Sudahkah Kita Mendahulukan Allah?

Dalam kehidupan keseharian, sudah sejauh mana kita lebih mendahulukan hak-hak 
Allah SWT daripada urusan pribadi dunia kita? Ketika terbangun di waktu pagi, 
hal apa yang pertama kali kita kerjakan? Sudahkah kita bersyukur pada Allah 
yang telah kembali "menghidupkan" kita setelah semalaman dalam keadaan "mati"?
Jujur, kebanyakan dari kita hanya terbawa lalai atau kadang malah merasa kecewa 
disaat terjaga karena keindahan mimpi yang kita jumpai sewaktu tidur langsung 
lenyap dalam sekejap. Rasa kecewa itu kadang terus terbawa dalam aktifitas di 
hari itu yang mengakibatkan rasa malas yang berlarut-larut. Padahal itu hanya 
sebuah mimpi, bunga penghias tidur dan bukan hal yang nyata terjadi.

Di sela-sela waktu bekerja dan beraktifitas dunia, ketika waktu untuk sholat 
fardhu yang 5 telah masuk dan kesempatan kita untuk melaksanakannya terbuka 
luas serta diberikan kelapangan, sudahkah kita mendahulukannya? sebuah bentuk 
kewajiban seorang muslim yang tentu sangat membutuhkan dan mengharapkan 
pertolongan juga petunjuk dari Allah SWT di dalam setiap keadaan, sebagai 
sebuah aktifitas beristirahat sejenak dari berbagai kesibukan dunia.

Saat ini, sudahkah kita menjadikan sholat sebagai penyejuk mata dan hati, 
menjadikannya sebagai tempat bagi kita untuk mengadukan segala permasalahan 
duniawi yang senantiasa menghinggapi kepada Allah SWT, sebagaimana halnya 
Rasulullah SAW menjadikan sholat sebagai penyejuk mata.

Kenyamanan dan ketenangan seperti apa yang kita jumpai, saat dialog khusus kita 
dengan dzat yang menciptakan diri kita dan alam semesta ini terjadi? Adakah 
kita serasa terbebani dengan panggilan sholat dan bergegas untuk segera 
menyelesaikannya secepat kilat? Atau menanti-nanti kedatangannya dengan hati 
yang gembira sekaligus rasa takut juga harap? Tentu, hati kecil kitalah yang 
pasti jujur menjawabnya.

Diambil dari : blog sebuah perenungan 
--------------------------------------------------------------------------------


Ya Allah... 
Kadang aku merasa jati diriku sudah menyatu dengan pekerjaanku. 
Aku takut Ya Allah... 
Jika pekerjaanku lenyap, jati diriku pun akan hilang.

Aku amat sangat merindukan "perasaan & getaran" berhadapan dengan-Mu Ya 
Allah....
"Getaran itu" melebihi perasaanku kepada orang yang paling kusayang....

Subhanallah... Aku rindu sekali dengan perasaan seperti itu...
Aku takut hatiku sudah keras dan membantu. 
Aku selalu sibuk dengan urusan duniaku. 
Aku malu...  selalu menghadapkan mukaku ini ke dunia. 
Tidak kepada Penciptaku. Aku merasa selama ini aku jauh... dari-Nya. 

Tidak... ternyata Dia Dekat.... Dekat Sekali.... Allah selalu berada di hati 
atau qalbu hamba-hamba Nya yang taat. 
Ternyata akulah yang selama ini meninggalkan-Nya.... 

Dan munajatku saat ini adalah "Jangan lagi aku berpisah dari-Nya....." 
Inilah puncak dari semua munajatku...
Aku tidak menginginkan apa-apa lagi... 
Aku ingin lupakan semua keinginan & mimpi-mimpiku yang sifatnya fana yang 
semuanya melulu tentang dunia...

dan aku percaya Ya Allah...
Engkau tidak akan pernah membiarkan aku menangis....


.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke