehidupan dan tenaga
serta hilang-nya kesungguhan di dalam hidup.

Faudlawi (orang asal-asalan) yaitu orang yang tidak memiliki tujuan yang
jelas di dalam hidupnya, tidak ada pekerjaan yang diseriusi, melakukan
pekerjaan tanpa persiapan, menger-jakan suatu pekerjaan lalu ditinggalkan,
terburu-buru melakukan sesuatu, namun tidak diselesaikan, melangkah ke jalan
ini, lalu berubah lagi dan demikian seterusnya.

*FENOMENA SIKAP FAUDLAWIYAH*

Ada banyak fenomena sikap asal-asalan yang sering kita jumpai di dalam
kehidupan, bahkan hampir seluruh sisi kehidupan terkena penyakit ini. Di
antara contoh yang dapat dikemuka kan, sebagai berikut:

   1.

   *Semrawut dan Asal-Asalan dalam Mencari Ilmu
   *Yakni dengan membaca segala macam buku tanpa membedakan antara yang
   bermanfaat dan berbahaya. Belajar atau membaca sesuatu yang tidak bermanfaat
   untuk urusan dunia ataupun akhirat, atau membeli semua macam buku yang
   disenangi oleh nafsunya. Termasuk juga belajar kepada sembarang orang yang
   bukan ahlinya, berfatwa dengan tanpa ilmu, mencari-cari pendapat yang enak
   dan ringan dari berbagai pendapat, mem-babi buta di dalam mempelajari ilmu,
   sehingga yang seharusnya diakhirkan malah didahulukan dan sebaliknya yang
   seharusnya didahulukan justru diakhirkan.
   2.

   *Asal-Asalan dalam Beribadah
   *Yaitu dengan mengakhirkan shalat, tidak melakukannya dengan
   berjamaah, mengerjakan dengan ogah-ogahan dan malas, tidak khusyu' dan
   tenang ketika mengerjakannya. Melakukan shalat sebagaimana burung gagak yang
   sedang mematuk dan mengerjakannya hanya sekedar sebagai rutinitas belaka.
   Demikian juga enggan melakukan amalan-amalan sunnah yang dapat mendekatkan
   diri kepada Allah untuk meraih kecintaan Nya.
   3.

   *Asal-Asalan dalam Memanfaat kan Waktu
   *Bentuk penyia-nyiaan terhadap waktu diantaranya adalah membiarkan
   waktu yang panjang lewat begitu saja tanpa mengisinya dengan aktivitas yang
   berguna, mengerjakan pekerjaan ringan dengan memakan waktu yang lama serta
   menyita perhatian. Juga mengerjakan berbagai pekerjaan dalam waktu
   bersamaan. Demikian pula menghabiskan waktu untuk perkara yang mubah atau
   bahkan yang dibenci dan terlarang. Tidak mengatur dan memanfaatkan waktu,
   sehingga berlalu begitu saja.
   4.

   *Asal-Asalan dalam Bergaul
   *Yakni tidak selektif di dalam memilih teman, bersahabat dengan
   sembarang orang yang baik dan yang buruk, yang shalih dan yang rusak.
   Bergaul seluas-luasnya dengan semua orang, pokoknya banyak teman, sehingga
   terkadang waktu habis untuk bergaul dengan mereka, kunjung- mengunjungi yang
   tiada henti. Acara ini dan itu yang bemacam-macam.
   Bentuk lain lagi, yaitu berlebihan di dalam berbicara dan
   bercakap-cakap dalam hal yang tidak bermanfaat. Ikut campur urusan orang
   lain, menelpon dang ngobrol ke sana ke mari tanpa ada ujung pangkalnya.

*PENDORONG SIKAP FAUDLAWIYAH*

Di antara sebab yang mendorong seseorang bersikap asal-asalan yakni:

   1.

   *Meremehkan Keberadaan Waktu
   *Bagi seorang faudlawi, tidak ada sesuatu yang paling murah baginya
   selain waktu, sehingga ia gunakan waktu itu untuk melakukan kesia-siaan,
   tidak ada perhatian sama sekali terha-dapnya serta tidak pernah berpikir
   untuk memanfaatkannya. Mereka tidak menyadari, bahwasanya mereka sedang
   membunuh diri sendiri, karena keberadaanya seperti orang mati yang tidak
   mampu melakukan sesuatu. Waktu ibarat pedang, kalau kita tidak
   mengendalikannya, maka dia akan membabat kita.
   2.

   *Tidak Faham Aulawiyat (Prioritas)
   *Sebagian orang sibuk dengan perkara penunjang, mandub (bersifat
   anjuran), dan perkara yang mubah (boleh), sehingga sebagian besar waktunya
   dicurahkan untuk hal-hal tersebut. Karena tersibukkan oleh hal-hal itu,
   akhirnya menjadi lupa dengan perkara yang bersifat dharuri (harus dan
   penting), yang wajib dan fardhu. Orang seperti ini diibaratkan seperti orang
   yang serius di dalam memikir-kan apa warna cat atau bentuk rumah yang bagus
   dan menarik, namun tidak memperhatikan kekuatan pondasi dan tiang rumahnya.
   Maka akibatnya rumah tersebut menjadi rapuh dan mudah roboh, sehingga
   asesoris dan hiasan yang terus-menerus dia pikirkan itu tidak berguna lagi.
   Ketidaktahuan seseorang terhadap prioritas akan menjadikan dia bingung
   di dalam urusannya. Dihadapannya bertumpuk pekerjaan dan sasaran, sehingga
   satu dengan yang lain saling bertentangan dan saling tarik, maka sulit
   baginya untuk mengerjakan kese-luruhan pekerjaan secara bersamaan. Akhirnya
   dia berkerja secara seram-pangan tanpa adanya prioritas, maka yang ini
   didahulukan dan yang itu diakhirkan dengan tanpa adanya kepastian dan
   target.
   3.

   *Tidak Adanya Sasaran yang Jelas
   *Orang yang tidak mempunyai sasaran atau tujuan yang jelas, ibarat
   sedang berjalan terus ke depan tanpa mengetahui ke mana arah tujuannya.
   Langkahnya tidak terarah dan gerakan-nya tidak mempunyai tujuan yang pasti.
   Pokoknya dia berjalan, namun tidak tahu mengapa dia berjalan serta bagaimana
   jalannya tersebut.
   4.

   *Tidak Membuat Perencanaan dan 'Timing' Sebelum Bekerja
   *Ini merupakan sebab seseorang bekerja asal-asalan dan tidak teratur
   di dalam hidupnya. Maka Perencanaan yang jelas membuat seseorang memiliki
   tujuan yang jelas pula di dalam mengerjakan segala sesuatu, mengetahui
   sarana yang dapat mengantarkan kepada tujuan, tahu bagaimana cara
   memanfaatkan sarana tersebut dan medan-medan yang harus dia lalui di dalam
   bekerja. Tanpa adanya perencanaan, seseorang akan melang-kah ke arah yang
   tidak jelas yang tidak tahu ke mana ujungnya dan mau apa setelah itu.
   5.

   *Bekerja tidak Terarah dan Tersusun Secara Logis dan Rapi
   *Sebagian orang ada yang sudah bekerja dengan susah payah,
   mencu-rahkan waktu, kesungguhan dan segenap kemampuan, namun terka-dang
   tidak membuahkan hasil sama sekali, karena tidak tepat waktu dan sasaran.
   Sehingga terkadang harus mengulang lagi dari awal, padahal andaikan
   sebelumnya mau menata dan mengaturnya terlebih dahulu, dia tidak akan rugi
   tenaga dan waktu.
   6.

   *Berada di Lingkungan yang Asal-Asalan
   *Lingkungan termasuk salah satu sebab yang menjadikan sesorang
   bersikap faudlawi, terutama keluarga yang tidak ada perhatian terhadap tata
   tertib dan aturan, tidak menghargai waktu dan hal-hal penting lainnya. Maka
   hasilnya jadilah dia orang yang terbiasa dengan perkara asal-asalan dan
   segala yang tak teratur. Jika ada orang yang mencoba mengingatkan atau
   menasehati, maka secara spontan dia menolak, karena sudah terbiasa bersikap
   semaunya dan sesukanya.
   Tak kalah pentingnya adalah pergaulan, karena seseorang dapat
   terbentuk wataknya melaui pergaulan sehari-hari.
   7.

   *Dosa dan Kemaksiatan
   *Ini merupakan sebab yang bersifat umum, yang mencakup segala bentuk
   maksiat. Sebab ketika seorang hamba berpaling dari peringatan Allah serta
   sibuk dengan kemaksiatan, maka secara otomatis dia telah menyia-nyiakan
   umurnya, dan membuang kehidupannya secara batil.

*AKIBAT SIKAP FAUDLAWIYAH*

Sikap semaunya dan asal-asalan memberikan dampak yang cukup berbahaya di
dalam kehidupan, antara lain:

   -

   *Tersia-Sianya Umur *
   Karena telah membiarkan waktu dan umurnya lewat begitu saja, tanpa
   diisi dengan sesuatu yang berguna, atau mengisinya dengan perbuatan rendahan
   dan kurang bermanfaat, sehingga tenaga terbuang percuma tanpa memberi faidah
   kepada diri sendiri maupun orang lain.
   -

   *Pikiran Berantakan dan Kegon-cangan Jiwa
   *Hal ini dikarenakan ketidak-mampuannya mengambil sikap yang benar
   ketika menghadapai masalah. Dia merasa lemah dan putus asa sehingga membuat
   jiwanya goyah, ditambah lagi tidak pernah member-sihkan hatinya dari
   berbagai penyakit.
   -

   *Kegagalan Kerja
   *Karena seorang yang asal-asalan dan semaunya seperti orang yang
   berhenti, atau berjalan di tempat, atau berjalan sangat lambat. Akibatnya
   tidak mugkin dia dapat menggapai tujuan dan kesuksesan. Sebab masuk akal
   jika pekerjaan yang dilakukan dengan baik dan teratur itulah yang membuahkan
   hasil.
   -

   *Hilangnya Sikap Bijak dalam Memanfaatkan Waktu
   *Orang yang bersikap asal-asalan dan semaunya tidak dapat membaca
   situasi dan keadaan, tidak mempunyai tujuan dan sasaran yang jelas, ketika
   ada suatu masalah, maka berhenti bekerja tanpa mau melihat sebab-sebab,
   pengaruh, akibat dan dampak dari masalah itu. Akhirnya dia meng-ambil
   keputusan yang kontra produktif, tidak mengena dan sesuai dengan kasus yang
   sedang dihadapi, sehingga tidak memberikan solusi yang benar.

Sumber : "Hatta La Nakuna Faudlawiyyin" Al-Qism Al-Ilmi Darul Wathan. (Abu
Ahmad Taja)

www.alsofwah.or.id
Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

*************************************
Mau belajar Al-Islam dan berita2 sekitar dunia Islam ?? silahkan klik disini
: [EMAIL PROTECTED]  Atau mau melihat artikel sebelumnya
silahkan kunjungi web-site kami : www.tauziyah.com


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke