Buletin Gaul Islam 
      16 November 2007 - 16:46 
      Save Sex? No Free Sex!  
   
      
           Pernah mendapat pembagian kondom gratis? Syukurlah kalo belum. Kalo 
pun di antara kamu sudah ada yang pernah didatangi aktivis LSM (Lembaga Swadaya 
Masyarakat) tertentu dan mereka membagikan kondom gratis, waspadalah! Karena 
ini adalah kampanye ajakan untuk menjadi penganut paham free sex, meski 
terselubung.
   
  Awal-awalnya mereka ini menamakan dirinya gerakan peduli AIDS dan memberi 
kondom gratis untuk menekan angka pengidap virus HIV. Tapi sesungguhnya jika 
kamu jeli, pasti muncul pertanyaan: “ngapain juga pake kondom untuk menghindari 
AIDS?” Sedangkan di banyak penelitian dibuktikan bahwa besar virus HIV itu 
lebih kecil daripada pori-pori yang terdapat pada kondom. Kondom (yang terbuat 
dari bahan lateks) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan 
tidak meregang. Sedangkan bila dalam keadaan meregang lebarnya pori-pori 
mencapai 10 kali. Sementara virus HIV berdiameter 1/250 mikron. Jadi jelas 
bahwa virus HIV dapat dengan leluasa lolos melalui pori-pori kondom. Intinya, 
tak ada jaminan dengan memakai kondom, para pelaku free sex bisa bebas dari 
penyakit AIDS.
   
  Ujung-ujungnya dari kampanye ini adalah ‘ajakan’ untuk sama-sama menikmati 
free sex tanpa takut terkena penyakit kelamin. Apa coba makna dibagikannya 
kondom gratis kepada para pelajar kecuali untuk digunakan? Alih-alih 
menyadarkan remaja untuk menghindari free sex, pembagian kondom gratis ini 
malah semakin memicu daya ingin tahu remaja tentang seks itu sendiri. Apalagi 
dikomporin dengan kondom di depan mata. Remaja lemah iman sudah pasti tergiur 
ingin mencobanya. Naudzubillah. 
   
  So, untuk jaga-jaga buat kamu semua, mending juga baca topik gaulislam edisi 
ini supaya tambah cerdas dalam mengkritisi kampanye save sex dengan kondom. 
Lanjuuttt!
   
  No free lunch 
  
Maksudnya tidak ada barang gratis di dunia kapitalis sekarang ini. Begitu juga 
dengan pembagian kondom yang katanya gratis untuk mendapatkan seks yang aman. 
Pembagian ini pada permukaannya memang terlihat gratis karena dibagikan secara 
cuma-cuma tanpa membayar serupiah pun. Namun pada kenyataannya, bila kita jeli 
menyikapi situasi, kondom ini sesungguhnya tidak gratis sama sekali.
   
  Pelajar SMA dan para mahasiswa yang notabene masih sangat muda dan polos, 
bisa terpancing rasa ingin tahunya dengan pembagian kondom ini. Bukan mustahil 
mereka akan coba-coba menggunakannya dengan melakukan sex before married alias 
berzina. Bisa dengan (maaf) pelacur yang saat ini banting harga karena banyak 
pesaing, atau bahkan dengan pacarnya sendiri.
   
  Percobaan pertama memakai kondom gratisan. Namun bila ketagihan, maka mau 
tidak mau mereka akan membeli kondom baru sebagai gantinya. Modus ini mirip 
sekali dengan pemakaian narkoba yang memberi pancingan gratis di awal 
pemakaian. Dan bila sudah ketagihan, maka si pengedar menangguk untung dari si 
pecandu itu. Nggak bisa nggak, produsen kondomlah yang diuntungkan dari 
kampanye save sex dengan kondom. Sangat khas ciri masyarakat kapitalis.
  Itu di satu pihak. Di pihak lain, ada sesuatu yang tersembunyi yang jauh 
lebih berbahaya daripada sekadar memberi keuntungan kepada produsen kondom.
  
Yup, perusakan generasi, inilah tujuan sebenarnya dari kampanye free sex dengan 
kondom. Entah para aktivis kampanye itu yang memang tidak tahu atau pura-pura 
tidak tahu bahwa pemakaian kondom sangatlah tidak efektif untuk mencegah 
penyakit AIDS. So, masih selalu terbuka peluang bagi siapa pun yang melakukan 
free sex, meski sudah memakai kondom, untuk terjangkit penyakit yang hingga 
saat ini belum ada penangkalnya itu.
   
  Sobat muda, save sex dengan kondom hanya sebuah tameng untuk ajakan free sex 
alias berzina yang mendapat legalitas atau ijin resmi. Dengan memakai kondom, 
seolah ingin dikatakan “Jangan takut melakukan free sex. Nggak perlu nikah dulu 
untuk bisa melakukan seks. Nggak perlu takut kena penyakit kelamin atau AIDS. 
Kan sudah pake kondom.” 
   
  Yang cowok jadi merasa tenang dan damai melakukan seks bebas karena selain 
slogan save sex tadi, mereka juga tidak takut pacarnya akan hamil di luar 
nikah. Sedangkan bagi yang cewek juga sama saja. Kondom menjadi alat pembenar 
untuk melakukan seks dengan pacar karena risiko hamil jadi kecil. Yang terjadi 
adalah rusaknya generasi baik-baik menjadi sekumpulan generasi hobi berzina di 
masyakarat yang memang sudah sakit ini. Naudzubillah.
   
  Save sex with NO free sex 
  
Bagi kamu yang masih usia belasan tahun saat ini dan duduk di bangku SMP atau 
SMA, save sex yang baik dan benar adalah dengan NO Free Sex. Belajar aja yang 
rajin dan ngaji Islam dengan benar supaya kamu tahu bahayanya melakukan free 
sex. Jangan pernah tergiur nikmat sesaat tapi terlaknat sepanjang hayat. Rugi 
di dunia karena kamu sudah merusak harga diri dan kesucianmu, merana di akhirat 
karena berzina termasuk salah satu dari dosa besar yang ending-nya berakhir di 
neraka yang panas mendidih. Hiiii
   
  Bagi kamu yang sudah mahasiswa atau agak gedean dikit, boleh tuh save sex 
dengan pasangan sah alias kudu married dulu. Selain nggak dosa, save sex after 
married malah berpahala. Dan bila kamu masih belum bisa melakoni save sex after 
married, maka solusinya adalah berpuasa dulu dong. Bisa kan?
  
Selain peran serta kamu untuk bersikap Save sex with NO free sex, harusnya 
masih ada dua pihak lain yang kudu terlibat dalam hal ini. Masyarakat sekitar 
nggak boleh cuek bebek dengan merebaknya kasus free sex. Mereka harus mempunyai 
kontrol untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar ketika ada perilaku yang menyimpang 
di tengah-tengah masyarakat. Nggak boleh lagi ada anggapan ‘yang penting bukan 
gue pelakunya’.
   
  Pihak terakhir yang juga kudu turut andil adalah negara. Ketika individu dan 
masyarakat sudah beritikad baik dengan menolak free sex, negara harus punya 
suara sama dalam hal ini. Sangat nggak ideal kalo ternyata negara malah 
menyetujui dan melegalkan seks bebas dengan banyak bermunculannya lokalisasi 
pelacuran. Bahkan nama lokalisasinya tenar hingga ke manca negara sebagai salah 
satu daya tarik wisata. Walah, kacau kan?
   
  Aneh sekali ketika sebagian pihak begitu peduli dan prihatin dengan masa 
depan pemuda dan remaja, namun di pihak lain sebagian orang malah ingin 
menghancurkannya. Sebagian pihak ini adalah manusia-manusia yang ingin 
menyelamatkan moral dan keimanan remaja dengan mengingatkan bahayanya free sex, 
sedangkan di pihak lain ada sekelompok orang yang sok menjadi manusia dengan 
melegalkan perzinaan. Ironis!
  Tak heran akhirnya bila remaja negeri ini menjadi terombang-ambing di tengah 
dua kubu ini, antara penolak free sex versus penggiatnya. Parahnya, ternyata 
banyak remaja yang ambil bagian menjadi pelaku utama dalam kasus ini. Duh, 
menyedihkan banget deh!

Konspirasi 3 S
  
3 S = Sport, Song dan Sex. Tiga S inilah yang jadi ujung tombak musuh-musuh 
Islam untuk merusak generasi muda. Slogan “3 S” sudah terbukti berhasil 
melenakan pemuda-pemudi muslim.
   
  Gelora jiwa muda yang masih fresh dan meledak-ledak menjadi sasaran empuk 
untuk perusakan melalui jalur free sex ini. Media cetak (majalah-majalah yang 
mengumbar aurat) dan elektronik (sinetron-sinetron yang melulu tentang pacaran) 
menjadi corong pembangkit nafsu seks remaja untuk muncul. Remaja jadi lebih 
memperturutkan hawa nafsunya daripada mengejar prestasi setinggi-tingginya. 
   
  Musuh-musuh Islam tahu banget bahwa umat Islam tidak bisa hanya diperangi dan 
dimusuhi secara fisik saja. Ada yang jauh lebih efektif dari itu semua yaitu 
merusak kepribadian generasi muda muslim. Para pembenci Islam ini nggak berani 
mengusik umat Islam Indonesia yang jumlahnya terbesar sedunia secara langsung. 
Karena bila ini yang terjadi yaitu perang secara terbuka, bisa dipastikan 
semangat jihad kaum muslimin akan muncul. Oleh karena itu harus ada cara lain 
untuk merusak Islam tanpa disadari oleh umat Islam sendiri. Yup, merusak moral 
generasi mudanya adalah kunci jawaban itu. 
   
  So, cepat sadar wahai pemuda-pemudi muslim! Jangan mau kamu jadi sasaran 
empuk pengrusakan moral generasi muslim melalui free sex. Yakin deh, hidup ini 
terlalu indah untuk dihabiskan dengan hanya melulu mikirin urusan seks. Nggak 
banget gitu loh!
   
  Sex after married aja deh!
  
Islam nggak menghapuskan naluri seks (bahasa kerennya sih gharizah an-nau’) 
dari dalam diri manusia. Yang ada hanyalah Islam itu mengatur naluri seks di 
jalan yang baik dan benar, yaitu setelah pernikahan. Untuk sementara ini, 
karena kamu masih berstatus pelajar, maka belajar aja yang rajin demi kejayaan 
Islam. Yakin aja, jodohmu nggak akan lari kemana meski saat ini kamu nggak 
pacaran apalagi sampe obral seks.
  Perbaiki kualitas dirimu, baik akhlak, iman dan kecerdasanmu. Karena sebagai 
pemuda muslim, kamu kudu cerdas dan beriman. Kalo semua ini sudah oke, dijamin 
deh, insya Allah bila saatnya tiba, kamu bisa menikmati save sex yang barokah 
dan berpahala. 
   
  Agar kamu nggak tergoda, jangan dekat-dekat dengan semua hal yang akan 
membuatmu piktor (pikiran kotor). Jauhi gambar-gambar atau tontonan porno dan 
jorok. Batasi pergaulan dengan teman-teman yang memberi pengaruh jelek pada 
dirimu. Sebaliknya, makin dekati teman-temanmu yang sholih bagi cowok dan 
sholihah bagi cewek agar ada yang selalu mengingatkan bila kamu lalai. Persibuk 
dirimu dengan aktivitas positif semacam ikut karya ilmiah remaja atau hal-hal 
bermanfaat lainnya. Dan yang utama, tingkatkan kedekatanmu dengan Allah Swt. 
Bila kamu dekat denganNya, maka tak akan ada celah bagi kamu untuk bermaksiat 
padaNya. Bukankah Dia Mahamelihat perbuatan hambaNya? Bukankah Dia pasti 
mencatat seluruh perbuatan hamba-hambaNya?
   
  Kalo kamu semua udah pada nyadar bahwa save sex hanya dengan NO free sex, 
dijamin musuh Islam akan gigit jari melihat upaya merusak generasi muslim nggak 
berhasil. Apalagi bila kamu sudahlah menjadi aktivis NO free sex, ditambah lagi 
dengan aktivitas yang menyadarkan teman-temanmu agar mereka semua pada setuju 
bersikap NO free sex. Pasti kamu bakal jadi pemuda muslim yang TOP banget. 
Jadi, mulai saat ini sebarkan kesadaran baru ini kepada semua orang bahwa untuk 
menolak ide kondomisasi adalah dengan SAVE SEX with NO Free SEX! Good luck 
[ria: [EMAIL PROTECTED]

   
  source: www.dudung.net

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke